Posesive Uncle Mafia

Posesive Uncle Mafia
Episode 86


__ADS_3

Raymond pergi menemui dua bawahannya yang baru keluar dari tahanan. Raymond menyapa kedua pria itu dan saling berpelukan.


“Hallo my brother”, sapa Raymond.


“Hallo”, sapa balik Ozzie dengan membalas pelukkannya.


“Hallo juga tuan”, sapa Christhoper.


“Silahkan duduk”, ucap Raymond.


Setelah itu, mereka kembali duduk dan membahas masalah menyerang Lucas.


“Bagaimana rencana anda selanjutnya?”, tanya Cristhoper.


“Tenang saja, kita pasti akan memenangkan pertarungan dengan mereka”, jawab Raymond dengan tersenyum miring.


“Kami percaya dengan kamu”, ucap Ozzie.


“Ngomong-ngomong, bagaimana ekspresi Steve ketika kamu keluar dari balik jeruji itu?”, tanya Raymond.


“Mungkin emosi, jengkel, atau ingin membunuhku”, ucap Ozzie desenyuman menyeringai.


Raymond dan Cristhoper tertawa setelah mendengar jawaban Ozzie yang benar-benar brengs*k.


Sementara Steve sedang amat kesal sambil menghembuskan nafas kasar dan melemparkan tubuhnya di sofa dalam markas setelah menerima panggilan dari teman setimnya. Abigail yang melihat ekspresi kesal Steve bertanya, “ada apa man?”


“Ozzie dan Cristhoper bebas”, ucap Steve.


“Apa?!”, terkejut Saddam yang baru saja datang bersama Abraham dan Denis.


“Ini akan jadi boomerang untuk kita”, ucap Abraham.


“Apakah kamu sudah pastikan berita itu Steve?”, tanya Lucas.


“Suda,aku melihat foto Ozzie dan Cristhoper berjalan keluar menggunakan jaket”, ucap Steve dengan memperlihatkan wajah penjahat itu.


“Harusnya sejak dulu kita membunuhnya meski itu melanggar hukum”, ucap Abigail sambil mengusap wajah kasarnya.


“Kita tidak perlu menyesali masa lalu. Kita hanya perlu menambahkan strategi untuk meringkus mereka”, ucap Joni.


“Pertama kita membagi kelompok menjadi tiga”, ucap Saddam.

__ADS_1


“Jika kita membagi tiga kemungkinan besar tidak akan berhasil”, ucap Joni.


“Terus kita harus membagi berapa?”, tanya Lucas.


“Kita membagi dua. Soal masalah Willy kita bisa melancarkan setelah kita menyerang mereka. Mereka akan lebih kuat dibandingkan kita”, ucap Joni.


“Tapi, kita juga tidak bisa diremehkan dan kita lebih kuat dari mereka”, ucap Daniel.


“Kita tentu lebih kuat. Namun kelicikan mereka tidak bisa sebanding dengan kelicikan kita. Mereka lebih licik dan pintar dalam jitu racun mematikan”, ucap Joni.


“Benar ucapan Joni, kita tidak boleh meremehkan kebolehan mereka”, ucap Saddam.


“Kalau begitu kita mensampingkan masalah Willy”, ucap Abraham.


“Benar”, ucap Lucas.


“Kita bagi dua kelompok meringkus Raymond, Ozzie, dan Cristhoper. Sedangkan Daniel, Damien, Adam, dan Denis pergi menyelamatkan Leon”, ucap Joni.


“Kenapa kita harus menyelamatkan Leon. Padahal ia sudah membuat kita terus dalam bahaya akibat perbuatannya”, ucap Adam.


“Dia juga korban dari kebodohannya. Aku jug sudah mengkomunikasikan ini kepada Amanda”, ucap Lucas.


“Baiklah, nanti malam kita harus siap”, ucap Joni.


Vio dan Alam mendengar pembicaraan mereka dari jarak jauh di bawah pohon besar.


“Serangan apa yang kamu gunakan tuan?”, tanya Cristhoper.


“Aku sudah menyiapkan obat mematikan untuk mereka”, jawab Raymond.


“Wow..”, semangat Ozzie.


“Kalian ku bagi beberapa racun untuk ditembakkan ke mereka saat kita menyelinap dalam perang itu”, ucap Raymond.


“Tentu saja, kami akan membuat kamu bangga”, ucap Ozzie.


“Aku sudah memposisikan Beni untuk membuat mereka tidak mengincar kita”, ucap Raymond.


“Aku sudah tidak sabar untuk memusnahkan mereka dari dunia ini. Kita juga bisa menguasai pemerintahan setelah ini”, ucap Cristhoper.


“Aku juga”, ucap Raymond dengan senyum menyeringai.

__ADS_1


Malam hari mereka bersiap untuk maju untuk meringkus Raymond dan para otak licik. Lucas dengan ketiga sahabatnya meringkus ke markas Raymond dengan menembakkan peluru ke arah dada pusat jantung.


Di luar tengah banyak anak buahnya berjatuhan, Raymond yang berada di dalam markas sedang bersenang-senang atas keluarnya Ozzie dan Raymond.


Ketika mendengarkan suara tembakan Raymond menghentikan pesta tersebut dan membalikkan serangan menggunakan senjata yang ada di sekitarnya sambil mengumpat kasar, “sh*t”.


Kenapa tidak sesuai rencanaku yanh ku susun. Aku harus mengeluarkan obat itu sebelum mereka membunuhku.


Raymond berlari masuk ke dalam ruangan namun terhalang oleh Saddam dan Joni.


“Kamu mau kemana nak? Sudah lama kita tidak bertemu”, ucap Joni dengan tersenyum sinis.


“Itu bukan urusan kamu”, ucap Raymond dengan mengetatkan giginya.


“Tentu, itu bukan urusanku namun sekarang menjadi urusan aku juga karena kamu telah membuatku sekarat. Ternyata kamu lebih picik dari paman kamu”, ucap Joni.


Raymond malah tertawa terbahak-bahak dengan keras.


“Tapi dia sudah mati, kamu tidak perlu mengungkitnya”, u Raymond. Lalu Raymond menodongkan pistolnya ke arah Joni dan Saddam sambil menyuruhnya untuk tidak menghalangi dirinya. Namun Joni dan Saddam tersenyum sinis kemudian menampik pistol itu dengan sekali tendangan yang diberika oleh Abraham.


Sementara Vio berhasil mengambil racun di dalam tasnya dan keluar ditengah peperangan.


Abigail yang tengah baku hantam melihat sosok tubuh perempuan yang dia kenal namu saat memperhatikan perempuan tersebut, Abigail terkena hantaman keras dari anak buah Raymond lalu Abigail membalas serangan itu.


Abigail mengenyahkan rasa penasaran itu dan lebih fokus menyerang para musuh.


Sedangkan Lucas, Steve, dan Chalvien menyerang Cristhoper dan Ozzie dengan saling menembak. Sampai peluru itu menancap ke bagian pundak kiri Cristhoper.


Lalu saat tembakan itu melayang kembali, Beni yang ada di belakang menyelamatkan Cristhoper hingga dirinya tertembak di bagian punggung.


Penyerangan itu tanpa henti sampai salah satu dari mereka terbunuh di bagian musuh besarnya Lucas. Peluru itu menancap sejajar bagian jantung milik Ozzie. Steve yang berhasil menembakkan ke arah Ozzie merasa puas setelah bagian kakinya ditembak oleh Beni dan Steve membalas.


Suara tembakan itu menggelegar di markas Raymond. Raymond yang merasa dipojokkan langsung menembakkan ke arah Joni tanpa babibu.


Lalu Joni tergeletak di samping Saddam sampai Abraham berteriak histeris yang menggema dan Saddam membalas tembakan itu bagian dada Raymond namun dihalangi oleh anak buahnya dengan pipi codet.


Peluru itu mengenai bagian lengannya. Membuat Saddam tidak puas dengan melayangkan senapan bertubi-tubi sambil berteriak dan menangis dalam untuk Joni hingga mengenai tubuh Raymond dengan bersimpuh darah.


Lalu Saddam tersungkur di hadapan Joni.


“Joni, maafkan aku. Aku sudah balaskan dendamu sampai ia mati. Tolong tetap buka matamu sampai aku membawamu keluar dan ke rumah sakit”, ucap Saddam.

__ADS_1


“Tidak apa-apa, ini sudah saatnya aku pergi. Tolong jaga Alam. Dia tidak memiliki keluarga. Mungkin peperangan ini telah usai setelah Raymond tiada”, ucap Joni dengan memuntahkan darah.


“Maafkan aku dan terima kasih atas jasa kamu untuk keluargaku”, ucap Saddam dengan tangisan pecah setelah Joni menghembuskan nafas terakhir.


__ADS_2