Pria Yang Merenggut Kesucian Ku

Pria Yang Merenggut Kesucian Ku
Baik baik saja


__ADS_3

"Ayah" gumam Nala melihat Pak Hilman berdiri di ambang pintu.


Haris, Widuri dan Ibu Ratna langsung menoleh ke arah pria setengah baya yang terpaku melihat mereka.


Ternyata putrinya Widuri tidak benar meninggal seperti kabar dua Tahun yang lalu. Widuri masih hidup bersama bayi yang di kandungnya. Haris dan Kanzo sudah membuat berita bohong.


"Apa kabar Ayah?" Widuri mengulas senyumnya ke arah Pak Hilman yang masih mematung, tidak menyadari Widuri sudah berdiri di depannya.


Pak Hilman yang tersadar dari lamunannya sontak menajamkan pandangannya ke wajah Widuri. Mata pria itu nampak berkaca kaca, menahan rindu yang mendalam pada kedua putri dan istrinya itu. Terutama pada Widuri yang mengira putrinya itu benar sudah meninggal selama ini.


"Aku baik" jawab Pak Hilman lirih, terdengar suaranya tercekat seperti ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokannya.


"Baguslah kalau Ayah baik baik saja, setelah membuatku, suamiku dan anakku hampir kehilangan nyawa" ucap Widuri tersenyum miris. Berpikir apakah Ayahnya itu tidak menyesal sudah menyakitinya?.


"Bukan kah Ayah sudah jelaskan, kalau Ayah melakukan itu untuk melindungi kalian. Kalau bukan Ayah yang melakukannya, pasti kalian sudah benar benar mati."


"Tapi seharusnya Ayah bisa berpura pura melakukannya!" bentak Widuri tiba tiba, berhasil membuat semua yang ada di ruangan itu terlonjak kaget." Ayah bisa memberitahu kami sebelumnya. Ayah bisa bekerja sama dengan kami, jika alasan Ayah benar" Widuri melanjutkan kalimatnya dengan suara pelan dan rahangnya mengeras.


Widuri menangis, kecewa dan sakit hati. Seorang Ayah tega menyakiti putrinya dengan kejam.


"Dan seharusnya Ayah juga tidak mengambil pekerjaan seperti itu" lanjut Widuri, tidak menyangka ternyata Ayahnya itu selama ini bermain mafia mafiaan.


"Jadi kamu pikir, selama ini kamu dan Nala bisa kuliah biayanya dari mana? Ha!. Sekarang kamu bisa bilang, Ayah gak usah mengambil pekerjaan itu. Apa bedanya Ayah dengan Ayah sahabatmu, Marya. Bukankah Ayahnya juga seorang penjudi besar dan seorang anak buah juga, sama seperti Ayah."


"Seharusnya kamu tidak menyamakan atau membandingkan dirimu dengan orang yang buruk" sela Ibu Ratna menimpali pembicaraan Widuri dan Pak Hilman.


"Bahkan kau lebih buruk dari Pak Maiman. Dia tidak sepertimu, yang tega melukai menantunya, bahkan tega membuat putrinya dalam bahaya" lanjut Ibu Ratna. Bobot tubuhnya yang semakin bertambah membuatnya tetap berdiam di tempat duduknya." Dan juga Pak Maiman tidak membohongi putri dan menantunya. Pak Maiman berada di pihak Kanzo. Tidak seperti kau!."

__ADS_1


Pak Hilman hanya bisa diam.


Haris pun melangkahkan kakinya mendekati Pak Hilman dan Widuri dengan membawa Noah di gendongannya.


"Noah, ini Kakek. Ayo salam" ucap Haris, mengulurkan tangan kanan Noah ke arah Pak Hilman.


"Kakek" ucap Noah. Kata itu baru pertama kali bocah itu ucapkan.


"Iya, pria tua ini namanya Kakek Hilman. Ayah dari Momy" jelas Haris.


"Momy" ucap bocah itu, tidak akan mengerti maksud yang di katakan Haris.


"Iya, ini Kakek Hilman" jelas Haris dengan singkat." Ayo salam."


"Gak perlu" Widuri menarik cepat tangan Noah saat Pak Hilman akan meraih tangannya." Tidak ada seorang Kakek yang tega membuat nyawa cucunya dalam bahaya" lanjut Widuri lagi.


"Lihat Ayah" Haris sengaja menekan kata Ayah, mengingat pria di depannya itu adalah mertuanya." Putri dan istri Ayah menjauhi Ayah karena perbuatan Ayah sendiri" Haris memperhatikan wajah Pak Hilman dengan Intens.


"Aku tidak akan bisa mengganti uang Ayah, tenaga Ayah, waktu Ayah dan kasih sayang Ayah yang telah membesarkan Widuri. Itu sebabnya aku tidak menghukum Ayah seperti aku menghukum Baim dan Bapaknya" lanjut Haris setelah sempat menjeda kalimatnya.


Sampai saat ini, Haris dan Kanzo belum menyerahkan Baim dan Pak Dirga ke pihak berwajib. Mereka mengurung sendiri kedua pria itu di salah satu ruang bawah Tanah gedung perusahaan mereka.


"Sudahlah, aku tidak peduli kau ingin menghukum ku atau tidak. Toh juga kamu tidak percaya dengan alasanku menusuk mu. Dan sekarang juga aku sudah di sini, jadi aku merasa tidak penting lagi untuk menjelaskannya" ujar Pak Hilman.


Sebelumnya, Pak Hilman sudah tau resiko dari pekerjaannya, dia sudah siap dengan semua konsekuensinya. Dan pada saat itu, mendengar kabar dari komplotannya, mereka di perintahkan untuk membunuh Haris. Pak Hilman langsung mengambil alih tugas itu. Dan dia terpaksa menusuk Haris supaya punya bukti kalau dia benar sudah membunuh Haris. Kemudian menculik Widuri dari sana, khawatir temannya datang dan menyakiti Widuri. Masalah Haris, Pak Hilman memang tidak terlalu peduli, selamat atau tidak. Dia tidak terlalu menyukai menantunya itu, karena sudah mendapatkan Widuri dengan cara merampasnya.


"Kau memang pantas di sini. Tapi syukurlah, dengan kau melakukan kejahatan kepada Haris dan Widuri. Aku bisa mengenal kau, bisa mengenal siapa sebenarnya laki laki yang menikahiku itu" sahut Ibu Ratna, emosi dan kecewa masih tak percaya dengan Pak Hilman yang ternyata mafia remahan.

__ADS_1


"Ayo kita pergi dari sini. Cukup kita sudah melihatnya ke sini, memastikan kalau pria itu sudah benar benar tertangkap." Bersusah payah Ibu Ratna beranjak dari kursinya karena bobot tubuhnya yang berat." Aku khawatir kalau lama lama di sini, aku bisa menimpa tubuhnya dengan tubuhku yang besar ini." Ibu Ratna pun melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu, langsung di ikuti Widuri dan Haris.


Sedangkan Nala juga yang sudah beranjak dari kursinya, berhenti di depan Pak Hilman, menatap pria itu dengan mata berkaca kaca, kecewa.


"Jangan lakukan itu nanti padaku dan suamiku, Yah. Aku mohon" ucap Nala lirih lantas melanjutkan langkahnya keluar dari ruangan itu.


Sampai di parkiran, mereka semua masuk ke dalam mobil, Haris langsung melajukannya. Hening, sepanjang perjalanan menuju perusahaan yang mengadakan acara syukuran atas gedung perusahaan yang sudah selesai di bangun, tidak ada yang berbicara, semua sibuk dengan pikiran masing masing.


Sampai di sana, suasana masih sunyi. Masih sedikit karyawan yang datang. Itu pun orang orang yang di tugaskan untuk mempersiapkan acara.


Haris pun membawa semua keluarganya ke ruangan yang di siapkan khusus untuk mereka istirahat sebelum acara di mulai. Di ruangan itu sudah ada Marya, Gavin, Areta anak pertama Kanzo dari istri pertamanya dan juga Nenek Liana.


"Aku ke ruang kerja Kanzo ya" pamit Haris mengecup kening Widuri dan langsung pergi.


"Kenapa kalian lama?" tanya Marya berdiri dari kursinya, mendekati Widuri lalu memeluk sahabatnya itu.


"Kami menemui Ayah terlebih dahulu" jawab Widuri, wajahnya terlihat begitu kecewa dan marah.


"Kamu harus sabar, semoga nanti Om Hilman bisa berubah menjadi orang yang baik setelah ini" ujar Marya untuk menenangkan hati sahabatnya yang tengah gundah itu.


"Semoga saja, itu adalah harapanku. Bagaimana pun juga, dia adalah Ayahku."


Marya mengulas senyum sembari mengusap bahu Widuri dengan lembut. Semua adalah cobaan hidup. Tuhan akan menguji seseorang sesuai tingkat kesabarannya. Semua pasti ada hikmahnya.


*Bersambung


#Baca juga ya karya baru othor

__ADS_1



__ADS_2