Pria Yang Merenggut Kesucian Ku

Pria Yang Merenggut Kesucian Ku
Di posisi yang sulit


__ADS_3

Kanzo melajukan kendaraannya dengan cepat ke arah rumah Haris. Karena dari tadi malam pria itu tidak bisa di hubungi. Dan Nala melaporkan, kalau Haris yang di tugaskan keluar kota belum juga berangkat. Dan yang lebih parahnya lagi, Haris belum bersama istrinya belum juga bangun padahal pagi sudah menunjukkan pukul sembilan.


"Sepertinya kamu minta di pecat, Haris" geram Kanzo.


Bagaimana pria itu tidak geram. Urusan perusahaan di luar kota sangat mendesak. Namun Asisten Direktur itu mengabaikannya. Sudah tau perusahaan sedang bermasalah.


Tiba di rumah besar keluarga Darmawan itu, Kanzo langsung turun dari dalam mobilnya. Bergegas masuk ke dalam rumah tanpa permisi dan tidak perlu meminta ijin. Kanzo langsung naik ke lantai dua rumah itu, dan langsung menendang pintu kamar yang merasa seperti pengantin baru itu.


Buarr buarr buarr!


"Haris! keluar kau!" teriak Kanzo bergema di rumah besar itu.


"Haris! mau cari mati kau?" teriak Kanzo lagi mendengar tidak ada sahutan dari dalam kamar.


Mendengar ribut ribut dari luar kamar, berhasil membangunkan sepasang suami istri yang baru menghabiskan malam yang panjang itu. Haris mendudukkan tubuhnya dan memijat keningnya yang terasa pusing karena hampir subuh mereka baru tidur.


"Siapa sih itu, ribut banget" kesal Haris. Karena pria di depan pintu kamar mereka terus memukul mukul pintu sambil berteriak teriak.


"Sepertinya itu Pak Kanzo" gumam Widuri. Wanita itu kembali memejamkan matanya karena masih mengantuk.


"Untuk apa dia ke sini pagi pagi, mengganggu orang tidur aja." Haris turun dari atas tempat tidur sambil mengerutu dan memakai celananya. Kemudian melangkahkan kakinya untuk membukakan pintu.


"Kasih aku libur sekali sekali kenapa?" ucap Haris dengan mata terpejam. Matanya memang sangat ngantuk sampai kepalanya terasa pusing.


Kanzo yang berdiri di depan pintu mengeraskan rahangnya sambil memperhatikan tubuh pria yang berdiri di depannya. Tubuh yang terlihat lengket, ada bercak bercak merah kebiruan di permukaan dadanya. Jelas sekali kalau pria itu habis bercinta tadi malam. Dan Kanzo tidak menyangka, kalau istri muda Haris itu sangat ganas.


"Kenapa tadi malam kamu tidak berangkat ke luar kota? Ha!. Kamu mau ku pecat?" tanya Kanzo, gemas."Dan pagi ini juga kamu gak berangkat, apa maksud mu" oceh Kanzo. Perusahaan lagi banyak masalah, malah Haris sepertinya minta di tabok.


"Aku lelah, Zo. Kepala ku pusing, badan ku sakit semua. Sekali sekali kasih lah aku cuti jawab Haris.


Akhir akhir ini tubuhnya memang sangat lelah, karena terus bekerja siang malam. Belum lagi Haris harus mengurus dua orang istri yang sama sama hamil. Dan kemarin itu, Ibunya juga sakit parah dan akhirnya meninggal. Dia sudah seperti robot yang tidak mengenal lelah. Kanzo sangat keterlaluan terus menyuruhnya bekerja keras.


"Ya sudah, hari ini aku kasih kamu istirahat. Tapi besok kamu harus berangkat ke luar kota." Kanzo langsung melangkahkan kakinya meninggalkan Haris yang masih berdiri di ambang pintu dengan tersenyum. Di pikir pikir dia memang sudah keterlaluan yang terus menghandalkan Haris mengurus perusahaan.


Melihat Kanzo pergi, Haris kembali masuk ke dalam kamar. Tidak lupa menutup pintu dan menguncinya kembali.

__ADS_1


"Wid, hari ini aku libur!" seru Haris seperti anak kecil yang baru mendapat hadiah uang seribu di dalam bungkus jajanan.Haris terlalu senang hati ini. Karena diberi kesempatan untuk menghabiskan waktu bersama Widuri. Semenjak menikah, mereka memang belum pernah menghabiskan waktu.


Melihat Widuri bergeming, Haris membuka selimut yang membungkus tubuh wanita itu. Naik ke atas tempat tidur, kemudian mengelus elus perut buncit Widuri dan mengecupnya.


"Sayang Papa" ucap Haris bertubi tubi mengecupi perut buncit itu sembari tersenyum.


'Trimakasih sayang, kamu sudah hadir di perut Mama. Jika tidak, tidak mungkin Papa bisa menikahi Mama kamu' batin Haris.


Cukup dia yang tau, kalau malam itu sebenarnya Haris tidak terlalu mabuk. Dia masih sadar meski sempat minum. Jika tidak, tidak mungkin Haris bisa menemukan kamar dimana Widuri berada. Ya, memang malam itu Haris sengaja untuk menemui Widuri. Seperti pujuk di cinta, Widuri pun nongol di depan pintu kamarnya. Sehingga niat awalnya untuk memiliki Widuri malam itu terjadi sangat natural, tidak seperti di rencanakan.


'Akhirnya aku bisa memiliki mu, Wid. Hanya kamu milik ku sekarang Wid, tidak ada lagi Cici yang menghalangi cinta kita' batin Haris lagi.


Kepada Cici, bukan Haris tidak tau siapa wanita itu sebelum mereka menikah. Haris sudah tau kalau sebelumnya Cici hanya menginginkan hartanya. Haris tetap menikahi Cici, juga untuk mengikuti sampai dimana permainan Cici dan Ibunya yang ingin berusaha menguras harta kekayaannya. Seperti yang sudah mereka lakukan pada Brandon.


Dan selama ini Haris berpura pura bodoh untuk membuat Cici besar kepala dan merasa bisa menguasainya. Padahal nyatanya Haris hanya mengikuti permainannya. Haris juga sengaja tidak memberitahu rencananya kepada Widuri, untuk melihat sebesar apa perasaan cinta Widuri terhadapnya. Semua yang dilakukan Haris selama ini adalah sandiwara.


"Pak Haris, aku masih ngantuk." Widuri bergumam karena terusik dengan kecupan kecupan pria itu di perutnya.


"Sarapan dulu yuk!. Bayi kita pasti sudah lapar." Haris kembali menegakkan tubuhnya, kemudian menarik lengan Widuri, memaksa wanita itu untuk bangun.


"Ya sudah, kalau begitu aku mandi dulu." Haris kembali membaringkan tubuh Widuri, tidak tenga jika harus memaksanya bangun. Salahnya sendiri, mengajak wanita hamil itu begadang sampai dini hari.


**


Hari pun berlalu begitu cepat. Seperti keinginan wanita hamil itu. Hari ini adalah acara resepsi pernikahan mereka yang di adakan di kampung Widuri. Menurut Haris acara itu sangat sederhana, tapi tidak bagi Widuri, keluarga dan orang orang di kampungnya.


Meski acaranya dilaksanakan tidak di dalam gedung, atau hotel berbintang, dan hanya mendirikan tenda di lapangan yang tidak jauh dari rumah orang tua Widuri. Tapi tenda tenda itu berdiri sangat luas dan megah. Bahkan di dalam tenta di sediakan pendingin sehingga di dalamnya tidak terasa gerah. Dan pelaminannya juga terlihat sangat cantik dan indah. Bahkan biduan dangdut yang menghibur acara di undang dari ibu kota. Dan tamu undangan yang datang pun sangat ramai, karena Haris dan Kanzo mengundang seluruh rekan bisnis, kerabat dan sebagian karyawan mereka.


Tentu Haris melakukan itu untuk menunjukkan kalau dia serius untuk menjalani pernikahan dengan Widuri. Tidak main main atau sekedar hanya menikahi dan bertanggung jawab atas benih yang sengaja di tanamnya di rahim wanita yang tidak bersalah itu.


"Apa kamu bahagia, Wid?" tanya Haris. Saat ini mereka sedang duduk di pelaminan menunggu para tamu undangan mengucapkan selamat.


Widuri mengulas senyumnya, sebagai jawaban kalau dia bahagia sekarang. Bahagia dengan pernikahannya yang sekarang. Meski awalnya mereka menikah karena sebuah kesalahan yang dilakukan Haris, telah merenggut kesuciannya. Tapi Widuri mencintai pria itu, sampai ia bisa menerima kesalahannya.


"Aku minta maaf, karena sempat membuatmu di posisi yang sulit. Tapi mulai hari ini, aku akan terus berusaha membuat mu bahagia." Haris meraih kedua tangan Widuri, lalu mengecupnya secara bergantian."Aku mencintai mu."

__ADS_1


"Aku sudah tau itu" balas Widuri.


Ehem!


Deheman itu berhasil mengalihkan pandangan Haris dan Widuri.


"Marya" Widuri langsung menyambut sahabatnya itu dengan pelukan."Aku pikir kamu gak datang."


"Kamu sahabatku satu satunya, mana bisa aku gak datang" balas Marya mengecup kedua pipi Widuri bergantian.


Meski kesehatannya belum sembuh total, setelah operasi cesar. Tapi sebagai sahabat yang baik, Marya berusaha bisa hadir di acara resepsi pernikahan sahabatnya itu.


"Trimakasih, aku harap hadiah pernikahanku tidak mengecewakan."


"Tentu tidak."


Kedua Sabahat itu pun melepas pelukan mereka. Marya langsung membuka tas kecil yang tersampir di bahunya dan mengeluarkan sebuah amplop dari dalam dan memberikannya pada Widuri.


"Ini isinya apa?" tanya Widuri langsung membuka amplop itu di depan Marya.


"Tentu tiket bulan madu" jawab Marya, merasa tidak perlu merahasiakannya."Bulan madu sekalian bekerja" lanjut Marya tersenyum.


Widuri mengerucutkan bibirnya. Itu namanya bukan bulan madu, tapi pindah tugas. Ya, Kanzo memindah tugaskan Haris ke salah satu cabang perusahaan mereka di kota lain.


"Ini namanya buka tiket bulan madu" ketus Widuri.


"Tapi lihat kertas yang satu lagi" ucap Marya, melihat Widuri tidak memperhatikan kertas yang satu lagi."Itu adalah hadiah pernikahan dari kami, sebuah apartement" lanjut Marya.


Senyum Widuri langsung mengembang dan kembali memeluk Marya.


"Trimakasih."


"Nyanyi yuk!" ajak Marya.


*Bersambung

__ADS_1


__ADS_2