
Keesokan harinya Lucas sedang menenangkan Sean di mansionnya yang terus menangis. Sedangkan Alika sedang berada di dapur sedang membuat sarapan pagi tanpa tahu jika Sean sedang rewel di dalam kamar.
Alika pergi menaiki tangga dan membuka pintu kamar utamanya lalu melihat Lucas sedang menggendong putranya yang habis menangis.
Alika bertanya dengan suara lirih, "apakah tadi dia terbangun honey?", dengan mendekati Lucas melihat wajah putranya yang habis menangis.
"Iya sweety", ucap Lucas
"Kalau begitu biarkan aku yang menggendong Sean dan kamu pergilah membersihkan tubuhmu yang bau asam", ucap Alika dengan menutup hidungnya. Lucas tersenyum tipis dengan memberikan Sean dan memberikan ciuman singkat yang membuat Alika kesal, "uncle!", dengan mata melotot.
Lucas bergegas pergi ke kamar mandi membersihkan diri. Sementara Alika menyusui Sean dengan duduk dipinggir ranjang sambil mengusap keningnya dan bersenandung.
Sedangkan Abigail sedang berseteru dengan Vio masalah dia ingin pergi dari mansion miliknya.
"Hei tuan Abigail, kau harus bersikap baik terhadap orang asing sepertiku. Bukan melakukan hal buruk kepadaku. Biarkan aku pergi dengan Haeun untuk kembali ke negara kami", ucap Vio menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Jangan pernah berharap kau akan lolos sweety", ucap Abigail yang sedang memakai kemeja hitam.
"Bisakah kamu membebaskan aku humm", ucap Vio dengan wajah puppy eyes seperti anak anjing.
Abigail yang melihat Vio dengan pandangan mata seperti anak anak anjing tersenyum dan Abigail malah mencium Vio yang membuat tubuhnya menjadi kaku. Abigail menikmati ciuman itu dengan intens dan membuat wajahnya merah merona yang membuat Abigail senang melihat ekspresi wajah Vio dengan marah.
"Kau pria br*ngs*k!", umpat Vio.
Abigail yang mendengar umpatan Vio tersenyum dengan sorotan mata elang sambil menyingkirkan anak rambut miliknya dengan berbisik, "segera mandilah, jika tidak akan aku terkam kembali".
Tubuh Vio menegang dengan berteriak dalam batin, "argghhh, dasar Abigail bajing*n!!".
Vio langsung beranjak dari ranjang dengan menutup tubuhnya ke kamar mandi dan Abigail yang duduk di pinggir ranjang menggoda Vio.
"Girl, tidak perlu kau tutup-tutupi, aku sudah melihat semuanya", sambil beranjak dari tempat duduknya dengan tangan di masukkan ke dalam saku celana. Vio yang mendengarkan itu menoleh dengan sinar kilat di matanya. Abigail hanya tersenyum.
__ADS_1
Abigail tiada berhenti menggoda Vio yang selalu menampilkan ekspresi marah dan wajah yang merona tiap kali dirinya menggoda.
Sedangkan Lucas saat ini sedang menghabiskan waktu bersama Alika dan putra mungilnya dalam gendongan Alika. Mereka seharian tidak bosan bermain bersama anak mereka.
Ketika sedang asyik menikmati momen bahagia dengan putra kecilnya tiba-tiba ada suara bel dari luar. Lalu Mrs. Margareth datang dengan sedikit tergopoh-gopoh membukakan pintu melewati dua sejoli yang sedang berbahagia.
Saat pintu terbuka, menampakan wajah yang dikenal yaitu keluarga Abraham. Mereka menyapa Mrs. Margareth dengan senyuman hangat.
"Hai Mrs. Margareth", sapa Liana dan Abraham.
"Hallo Mrs. Liana dan Mr. Abraham", sapa balik Mrs Margareth
"Silahkan masuk tuan, nyonya", ucap Mrs. Margareth dengan sopan dan hormat.
"Apakah Lucas dan Alika ada di rumah?", tanya Liana.
"Tentu nyonya, mereka sedang asyik bermain dengan tuan muda Sean", ucap Margareth.
"Thank you Magareth", ucap Alena dengan berlalu pergi ke ruang tengah menemui mereka dengan memanggil nama ponakannya.
"Aunty I'm coming sayang!", teriak Liana.
Alika lalu beranjak dari tempat duduk kemudian memeluk tubuh Liana untuk melepaskan rasa rindu yang telah lama mereka tidak berjumpa.
"Aku kangen aunty", ucap Alika dengan memeluk erat.
"Aku juga merindukan kamu nak", ucap Liana dengan memabalas pelukan Alika.
"Jadi Alika hanya rindu dengan aunty kamu tidak dengan uncle kamu", ucap Abraham yang membuat semua orang terkekeh.
"Tentu saja aku juga rindu dengan uncle Abraham yang begitu tampan", ucap Alika dengan memeluk Abraham. Abraham menerima pelukan dari Alika yang ia anggap seperti putri kandungnya.
__ADS_1
"Hai Kak Denis", sapa Alika dengan melambaikan tangan.
"Hallo Alika, adik kak Denis yang paling imut", ucapnya dengan mencubit pipi tembemnya yang habis melahirkan.
Kemudian mereka berkumpul dengan canda dan tawa. Apalagi memuji Sean bahwa cucunya sangat mirip dengan Lucas dan tampan sampai Liana menggoda Alika bahwa Sean tidak mirip dengan Alika sedikit pun hingga Alika pura-pura cemberut dengan ejekan Liana.
Liana membawakan oleh-oleh untuk cucunya dan hadiah untuk Alika. Ia mengeluarlan berbagai macam baju bayi, peralatan makan bayi hingga hadiah dress untuk Alika. Sampai Alika merasa merepotkan Liana tetapi menurut Liana itu belum seberapa yang telah ia berikan untuk Alika.
Di gedung CIA Ozzie sedang diinterogasi kembali oleh Steve dengan membawa beberapa bukti penyelidikan atas kekejaman brutal yang dilakukan oleh Ozzie terhadap keluarga Lorenzo dan keluarga saudara kandung tanpa belas kasih. Namun Ozzie hanya tertawa dengan ekspresi menyeramkan ketika disodorkan dengan berbagai macam bukti dan orang-orang yang terlibat dengannya. Membuat Steve menjadi geram dengan tangan mengepal seperti akan melayangkan tinju ke wajah Ozzie namun dicegah oleh salah satu temannya dan pada akhirnya Steve keluar pergi ke ruang kerja untuk melampiaskan kemarahannya dengan melemparkan seluruh tumpukan dokumen sambil menendang meja kerja miliknya.
Sementara Raina baru sampai ke kota Berlin dengan bergaun sexy berwarna merah dan wajahnya dihiasi bingkai kaca mata hitam dengan bibir merah merona sambil menarik koper bawaannya.
Raina mencari sopir bayaran yang disewa oleh pria bertopeng dengan mobil mewah BMW.
Raina melihat seorang pria berkemeja rapi dengan mengangkat papan nama yang terukir namanya langsung tersenyum tipis. Raina menyapa pria tersebut.
"Hallo tua, apakah anda yang diutus oleh bos?", tanya Raina.
"Tentu, mari saya antarkan tempa peristirahatan anda dan saya bawakan koper bawaan anda", ucap pria kekar itu dengan ekspresi datar.
"Thank you", ucap Raina dengan mengikuti pria berkepala pelontos dengan warna kulit sawo matang. Sampainya area parkir dekat bandara Raina masuk ke dalam mobil dengan membuka pintu sendiri tanpa layanan istimewa sedangkan pria tersebut sedang memasukan barang bawaan miliknya ke bagasi belakang. Setelah itu ia masuk ke dalam mobil di bagian pengemudi dan menghidupkan mobil kemudian melajukan sampai ke tempat peristirahatan di apartemen mewah.
Sementara Abigail yang tengah mengambil cuti saat ini sedang bersitegang dengan Vio di dalam mobil tanpa menjawab segala lontaran kalimat dari bibir Vio.
"Uncle, tolong jangan seperti orang jahat yang ada di film dengan menyandera aku dan membawaku pergi ke tempat asing. Aku sudah bilang kepada kamu bahwa aku tidak menyukai pria dewasa seperti kamu", ungkap Vio dengan nada kesal.
Abigail yang sedang fokus menyetir kali ini mengalah dan hanya mendengarkan ocehan dari bibir Vio sejak bangun dari tidurnya.
"Aku mau kau melepaskan aku untuk pergi dari sini", ucap Vio menoleh ke Abigail yang dari tadi hanya diam saja. Vio yang merasa diabaikan mendengus kesal sambil mengumpat dalam hati.
Pria br*ngs*k ini kenapa diam saja. Biasanya dia tidak mau kalah. Apakah dia sariawan? Tapi tidak mungkin jika dia sariawan karena sejak pagi dia terus melakukan aksi buruknya seperti serigala. Aishhh.
__ADS_1