Posesive Uncle Mafia

Posesive Uncle Mafia
Episode 105


__ADS_3

Saat tiba di kamar, Leon membuka ponsel untuk menghubungi istrinya namun tiba-tiba ada sosok pria paruh baya datang tanpa mengetuk pintu. Pria itu adalah Saddam. Saddam langsung menghempaskan bokongnya di pinggir ranjang sebelum pemilik kamar mempersilakannya. Ia membuka suara dengan menepuk paha Leon.


“Maafkan uncle.. Uncle tak tahu harus berkata apa mengenai daddy mu dan momy mu. Seharusnya aku menemuimu dan mencarimu.. Aku terlalu egois dan pengecut menghadapimu.. “. Saddam berekspresi sedih dan bersalah akan masa lalu yang pernah terjadi. Leon menghembuskan nafas lalu mengatakan apa yang ada dalam hatinya yang selama ini ia pendam.


“Uncle..maksudku Mr.Saddam..aku tahu akan perasaanmu itu.. Aku tak menyalahkan akan keadaan yang terjadi kepada keluargaku. Meski dulu aku sempat mengambil langkah yang salah mengikuti jejak Raymond. Namun setelah ku sadari kemungkinan yang harus di salahkan itu para baj*ngan yang pernah menjerumuskan keluargaku dalam keadaan kacau. Aku sudah tidak memiliki dendam terhadapmu atau keluargamu setelah aku membuka buku harian dan surat milik keluargaku. Ketika aku membaca semua isi kalimat yang dicurahkan momy ku. Aku menyadari bahwa aku salah mengambil langkah dan membuatku terjerumus permainan Raymond. Lalu aku dengan tulus membantumu untuk menghancurkan mereka meskipun tadinya aku mengambil jalan itu hanya untuk membalas budi kepada Vio yang telah membantu keluar dari tahanan”. Leon beranjak dari duduknya dan diikuti oleh Saddam lalu merentangkan kedua tangan mengajak Leon berpelukan dengan mengatakan bahwa dia dan keluarganya tidak memiliki dendam bahkan bermusuhan akan masa lalu akibat insiden kesalah pahaman. Leon menerima ajakan Saddam. Saddam menepuk punggung Leon dan berkata, “ maafkan saya yang pengecut ini. Maafkan saya yang tidak menyelamatkan kamu. Maafkan semua keegoisanku..”


Saddam melepaskan pelukkannya dengan mengulum senyum hangat nan tulus. “Uncle harap kita tetap terus terhubung. Uncle juga ingin kamu menjadi bagian keluarga kecilku dan mengadu semua hal yang tidak dapat kamu selesaikan”.


“Tentu. Kamu harus menebus dosa keluargaku dan aku tidak akan sungkan memintamu sesuatu yang nantinya ku inginkan”, senyum Leon.


“Baiklah, uncle akan menanggung semua beban ini dan terus memberikan bantuan untukmu, untuk masa depan”.


“Uncle menemui kamu bukan sekedar membicarakan ini saja tetapi ada hal lain yang uncle harus sampaikan kepadamu”, tukas Saddam.


“Apa yang ingin kau katakan?”, tanya Leon dengan berjalan menuju sofa sambil menuangkan anggur yang sudah tersedia di meja.


“Hahhh~”. Saddam menarik nafas dengan hembusan kasar. Hembusan nafas miliknya terdengar di telinga Leon. Leon membiarkannya. Leon menunggu perkataan yang akan di lontarkan oleh Saddam dengan meneguk anggur.


Saddam memulai membuka suara setelah meneguk anggur yang dituangkan oleh Leon.


“Ini soal ayahmu dan Alika”,jeda Saddam sambil melihat reaksi Leon yang ada di sampingnya. Leon mengangkat sebelah alisnya seolah meminta penjelasan kepada Saddam.


“Maksudku Alika merupakan adik tirimu”, ucap Saddam dengan melihat raut wajah milik Leon yang terlihat terkejut.


“Kamu sangat terkejut, pastinya”, ucap Saddam kembali sambil mengalihkan pandangan ke lantai.


“Apa yang kau ucapkan aku belum mengerti?” Leon semakin bingung arah pembicaraan yang di lontarkan oleh Saddam.


“Ya, aku tahu. Yang pasti aku menyampaikan pada intinya kalau Alika adalah adik tirimu”.


“Katakanlah dengan jelas, tuan Saddam”, ucap Leon dengan nada rendah.


“Alika merupakan putri dari hasil hubungan nikah siri ayahmu dengan ibu Alika dengan singkatnya hanya beberapa tahun saja tanpa sepengetahuan momy kamu. Ia mengenal ibu Alika saat Courvien datang berkunjung ke Indonesia”, jelas Saddam.


“Apakah Alika mengetahui itu?”, tanya Leon dengan raut wajah dingin.


“Entahlah, menurutku Alika tidak mengetahuinya”, jawab Saddam dengan menengok Leon yang berekspresi dingin.


“Apa uncle memiliki bukti jika daddy pernah memiliki hubungan dengan ibunya Alika?”


“Aku memiliki bukti. Sekarang dokumennya sudah aku bawa. Tadinya aku juga tak percaya. Setelah berulang kali aku amati dan mencari bukti lainnya ternyata benar. Uncle berharap kamu bisa menerima dengan lapang dada” Saddam lalu beranjak dari tempat duduk dan pergi meninggalkan Leon sendirian. Saddam keluar sambil berharap kepada Tuhan agar Leon mau menerima Alika sebagai adiknya tanpa rasa dendam maupun amarah.


Leon membuka semua berkas yang di tinggalkan oleh Saddam. Leon membaca dengan telaten meski raut wajahnya terlihat tak bisa menahan gejolak ingin marah atas pengkhianatan ayahnya terhadap cinta momy nya. Leon sebenarnya belum bisa menerima ini. Leon meremas kertas itu dengan erat sampai kucel lalu berteriak untuk melampiaskan kemarahannya kemudian membaringkan tubuhnya di sofa sambil meneguk anggur sebotol untuk menghilangkan semua kegalauan yang ia rasakan selama ini.

__ADS_1


“Kenapa hidupku penuh dengan kejutan? Apa yang ku perbuat di masa silam? Aku tak ingin mengambil langkah yang salah lagi. Tuhan bantu aku menemukan jalan keluar dan dapat menerima Alika sebagai adik perempuanku. Bukankah mata dan hatiku untuk mendapatkan kebaikan di keluargaku. Aku sudah lelah menghadapi kegalauan ini. Bantulah aku..”


...


Pagi pukul 07.00 Leon, Chalvien, dan Vio menyiapkan hidangan sarapan pagi. Leon bagian membuat pasta lalu Chalvien membuat jus, sedangkan Vio membuat camilan. Mereka melakukan kegiatan masing-masing di dapur tanpa obrolan dan hanya sebatas meminta tolong untuk urusan bumbu dapur.


Beberapa lama kemudian mereka pergi memanggil orang-orang yang ada di markas untuk diajak sarapan pagi. Leon dan Chalvien bertugas mengajak teman-temannya untuk sarapan bersama sementara Vio bertugas membangunkan suaminya yang masih asyik bergelung di bawah selimut.


Vio mendekatinya dengan memberikan tepukan di pipinya dan Abigail hanya mengeluh. Vio merasa kesal lalu membisikkan suatu ancaman kepada suaminya.


“Jika tidak bangun-bangun jangan harap kamu mendapatkan pelayanan khusus yang selalu kamu tak bisa lepas dari itu”. Abigail beranjak bangun dari tidurnya dan menarik tangan Vio yang akan beranjak. Vio terjatuh di atas tubuh Abigail yang keras dengan mengadu sakit. Saat Vio akan membuka suara Abigail sudah membungkam bibirnya dengan suatu ciuman. Lalu beberapa menit kemudian Abigail melepaskan dan berkata, “ini pagi yang cerah aku butuh kecupan manis darimu untuk mengisi energiku yang baru bangun”. Abigail mengedipkan satu matanya lalu bergegas membersihkan diri. Sedangkan Vio menekuk wajahnya dengan perasaan kesal setiap ulah Abigail yang tak pernah luput dari hal-hal intim.


Vio keluar dan langsung menempati meja makan sambil bermain ponsel sampai semua orang datang mengambil posisi yang kosong.


Ketika Vio tengah asyik bermain ponsel, Chalvien, Lucas, Saddam, Abraham, dan Denis datang mengambil tempat duduk di kursi kosong.


“Morning girl”, sapa Abraham.


“Morning uncle”, sapa Vio dengan meletakkan ponselnya.


“Dimana suami kamu?’, tanya Abraham.


“Dia sebentar lagi keluar”, jawab Vio.


“Bagaimana keadaan jasad Ellios?” tanya Saddam.


“Jasadnya hancur”, jawab Daniel.


“Terus mengenai pengejaran orang-orang di pelabuhan bagaimana?” tanya Vio.


“Mereka telah di tangkap dan Steve sedang menangani mereka”, jawab Chalvien.


“Apakah di sana ada orang yang bernama Danu?” tanya Vio.


“Entahlah, lebih baik kamu cek sendiri ke sana”, jawab Chalvien dengan meneguk air.


“Sweety, kita bisa mengeceknya di sana”, bisik Abigail. Vio mengangguk kepala.


...


Usai sarapan pagi mereka bergegas menemui keluarganya. Mereka berbondong memberikan kejutan untuk orang-orang yang mereka sayangi.


“Guys sudah siap?” tanya William yang sudah siap mengantar keluarga besar mafia.

__ADS_1


“Ya, kami sudah siap” ucap Saddam.


“Aku sudah merindukan istriku dan putriku” ucap Adam.


“Kita segera bergegas. Takutnya mereka berfikir yang tidak-tidak mengenai kalian” ucap William.


William berjalan lebih dulu menuju mobil sedan hitamnya dengan diikuti oleh beberapa pria di belakangnya kecuali Vio yang masih bengong karena sedang beradu dengan pikiran di dalam kepalanya masalah Danu.


“Sebelum aku menemui mereka, aku sebaiknya memastikan keadaan Danu. Aku gak mau gagal soal urusan kebusukan pria tua tersebut. Aku gak boleh banyak berfikir. Aku akan bicarakan dengan Abigail...”


Abigail melihat Vio tengah melamun, ia menepuk pundaknya dengan pelan. Vio kembali dari alam sadarnya dengan sedikit gagap. Abigail melihat istrinya yang aneh bertanya dengan pelan sambil mengusap kedua pipi cubby nya dengan lembut.


“Ada apa?”


“Katakanlah!”


“Aku akan mendengarkanmu”, dengan memberikan kecupan pada tangan milik Vio.


Vio mengungkapkan kegelisahannya sejak tadi mengganggu suasana hati dan pikirannya.


“Uncle, kita harus memastikan Danu terlebih dulu. Aku gak mau kali ini ia lolos. Kita bisa minta tolong kepada Raiden untuk menjaga mereka. Aku gak bisa tenang jika keberadaan Danu yang masih bebas”seru Vio dengan ekspresi resah.


“Tenanglah sweety”Abigail mencium kedua tangan Vio kembali lalu menatap kedua bola mata hitamnya yang pekat. “Baiklah sweety, kita ke sana memastikan keberadaan Danu. Sebelum ke sana kita harus berpamitan dengan yang lain dan meminta tolong kepada Raiden untuk menjaga anak-anak kita”.


“Baiklah” ucap Vio.


Abigail dan Vio berjalan beriringan sambil bergandengan tangan menuju ke arah Saddam dan anggota lainnya.


“Maaf uncle, kami gak bisa ikut bersama kalian menjemput mereka”, ucap Vio.


“Kenapa?” tanya Alam.


“Kami mau pergi ke markas CIA untuk memastikan seseorang yang Vio cari”, ucap Abigail.


“Jika membuat kalian mendesak, pergilah” ucap Saddam.


“Raiden kami minta tolong jaga mereka” pesan Abigail sambil memegang pundak kanannya.


“Baiklah” ucap Raiden dengan menghembuskan nafas.


“Thank’s Raiden”, ucap Vio.


Saddam menyuruh semua orang untuk segera berangkat meninggalkan Vio, Abigail dan Steve.

__ADS_1


__ADS_2