
"Seenaknya dia mengataiku pria bodoh, awas aja dia" gerutu Haris kembali ke sofa karena Widuri sama sekali tidak mau membuka pintu kamar itu. Membuat Haris terpaksa harus tidur di sofa malam ini.
Tengah malam, Widuri yang sempat ketiduran, terbangun karena merasakan perutnya lapar lagi. Widuri yang hendak keluar kamar, membuka pintu kamar itu pelan pelan lalu mengintip Haris, apakah masih di ruang tau atau sudah pulang.
'Masih di situ dia' batin Widuri.
Widuri pun melangkahkan kakinya dengan sangat hati hati dan pelan pelan melewati Haris yang tidur di sofa ke arah pintu keluar rumah itu. Widuri ingin mencari makanan keluar, karena di rumah itu tidak ada makanan. Dan Widuri tidak perlu takut, meski tengah malam, di depan komplek perumahan itu masih banyak penjual makanan yang buka dan kenderaan lalu lalang masih banyak berlewatan.
Ceklek!
"Kamu mau kemana?."
Haris yang tidur di sofa langsung terbangun, mendengar pintu terbuka.
"Minggat" jawab Widuri dan bergegas keluar.
Haris yang melihatnya langsung beranjak dari sofa untuk menyusul Widuri.
"Kamu gak boleh pergi, ini udah malam. Bahaya untuk bayi ku" ujar Haris saat berhasi menangkap tubuh Widuri.
"Bayiku bayiku bayiku. Kenapa kamu gak pindahin aja bayi mu ini ke dalam perutmu? Atau ke perut istri tercintamu itu" cetus Widuri menghempaskan tangan Haris yang melingkar di pinggangnya.
"Mana bisa" balas Haris, menangkap tubuh Widuri kembali.
"Awas!" Widuri kembali menghempaskan tangan pria itu, tapi kali ini tidak berhasil, karena Haris memeluknya erat.
"Awas, aku mau cari makanan, aku sangat lapar" cetus Widuri sambil berusaha melepas tangan Haris dari pinggangnya.
"Tadi aku sudah memesan makanan untukmu, makan itu aja biar ku panasin."
"Awas bodoh! lepasin! aku gak mau memakan makanan dari laki laki bodoh seperti kamu!" teriak Widuri.
"Apa kamu bilang?. Dari tadi kamu terus mengatakan aku bodoh!" geram Haris melepas pelukannya, menatap tajam ke arah Widuri.
"Memang kamu bodoh" ucap Widuri malah tanpa takut membalas tatapan horor Haris padanya.
"Bodoh dan bego, plin plan gak punya pendirian, dan gak punya harga diri" maki Widuri dengan sangat kejam.
Haris yang tidak terima, pun langsung mengangkat tubuh Widuri membawanya kembali masuk ke dalam rumah. Tanpa menurunkan wanita itu dari gendongannya, Haris menyerang bibir Widuri dengan rakus, membuat wanita itu kewalahan.
Widuri yang tidak terima di perlakukan sesuka hati oleh pria itu pun, menggigit kuat bibir Haris.
__ADS_1
"Aaakh!" teriak Haris kesakitan.
Tidak sampai di situ saja, Widuri juga menggigit dada Haris, membuat pria itu terpaksa menurunkannya.
"Rasain, makanya jangan sembarangan nyosor!."
Bukh!
Widuri langsung pergi setelah memukul junior milik Haris.
"Awu!" Haris langsung menangkap juniornya dan mengusap usap ya dengan kasar.
"Widuri!" panggil Haris berteriak, wanita kurus itu benar benar sangat arogan seperti Ayahnya.
Widuri yang sudah sampai di depan rumah, mendengus dan tersenyum miring Karana sudah berhasil membuat pria bodoh itu sengsara.
"Dia pikir, bisa hidup suka suka?" gumam Widuri sambil berjalan keluar dari komplek perumahan itu.
Sampai di sebuah tenda angkringan pinggir jalan, Widuri pun langsung memesan makanan dan mendudukkan tubuhnya di salah satu meja kosong. Widuri akan makan di sana, karena jika makanannya di bawa pulang ke rumah, bisa bisa selera Widuri hilang karena melihat wajah pria bodoh itu.
Selesai makan, Widuri langsung kembali ke rumah. Saat melintasi ruang tamu, Widuri tidak melihat Haris. Kemana pria itu?.
Hap!
"Berani beraninya kamu menyakiti juniorku Hm!" gemas Haris mengecupi leher dan telinga Widuri dengan lembut.
"Pak Haris!, hentikan!" bentak Widuri.
"Gak sayang" ucap Haris tidak peduli Widuri yang meronta minta di lepas dari pelukannya." Kamu harus mengobatinya" ucap Haris lagi meniup telinga Widuri dengan napas hangatnya.
"Aku gak mau, awas!" tolak Widuri, tidak habis pikir dengan pria yang sudah sangat menyakitinya itu.
Tapi Haris tidak peduli dengan penolakan Widuri. Ia pun terus menciumi leher wanita itu. Dan jangan tanyakan kedua tangannya dimana?, jelas kedua tangan itu sudah mengambil bagian masing masing di tubuh wanita itu.
"Ah!"
Haris tersenyum mendengar ******* lolos dari bibir Widuri.
"Masih berani mengatakan suami mu ini bodoh, sayang?" bisik Haris di telinga Widuri lalu menggigit kecil daun telinga wanita itu.
Haris pun mengangkat tubuh tak berdaya Widuri, membawanya masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
"Kamu memang bajingan, gak punya hati" geram Widuri berbicara merapatkan gigi giginya, setelah Haris puas menikmatinya.
Haris mengulas senyumnya, lalu berbisik." Kamu yang bodoh, kenapa tadi mau?."
Cup!
Haris pun menjatuhkan satu kecupan di pipi wanita yang masih berstatus istrinya itu.
Widuri yang masih bergulung di dalam selimut, menatap marah pada Haris yang tersenyum manis ke arahnya. Tidak kah pria itu merasa bersalah karena sudah memaksanya?. Ini sudah ke tiga kali. Kalau saja membunuh tidak berdosa, sudah di pastikan Haris sudah mati di tangannya.
"Kenapa kamu menatapku marah?. Bukan kah tadi sudah ku bilang, aku ingin memastikan anakku sehat. Hm! ternyata dia sehat. Trimakasih sudah merawatnya dengan baik" ucap Haris masih tidak bisa menyurutkan senyumnya.
Bagaimana bisa Haris benar benar melapas Widuri. Kalau kenyataannya, Widuri lebih nikmat dari pada Cici. Meski tubuh itu kurus tapi lobangnya itu loh!.
Oh Tuhan, Widuri merasa telinganya sudah berasap, taring dan tanduknya sudah mulai numbuh. Menyebalkan sekali pria di sampingnya itu. Setelah menyakitinya, pria itu masih tidak malu mencumbuinya.
"Pergi dari sini sekarang juga, atau Pak Haris akan ku bunuh!" geram Widuri mengusir dan mengancam.
Bukannya pergi, malah Haris menindih tubuhnya kembali.
Oh Tuhan
Mati matian Widuri menahan supaya tidak meloloskan suaranya, tapi pria bodoh itu tetap saja berhasil membuatnya berteriak teriak kembali sampai kelelahan.
"Hahahaha...!!!!" Haris tertawa terbahak bahak setelah berhasil membuat Widuri tidak berkutik.
"Muah muah muah muah... Kamu menggemaskan sekali sayang." Haris menghujani wajah merah Widuri dengan kecupannya, kemudian lanjut....
**
Pagi hari, Haris terbangun dari tidur lelapnya kerena mendengar suara brisik dari dalam handphon di atas nakas. Haris meraih handphon itu tanpa membuka matanya, lalu mendial tombol hijau di layarnya tanpa melihat si penelepon.
"Haris, kamu dimana? kenapa belum pulang? Oek oek oek" tangis seorang perempuan dari dalam telepon sambil muntah muntah.
"Aku akan segera pulang" ucap Haris langsung mematikan sambungan teleponnya. Saat membuka mata, Haris sudah tidak melihat Widuri di atas kasur.
'Kemana dia?' batin Haris mengarahkan pandangannya ke arah jam dinding di kamar itu.
"Jam tujuh" Haris yang kaget melihat jam, langsung mendudukkan tubuhnya dan segera turun dari atas kasur.
Setelah selesai membersihkan diri dan berpakaian rapi, Haris langsung meninggalkan rumah itu. Melajukan kendaraannya menuju jalan pulang, karena istri tercinta tadi menelephon nya.
__ADS_1
*Bersambung