
"Aku yakin dari tadi malam mereka pasti sudah mencari kita" ucap seorang wanita yang terbarik di atas kasur, wajah menengadah ke arah langit langit kamar dengan mata di tutup suatu benda yang katanya bisa mencerahkan kulit di area mata. Wajah wanita itu juga di beri ramuan yang berkhasiat mempercantik kulit.
"Biarkan saja, biar mereka kapok. Enak saja, setelah menghabisi kita, mereka langsung meninggalkan kita dan menemui wanita lain" balas wanita di sebelahnya, wajahnya terdengar sangat kesal pada kedua pria yang mereka bicarakan.
"Setelah ini kita kemana?."
"Kamu inginnya kemana?."
Hening, kedua wanita yang sedang melakukan perawatan itu diam dan sama sama berpikir. Tak lain kedua wanita adalah Widuri dan Marya.
"Bagaimana kalau kita ke resort yang berada di pinggir pantai?. Di sana pemandangan lautnya sangat indah" usul Widuri setelah berpikir sejenak.
"Boleh juga, kita bisa menyuruh keluarga kita menyusul ke sana" ujar Marya menyetujui. Mumpung Widuri masih Indonesia, mereka akan menghabiskan waktu bersama, tentu mereka tidak akan melupakan kodrat mereka sebagai seorang Ibu.
Setelah selesai perawatan, kedua wanita itu segera berangkat ke pantai yang menyediakan penginapan berupa hotel dan resort pinggir pantai.
Tidak lupa, demi keamanan mereka selama berlibur. Mereka membawa semua anak buah suami mereka, yang diketuai Pak Maiman, Ayah Marya sendiri.
"Ayah, sekarang kita ke pantai. Tolong Ayah bilangin sama anak buah Ayah, sebagian untuk mengawal Mama dan Ayah mertua. Dan untuk mengawal keluarga Widuri" ucap Marya pada sang Ayah yang menunggu mereka di depan salon.
"Siap putriku sayang." Pak Maiman langsung berdiri dari tempat duduknya dan memberi hormat pada Marya.
"Ayah, jangan seperti itu" tegur Marya. Meski posisi Ayahnya adalah anak buah, tapi tetap saja Marya tak ingin Ayahnya memberi hormat padanya. Bagaimana pun buruknya Pak Maiman, tetap saja pria itu adalah Ayahnya.
Pak Maiman tersenyum lantas menggaruk leher belakangnya yang tidak gatal.
"Ayah belum makan dari tadi. Rokok Ayah juga habis" ucap Pak Maiman, berharap putrinya itu memberi uang padanya.
Marya menghela napas, ingin marah tapi Ayah sendiri. Marya pun mengeluarkan uang dari dalam tasnya dan memberinya pada sang Ayah. Jelas sekali kalau Ayahnya itu berbohong, kalau belum makan. Sudah jelas jelas tadi Marya lah yang membelikan nasi untuk sang Ayah.
__ADS_1
"Trimakasih, Nak. Kamu memang putri Ayah yang terbaik." Pak Maiman langsung mengambil uang itu dari tangan Marya dan menyimpannya ke dalam saku celananya.
'Beruntungnya aku punya menantu baik dan kaya raya.'
Pak Maiman membatin dengan wajah sumringah.
'Meski Pak Maiman pernah menelantarkan Marya dan keluarganya. Bahkan Pak Maiman tega menukar Marya dengan uang. Tapi Marya masih bisa bersikap baik pada Ayahnya dan menerima Ayahnya kembali' batin Widuri memperhatikan interaksi antara putri dan Ayah itu. Terlihat Marya sama sekali tidak membenci Ayahnya, meski Pak Maiman masih suka berjudi.
Seketika itu,Widuri merindukan Ayahnya yang berada di penjara. Ayah yang membesarkannya dengan kasih sayang. Rela melakukan pekerjaan apa saja demi menghidupi mereka. Tidak perduli itu berdosa atau tidak, yang penting pria itu mendapatkan uang untuk keluarganya.
Masihkah pantas seorang anak membenci Ayahnya? Dan bahkan tega menghukumnya.
'Ayah.'
Widuri memanggil Ayahnya dalam hati. Tak terasa air matanya menggenang begitu saja di pelupuk mata. Saat memori ingatannya berputar ke jaman hidupnya masih anak anak. Seorang anak perempuan yang sering berada di pangkuan dan gendongan sang Ayah. Sering mendapat kecupan di pipi kiri dan kanannya setiap Ayah pulang kerja. Selelah apa pun pria itu, wajah sang Ayah selalu tersenyum ketika melihat wajahnya. Tidak pernah menunjukkan seberapa berat beban yang di tanggung pria itu. Seberapa besar masalah yang di hadapi pria itu. Seberapa sulit dan rumitnya pekerjaan yang di lalui. Pria itu tidak pernah menunjukkannya di depan keluarga. Pria itu selalu memberi kehangatan.
Lalu pantaskah seorang putri melupakan pengorbanan seorang Ayah?.
"Ayo Wid, kita berangkat."
Widuri mengerjakan matanya saat tersadar dari lamunannya, mendengar suara Marya memanggilnya. Widuri pun mengikuti langkah Marya masuk ke dalam mobil yang akan membawa mereka ke tempat liburan di pantai.
**
Di pinggir sebuah jalan, dua mobil terparkir dengan rapi. Kedua pemilik mobil itu terlihat berdiri bersandar di body mobil masing masing dengan posisi saling berhadapan, siapa lagi kedua orang itu kalau bukan Haris dan Kanzo. Kedua pria itu terlihat sangat berantakan, wajahnya kusut, lelah dan terlihat ngantuk karena tidak bisa tidur dari tadi malam.
"Apa sebenarnya yang terjadi? Kenapa anak buah kita satu pun tidak ada yang bisa di hubungi?" tanya Haris memijat mijat kening ya yang terasa pening karena lelah menahan ngantuk.
Dari tadi malam mereka sudah lelah mencari Widuri dan Marya. Tapi mereka tidak tau kemana kedua wanita itu pergi. Satu pun anak buah mereka tidak ada yang bisa dihubungi.
__ADS_1
"Marya juga tidak bisa di hubungi dari semalam" Kanzo berdecak. Dari tadi malam istrinya itu marah padanya ketika ia berpamitan untuk menemui Bella, mantan istrinya. Marya mengusirnya dari dalam kamar hotel dengan cara melemparinya dengan benda benda keras di dalam hotel itu. Sehingga Kanzo tidak bisa melawan dan memilih mengalah pergi dari sana. Padahal mereka belum sempat bercinta.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Haris.
Kanzo tidak langsung menjawab, pria itu terlihat mengerutkan keningnya. Sehingga kening Haris juga ikut mengerut, menunggu apa yang terlintas di pikiran sahabatnya itu.
"Ris, ayo kita pulang, mungkin mereka pulang ke rumah!." Kanzo bergegas masuk ke dalam mobilnya dan langsung melajukannya dengan kecepatan tinggi. Begitu juga dengan Haris. Kanzo berpikir jika istri mereka pasti pulang ke rumah, karena anak mereka. Tidak mungkin Marya dan Widuri bisa berjauhan lama lama dari Gavin dan Noah.
Kedua mobil pria itu pun melaju ke arah rumah masing masing. Untuk kondisi rumah mereka. Untuk memastikan kalau istri mereka sudah pulang ke rumah.
'Kenapa aku gak kepikiran tadi malam kalau Widuri akan pulang ke rumah?' batin Haris sambil menyetir.
'Awas kamu sayang, aku akan menghukum mu' batin Haris lagi, gemas dengan istrinya yang mengerjainya habis habisan itu.
Setelah memeriksa cctv hotel tadi malam. Ternyata istrinya itu tidak di culik, melainkan kabur di bantu oleh anak buah mereka sendiri.
Sampai di rumah masing masing. Jangankan menemukan istri mereka, bahkan satu orang pun tidak mereka temukan di dalam rumah. Rumah mereka kosong sama sekali.
"Sayang!"panggil Hari gemas sambil mengacak acak rambutnya. Ternyata istrinya itu sudah melibatkan semua orang bekerja sama mengerjainya. Membuat Haris bingung, kemana dia akan mencari istrinya itu.
Mendengar dering ponselnya berbunyi. Haris langsung mengeluarkan benda pipih itu dari dalam saku celananya. Langsung bisa menebak jika yang menghubunginya itu adalah Kanzo.
"Ris, bagaimana?" tanya Kanzo langsung dari sebrang telephon setelah Haris mendial tombol hijau di hapenya.
"Rumah kosong" jawab Haris lemah.
"Ya sudah lah, kita tidak perlu mencari mereka lagi. Mama, Papa dan Gavin juga tidak ada di rumah. Bahkan satu pembantu pun di rumah ini tidak ada. Aku yakin mereka sedang liburan sekarang. Aku sudah lelah dan ngantuk, lebih baik kita istirahat aja, baru nanti kita mencari mereka lagi" ujar Kanzo yang sudah membaringkan tubuhnya di atas kasur.
"Aku pikir juga begitu" balas Haris.
__ADS_1
*Bersambung