Posesive Uncle Mafia

Posesive Uncle Mafia
Episode 103


__ADS_3

Vio berjalan dengan gontai karena pinggang miliknya hampir patah akibat suaminya. Vio hanya bisa mendesah di sofa samping Abigail. Abigail menungging senyum ke atas.


“Itu belum seberapa sweety”,ucap Abigail dengan mengecup pipi kanannya.


“Jika segala misi yang sudah aku rancang sampai hancur, itu akan menjadi malapetaka untuk kita semua”, desis Vio dengan bersedekap di dada.


“Tenang saja, aku dan Lucas sudah merancang plan B yang belum kamu ketahui”, ujar Abigail.


Dalam markas lain Ellios tengah menyusun rancang sedemikian rupa untuk menyerang para anggota dari Saddam ataupun putranya. Ellios diam-diam mengajak Willy untuk tetap melakukan pemilihan sebagai anggota dewan rakyat untuk bisa menanjak lebih tinggi agar bisa menguasai dunia bisnis. Willy mengikuti ide Ellios dan Willy meminta Ellios memberikan anak buahnya untuk mengawalnya sampai jalan menuju sebuah tahta yang diyakini akan berhasil. Ellios sudah memikirkan permintaan Willy sebab rencana yang dia buat untuk mengalihkan musuh agar dirinya tidak dua kali kalah dalam genggaman musuhnya. Dia sudah bertahun-tahun mengelabui musuh dan merancang dalam anggota yang ia bentuk demi mencapai keberhasilan lebih tinggi.


Pergerakan Saddam dan orang-orang yang bekerja dengannya sudah di ketahui oleh Ellios. Ellios tidak gentar dengan apa yang dilakukan oleh mereka. Ellios malah menikmati aksi bodoh dari musuhnya.


Mereka melihat berita tentang jadwal debat para politik yang akan berlangsung hari Rabu, pukul 08.00. Berita yang ada dalam televisi membuat Saddam tak mampu menguasai emosinya. Saddam mengeratkan dua tangannya dengan rasa amarah yang meluap dalam dada. Steve yang berada di samping Saddam mencoba menenangkannya.


“Uncle, jangan menggunakan emosi itu tidak akan menguntungkan untukmu ataupun lainnya”, ucap Steve.


Steve menghubungi para anggota lain untuk melaksanakan rencana yang telah dibahas.


“Hallo”, panggil Steve melalui handsfree bluetooth.


“Kalian segera ambil formasi yang telah kita bahas”, perintah Steve.


“Baik pak”, ucap Brandon salah satu kapten dari kelompok yang Steve bentuk.


Setelah menghubungi kelompoknya, Steve memantau situasi dari layar belakang.


Sementara Saddam memantau aksi milik kelompok Leon, Daniel dan Lucas yang saat ini sedang menyusup di markas Ellios.


“Kita harus berhasil menghancurkan aliran Ellios agar tidak membahayakan para pengusaha lain dan keluarga kita”, ujar Saddam.


Mereka yang berada di dekat Saddam mengangguk kepala. Sementara Lucas, Leon dan Daniel tengah berusaha menyusup ke markas besar milik Ellios. Ellios kini tengah memperhatikan gerak gerik anggota politik dengan smirk. Di luar Lucas, Leon dan Daniel tengah berusaha menghindari anak buah Ellios dan CCTV yang di pasang.


“Lucas, kita harus matikan CCTV tanpa ketahuan dengan menembak”, ucap Leon.


“Jangan! Aku tengah berusaha meretas CCTV”, ucap Daniel.


“Baiklah, lakukan dengan benar. Aku akan perhatikan gerak gerik mereka dengan Leon”, ucap Lucas lewat sambungan handsfree bluetooth.


Lucas mencoba menembakkan obat bius ke arah para anak buah Ellios yang sedang berjaga di depan pintu maupun area tertentu. Begitu juga yang dilakukan Leon.


Beberapa jam kemudian Daniel telah berhasil meretas CCTV milik Ellios. Lalu Daniel menghubungi Lucas dan Leon bahwa dirinya berhasil meretas CCTV nya.


“Hallo guys, aku telah berhasil meretas CCTV itu. Tapi,..”, jeda Daniel.


“Tapi?”, tanya Leon yang tiba-tiba Daniel diam.


“Tapi kita hanya punya satu jam saja untuk sampai ke wilayah Ellios yang tersembunyi itu”, lanjut Daniel.


“Gak pa pa, kita bisa menyusup dengan waktu yang cukup”, ucap Lucas.


“Baiklah kita, masuk”, ajak Leon.


Mereka pergi menyusup dengan mengendap-endap. Sedangkan Abigail, Vita, Raiden, dan Alam pergi ke rumah mewah milik Wily. Di sana mereka di suguhkan beberapa anaj dari Ellios berjaga dengan menggunakan senjata. Abigail berdecak, “ck”, dengan menyandarkan punggungnya dijok.


“Ternyata mereka sudah saling terikat sampai rumahnya di jadikan kawasan termewah dalam urusan politiknya. Aku gak habis pikir dengan dia yang sejak dahulu mencari cara untuk mengumpulkan pundi-pundi uang demi keserakahan salah”, monolog Abigail yang di dengar Alam dan Vio dengan menggeleng kepala.

__ADS_1


“Uncle juga sama dengan dia”, ejek Vio dengan senyum sinis di belakang jok.


“No sweety, kami berbeda”, sangkal Abigail.


“Apanya yang berbeda. Perasaan menurutku sama”, seru Vita.


“Ada perbedaan yaitu aku gak terlalu serakah akan masalah wanita dan uang dengan cara yang salah meski aku gila juga dengan masalah uang”, terang Abigail.


“Oh ya..”


“Kalian berhentilah berdebat. Sekarang kita fokus masalah kita yang ada di depan mata kita”, potong Alam untuk memutuskan perdebatan mereka. Raiden yang sejak tadi diam hanya bisa menggeleng kepala dengan perdebatan dua sejoli yang baru saja bersatu kembali.


“Kita harus mengalihkan perhatian CCTV itu untuk dapat masuk ke rumahnya yang elit itu”, ucap Vio.


“Aku akan mencoba meretas mereka itu, sementara uncle dan Raiden melakukan tugas menembakkan jarum ke mereka. Kita jangan menggunakan peluru..”


“Kami tahu sweety, kamu gak perlu menjelaskan. Itu misi yang biasa kami lakukan”, potong Abigail.


“Kalau begitu lakukanlah”, ucap Vio tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop.


Raiden dan Abigail ke luar dari mobil. Sebelum pergi, Abigail membuka pintu mobil belakang lalu menarik rambut Vio membuat sang empu terkejut dan mengadu kemudian mengecupnya.


“Manis”, puji Abigail.


Alam dan Raiden menggeleng kepala heran dan tak habis pikir dengan tingkah Abigail yang seperti remaja.


“Dasar gila”, umpat Vio dalam batinnya dengan melirik sinis wajah brengs*k itu yang sayangnya rupawan.


Mereka bergerak sesuai instruksi rencana B yang dibentuk oleh para mafia itu sendiri tanpa ada campur tangan Vio. Rencana yang di buat Vio sedikit sia-sia namun ada beberapa gunanya. Vio berkutat dengan sepuluh jarinya untuk meretas CCTV tersebut. Sementara Alam tengah memusatkan situasi dalam menggunakan drone lebah. Para mafia tengah bertempur satu sama lain. Sampai kekacauan itu terjadi terutama wilayah gedung stasiun televisi. Semua dunia gempar dan saling memberitakan kejadian-kejadian di perdebatan para politikus.


Ellios kini terbahak-bahak dengan kekacauan yang terjadi sampai mengeluarkan air mata di sudut kelopak mata.


“Tak ku sangka semua gerak gerikku terbaca”, terang Ellios sambil membuka topeng setengahnya. Ia memperlihatkan wajahnya setengah terbakar.


“Dia seperti jelmaan monster man”, bisik Daniel di belakang punggung Leon dan Lucas.


“Ternyata kalian sudah tumbuh besar dan rupawan. Aku kira kalian akan bermusuhan sampai akhir hayat seperti orang tua kalian”, terang Ellios.


“Aku senang bertemu dengan kalian”, ucap Ellios.


“Kamu banyak bicara!”, seru Leon dengan sorotan mata menajam.


“Yah, kalian terlalu terburu-buru. Memburu terlalu tergesa-gesa akan membahayakan nyawa kalian. Bagaimana jika kalian meninggalkan istri beserta anakmu? Kan kasihan”, ucap Ellios dengan ekspresi pura-pura sedih.


“Bangs*t!Diamlah!”, seru Lucas dengan pancaran mata yang tersulut emosi.


Ellios menekan tombol sesuatu dan suara sirine terdengar oleh anak buah mereka yang tangguh-tangguh datang dan langsung menodongkan senjata mereka dari belakang.


“Sudah aku katakan kan? Jika kalian terlalu tergesa-gesa akan berakibat fatal berujung kematian bahkan permusuhan kembali terjadi. Lebih baik kalian duduk dan kita mengobrol soal bisnis atau saham kalian”, ucap Ellios sambil memainkan rubik.


Saddam yang berada di layar belakang menginstruksi mereka agar tidak terlalu memburu. Saddam sudah menyiapkan beberapa anak buahnya untuk meringkus wilayah Ellios. Lucas, Leon, dan Daniel saling bertatap.


“Apa yang kau katakan benar, tuan?”, ucap Daniel.


“Apa yang kau inginkan setelah selamat dari maut mu?”, tanya Lucas dengan mengangkat sebelah alisnya.

__ADS_1


“Aku gak perlu apa-apa..”, dengan menghempaskan bokongnya di kursi. “Aku hanya merebut sesuatu yang berharga yang seharusnya menjadi miliki semenjak aku menjadi bawahan Courvien dan ayahmu”, ucap Ellios sambil mengangkat satu kakinya untuk bertumpu dengan kaki kirinya.


Leon berdecak dengan tak percaya apa yang dikatakan oleh Ellios. Ia merasa kalau Ellios terlalu berbelit.


“Kamu sudah mengambilnya milik keluargaku. Jadi, kamu gak perlu terlalu serakah untuk mendapatkan semuanya”, sarkas Leon.


“Aku gak pernah serakah, tapi itu yang ku butuhkan. Bertahun-tahun aku yang telah banyak berkorban namun apa yang ku dapatkan... “, ucap Ellios dengan mengedikkan bahunya.


“Baiklah, aku akan berikan apa yang kau inginkan setelah semua ini selesai”, tantang Lucas.


Di tengah obrolan mereka yang panas tiba-tiba semua anak buah dari Ellios tergeletak dan berganti anak buah milik Saddam yang di kirim olehnya. Ellios berdecak dengan tersenyum sinis melihat sekelompok orang berbaju hitam mengepung dirinya baik melewati atap maupun jalur biasa.


“Aku sangat salut perkembangan kalian dalam menempur musuh. Kalian tidak sia-sia. Aku sangat menghormati perkembanganmu”, puji Ellios dengan bertepuk tangan.


“Tetapi sayang sekali, formasi yang kalian buat akan terjadi seperti dahulu kala”, ucap Ellios. Saddam yang sejak tadi mendengar ucapan demi ucapan yang di lontarkan oleh Ellios sedikit merasa jengkel dalam benaknya. Ia ingin menghabisi pria itu dengan tangannya sendiri. Saddam tersulut emosi lalu ia pergi dengan langkah lebar namun langsung dicegah oleh Chalvien.


“Uncle, jangan tersulut emosi. Jika uncle menggunakan emosi akan membawa kita seperti masa lalu yang telah dialami oleh Courvien. Kamu harus memainkan taktik dan mengikuti permainan dia”, ucap Chalvien. Saddam menghembuskan nafas kasar dan mengendalikan emosinya lalu kembali ke tempat duduknya. Saddam mengusap wajahnya dengan kasar lalu menarik nafas lalu menghembuskan dengan kasar.


Setelah beberapa detik mengendalikan emosi, Saddam kembali mengamati situasi di markas Ellios.


“Kalian gak perlu susah-susah membawaku ke neraka. Kita akan pergi bersama”, smrik Ellios.


“Apa yang kau katakan bangs*t!”, bentak Leon.


“Well, pikirkan sendiri”, senyum licik Ellios.


Saddam yang mengerti pembicaraan Ellios langsung mengintrupsi mereka untuk segera keluar dari markas itu. Mereka mencari jalur keluar namun telah di tutup. Ellios tersenyum menakutkan. Lalu dengan emosi meluap salah satu anak buah milik Saddam menembakkan peluru ke arah Ellios dari belakang beberapa kali membuat Ellios memuntahkan darah. Lalu Lucas, Leon, dan Daniel melangkah ke arah monitor mengutak atik programer yang ada di sana malah menambahkan masalah dengan bom peledak dengan waktu yang berkurang membuat mereka begitu khawatir. Di kediaman William, Alika merasakan dadanya sesak begitu juga yang di rasakan Amanda dan Aminah.


Lucas mencoba meriset terus program yang dibuat Ellios yang sudah terkapar di lantai. Daniel dan Leon juga tengah berusaha namun kenyataannya nihil sampai mereka mengucapkan kata selamat tinggal untuk keluarga mereka. Saddam yang mendengarkan pesan dari ketiga pria itu membuatnya frustrasi dan berpikir keras untuk menyelamatkan mereka namun saat itu tiba-tiba bom waktu menipis tinggal hitungan jari sampai Saddam berteriak hingga menggema seluruh ruangan.


Akan tetapi di markas Ellios, William telah berhasil menjinakkan bom waktu itu setelah beberapa kali ia gagal. William memasuki gedung yang telah terbuka secara otomatis. William menepuk pundak Leon dan Daniel yang meringkuk bersiap terkena ledakan bom. Mereka kaget dengan tepukan tangan William yang sudah beberapa kali mereka belum tersadarkan.


“Oh”, Daniel dengan ekspresi antara bingung dan masih belum sadar.


“Guys, kita harus segera pergi sebelum bom yang utama meledak”, seru William. Mereka mengangguk dan berlari keluar lalu bom itu meledak dengan keras. Semua orang yang hanya terluka dan telah terselamatkan merasa lega kecuali orang-orang yang tidak dapat tertolong bahkan telah kehilangan nyawa mereka hanya dapat mendoakan kepergian mereka terutama Ellios.


“Lega rasanya, aku masih bisa bertemu istriku dan kedua putraku, ucap Daniel dengan mengusap dada bidangnya.


William mengulum senyum melihat mereka bernafas lega karena nyawanya telah terselamatkan. Ketika tengah menikmati perasaan leganya, tiba-tiba ada sebuah tangan kokoh menepuk pundaknya. William menoleh ke arah orang yang menepuk pundaknya.


“Uhmm, thank you”, ucap Lucas.


“Ya, sama-sama”, ucap William dengan mengulum senyum.


“Oh ya, kamu begitu familiar. Kita pernah bertemu gak sih?”, tanya Leon.


“Kita baru bertemu hari ini di tempat yang tak seharusnya kita untuk saling berkenalan. Namun kalian akan mengetahui siapa aku setelah kita menolong mereka yang terluka”, ucap William dengan mengajak mereka pergi menolong orang-orang yang terluka.


Lucas menghubungi pihak rumah sakit sedangkan Daniel dan Leon ikut membantu memberikan pertolongan pertama kepada mereka.


Setelah memanggil banyak ambulan mereka pergi ke markas dengan dikemudikan oleh William. Lucas, Daniel, dan Leon bertanya-tanya mengenai pria yang tengah mengemudi.


“Wajahnya sangat tidak familiar, sepertinya aku pernah melihatnya. Tapi dimana ya? Haahh!!Kenapa otakku jadi lemot begini sih? Haishhh bikin gatal aja kepalaku”, seru Daniel dengan mengacak rambutnya sendiri. William mengulum senyum tingkah yang ditampilkan oleh Daniel lewat kaca spion belakang.


Lucas dan Leon mengabaikan wajah William yang familiar dan lebih memilih memikirkan istri dan anaknya.

__ADS_1


Di sisi lain tempat berbeda Vio, Abigail, Alam, dan Raiden telah berhasil mencuri data milik Willy dan isi brangkas yang kian sangat rumit untuk memecahkan kode brangkas tersebut. Setelah mendapatkan apa yang mereka perlukan, Vio, Abigail, Alam, dan Raiden meninggalkan kediaman milik Willy meski dengan beberapa bagian tubuh yang lecet akibat baku hantam dan saling menembakkan. Mereka kembali dengan buah tangan ke markas. Begitu juga Steve yang telah berhasil meringkus kembali Christoper meski ia dalam keadaan kritis. Seluruh anggota yang sudah di kerahkan kembali berkumpul ke markas dengan perasaan senang tanpa ada yang mengalami luka parah.


__ADS_2