
Usai sarapan, mereka berkumpul di ruangan kedap suara dan tidak ada CCTV yang memantau mereka di ruangan tersebut. Di dalam ruangan itu berisi senjata api berbagai jenis untuk menumbangkan musuh maupun hewan liar.
Lucas mulai membuka suara perihal pembicaraan Abigail lewat ponsel yang terus teringang di telinga.
“Abigail, bisakah kamu katakan sekarang tentang obrolan kemarin lewat ponsel?”, tanya Lucas.
Abigail yang sedang mengagumi senjata lalu meletakkan kembali setelah Lucas mulai membuka perihal waktu malam kemarin.
“Tentu”, ucap Abigail.
“Kemarin aku datang di kediaman Joni”, ucap Abigail dengan duduk di kursi sambil menuangkan wine dalam gelas.
“Joni?”, terkejut Chalvien.
“Kamu mengenalnya?”, tanya Lucas.
“Tentu, dia pria yang mengajarkan aku menjadi lincah seperti sekarang ini”, ucap Chalvien.
“Dia juga pria yang mengajarkan Steve bela diri dan mengenalkan senjata tajam”, sambung Chalvien.
“Baiklah, kita bicarakan masalah Joni dengan kalian nanti saja. Aku ingin membahas pria yang selama ini mengincar keluargaku”, ucap Lucas.
“Ok man”, ucap Chalvien.
“Aku lanjutkan”, ucap Abigail yang diangguki oleh Chalvien, Lucas, dan Steve.
“ Joni menunjukkan sebuah sosok yang membuatku tidak menduga. Sosok pria itu selama ini di samping kita dan sering bersenda gurau dengan kita. Dia adalah Leon dan Beni. Dua pria yang kita anggap sebagai sahabat yang saling bahu membahu ternyata di belakang kita mereka merupakam musuh”, ungkap Abigail.
“Sudah aku duga dengan gerak gerik mereka yang begitu aku curigai. Pertama kali yang mencurigai itu adalah Mark”, ucap Steve.
“Auhhhh...”, helaan Lucas dengan bekacak pinggang sambil mengadah kepalanya ke atas.
“Dia putra Courvien”, ucap Abigail.
“Ternyata dendam masa lalu kembali terulang”, ucap Chalvien.
“Bukankah Courvien itu musuh Saddam tetapi kita harus menanggung kebencian itu dengan setiap generasi. Ternyata seorang mafia seperti kita tidak mudah juga untuk melepas jeratan masa lalu”, ucap Lucas.
“Benar katamu Lucas, kita juga masih ada musuh yaitu Wily untuk kita tidak lupakan”, ucap Abigail.
“Begitu juga yang ku rasakan terhadap Ozzie yang ingin kubunuh juga dalam sel tahanan namun aku tidak ingin membuat adikku sedih di alam lain”, ucap Steve dengan tersenyum kecut.
“Apakah Amanda mengetahui perbuatan Leon?”, tanya Lucas.
__ADS_1
“Entahlah”, ucap Abigail.
“Tunggu, tunggu, dahulu, aku ingin bertanya yang sedang bersarang dalam otakku. Kamu dapat informasi itu dari mana? Terus bukti otentiknya apakah kamu membawanya?”, tanya Cahlvien.
“Aku mendapatkan dari gadis itu”, ucap Abigail. Lucas mengerti dari tatapan Abigail siapa gadis tersebut dengan tersenyum.
“Ternyata gadis itu pintar dan berani meski dari luar terlihat polos dan penakut”, ucap Lucas.
“Itulah dia”, ucap Abigail.
“Siapa gadis itu?”, tanya Chalvien.
“Tentu saja kamu tidak perlu tahu”, senyum Abigail.
Sementara gadis yang sedang di obrolin sedang memuntahkan makanan dari dalam perutnya di kamar mandi.
Vio merasakan kepalanya sedikit pusing dan perutnya terasa tidak nyaman sehingga membuatnya mual tiap kali akan menyentuh hidangan yang dibuat sendiri. Kini tubub Vio merasa lemas dan dia duduk di pinggir ranjang dengan bernafas lega setelah semua isi perutnya keluar.
“Hahhhh...kenapa dengan tubuhku ini?”, gumam Vio.
“Mungkin aku harus membaringkan tubuhku agar rasa mual berhenti”, gumam Vio dengan naik ke atas ranjang dan memeluk guling hingga terlelap.
Sedangkan Joni sedang minum kopi hitam pekat sambil membaca koran di depan teras halaman depan sambil menikmati angin sepoy.
Setelah membahas perencanaan itu, Lucas menyuruh Chalvien untuk mendekati Leon untuk sementara waktu mencari informasi tentangnya.
Lucas kembali ke mansion dengan tatapan dingin semenjak Alika terbaring di suatu tempat untuk masa penyembuhan. Suasana yang begitu ceria sebelumnya menjadi suram setelah Alika tidak ada. Mrs Margarerh dan Mrs. Samantha merasakan semua perubahan itu begitupun pelayan lainnya.
Setelah beristirahat sebentar Lucas bersiap menghadiri acara di pelabuhan diatas kapal pesiar.
Lucas memakai setelah kemeja putih dengan terbalut jas hitam dan dasi kupu-kupu yang terlihat begitu tampan dan terlihat cool dengan eskpresi dingin.
Lucas melajukan mobilnya dengan di dampingi Rafael yang dipercaya oleh Saddam.
Beberapa lama kemudian Lucas berhenti di area parkir di pelabuhan dan berjalan menuju kapal persiar dengan diikuti oleh Rafael. Ketika berjalan, Lucas berpas-pasan dengan Leon dan saling bertegur sapa seperti biasanya.
“Hai Lucas!’, sapa Leon dengan tersenyum.
“Hai Leon”, sapanya.
“Kamu datang sendirian?”, tanya Leon.
“Lihatlah, aku tidak bawa pasangan berarti aku sendiri”, ucap Lucas dengan tangan kanan disembunyikan dalam kantong celana.
__ADS_1
“Kemana Alika?”, tanya Amanda.
“Dia sedang tidak enak badan”, ucap Lucas.
“Oh my god, tapi dia tidak kenapa-napa kan Lucas. Memang cuaca saat-saat ini kurang mendukung. Jadi, orang cepat terkena flu atau bahkan demam”, ucap Amanda.
“Ya, begitulah”, ucap Lucas.
“Kalau begitu kita masuk sama-sama”, ajak Leon dengan tersenyum dan berjalan dahulu. Sedangkan Lucas yang berada di belakang mengeratkan tangan sambil emosi yang kini ditahankan dan berkata dalam batin, “ lihatlah ekspresi konyolmu saat ini. Aku akan membalas semua perbuatan yang sudah berani menuai dalam kehidupanku”.
Lucas masuk menyerahkan undangan kepada dua penjaga dengan diikuti Rafael dibelakangnya. Mereka berjalan menyusuri tempat bersama Leon dan bertemu dengan Adam di sana yang sedang berbincang bersama Saddam yang membuat Lucas terkejut.
Kenapa pak tua ada di sini?Katanya pensiun, ternyata dia menelan ludahnya sendiri. Ck.
Leon yang melihat Saddam merasakan hawa marah ketika mengingat masa lalu dimana keluarganya terbakar dalam kobaran api akibat bahan peledak yang di pasang dalam mansionnya.
Ekspresi Leon yang tadinya sangat emosi lalu mengubah ekspresi itu dalam sekejap dan menyapa dengan tersenyum.
“Hai bro”, sapanya dengan melambaikan tangan.
“Hai Leon, sapa balik dari Adam.
“Tidak nyangka kita bakal bertemu dan berkumpul di sini”, ucap Adam.
“Iya juga”, ucap Leon.
“Hallo Amanda”, sapa Adam.
“Kamu malam ini terlihat cantik dan elegan”, puji Adam.
“Thank you”, ucap Amanda.
“Oh ya, perkenalkan pria ini bernama Saddam dan ternyata dia ayah Lucas sendiri”, ucap Adam.
“Hallo uncle, perkenalkan saya Amanda”, ucap Amanda memperkenalkan diri.
“Hallo tuan Saddam perkenalkan saya Leon”, ucap Leon.
“Senang berjumpa dengan kalian”, ucap Saddam.
Lucas yang sedang berdiri hanya mengamati sambil menikmati wine yang disuguhkan di meja prasmanan.
Setelah bertegur sapa mereka mengobrol kearah hal terkait bisnis yang tiada hentinya membahas membuat Amanda di tengah obrolan mereka merasa bosan.
__ADS_1
Beberapa lama kemudian, pelelangan dimulai. Seorang pria yang sedang berada di tengah panggung sedang memandu dan menawarkan beberapa barang antik sampai sejenis berlian yang ditawarkan. Banyak peserta yang antusias mengangkat nomor dan memberikan harga yang paling terendah enam juta sampai ada di tawar hingga empat triliun.
Tatkala Lucas sedang menghadiri pelelangan kini Alika terbangun dalam tidurnya meski kepalanya masih sedikit terasa sakit akibat efek pengobatan yang ditawarkan oleh ahli dokter forensik yang menangani pengobatan Alika untuk menatralisir racun. Alika membuka sedikit matanya untuk menyesuaikan cahaya yang memantul di ruang inapnya dan mencoba untuk bersandar di kepala ranjang sambil memanggil suaminya dengan suara serak entah karena dehidrasi atau baru bangun dari tidur panjangnya.