
Di pagi buta Vio sudah selesai ritual mandinya. Dia pergi keluar membuat spagethy dan susu hangat untuk dirinya. Tatkala Vio tengah berkutat membuat makanan, Abigail yang tengah asyik tidur merasakan kosong di sampingnya. Abigail terbangun mencari Vio mulai dari sudut kamar mandi sekitar kamarnya sampai keluar menuruni tangga pergi ke dapur. Abigail melihat Vio sedang memasak. Abigail menghampiri dengan memeluk dari belakang sambil membisikan, “sweety, kamu sedang masak apa?”, dengan mencium ceruk leher Vio.
“Aku sedang membuat spagethy”, jawab Vio.
“Kenapa kamu tidak membangunkan aku? Aku bisa membuatkan untukmu sweety”.
“Karena kamu tidur terlelap sekali. Jadi, aku tidak membangunkan kamu. Aku juga sudah selesai memasaknya. Apa kamu mau?”
“Ya, aku mau”, dengan membantu mematikan kompor dan membalikkan tubuh Vio ke arahnya dengan membelai pipinya dengan lembut lalu memberikan ciuman.
Di sela mereka tengah berciuman, Milka datang dengan berdehem, “hem.. hem.. hem..”, lalu Vio mendorong tubuh Abigail. Abigail berdecak dan kesal kepada Milka karena mengganggu momen kebersamaan bersama Vio. Milka mengucapkan kata maaf.
“I’m sorry”, ucap Milka dengan terkekeh.
“ Aku ke sini bukan mengganggu kalian tapi aku mau membuatkan susu untuk keponakan aku”, ucap Milka.
Vio lalu menawarkan diri untuk membuatkan susu untuk putrinya.
“Biar aku saja yang membuatkan susu untuk Haeun”, ucap Vio.
“Tidak perlu Vi, biar aku saja yang membuatkan untuknya. Kamu lebih baik memindahkan spagetinya ke piring sebelum dingin”, ucap Milka.
“Sudah, biar aku saja, aku sudah banyak merepotkan kamu, Milka. Kamu duduk saja”, ucap Vio.
“Baiklah, jika kamu memaksa”, ucap Milka.
“No sweety, biarkan Milka saja yang membuatkan untuk Haeun. Lebih baik kamu makan dulu saja”, ucap Abigail tetapi Vio tidak mengindahkan perkataan Abigail. Vio berkutat mencuci botol susu dan menuangkan air panas ke botol tersebut.
Tak butuh waktu yang lama Vio telah menyelesaikan pekerjaannya. Dia duduk di meja makan dengan membawa spageti. Milka yang berada di samping Vio memuji masakan kaka iparnya.
“Hummm, spagetinya enak nih”, pujinya.
“Mau, kamu ambillah piring dan kita makan bersama”, ucap Vio.
“Baiklah, aku akan ambil piring”, ucap Milka mendudukkan Haeun di kursi bayi.
Sedangkan Abigail pamit untuk membersihkan diri.
“Kalian nikmatilah makannya, aku pergi membersihkan diri dulu”, ucap Abigail beranjak dari tempat duduk dan menghampiri Vio untuk sekedar mencium kening istrinya.
Pada saat mereka tengah menikmati makanannya, Rayden datang mengecup pipinya Milka.
“Morning sweety”, ucap Rayden.
“Morning honey”, ucap Milka.
“Aku mencari kamu, ternyata sedang makan di sini”, ucap Rayden.
“Maaf honey, aku sebenarnya mau membuatkan susu untuk keponakan aku tapi kebetulan aku juga lapar dan Vio tengah membuat spageti, jadi aku ikut bergabung makan sekalian”, ucap Milka.
“It’s ok baby gak apa-apa”, ucap Raiden.
Sementara di tempat lain dalam nuansa adu sengit antar dua sejoli yang tengah menenangkan kedua anaknya yang tengah menangis. Kedua sejoli itu adalah Aminah dan Daniel.
“Daniel, kamu gimana sih menenangkan putramu itu. Masa dari tadi gak bisa berhenti menangis”, ucap Aminah.
“Entahlah sweety, sepertinya dia ingin minta di gendong olehmu”, ucap Daniel.
“Aishhh.., dasar daddy yang tidak bisa merawat putranya. Tahunya hanya membuat saja”, ejek Aminah.
“Hai sweety, kamu jangan meremehkan aku. Aku pernah menenangkan putri kecilku Zoe. Dia aku gendong langsung diam”, ucap Daniel.
“Benarkah, bukankah susunya sudah habis dia menangis terus”, ucap Aminah.
“Mana biar aku yang gendong. Bawalaha ke sini”,ucap Aminah menyuruh suaminya.
Daniel menghela nafas kasar karena setiap kali mereka menangis Daniel selalu disuguhkan dengan omelan istrinya. Bagi Daniel tidak masalah apabila istrinya mengomel terus tapi lama-lama juga merasa pusing dan hampir ingin menghukum istrinya jika tidak mengingat bahwa istrinya belum bisa di sentuh.
Aminah memberika susu sambil menggoyangkan tempat bayi agar mereka berhenti menangis. Sedangkan Daniel diam-diam tertidur pulas saat memandang istrinya tengah menenangkan kedua anaknya. Aminah yang berada di samping Daniel melihat tengah tertidur pulas. Aminah mencoba mengganggu Daniel dengan memencet hidungnya. Lalu Daniel terbangun dengan menarik lengan Aminah sampai dia jatuh ke pelukkannya. Daniel lalu menghukum istrinya dengan cara lain membuat Aminah kewalahan membuat Daniel merasa puas dengan apa yang dilakukan dirinya. Daniel membuat perhitungan istri kecilnya.
“Apa bibir kamu menyukai apa yang ku berikan?”
“Bibir ini terlalu nakal dan keterlaluan. Aku sudah bersabar untukmu sweety. Jika kamu terus mengomel terus, akan aku beri hukuman lebih dari ini. Tapi, aku senang dengan omelan kamu sehingga aku bisa menghukummu”.
Aminah yang memandang Daniel merasa kesal.
Aishh, aku lupa kalau pria ini bisa melakukan apapun. Aku benci dengannya namun dia tetap saja suamiku. Aku tidak menyukai dengan sikapnya itu.
Setelah memberikan hukuman kepada istri kecilnya, Daniel beranjak ke kamar mandi membersihkan diri. Sementara Aminah mengusap bibirnya akibat perbuatan Daniel.
Tatkala mereka tengah adu sengit, Alika dan Lucas tengah bersiap mengunjungi mansion milik Daniel dan Aminah untuk menengok dua bayi mungil.
“Sweety, apa kamu sudah siap?”, tanya Lucas.
“Iya, sudah daddy”, ucap Alika. Lucas tersenyum bahagia ketika Alika memanggil dirinya dengan kata daddy.
“C’mon”, ajak Lucas.
__ADS_1
Mereka berjalan beriringan sampai ke pelataran mansion. Kali ini Lucas tengah malas menyupir sehingga dia menyuruh salah satu bawahannya untuk menyupir. Di perjalanan cukup panjang Lucas terus menggoda Sean dengan menggelitik perutnya. Sean tak berhenti tertawa sambil mengeluarkan air liur dari bibirnya. Alika membantu mengelap air liur putranya.
Tak terasa mereka telah sampai di mansion Daniel. Mereka turun dari mobil. Di susul mobil Adam dan Abigail. Lalu mereka saling menyapa.
“Hai brother!”, sapa Adam
“Hai juga”, sapa balik Abigail.
“Wah kita berbarengan sampai di mansion Daniel. Sepertinya sudah ada yang datang gaes”, ucap Adam.
“Iya, yuk kita masuk”, ajak Lucas dengan berjalan dahulu bersama Sea puteranya.
Lucas memencet bel mansion-nya Daniel. Salah satu pelayan yang tengah membersihkan meja ruang tamu, mendengar suara bel. Lalu ia pergi membukakan pintu.
Pelayan itu mempersilakan masuk.
“Silahkan masuk tuan-tuan, nyonya-nyonya. Tuan Daniel dan nona Aminah ada di ruang tengah”, ucap pelayan itu.
“Thank you”, ucap Alika
Mereka berjalan beriringan lalu Adam tiba-tiba berteriak.
“I’m coming brother!”, dengan merentangkan kedua tangannya.
Damien berdecak, “ck”, dengan teriakan Adam lalu mereka ikut bergabung dengan teman-temannya.
“Hai Aminah, selamat ya”, ucap Alika dengan cepika cepiki.
“Thank you Alika”, ucap Aminah. Lalu diikuti oleh Vio, Milka, dan Charlotte.
“Kalau begitu marilah duduk sembari menikmati camilan dan minuman yang tersedia”, ucap Aminah mempersilakan duduk.
Sedangkan para pria di ruang tengah sedang membahas soal bisnis dan permasalahan yang biasa dihadapi seorang pembisnis mafia.
“Bagaimana soal Vio?”, tanya Mark.
“Cukup membaik, tapi terkadang dia selalu mengeluarkan keringat dingin cukup banyal dan mengeluh soal badannya mati rasa”, ucap Abigail.
“Lebih baik dia melahirkan secara prematur sebelum racunnya menyebar kemana-mana”, ucap Mark.
“Lahir prematur itu dia harus menunggu berapa bulan?’, tanya Abigail.
“Mungkin di usia dua delapan bulan. Kalau semakin memburuk dia harus segera menjalankan operasi di kehamilan tujuh bulan. Aku sudah menyiapkan akunbator untuk anakmu nanti”, ucap Mark.
“Aku serahkan semua kepada Tuhan dan kamu, Mark”, ucap Abigail.
“Percayalah kepada Tuhan, pasti dia bisa menjalaninya dengan kuat”, ucap Damien.
“Thank you gaes”, ucap Abigail.
“Oh ya, ngomong-ngomong usaha kamu bagaimana Luc? Aku dengar data penting kamu hampir banyak yang hilang dan diserang oleh seseorang. Apa kamu sudah menyelidikinya?”, tanya Damien.
“Iya, sepertinya ada yang ingin mencari masalah. Aku menemukan pelakunya namun ia tidak mengakui siapa yang mendalangi semua ini”, ucap Lucas.
“Punyaku juga hampir di serang dan pemrograman virus itu mengatakan “Dead”, ucap Damien.
“Pasti orang itu lebih pengalaman menangani penyerangan sehingga ia berhati-hati”, ucap Daniel.
Sementara di ruang makan mereka mengobrol soal anak-anaknya yang dibawa pengawasan para ibu muda. Juga mengobrol mengenai program bayi tabung yang dilakukan oleh Arletta dan Damien.
“Bagaimana Min suka duka merawat dua bayi?’, tanya Charlotte sambil menguyah cookie.
“Uhhh, luar biasa. Aku paling sebel itu dengan Daniel”, ungkap Aminah.
“Sebel kenapa Min?”, tanya Arletta.
“Dia itu bisanya membuat saja. Dia itu tidak bisa merawat anak-anaknya. Sampai aku kewalahan tahu gak. Apakah semua pria itu seperti itu?”, ucap Aminah
“Tidak juga, Lucas selalu membantuku apabila aku sedang repot atau kelelahan”, ucaucap Alika.
“Kalau Adam terkadang tidak membantuku. Dia mau membantuku saat aku beri ancaman baru dia menurut dan menjaga putriku manis ini”, ucap Charlotte.
“Senangnya memiliki suami yang bisa menuruti istrinya”, ucap Aminah dengan iri.
“kamu gak perlu iri. Kamu harus melakukan jurus andalan untuk mengendalikan suami kamu”, ucap Milka.
“Apa itu?”, tanya Aminah.
“Vi beritahu dia”, ucap Milka.
“Baiklah”, ucap Vio.
“Kemarilah, biar aku bisikan”, Suruh Vio. Lalu Aminah mendekatkan telinganya ke bibir Vio.
“Kamu harus mengunci kamar dan jangan berikan sesuatu yang dia inginkan. Kamu juga harus pergi dari mansion ini dengan memberikan alasan kalau kamu harus menemui orang tuamu. Lalu berikan ancaman untuk bercerai”, bisik Vio.
“What’s!”, terkejut Aminah.
__ADS_1
“Itu ide yang biasa di luar”, ucap Aminah.
“Luar biasa Min Min”, ucap Alika membenarkan kata-kata.
Mereka mengambil cookie yang ada di pantry dan membawa minuman segar yang telah habis. Sementara Vio dan Aminah tengah bercanda dengan dua bayi mungil di depannya.
“Hallo sayang, kamu harus membantu momy kamu agar dia tidak kelelahan”, ucap Vio dengan memegang tangan mungil dua bayi.
“Apakah aku boleh menggendongnya?”, tanya Vio.
“Tentu”, ucap Aminah.
Vio mencoba menggendong salah satu bayi mungil. Namun tiba-tiba tangannya mati rasa dan air matanya keluar. Aminah melihat Vio mengeluarkan air mata. Aminah merasa khawatir dan bertanya keadaannya.
“Vi, are you okay?”, tanya Aminah.
“Ya, aku baik-baik saja”, ucap Vio.
“Ini efek mengantuk sebab akhir-akhir ini aku kurang tidur”, alasan Vio dengan terkekeh sambil mengibaskan wajahnya dengan tangan.
“Aku ke kamar mandi dulu ya Min”, ucap Vio.
“Kamar mandinya dekat dapur Vi!”, teriak Aminah.
Di saat Vio tengah meratapi sakit di tubuhnya di kamar mandi dengan mencoba mengambil alat mandi di sekitarnya untuk memulihkan tangannya yang mulai mati rasa. Para pria menghampiri para istrinya di ruang makan. Abigail mencari keberadaan Vio.
“Min, Vio kemana?’, tanya Abigail.
“Dia sedang di kamar mandi”, jawab Aminah.
“Tadi aku heran dengan istri kamu, Abigail”, ungkap Aminah.
“Heran kenapa Min?”, tanya Abigail dengan mengerutkan dahinya.
“Dia itu tiba-tiba menjatuhkan air mata ketika akan mengangkat Zayn”, ucap Aminah. Abigail langsung melangkah ke kamar mandi dekat dapur dengan menggedor sambil menyebut namanya.
“Tok! Tok! Tok! Vio!”, teriak Abigail dengan suara keras.
Ketika Abigail akan mendobrak pintu, Vio sudah terlebih dulu membuka pintu itu. Saat Vio sudah keluar, Abigail memeluk tubuh Vio.
“Are you okay?”, tanya Abigail dengan khawatir.
“Iya, aku baik-baik saja. Aku ke kamar mandi itu kebelet”, bohong Vio.
“Syukurlah”, ucap Abigail dengan mencium dahinya.
“Vi, gak ada yang aneh kan denganmu?”, tanya Milka.
“Enggak”, geleng Vio.
“Aku haus, aku mau minum dulu”, ucap Vio.
Vio berjalan ke arah meja makan dengan mengambil minumnya. Namun mata Vio melihat gelas itu ada dua bayangan membuat Abigail yang berada di sampingnya membantu Vio. Abigail mengetahui bahwa sesuatu terjadi dan kambuh kembali.
“Biar aku membantumu sweety”, tawar Abigail.
“Tidak perlu aku bisa kok”, ucap Vio mencoba meraih gelas dengan berhasil lalu tiba-tiba gelas itu lepas pegangan dan gelas itu pecah.
“Lebih baik aku periksa kamu deh, Vi. Mungkin sesuatu di motorik kamu kambuh”, ucap Mark.
“Tidak..”, ucapan Vio terpotong karena kaget tiba-tiba Abigail menggendongnya ala briday stayle.
“Abigail apa yang kamu lakukan?”, tanya Vio.
“Aku hanya membantumu sweety”, ucap Abigail membawa Vio ke ruang tengah. Mark mencoba memeriksa denyut nadi. Lalu menyuruh Vio memegang ponsel miliknya.
“Vi, cobalah pegang ponselku”, suruh Mark.
“Aigoo, aku itu gak kenapa-napa. Cuma pegang ponsel aku bisa”, ucap Vio.
Vio merasa was-was dengan mengeluarkan keringat di pelipisnya dan menelan salvinya. Vio berharap bisa memegang ponsel itu agar orang-orang disekitarnya tidak khawatir terhadap dirinya.
“Ayolah Vi, kamu pasti bisa. Jangan buat mereka mengasihani kamu”, ucap Vio dalam hati.
Vio mengambil ponsel itu di tangan Mark. Vio berhasil mengambil dengan memegang erat dan sekuat tenaga namun ponsel itu tetap saja lepas dari tangannya. Untungnya ponsel itu berhasil di tangkap oleh Mark.
Kemudian Mark menyuruh Vio untuk berjalan agar Mark tahu keadaan motorik Vio.
“Vi cobalah kamu berjalan sebentar”, permintaan Mark.
“Yah, kenapa kamu menyuruhku terus sih?!”, kesal Vio.
“Vi, please, lakukan apa yang Mark suruh”, mohon Abigail.
“Baiklah”, ucap Vio turun dari pangkuan Abigail. Vio menuruti permintaan kedua pria itu. Mark memperhatikan jalan Vio yang lambat dan tiba-tiba terjatuh. Vio mengadu sakit.
Sementara orang-orang disekitarnya mengeluarkan air mata yang tak bisa di bendung. Arletta memeluk tubuh Damien dengan mengatakan, “dia kasihan sekali honey”.
__ADS_1