
Di dalam kamar Alika tengah melamun sambil memperhatikan foto yang dicetaknya. Lucas melihat istrinya sedang melamun bertanya.
“Sweety, kamu kenapa melamun?”, sambil memberikan usapan di kepala dan kecupan.
“Aku sedih Lucas melihat foto ini”, jawab Alika.
“Kenapa kamu sedih? Bukankah kamu sudah mengambil momen bersama dengan para sahabatmu dan anak-anak mungil ini?”
“Iya..,namu ada sesuatu yang kurang di dalam sini. Sebab tidak semua sahabat kita ikut berfoto. Apalagi istri Abigail, Damien, Arletta, Amanda dan suaminya. Aku merasa sedih saja melihat kenangan ini ada hal yang kurang”.
“Aku tahu perasaan kamu. Begitu juga yang ku rasakan. Aku tidak akan pernah bisa membenci Leon meski dia sudah membuat masalah besar. Dia akan tetap temanku mulai dari nol”, kata hati Lucas.
“Semoga dalam foto kenangan ini seluruhnya dapat berkumpul bersama dengan bahagia. Jadi lebih baik kita tidur karena sudah malam”, ucap Lucas.
“Baiklah, aku simpan dulu foto-foto ini”, ucap Alik dengan membuka laci lalu tidur dengan memeluk Lucas dan menyembunyikan wajahnya di dada bidangnya. Lucas mencium sambil mengucapkan selamat malam untuk istrinya dan ikut terlelap.
Mentari pagi menyinari permukaan bumi dengan hangat. Vio terbangun dalam keadaan tubuhnya yang hampir remuk akibat kemarahan Abigail. Vio beranjak pergi ke kamar mandi sedangkan Abigail masih asyik berada di bawah alam mimpi akibat kelelahan semalam.
Setelah menyelesaikan ritual mandi Vio berjalan keluar dari kamar menemui dua anaknya. Ternyata mereka sudah rapi dengan pakaian sehari-hari lewat bantuan baby sister. Vio menghampiri memberikan kecupan satu persatu.
“Hallo my baby”, sapa Vio.
“Mom Haeun antik?”,tanya Haeun.
“Tentu, tidak hanya cantik. Haeun juga wangi”, ucap Vio.
“Yuk ke bawah sarapan pagi”, ajak Vio.
“Gendong”, ucap Haeun dengan merentangkan kedua tangan.
“Baiklah, momy akan berikan adik Alex bersama suster dahulu”, ucap Vio memindah alihkan ke gendongan suster lalu mengangkat tubuh Haeun.
“Let’s go”, seru Vio dengan berjalan keluar dari kamar menuju ruang makan.
Ketika Vio sedang menata makanan di meja Milka dan Raiden datang dan menyapanya dengan menggendong putra mereka lalu di susul Abigail. Kemudian mereka makan bersama.
Begitu juga dilakukan oleh Alika, Lucas, dan bersama kedua anaknya. Mereka menikmati sambil mendengarkan ocehan kedua anaknya. Saat tengah asyik menikmati ocehan kedua buah hati mereka Sea dan Saddam datang.
“Grandma and grandpa I’m coming!”, seru Sea dengan berlari kecil dan memberikan kecupan gemas di pipi gembulnya.
“Siapa itu yang datang?”, tanya Alika dengan menirukan suara anak kecil.
“Grandma bawa banyak nutrisi untuk cucu-cucu grandma”, ucap Sea dengan menaruh tas belanjaannya.
“Makasih grandma”, ucap Alika menirukan suara anak kecil.
“Sama-sama”,ucap Sea.
Usai sarapan pagi, Saddam mengajak Lucas ke ruang kerjanya untuk membahas persoalan masalah politik Willy yang dimanfaatkan oleh Ellios untuk keperluan pribadinya.
“Kita harus cepat menangkap mangsa besar yang sewaktu-waktu menerkam kita”, ucap Saddam dengan raut serius dan penuh dendam.
“Kita harus mencari celah untuk menggulingkan mangsa yang saat ini tengah menikmati situasi kita”,ucap Lucas.
“Benar. Apakah wanita itu sudah mulai bertindak?”, tanya Saddam.
“Entahlah, kita hubungi Abigail untuk mengetahui informasi dari istrinya”, ucap Lucas dengan mengambil ponsel genggam.
Abigail yang tengah berdebat dengan Vio masalah mengajak kerja sama dengan Leon membuat Abigail kesal dan akhirnya menyetujui meski masih tidak percaya.
Setelah berdebat panjang Abigail mengangkat sambungan telepon sambil memijat keningnya.
“Hallo Lucas”.
“Apakah Vio sudah mulai menjalankan rancangan yang ia buat?”, tanya Lucas.
“Sepertinya dia masih berfikir”, jawab Abigail dengan melirik Vio yang sedang menggambar rancangan misinya.
“Apakah bisa kita berkumpul ke markas milik daddy-ku?”
“Tentu Lucas. Aku akan pergi dengannya untuk membahas rencana baru selanjutnya”, jawab Abigail.
“Baiklah. Sampai bertemu besok”, ucap Lucas.
Setelah mematikan sambungan telepon Vio bertanya kepada Abigail.
“Apakah itu tuan Lucas?”
“Ya. Dia menyuruh kita datang ke markas milik ayahnya membahas mengenai rangkuman rencana misi kita yang baru”, jawab Abigail.
“Kalau begitu aku akan menghubungi Leon karena saat ini yang dapat diandalkan untuk mengubah rencana baru yaitu menggunakan bidak kuda sebab berlarinya kencang. Kita membutuhkan dia. Dia pasti memiliki dendam dengan Ellios setelah menemukan bukti dokumen milik keluarganya”, ucap Vio.
“Terserah kamu. Aku akan ikuti rencana yang kamu buat. Tapi.. ingat untuk tidak jauh dari pantauan aku. Gak boleh menghilang ataupun luka parah. Mengerti?”
“Iya. Aku mengerti tuan Abigail..”, senyum Vio.
“Kalau begitu aku akan menghubungi Leon”, ucap Vio mengambil ponselnya. Lalu mendeal-up nomor Leon.
“Hallo tuan Leon”, ucap Vio.
“Ya Vi, ada apa?”
“Bolehkah aku berkunjung ke rumah kamu sekarang?”
“Tentu”, jawab Leon melirik istri dan putrinya.
“Thank you”, ucap Vio dengan mematikan sambungan telepon.
“Apa jawaban darinya?”tanya Abigail.
__ADS_1
“Kita bisa berangkat sekarang”, ucap dengan beranjak dari tempat duduknya.
Vio dan Abigail berjalan beriringan bersama Rayden setelah membawa Milka dan bayi-bayi ke tempat ruangan yang aman untuk antisipasi musuh yang nantinya datang.
Mereka berangkat menuju di kediaman Leon. Dalam perjalanan Vio melihat tablet untuk menyusun rencana sambil mengorek informasi tentang kemajuan kepolitikan Willy.
“Apakah kalian sudah menceritakan mengenai Leon untuk ikut andil misi kita kepada mereka?”, tanya Rayden.
“Belum”, jawab Vio singkat.
“You crazy”, umpat Rayden.
Vio hanya tersenyum miring dan mengedikan bahu. Sementara Abigail hanya fokus menyetir tanpa suara. Beberapa jam kemudian mereka telah sampai di kediaman Leon. Vio menekan bel bunyi. Leon membukakan pintu rumah dan menyambut ketiga tamunya dengan baik. Vio berjalan mengikuti langkah Leon sampai di ruang tamu. Amanda yang membawakan minuman langsung menyapa ketiga tamu terutama Vio dengan antusias sebab jarang bertemu dengannya setelah menghilang tanpa jejak.
“Sudah lama kita tak bertemu”, ucap Amanda.
“Iya”, senyum Vio.
“Ada apa kalian datang ke sini?”, tanya Amanda.
“Kami datang ke sini karena ada keperluan dengan Leon yang sangat penting. Apakah bisa langsung membahas soal sesuatu yang sudah pernah aku katakan lewat ponsel?”
“Kalau begitu ikutlah aku ke ruang kerja”, ajak Leon.
“Baiklah”, ucap Vio.
“Sweety, aku ke ruang kerja dulu”, ucap Leon dengan memberikan kecupan dikening istrinya.
Lalu Leon melangkah ke ruang kerja dengan diikuti oleh Vio, Abigail, dan Rayden.
Leon menyerahkan seluruh dokumen milik Courvien yang sudah ia pilah diatas meja kerja.
“Ini beberapa dokumen yang kau cari”, ucap Leon.
“Apakah kamu sudah membuka isi dari dokumen ini?”, tanya Vio.
“Belum. Aku hanya mengambil saja”, ucap Leon.
“Kalau begitu kita cari tahu isi dari dokumen milik ayahmu. Siapa tahu ada petunjuk?”, ucap Vio dengan senyum.
Mereka mencari-cari isi dokumen dengan teliti satu persatu. Beberapa jam kemudian Leon menemukan isi buku harian milik momy-nya. Dia mendapatkan sesuatu yang mengejutkan dirinya. Di sana bertulisan mengenai sifat dan karakter Ellios dan Raymond. Vio juga menemukan dokumen yang menunjukkan bahwa dokumen itu berisi hasil kecurangan yang dilakukan Ellios namun buku itu sedikit terbakar. Namun dokumen tersebut bisa dijadikan acuan untuk perencanaan menghancurkan dunia milik Ellios.
Leon bahkan tak menyangka kalau dirinya diperalat oleh Raymond yang sudah membuat keluarganya meninggal. Leon sangat menyesal atas perbuatan dirinya. Leon merasa marah dan dia hanya mengusap wajahnya dengan kasar. Vio yang melihat ekspresi Leon yang terlihat frustrasi bertanya, “kenapa Leon?”
“Tidak apa-apa”, jawab Leon.
“Mana mungkin tidak kenapa-napa karena terlihat sekali ekspresi wajahmu yang sedih dan penuh amarah”, ucap Vio.
“Ya..”, jeda Leon dengan menarik nafas.
“Abigail..., aku sungguh menyesal apa yang telah aku perbuat..aku tidak mengetahui jika Raymond hanya memperalatku saja... Setelah aku membaca isi buku milik momy-ku ternyata dia yang telah membuat keluargaku menjadi porak poranda bersama pamannya. Aku.. benar-benar tidak tahu.. Ternyata aku tersulut emosi seperti ayahku dengan hati dan pikiran yang ditutupi oleh kabut... Maaf”, ucap Leon.
“Syukurlah kamu segera dibukakan hati yang jernih sebelum ajalmu dijemput”, sarkas Abigail. Vio yang disamping Abigail membola dengan perkataan Abigail yang sarkas.
“Vi!”, peringatan Abigail. Vio tidak menggubris peringatan dari suaminya.
“Thank you:, ucap Leon.
“Aku pasti akan menebus dosa-dosaku. Abigail aku minta maaf atas kebodohanku dan ayahku di masa lalu maupun sekarang ini. Aku pasti akan membantu kalian. Aku akan tebus dosa-dosaku. Apakah kau bisa membantuku untuk meminta maaf kepada mereka?”, ucap Leon kembali.
“Tentu, aku akan bantu kamu yang baru saja mendapatkan hidayah dan kembali ke jalan yang benar”, sela Vio.
“Kami akan membantu kamu”, ucap Rayden.
“Syukurlah ada yang mau membantu”, senyum Vio.
“Besok datanglah ke markas milik ayahnya Lucas. Kita bisa berangkat bersama”, ucap Vio persetujuan dari Abigail ataupun lainnya. Abigail hanya pasrah yang dilakukan istrinya. Setelah menemukan beberapa bukti milik Ellios dan Courvien mereka keluar dari ruang kerja tersebut. Mereka berjalan menuju sofa. Ketika mereka sedang melangkah, Amanda memanggil mereka.
“Guys!”
“Apa kalian sudah menyelesaikan pekerjaan kalian?”, tanya Amanda.
“Ya, kami sudah selesai”, sela Vio.
“Bagaimana kalau kita makan bersama? Kita sudah lama tidak berkumpul seperti ini”, ucap Amanda. Saat Abigail akan menolak, Vio lebih dahulu menyela dan mengatakan iya atas tawaran yang diberikan Amanda.
Abigail menghembuskan nafas pasrah begitu juga Rayden. Vio menarik kursi dan duduk sambil menatap semua hidangan yang dibuat oleh Amanda dan memberikan pujiannya setela mengambil lauk sebelum dipersilakan.
“Wow, masakan kamu enak”, ucap Vio.
Abigail duduk di samping Vio hanya menggeleng kepala atas tingkah laku Vio sebagai istrinya. Abigail memberikan peringatan untuk istrinya.
“Vio, harusnya kamu berperilaku secukupnya dan jangan melewati batas”, bisik Abigail sedikit geram.
Vio tidak menggubris dan terus menyantap makanan yang dibuat oleh Amanda setelah Amanda menyuruhnya menikmati semua hidangan yang dibuat.
“Syukurlah kamu menyukai semua hidangan yang kubuat”, ucap Amanda dengan senang.
“Tentu”, ucap Vio mengambil ayam pedasnya.
“Bagaimana keadaan Lucas, Damien, dan lainnya?”, tanya Amanda.
“Mereka sangat baik”, ucap Abigail.
“Syukurlah”, ucap Amanda.
“Kamu mainlah ke rumah kami. Kami akan menyambutmu dengan baik”, ucap Vio.
“Tentu”, ucap Amanda.
__ADS_1
“Seharusnya”, tawa Vio dengan diikuti Raiden meski konyol.
Selesai makan dan mengobrol mereka berpamit pulang. Dalam perjalanan pulang mereka disuguhkan dengan beberapa preman yang menghadang. Abigail menyuruh Vio untuk tetap berada di tempatnya namun Vio tidak mendengarkan dan ia keluar membantu Abigail dan Raiden menghajar para preman tersebut. Saat Raiden tengah menghajar preman itu tiba-tiba ada salah satu pria yang akan memukul dari belakang punggung Raiden namun tidak sempat karena Vio menembakkan peluru pada kakinya dan punggung preman tersebut. Setelah menyelesaikan para bedebah Abigail menghampiri Vio dengan memeluk dan menanyakan keadaan istrinya.
“Are you ok?”, tanya Abigail.
“Ya, aku baik-baik saja”, ucap Vio.
Di tengah Vio dan Abigail berpelukan, Rayden mengganggu dengan mengatakan, “kita harus mengamankan para bedebah ini”.
“Ya kita harus mengamankan mereka”, ucap Vio.
“Kita hubungi anak buah kita dan Steve untuk mengamankan mereka”, ucap Abigail. Raiden menganggukkan kepala sebagai tanda mengerti.
Bab
Dalam ruang markas milik Saddam, mereka sudah berkumpul. Begitupun dengan Vio. Lucas memulai membuka pembahas mengenai perencanaan untuk menghadapi sang kancil.
“Vi, apakah kamu sudah menyusun rencana baru?”, tanya Lucas.
“Sudah, namun...”, Vita ragu untuk mengatakan perihal Leon untuk ikut andil dalam proyek tersebut.
“Namun apa nak?”, tanya Saddam.
“Proyek ini kita harus melibatkan seseorang yang pernah kalian entah membencinya atau membuat kalian sakit hati”, ucap Vita.
“Vi lebih baik kamu to the point”, seru Adam.
“Kamu mau melibatkan siapa Vi?”, tanya Abraham.
“Aku mau kalian harus menyetujui siapapun orang yang aku bawa untuk melancarkan strategi kita untuk menggulingkan Willy dan menghancurkan Ellios si penghancur yang picik”, ucap Vio.
“Baiklah kami akan menerima dia, siapapun dia”, ucap Saddam.
Vio lalu melirik ke semua pria yang ada di dekatnya. Setelah mendapatkan persetujuan Vio memanggil pria tersebut dengan bersiul. Pria itu keluar setelah mendapatkan kode dari Vio. Ketika pria itu melangkah mendekat semua orang terkejut dengan tatapan marah dan ada pula menatap dengan memberikan sambutan hangat.
“Kenapa kamu melibatkan sang pengkhianat itu?!”, seru Adam dengan nada marah.
“Iya Vi, kamu harusnya tidak melibatkan dia lagi”, seru Damien.
“Sudahlah, Vio sudah menjelaskan alasan melibatkan dia. Setiap manusia pasti ada khilaf dan melakukan kesalahan. Kita gak perlu mengungkit kesalahan dia”, ucap Abraham.
“Vi, apakah kamu yang membebaskan dia?”, tanya Steve dengan nada curiga.
“Tidak, tapi ada orang dibalik itu semua yang mau membebaskan dia”, ucap Vio dengan mata tidak mengalihkan dari pandangan Leon yang berdiri di sana dengan jarak 5 cm.
Abigail menghembuskan nafas saat melihat tatapan Vio tertuju kepada Leon dengan senyum manis yang membuat dirinya terbakar cemburu. Namun Abigail harus bisa menahan kecemburuannya dan sikap posesif saat ini.
Leon menyapa mereka dengan rasa canggung.
“Hai guys”, dengan senyum namun sapaan itu diabaikan oleh orang-orang yang ada di ruang markas itu. Leon hanya pasrah saja dengan tatapan sinis dari mereka. Leon menyadari kesalahan – kesalahannya tahun lalu. Di saat semua itu orang menatap sinis, Abraham dan Saddam mengulurkan tangannya menyambut kedatangan Leon dengan menghampiri dan memeluknya sambil memberikan tepukan di punggungnya.
“Selamat datang dude”, ucap Abraham.
“Thank you”, ucap Leon.
“Selamat bergabung kembali”, ucap Saddam dengan memberikan pijatan di kedua bahu lalu merangkul mendekat ke meja untjk bergabung dengan aliansinya.
“Syukurlah masih ada yang menerima pria yang malang. Sekarang kita bahas strategi untuk menangkap satu kancil. Pemburuan ini pasti tak akan mudah”, ucap Vio.
“Tentu saja”,ucap Chalvien.
Di saat para pria tengah bekerja keras menangkap kancil, sementara para istri sedang berkumpul di ruang yang dimana di sediakan oleh Vio. Ruangan itu sebenarnya milik William namun oleh Vio di gunakan sebagai perlindungan bagi kaum hawa yang lemah dan anak-anak.
“Guys ruangan ini sangatlah nyaman. Banyak permainan yang sudah lama kita tidak mencobanya”, ucap Aminah.
“Iya, jadi ingat masa waktu kita SMA”, ucap Alika.
“Bagaimana kabar Axel dan Gilang ya?”, ucap Aminah.
“Entahlah”, ucap Alika dengan ekspresi sedih ketika mengingat sahabatnya Raina yang telah lama ia rindukan meskipun Raina memiliki salah yang fatal karena memilih musuh.
“Sudahlah, kita lupakan yang lalu. Sekarang kita bisa bahagia bersama malaikat kecil”, ucap Aminah dengan mata tertuju kepada bayi-bayi mungil yang tengah tertidur di atas matras empuk.
(Kembali ke markas)
Vio telah menjelaskan secara detail termasuk peran Leon dalam strategi yang di buat Vio. Setelah menyelesaikan semua masalah strategi mereka beristirahat dengan meminum wine dan ada yang mempersiapkan senjata jitu mereka termasuk Vio. Vio mencoba menembak target yang ada di ujung dan mengenai pas di tengah target. Abigail melihat kemampuan Vio dalam menembak cukup kagum. Kekhawatiran terhadap Vio sedikit mereda karena istri kecil memiliki ketrampilan yang sangat bagus untuk melawan musuh. Lucas yang berada di samping Abigail juga mengagumi keahlian Vio.
“Abigail, aku mengagumi istrimu. Dia semakin lama ketrampilan semakin bertambah dan mengejutkan”, ucap Lucas.
“Ya, aku juga mengakui kehebatannya. Dia memberikan kejutan yang tidak terduga. Dia sudah banyak bekerja keras selama ini”, ucap Abigail dengan menyesap wine.
“Kehebatan dia membuatku iri. Aku sudah bertahun-tahun mengawal masalah ini namun ketrampilan aku semakin hari menurun akibat memikirkan banyak hal untuk melewati musuh-musuhku”, nimbrung Saddam.
“Itulah kelemahan kamu pak tua”, ledek Lucas. Abigail dan Abraham tertawa mendengar ledekkan dari Lucas untuk Saddam.
Setelah mengobrol dengan Lucas, Abigail mendekati istri kecilnya yang sudah selesai berlatih kemampuannya. Abigail memeluk tubuh istrinya.
“Sweety, kemampuan kamu semakin lama mengejutkan”, ucap Abigail dengan mencium ceruk Vio dan membuat dia geli. Lalu Vio menyuruh Abigail untuk berhenti melakukan yang membuat dia merasa geli. Namun Abigail tidak mengindahkan ucapan Vio dan malah bertubi-tubi menggoda istrinya sehingga Vio sangat jengkel dengan nada membentak sambil menginjak kaki Abigail.
“Tolong hentikan brengs*k”, marah Vio.
Abigail melepaskan pelukannya dengan berkata, “aku akan menghukummu karena sudah mengumpatku dengan kata brengs*k setelah semua ini selesai”, dan berlalu pergi.
Tubuh Vio menegang dengan menghembuskan nafas kasar lalu ikut bergabung dengan Leon, Abraham dan lainnya.
“Vi, kapan waktu tepat melaksanakan rencana kita?”, tanya Abraham.
“Besok”, ucap Vio.
__ADS_1
“Sementara aku dan Alam akan mencoba meretas rumah dan tempat-tempat yang pernah Ellios injakkan kakinya. Begitupun yang harus dilakukan Denis dan Chalvien di pijakan Willy”, ucap Vio.
“Lebih cepat lebih baik”, ucap Saddam.