
Sepeninggal Cici dan Ibu Ilona, Widuri hanya bisa menangis terisak di atas kasur. Ingin rasanya Widuri pergi dari rumah itu, tapi kemana?. Ibu nya di kampung juga tidak menerimanya hamil tanpa suami. Kalau Widuri tinggal kembali di rumah yang biasa di tempati nya, jujur Widuri tidak punya mental jika harus menghadapi warga di sana. nantinya, karena hamil tanpa suami. Dan bisa saja nanti ia akan di usir dari rumah itu.
'Ya Tuhan, aku gak sengaja melakukannya, tapi kenapa aku di hukum seperti ini?' batin Widuri.
**
Cici yang sudah sampai di perusahaan, langsung masuk ke ruang kerja Haris dengan membawa plastik berisi kotak makanan di tangannya.
"Kamu dari mana?" tanya Haris yang sudah sampai dari tadi.
"Mencari makan siang untuk kita" jawab Cici mengulas senyumnya.
Tadi aku sudah makan, kamu makanlah" ujar Haris. Selesai akad nikah tadi, Haris menyempatkan diri untuk makan bersama Widuri dan Pak Solihin di sebuah restoran.
"Aku pengen disuapi sama kamu." Cici meletakkan kantong plastik yang di bawanya di atas meja kerja Haris, kemudian mendekati Haris, mendudukkan tubuhnya di pangkuan pria itu.
"Cici, pekerjaanku lagi banyak, kamu makan sendiri aja ya" ucap Haris dengan suara lembutnya.
"Aku sudah mengijinkanku menikahi Widuri, Ris. Bisakah kamu sedikit saja menghiburku. Ini tidak mudah bagiku, Ris." Cici meneduhkan pandangannya ke wajah Haris, menatap pria itu dengan mata berkaca kaca.
Haris menghela napasnya," Baiklah!" pasrah Haris tidak tega melihat raut wajah sedih Cici. Haris pun menurunkan Cici dari pangkuannya, lalu berdiri menarik tangan Cici berjalan ke arah sofa di ruangannya. Seperti permintaan Cici, Haris pun menyuapinya. Tiba tiba....
Buarr!
Pintu ruangan itu terbuka dengan kasar, seorang wanita berperut besar masuk bersama Kanzo mengikuti dari belakang.
"Pak Haris, apa benar yang aku dengar?. Kalau kamu menikahi Widuri barusan, dan sekarang dia sedang mengandung anakmu" cerca wanita hamil itu menatap tajam ke arah Haris dan Cici yang masih duduk di sofa.
"Tenang sayang, jangan galak galak nanyanya" ujar Kanzo, memeluk istrinya itu dari belakang.
"Kamu itu sama aja dengan Pak Haris" cetus wanita bernama Marya itu kepada suaminya.
"Mana ada sayang, tampanan aku, kaya juga lebih kaya aku" ucap Kanzo konyol. Istrinya itu sangat galak semenjak hamil, tapi Kanzo tidak pernah menanggapi itu dengan serius.
Marya mendengus, benar sih yang dikatakan suaminya itu. kalau dari segi tampan, ya! tampanan suaminya itu kemana mana, uangnya banyak pula, menurut Marya. Tapi menurut wanita se-Indonesia, tampanan suami mereka juga.
__ADS_1
"Apa yang terjadi sebenarnya?. Kenapa Widuri sampai bisa hamil?" tanya Marya lagi.
"Ini semua berawal dari kesalahanku." Bukan Haris yang menjawab, tapi Cici yang duduk di samping Haris.
Marya dan Kanzo pun mengarahkan pandangan mereka ke arah Cici. Menunggu lanjutan cerita wanita itu.
"Aku... aku tidak jujur pada Haris sebelum kami menikah. Kalau aku...." Cici menangis terisak tanpa bisa mengatakan yang sejujurnya.
"Kalau aku apa?" tanya Marya penasaran.
Tangis Cici semakin pecah, dan terus menghapus air matanya yang terus mengalir.
"Aku sudah.... gak suci lagi. Gara gara itu Harus meninggalkan aku di malam pertama kami. Besoknya, aku gak tau bagaimana bisa Haris berada di kamar Widuri" lanjut Cici di selah selah tangisnya.
"Malam itu aku turun ke bar, aku mabuk. Dan aku gak tau kenapa aku bisa melakukannya pada Widuri" tambah Haris lalu menghela napasnya.
"Sayang, antar aku ke tempat Widuri sekarang!" perintah Marya kepada suaminya.
"Nanti sayang, sekarang aku lagi sibuk, pekerjaan menumpuk. Nanti pulang kerja kita ke sana ya" tolak Kanzo bernada membujuk.
"Sekarang!" kekeh Marya, cemberut.
"Nanti!" tekan Kanzo setelah melepas ciumannya.
"Lagi" ucap Marya malah dan tersenyum.
"Genit" Kanzo mencolek pipi istrinya itu, lalu mengecup kembali bibirnya.
**
Pulang kerja, Haris yang sudah sampai di rumah bersama Cici, Marya dan Kanzo. Melangkahkan kakinya ke arah kamar yang di tempati Widuri. Di lihatnya Widuri sedang berbaring miring di atas kasur.
"Widuri" panggil Haris saat mendudukkan tubuhnya di pinggir kasur.
Widuri yang belum tidur, memutar tubuhnya ke arah Haris, menatap pria itu dengan ekspresi wajah datar.
__ADS_1
"Kamu udah makan?" tanya Haris. Widuri menggelengkan kepalanya. Bagaimana dia bisa makan, sedangkan ia tidak di ijinkan menyentuh apa pun di rumah itu.
"Kok belum makan, emang anak kita gak lapar?." Haris mengulurkan tangannya menyentuh pipi tirus Widuri.
Widuri yang di tanya diam saja, memandang wajah Haris dengan mata berkaca kaca.
"Nona Marya dan Pak Kanzo ikut kemari. Ayo bangun, biar kita makan bersama dengan mereka" ajak Haris, membantu Widuri untuk duduk dan turun dari atas tempat tidur.
"Pak Haris memberitahu Marya dan Pak Kanzo soal pernikahan kita?" tanya Widuri.
"Aku memberitahu Kanzo sebelum kita menikah. Tapi baru tadi Nona Marya mengetahuinya" jawab Haris sambil merapi rapikan rambut Widuri yang berantakan di wajahnya, kemudian menarik tangan gadis itu berjalan ke luar kamar, menuruni anak tangga rumah itu, menuju meja makan. Di sana ternyata sudah ada Marya, Kanzo dan Cici yang sibuk menata makanan di atas meja makan.
"Widuri!" ucap Marya, langsung berdiri dari tempat duduknya mendekati Widuri yang berjalan bersama Haris." Apa kabar?, kenapa kamu menyembunyikannya dariku" tanya Marya, memeluk tubuh sahabatnya itu.
"Aku pikir, aku bisa menghadapinya sendirian" jawab Widuri, mengulas senyum terpaksa, seolah olah dia baik baik saja.
"Aku gak nyangka, yang kamu hadapi itu lebih berat dari aku" ujar Marya. Meski terasa pahit di awal hubungannya dengan Kanzo, tapi Kanzo menyentuhnya setelah menikahinya, dan bahkan pria itu sangat baik memperlakukannya.
Setelah melepas pelukannya, Marya kembali mendudukkan tubuhnya di tempat duduknya tadi.
'Bahkan jauh lebih berat, Mar. Aku di usir Ibuku karena hamil, dan di sini pun aku gak di terima' batin Widuri tetap berusaha mempertahankan senyumnya.
"Wid, ayo duduk ke sini" ujar Haris menepuk kursi di sampingnya, melihat Cici bingung harus duduk dimana.
"Aku duduk di sini aja." Melihat Cici menatapnya horor, sambil sibuk menata makanan di atas meja makan, membuat Widuri menolak permintaan Haris, dan mendudukkan tubuhnya di samping Marya.
"Kamu juga istriku, Wid. Jadi posisi kamu dengan Cici itu sama. Ayo pindah ke sini" ujar Haris lagi.
"Iya, Wid. gak apa apa, duduk aja di samping kiri Haris" ucap Cici mengulas senyumnya begitu tulus.
'Akting apa sebenarnya yang ingin di perankan Cici' batin Widuri.
Bukankah tadi siang, Cici sangat marah padanya. Dan kini berubah baik seratus delapan puluh derajat.
"Sini, Wid" melihat Widuri masih enggan pindah ke sampingnya. Haris pun berdiri dari kursinya, melangkah ke arah Widuri."Aku ingin menyuapi anak kita makan" ujar Haris meraih tangan Widuri, supaya wanita itu berdiri dari tempat duduknya. Tanpa mengetahui, di dalam hati istri pertamanya sudah berkobar api kemarahan.
__ADS_1
'Aku perhatiin, Haris memang lebih cinta kepada Widuri dari pada Cici. Tapi bisa aja mungkin karena Widuri masih perawan, menurutnya lebih nikmat, makanya lebih di sayang' batin Marya yang dari tadi memperhatikan Haris.
*Bersambung