
Haris pun menghapus air mata Widuri. Lihatlah meski arogan dan keras kepala tapi hati istri keduanya itu sangat mudah tersentuh. Meski Ibu Ilona sudah menyakitinya dan tidak menerimanya sama sekali menjadi menantu, tapi Widuri masih memiliki kasih sayang untuk Ibu mertuanya itu.
"Nanti pulang kerja aku akan membawa mu menemui Mama" ucap Haris, kemudian mengecup kening wanita itu dengan begitu hikmat.
"Aku minta maaf. Coba saja aku bisa mengontrol emosi dan tidak menendang Mama. Mama pasti tidak akan mengalami koma" Isak tangis Widuri lagi. Widuri sangat takut, jika sampai Ibu mertuanya itu meninggal, berarti dialah yang menyebabkannya, dia sudah membunuh Ibu mertuanya.
"Ssstt! kamu melakukannya untuk melindungi bayi kita. Mama lah yang bersalah, jadi kamu tidak perlu merasa bersalah." Haris mengangkat tubuh Widuri, membawa wanita itu ke arah sofa yang berada di ruangan itu. Haris pun mendudukkan tubuhnya dan membiarkan Widuri di atas pangkuannya dan mendekap wanita itu dengan pelukan hangatnya.
Haris sudah sangat merindukan Widuri. Karena sibuk mengurus perusahaan dan Ibunya yang mengalami kritis, Haris menjadi tidak punya waktu untuk mengunjungi Widuri.
"Tetap aja aku yang menyebabkan Mama koma" lirih Widuri sambil menghapus air matanya.
"Mama" ucap Haris." Mama sendiri yang membuat dirinya koma, bukan kamu, Wid" Haris tak ingin melihat Widuri menyalahkan dirinya sendiri.
"Aku minta maaf ya, gak pernah mengunjungimu dan bayi kita selama seminggu ini" ucap Haris lagi sambil tangannya mengusap usap rambut Widuri dari belakang.
"Gak apa apa, pasti karena kamu sibuk mengurus Mama" balas Widuri.
Haris mengulas senyumnya, lalu menjatuhkan satu kecupan di pipi wanita yang berada di pangkuannya itu. Apa ini namanya musibah membawa berkah?, pikir Haris. Lihatlah, selama menikah, mereka tidak pernah semanis ini. biasanya Widuri selalu galak dan marah marah setiap di dekatinya. Tidak seperti saat ini, Widuri terlihat nyaman di pelukannya.
"Love you" ucap Haris dengan suara merdunya sambil tersenyum.
"Gombal" balas Widuri tidak percaya.
Haris semakin mengeratkan pelukannya ke tubuh Widuri." Aku serius, Wid!."
"Bagaimana dengan Cici, apa Pak Haris gak mencintainya?" tanya Widuri.
Haris menggelengkan kepalanya sebagai jawaban." Aku hanya kasihan padanya" jawab Haris.
Haris memang kasihan pada Cici, sehingga Haris tidak tega jika harus menceraikan Cici, mengingat mereka baru menikah. Apa lagi melihat Cici sudah berusaha menjadi istri yang baik, Haris pikir tidak ada salahnya mempertahankan pernikahan mereka. Dan Haris pikir, mungkin sudah seperti itu takdirnya, Cici dan Widuri menjadi jodohnya.
"Aku gak yakin, setelah sering melewati malam bersama Cici. Pak Haris gak mencintainya. Apa lagi Cici sangat pintar mengambil hati Pak Haris" ucap Widuri.
__ADS_1
"Tapi aku lebih mencintai kamu" balas Haris.
Widuri pun mendengus dan membuang muka.
"Pas lagi sama Cici, Pak Haris juga pasti ngomong gitu."
Haris tertawa kecil. Ya sudah resiko punya istri dua, harus pintar merayu dan menggombal. Tapi kalau jujur, Haris memang lebih mencintai Widuri. Selain di dapatnya masih perawan, wajah Widuri terlihat lebih cantik, kulitnya lebih putih. Hanya saja tubuh Widuri, kurus dan tidak punya tonjolan yang menarik. Tapi mampu membuat seorang Haris kehilangan kewarasan saat menikmati tubuh istri mudanya itu.
"Gemas banget sih kamu, sayang." Haris pun memberikan kecupan bertubi tubi di pipi Widuri. Berhasil membuat Widuri tertawa karena kegelian.
'Ngapain mereka di dalam?' batin Cici yang berdiri di depan pintu ruangan Haris.
Dari tadi Widuri belum keluar dari ruangan Haris. Membuat Cici jadi penasaran, sehingga Cici ingin mengganggu kebersamaan Haris dan Cici. Haris tidak boleh menghabiskan waktu lebih banyak dengan Widuri.
Tok tok tok!
Haris dan Widuri yang berada di dalam ruangan itu langsung terdiam dan menoleh ke arah pintu.
Pintu ruangan itu pun langsung terbuka dari luar. Menampakkan seorang wanita berbody bak gitar spayol melangkah masuk ke dalam ruangan itu.
"Sayang, aku pengen makan krupuk pangsit" ucap Cici dengan suara manjanya sambil melangkah ke arah Haris dan menjatuhkan tubuhnya di pinggir pria itu, bergelayut manja di lengan Haris, membuat Widuri langsung memutar bola mata jengah.
"Krupuk pangsit? Apa itu?" tanya Haris tidak mengenal krupuk yang di sebutkan Cici.
"Itu loh yang krupuk yang di kasih ke bakso itu" jelas Cici meneduhkan pandangannya ke arah Haris supaya pria itu tidak bisa menolak permintaannya.
"Belinya dimana?" tanya Haris lagi. Cici selalu membuatnya kesusahan mencari makanan makanan aneh yang di inginkan bayi mereka itu.
"Biasanya di tempat jual bakso ada" jawab Cici lagi.
"Ya udah, tunggulah biar aku cariin" Haris pun mengusap perut Cici yang sudah mulai menonjol.
"Ikut" manja Cici mengabaikan keberadaan Widuri di ruangan itu.
__ADS_1
"Gak usah ya, nanti kamu mabuk kalau kelamaan di dalam kenderaan" tolak Haris. Biasanya Cici akan mual dan muntah kalau lama lama di dalam mobil.
"Ikut" Cici menatap Haris dengan mata berkaca kaca.
"Ya udah!" pasrah Haris tidak tega melihat wajah sedih Cici yang berubah sangat manja dan cengeng akhir akhir ini.
Wajah Cici pun langsung berbinar cerah dan segera berdiri dari tempat duduknya.
"Wid, kamu ikut juga ya" ajak Haris menarik tangan Widuri supaya ikut bersama mereka.
"Gak usah" tolak Widuri menarik tangannya dari genggaman Haris.
"Wid, ayo ikut. Aku gak apa apa kok kalau kita harus jalan bertiga. Kan memang harusnya begitu. Biar bagaimana pun kita berdua adalah istrinya Haris. Kamu juga harus membantu Harus dong Wid. Biar Harusnya bisa berlaku adil sama kita berdua" ucap Cici.
Widuri langsung memutar bola mata jengah. Pintar sekali siluman harimau berbulu domba itu berbicara manis.
"Iya, Wid. Benar kata Cici. Ayo! mana tau kamu juga pengen sesuatu, kita bisa mencarinya sama sama" sambung Haris kembali meraih tangan Widuri.
"Aku lagi malas keluar, kalian aja. Aku nitip aja ya" balas Widuri, paling malas jika berada di satu ruangan bersama Cici. Apa lagi nanti Widuri akan duduk di kursi penumpang belakang duluan. Widuri akan menjadi penonton drama romantis nanti dari belakang. Karena sepanjang perjalanan, Cici akan terus bergelayut manja di lengan Haris.
"Nitip apa?" tanya Haris tak ingin memaksa Widuri ikut bersama mereka.
"Nitip membuang wanita sampah yang berdiri di samping Pak Haris" jawab Widuri sambil berjalan keluar dari ruangan itu.
'Kurang ajar! awas kamu Wid' geram Cici dalam hati. Tidak terima Widuri mengatakannya wanita sampah.
Mendengar apa yang di katakan Widuri, Haris hanya bisa menarik napas dalam dan mengeluarkannya perlahan. Sepertinya kedua istrinya itu tidak akan pernah akur sampai kiamat.
"Kita gak usah jadi pergi" rajuk Cici melongos keluar dari ruangan Haris sambil menghapus air matanya yang keluar dua butir.
Lagian tujuannya datang ke ruangan Haris untuk menghentikan kegiatan romantis pasangan suami istri itu. Meminta di carikan krupuk pangsit hanya menjadi alasan saja.
*Bersambung
__ADS_1