Pria Yang Merenggut Kesucian Ku

Pria Yang Merenggut Kesucian Ku
Aku juga bisa menyingkirkan mu


__ADS_3

"Pak Haris, mungkin Anda tidak percaya dengan saya. Tapi apakah Pak Haris tidak percaya dengan istri Anda sendiri?. Lagian kenapa istri Anda harus selingkuh?. Jawabannya ada pada diri Anda, permisi" Brandon langsung pergi setelah melakukan pembelaan.


Haris pun terdiam dan mengarahkan pandangannya ke arah Widuri yang masih berdiri di depannya.


"Maaf" lirih Widuri. Dia memang sudah melakukan kesalahan, pergi tanpa meminta ijin dari suaminya.


"Aku gak suka dengan caramu seperti itu,Wid. Kamu pergi ngelayap berdua dengan pria lain."


Widuri menghapus air matanya yang mengalir tanpa bisa dibendungnya lagi.


"Pak Brandon hanya mengantarku" sanggah Widuri terisak.


"Hanya mengantar mu,Wid?. Apa ini? Kamu memeluknya,Wid?." Haris berbicara merapatkan gigi giginya sambil melempar ponselnya ke atas meja, menunjukkan foto Widuri memeluk Brandon dengan wajah bahagia. Berhasil membuat Widuri bungkam dan menelan air ludah.


'Siapa yang mengambil fotoku diam diam?. Apa Cici menyuruh orang untuk mengikutiku?' batin Widuri.


"Apa segitunya kamu ingin bercerai dariku, Wid?" Haris menggeleng gelengkan kepalanya kecewa." Aku tau caraku mendapatkan mu, salah Wid. Aku melakukan kesalahan besar malam itu, sehingga kamu terpaksa menjadi istriku. Karena itu Wid, aku ingin menebus kesalahanku itu dengan cara bertanggung jawab kepadamu dan anak kita untuk selamanya, Wid."


"Tapi jika memang kamu tak ingin mempertahankan pernikahan kita...." Haris berdiri dari tempat duduknya, memilih masuk ke dalam kamar kosong yang berada di samping kamar Widuri.


'Aku yakin, ini pasti ulah Cici. Dia sudah tidak bisa menghasut Nyonya Ilona dan Soodam, sehingga ia menyuruh orang lain untuk mengikutiku' batin Widuri lagi, melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamarnya sambil menghapus air matanya.


**


Pagi hari, Widuri keluar dari dalam kamarnya untuk membersihkan diri ke kamar mandi yang berada di dekat dapur. Saat menoleh ke arah meja makan, di atas meja sudah ada terhidang makanan.


'Apa Pak Haris yang memasaknya?.'


Widuri mengerutkan keningnya, karena tidak melihat Haris di dapur atau di ruang tamu rumah itu.


"Nanti jangan lupa sarapan."

__ADS_1


Refleks Widuri mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara itu. Memperhatikan Haris yang baru keluar dari dalam kamar sebelah kamarnya. Haris sudah tampak rapi dengan kemeja berwarna biru muda di padukan dengan celana longgar warna abu abu.


"Aku harus pergi ke rumah sakit sekarang untuk melihat kondisi Cici dan Mama. Nanti kamu akan di antar supir bekerja" ucap Haris lagi sambil melihat jam yang melingkar di tangannya. Kemudian langsung melangkahkan kakinya meninggalkan rumah itu tanpa melihat melihat Widuri.


'Pak Haris benar benar marah. Ini semua gara gara Cici. Baiklah, aku juga bisa bermain main jika itu yang kamu mau, Ci.'


Widuri merapatkan gigi giginya sampai wajahnya terlihat bergetar, sangking marah, emosi dan sakit hatinya terhadap Cici.


'Aku juga bisa menyingkirkan mu Ci.'


Widuri pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Sampai di dalam kamar mandi, Widuri langsung mengguyur seluruh tubuhnya di bawah shawer.


"Lihat aja, aku akan membuat mu menyesal karena sudah bermain main denganku, Cici!" teriak Widuri penuh dengan dendam.


'Dan kamu Pak Haris. Kamu tidak akan bisa melihat anakmu ini setelah lahir. Kau tidak pernah memperhatikannya. Kau terus mengabaikan Ibunya. Kau tidak pernah memperlakukan aku dengan adil, Pak Haris!" teriak Widuri lagi sambil menangis.


Widuri pun memukuli dadanya yang teramat sesak. Meski sakit hati dan ingin membalas perbuatan Haris dan Cici. Tapi nyatanya semua itu bertolak belakang dengan hati nuraninya. Benci, tapi Widuri masih mencintai pria yang merenggut kesuciannya itu. Bertahan, artinya kuat menderita. Mundur, artinya meninggalkan cinta.


"Aku mencintaimu Pak Haris. Tidak bisakah kamu sedikit saja memperlakukanku dengan adil?. Tidak bisakah kamu sedikit saja lebih memperhatikan aku, lebih memperdulikan aku?. Kenapa begitu mudahnya kamu tertipu dengan kelembutan Cici?" gumam Widuri di dalam tangisnya.


"Aku gak boleh lemah. Aku harus kuat demi anakku" gumam Widuri lagi, kembali berdiri kemudian menyelesaikan mandinya.


Selesai membersihkan diri dan memakai seragam kerjanya. Widuri pun berangkat kerja, tanpa memakan makanan yang di siapkan Haris untuknya. Saat keluar rumah, ternyata sudah ada mobil jemputan menunggunya, tapi yang menjadi supirnya, bukan Brandon lagi, melainkan supir perempuan.


"Silahkan Nona" ucap wanita berseragam sapari itu setelah membuka pintu penumpang belakang untuk Widuri.


"Trimakasih" balas Widuri tanpa senyum di wajahnya.


Setelah Widuri masuk, supir perempuan itu pun menutup pintunya kembali, dan langsung menyusul masuk. Perlahan mobil jemputan yang di kirim Haris itu, mulai melaju meninggalkan komplek perumahan.


Baik Widuri ataupun supir wanita itu, tidak ada yang berbicara sampai mobil itu berhenti di depan pintu masuk perusahaan.

__ADS_1


"Trimakasih" ucap Widuri dan langsung turun tanpa menunggu sang supir membukakan pintu untuknya.


Sampai di meja kerjanya, Widuri langsung mendudukkan tubuhnya dan langsung sibuk dengan pekerjaannya tanpa menunggu masuk jam kerja. Dia sengaja menyibukkan diri supaya tidak terlalu memikirkan masalah hidupnya yang menyakitkan itu.


'Aku harus membuka usaha supaya nanti aku bisa menghidupi anakku sendiri tanpa harus memakai uang dari Pak Haris. Aku harus banyak uang, supaya bisa mempertahankan hak asuh anakku nanti. Aku tidak akan memberikan anak ini kepada Pak Haris' batin Widuri, pikirannya menerawang jauh di kemudian hari.


Melihat sikap Haris tadi pagi yang acuh tak acuh padanya. Widuri yang sempat ingin mempertahankan pernikahannya, menjadi berubah pikiran, kembali ingin bercerai setelah melahirkan nanti.


Hampir menjelang makan siang, Haris baru sampai di perusahaan. Itu artinya setengah hari ini, Haris menghabiskan waktu bersama Cici di rumah sakit.


Apa kabar dengan Cici dan bayi nya? Apakah selamat?. Dari melihat wajah Haris yang tidak nampak gurat kesedihan, sepertinya janin di dalam kandungan madunya itu, baik baik saja.


"Ini makanan untuk makan siangmu. Jangan tidak makan seperti tadi pagi. Aku tidak mau anakku sampai kurang gizi gara gara kamu tidak memperdulikannya" oceh Haris saat meletakkan sebuah kantong plastik berisi kota makanan di atas meja kerja Widuri.


"Cih! sok perduli."


Bukan Widuri yang mencibir Haris, melainkan Marya yang kebetulan datang ke meja kerja Widuri.


"Sayang, gak usah ikut campur urusan rumah tangga mereka" tegur Kanzo yang datang bersama bersama Marya.


"Sabar ya Wid. Nanti kalau sudah tau belang istri kesayangannya. Akan nyesal sendiri. Kalau nanti mantan suami kamu datang menangis ngemis ngemis, tendang aja" cibir Marya lagi melirik tajam Haris dari sudut matanya.


"Sayang, ayok! katanya tadi mau cari makanan." Kanzo pun menarik Marya keluar dari ruang loby perusahaan itu, supaya istrinya itu tidak terus terusan emosi melihat Haris.


"Sama sama buaya darat, iyalah!" Marya memutar bola mata malas setelah mencibir suami tampannya itu.


"Itu kan dulu sayang. Sekarang aku sudah berubah menjadi buanya air" balas Kanzo tersenyum, sambil membukakan pintu untuk istri tercintanya itu.


"Buaya ganas, iya" cibir Marya lagi. Kanzo tertawa cekikikan.


Setelah Marya duduk dengan sempurna di dalam mobil, Kanzo pun menutup pintu mobil itu kembali, kemudian menyusul Marya masuk ke dalam mobil. Dan langsung melaju, ngeeeng....! tit tit tit!.

__ADS_1


*Bersambung


__ADS_2