
"Wid, ayo makan."
Widuri Yanga sibuk bekerja langsung menoleh ke arah Marya yang baru keluar dari dalam lif. Widuri menganggukkan kepala dan langsung berdiri dari tempat duduknya.
"Kemana?" tanya Widuri, biasanya setiap hari selera si bumil cantik itu berbeda beda.
"Depan aja, aku pengen makan ayam sambal ijo" jawab Marya.
keluar dari gedung perusahaan, Marya dan Widuri menyebrang jalan ke arah sebuah restoran di depan perusahaan.
Sampai di sana, Marya dan Widuri langsung memesan makanan untuk mereka. Tidak lupa kedua wanita itu juga memesan makanan untuk suami mereka. Karena suami mereka sebentar lagi akan datang menyusul.
"Marya, kok aku seperti kenal deh sama itu perempuan." Widuri memperhatikan seorang wanita yang duduk tidak terlalu jauh dari meja mereka.
Marya yang sibuk menyedot minumannya menggunakan sedotan, langsung mengikuti arah pandangan Widuri. Marya mengerutkan keningnya sambil mencoba untuk mengenali wajah perempuan itu.
"Mirip Bu Bella" gumam Marya
Bella adalah mantan istri pertama Kanzo, suami Marya sendiri. Beberapa Bulan ini menghilang, dan orang yang di tugaskan Kanzo mencarinya kehilangan jejak. Pantas aja orang yang mencarinya tidak bisa mengenalinya lagi, ternyata wajah wanita yang dulunya cantik itu, sudah berubah menjadi jelek.
"Iya, aku juga pikir seperti itu. Tapi berbeda dengan Ibu Bella, ini lebih terlihat jelek" ujar Widuri.
Marya pun terus memperhatikan wajah wanita yang mirip dengan mantan istri dari suaminya itu.
'Apa itu benar Ibu Bella? Tapi kenapa wajahnya berubah jelek?' batin Marya.
"Silahkan Kakak Kakak."
Suara pelayan yang meletakkan makanan di atas meja itu, berhasil membuyarkan lamunan Marya.
"Trimakasih" ucap Marya menoleh sebentar ke arah pelayan itu sembari tersenyum.
"Sayang!"
Marya dan Widuri langsung menoleh ke arah Kanzo yang baru datang.
"Kenapa gak ngajak Pak Haris? Widuri udah memesan makanan untuknya" tanya Marya melihat Kanzo hanya datang sendiri.
"Cici membawa makan siang untuknya" Jawab Kanzo sembari mendudukkan tubuhnya di samping Marya.
__ADS_1
Marya menghela napasnya menatap iba ke arah Widuri yang sudah menunduk.
"Aku gak apa apa" Widuri tetap berusaha mengulas senyumnya, tak ingin sahabatnya itu terus merasa kasihan melihatnya.
Sebenarnya Widuri sudah mengirim pesan kepada Haris, mengatakan pada pria itu kalau ia memesan makanan untuk mereka berdua. Dan pria itu sudah membaca pesannya, tapi tidak membalasnya.
"Kenapa masih bertahan?. Kamu bisa meminta cerai, dari pada kamu makan hati berkepanjangan."
"Sayang, jangan menghasut Widuri untuk bercerai. Biarkan Widuri mengambil keputusan sesuai hati nuraninya. Lagian, menyelesaikan masalah rumah tangga itu tidak melulu harus dengan perceraian" ucap Kanzo.
"Kalian berdua sama aja, egois." Marya mendengus kemudian menyuapkan makanan ke mulutnya.
Wajar suaminya itu membela Haris, selain kedua pria itu bersahabat sejak lama. Tuan muda dari keluarga Salim itu juga pernah mengait dua perempuan dalam hidupnya. Yaitu Marya dan Bella.
"Kalau aku gak egois, gak mungkin kamu mengandung anakku, sayang. Udah, jangan terlalu ikut campur masalah rumah tangga orang." Kanzo mengusap lembut perut buncit istrinya itu sembari tersenyum.
'Ya Tuhan, kapan aku seperti Marya?. Pak Kanzo sangat sayang dan perhatian padanya. Tidak seperti Pak Haris, sering kali mengabaikanku.'
Widuri membatin sambil terus memperhatikan Marya dan Kanzo yang terlihat begitu manis dan romantis.
Setelah selesai makan siang di restoran itu. Kanzo dan kedua wanita hamil itu langsung kembali ke perusahaan. Saat masuk ke dalam loby, mereka melihat Haris berjalan bergandengan tangan dengan Cici.
Haris dan Cici langsung menoleh ke arah Marya, Widuri dan Kanzo yang baru datang.
"Iya Nona, ada apa?" tanya Haris.
"Kalau kamu gak bisa adil, ceraikan Widuri." Marya berbicara dengan merapatkan gigi giginya.
"Sayang" tergur Kanzo, tak ingin Marya ikut campur lebih jauh urusan rumah tangga Haris.
"Widuri lagi hamil" jawab Haris dengan ekspresi wajah santai seolah tidak ada beban di pikirannya.
"Tapi Pak Haris lebih banyak menghabiskan waktu bersama Cici. Di perusahaan setiap hari kalian bersama. Sedangkan giliran Widuri, hanya tiga malam dalam seminggu" ucap Marya lagi.
"Marya, udahlah, aku juga gak butuh keadilan dari dia." Widuri melangkahkan kakinya ke arah meja resepsionis di ruangan itu dan langsung mendudukkan tubuhnya di sana.
"Nona dengar sendiri kan, kalau dia gak membutuhkan Haris" ujar Cici. Dari tadi tidak melepas lengan Haris. Kemudian Cici menarik Haris untuk meninggalkan tempat itu.
"Emang dasar laki laki" geram Marya. Berbicara sambil berkacak pinggang, dadanya naik turun menahan emosi.
__ADS_1
"Sayang, jangan emosi seperti itu, gak bagus untuk kesehatan bayi kita. Ayo kita masuk ke ruangan kita." Kanzo pun membawa Marya masuk ke dalam lif untuk naik ke lantai atas gedung itu.
"Kok bisa bisanya aku senasib dengan Widuri?. Seolah olah bekerja di perusahaan ini adalah pembawa sial" gerutu Marya. Mengingat pria di sampingnya itu juga dulu pernah membuat hidupnya sudah dan rumit.
'Sabar sabar sabar.'
Kanzo membatin sambil mengusap usap dadanya, supaya lebih tabah menghadapi istrinya yang suka marah sejak hamil itu. Apa lagi setiap melihat Haris, istrinya itu selalu emosian.
Widuri yang sudah tinggal sendiri di meja resepsionis itu, mengusap kasar wajahnya dan menghapus air matanya yang sempat mengalir dari sudut matanya.
'Ya Tuhan, bukankah Pak Haris sendiri yang memaksaku menjadi istrinya?. Bukankah Pak Haris mencintaiku?. Tapi kenapa dia terus mengabaikanku? selalu membuatku sakit hati.'
Widuri membatin sembari menangis terisak.
Mereka juga baru baikan, tapi pria itu lagi lagi tidak memperdulikan perasaannya. Hanya karena masalah nafsu.
Mendengar suara langkah kaki ruang loby perusahaan itu. Widuri langsung berhenti menangis, Widuri langsung menoleh ke arah dua orang yang berjalan baru keluar dari dalam lif.
"Marya!" tegur Widuri dari meja kerjanya, melihat Marya di tuntun berjalan sambil meringis kesakitan.
"Sepertinya Marya sudah akan melahirkan"ucap Kanzo. Terlalu menikmati rasa sakit di perutnya, sepertinya istrinya itu tidak mendengar suara Widuri lagi.
"Melahirkan?" ulang Widuri. Bukanlah sahabatnya itu barusan baik baik saja, kok bisa tiba tiba akan melahirkan?, pikir Widuri heran.
"Wid, bilang sama Cici untuk menjadwal ulang pekerjaanku" perintah Kanzo. Sepertinya Kanzo akan meliburkan diri untuk beberapa hari ke depan untuk mengurus Marya dan anaknya.
"Baik, Pak" patuh Widuri, lalu menghela napasnya. Widuri malas jika harus menemui Cici. Tapi Widuri harus tetap menyampaikannya kepada Cici.
Widuri pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam lif untuk naik ke lantai teratas gedung itu, dimana meja kerja Cici berada. Keluar dari dalam lif, Widuri langsung melangkahkan kakinya ke arah Cici yang terlihat sibuk bekerja.
"Ci, Kata Pak Kanzo, kamu harus menjadwal ulang pekerjaannya, karena Marya akan melahirkan" ujar Widuri menatap Cici tidak suka.
"Siapa Anda berani memberi perintah pada saya?. Resepsionis." Cici memandang remeh ke arah Widuri yang berdiri di depan meja kerjanya.
"Iya, itulah saya. Seorang resepsionis tapi bisa memerintah Anda. Dan menendang Anda dari perusahaan ini" jawab Widuri menantang.
Cici berdecih, menurutnya Widuri sedang mengatur dan bermimpi ketinggian."Jangan kamu pikir, karena kamu juga istri dari Haris. Kamu memiliki kekuasaan lebih di sini. Jika Haris sudah menceraikan mu, kamu itu sudah tidak ada apa apanya."
"Gak masalah jika Pak Haris menceraikan ku. Tapi yang jelas, anak di perutku inilah salah satu yang menjadi pewaris harta kekayaan Pak Haris. Karena apa...."
__ADS_1
*Bersambung