Pria Yang Merenggut Kesucian Ku

Pria Yang Merenggut Kesucian Ku
Gak akan melepaskan mu


__ADS_3

"Ayo makanlah" ucap Haris saat menyuapkan makanan ke mulut Widuri yang sudah duduk di sampingnya.


"Pak Haris, aku makan sendiri aja" tolak Widuri, tak ingin membuat Cici semakin marah padanya. Bukan karena takut melawan, Widuri hanya tidak ingin hidupnya semakin sulit di rumah itu.


"Aku sudah menyuapinya makan siang tadi, sekarang giliranmu" ujar Haris memaksa Widuri menerima suapannya.


"Ingat Pak Haris, kita menikah untuk status bayi yang berada di dalam perutku ini. Bukan untuk berumah tangga, jadi Pak Haris tidak perlu bersikap berlebihan" ujar Widuri. Berhasil membuat Haris menurunkan sendok di tangannya, dan memandang wajah Widuri dengan intens.


Dan bukan hanya Haris saja, Marya dan Kanzo yang sudah menikmati makanan dari piring mereka pun, ikut terdiam dan memperhatikan Widuri. Lain dengan Cici, dia tetap menikmati makanan di piringnya dengan santai.


"Apa kamu gak berpikir, setelah lahir anak kita juga membutuhkan kedua orang tuanya?. Dia tidak hanya membutuhkan status Wid. Kalau hanya membutuhkan status, aku bisa mamasukkan aktanya ke pernikahanku dan Cici. Tapi aku gak mau egois Wid. Aku ingin anak itu besar di bawah didikan kita berdua sebagai orang tua kandungnya" jelas Haris.


Widuri mengalihkan wajahnya ke arah lain, menyembunyikan matanya yang berkaca kaca.


"Setelah anak ini lahir, aku akan meninggalkannya di sini. Aku pikir Cici akan menggantikan ku merawat bayi ini." Widuri mengusap lembut perutnya yang masih rata.


Bagaimana bisa ia bertahan menjadi istri Haris selamanya?. Sedangkan kehadirannya di rumah itu tidak di terima. Bahkan belum sehari saja tinggal di rumah itu, ia sudah mendapat tindak kekerasan dari mertuanya.


"Wid, kita sedang ada tamu, ayo makanlah dengan baik, hargai kedatangan mereka" ujar Haris tak ingin membahas lebih lanjut masalah rumah tangga mereka di depan Kanzo dan Marya.


Haris pun menikmati makanan di piringnya, tanpa memperdulikan Widuri yang sudah meneteskan air mata di sampingnya.


Selesai makan, Marya dan Kanzo langsung pulang, merasa tidak enak jika harus berlama lama di rumah itu, melihat hubungan Haris dan Widuri tadi sedang bermasalah. Sedangkan Widuri, ia pun langsung kembali masuk ke dalam kamarnya.


"Haris, tubuhku sangat terasa lelah hari ini. Bisakah aku meminta tolong, memijatku sebentar sebelum kamu pergi ke kamar Widuri" ujar Cici dengan wajah memohon kepada Haris yang sedang mengganti pakaiannya di kamar yang di tempati Cici.

__ADS_1


"Baiklah" ucap Haris tidak tega melihat wajah kasihan Cici.


Cici mengulas senyumnya, lalu Baim ke atas tempat tidur dan membuka seluruh pakaiannya. Tentu itu berhasil membuat Haris menarik napas panjang, dan menelan air ludahnya.


Setelah mengambil minyak urut di dalam laci meja nakas, Haris pun mulai memijat punggung Cici perlahan lahan, sampai ke ujung kaki.


Cici yang tak ingin Haris pergi ke kamar Widuri pun, akhirnya menggoda laki laki itu untuk melakukan hal lebih ke tubuhnya. Membuat Haris tidak bisa menolaknya. Dan akhirnya terjadi pergulatan panas di atas ranjang itu.


'Aku akan membuatmu kelelahan Haris, supaya kamu tidak punya tenaga lagi jika ingin menyentuh Widuri. Aku gak rela, jika aku harus membagi tubuhmu dengan wanita manapun' batin Cici yang terus menaklukkan Haris di dalam kekuasaannya.


Dan benar saja, jam sebelas malam, baru Haris masuk ke dalam kamar Widuri. Di atas ranjang, Widuri sudah tertidur lelap dengan wajah sembab. Haris yang merasa tubuhnya lelah karena baru saja terkuras, langsung membaringkan tubuhnya di samping Widuri, menarik tubuh kurus itu ke dalam pelukannya dan mengusap lembut perut wanita itu.


'Aku minta maaf, Wid. Aku gak akan melepaskan mu, karena sebenarnya kaulah wanita yang kucintai. Aku gak rela Wid, jika tubuhmu ini di miliki pria lain. Tubuhmu ini hanya milikku, meski saat ini kau tidak mengijinkannya ku sentuh' batin Haris setelah memejamkan matanya.


Widuri yang sebenarnya belum tidur, membuka matanya saat merasakan benda kenyal milik Haris menempel di bahunya. Terasa hangat dan lembab, berhasil membuat sesuatu berdesir di dalam tubuh Widuri. Bohong, jika seorang istri tak ingin di sentuh suaminya. Apa lagi selama ini Widuri pernah menaruh hati diam diam kepada Haris. Widuri pun menggigit bibir bawahnya dan kembali memejamkan matanya, memilih menikmati hangatnya pelukan Haris ke tubuhnya.


Meski sudah membuat tubuh Haris lelah sebelum pria itu pindah kamar. Tapi tetap saja Cici tidak bisa menjamin kalau Haris tidak menyentuh Widuri.


'Awas kamu Wid!' geram Cici dalam hati.


Bagaimana pun caranya, Cici akan terus berusaha menyingkirkan Widuri dari hidup Haris. Cici gak rela, dan gak pernah rela jika harus berbagi suami.


Ceklek!


Refleks Cici menoleh ke arah pintu kamarnya yang terbuka.

__ADS_1


"Ci kamu baru bangun?" tanya Haris yang masuk ke dalam kamar itu.


"Bahkan aku belum tidur semalam ini, Ris" jawab Cici menatap Haris dengan mata berkaca kaca.


Haris menghela napasnya melihat wajah sedih Cici."Aku minta maaf, karena harus meninggalkanmu di kamar ini." Haris menjeda kalimatnya sebentar." Tapi aku harus adil memperlakukan kalian, Ci. Widuri juga istriku" lanjut Haris.


Cici hanya bisa diam dan menangis. Semua salahnya, andai saja dia jujur dari awal. Mungkin Haris tidak sekecewa itu di malam pertama mereka. Tapi yang namanya di madu, tetap saja Cici tidak rela.


"Aku melihat, kamu mencintainya, Ris" lirih Cici.


Haris yang sedang sibuk memasukkan berkas ke dalam tas kerjanya, refleks menoleh ke wajah Cici yang masih duduk di atas tempat tidur. Apa yang harus Haris katakan?, dia memang mencintai Widuri. Apakah Haris harus jujur mengatakan itu?, yang jelas akan membuat hati Cici semakin terluka.


Haris menghela napasnya kasar, berpikir kalau beristri dua itu tidaklah mudah. Selain tubuh lelah harus bekerja, memberi nafkah batin istri. Pikiran juga ikut lelah, harus bisa adil dan bisa menjaga perasaan kedua istrinya, yang bahkan tidak sedikit pun memikirkan perasaannya.


"Kau mencintainya" Isak tangis Cici melihat Haris hanya diam saja.


"Aku berangkat kerja dulu, nanti aku akan meminta iji Kanzo, kalau kamu tidak bekerja hari ini" pamit Haris memilih pergi. Setelah mengusap kepala wanita itu dengan lembut, Haris pun mengecup keningnya, lalu pergi.


Keluar dari kamar yang di tempati Cici, Haris masuk ke dalam kamar yang di tempati Widuri untuk berpamitan kepada istri keduanya itu. Sampai di dalam kamar, ternyata Widuri berada di dalam kamar mandi. Sepertinya wanita itu sedang mandi, setelah Haris mendengar suara gemircik air dari dalam kamar mandi.


Haris pun mendudukkan tubuhnya di sofa yang berada di dalam kamar itu, setelah melihat jam di pergelangan tangannya, masih ada waktu untuk menunggu Widuri keluar dari dalam kamar mandi.


Tak lama menunggu, Widuri pun keluar dengan pakaian rapi layaknya orang akan berangkat kerja.


"Hari ini aku akan mulai bekerja lagi, di tugaskan di anak cabang perusahaan" ujar Widuri melihat Haris memperhatikannya dengan kening mengerut.

__ADS_1


*Bersambung


__ADS_2