
Siang hari, seperti yang di katakan Haris, pria itu pun membawa Widuri untuk periksa ke Dokter kandungan, untuk memeriksa kesehatan bayi di dalam kandungan Widuri.
"Usia kandungannya sudah memasuki usia lima Minggu ya, semuanya sehat dan normal" ucap Dokter yang sedang melakukan USG ke perut Widuri itu.
Haris mengangguk sembari tersenyum lebar dengan mata berkaca kaca. Haris begitu bahagia sampai terharu. Mengingat sebentar lagi ia akan menjadi seorang Ayah.
"Trimakasih ya Wid, sudah membiarkannya tumbuh di rahim mu" lirih Haris meneteskan air matanya, lalu mengecup pipi Widuri yang masih berbaring di atas brankar pemeriksaan Dokter kandungan itu.
Widuri menganggukkan kepalanya dengan mata berkaca kaca juga. Meski sempat berpikir untuk menggugurkan kandungannya, tapi jujur, Widuri juga sebenarnya sangat menyayangi bayi di dalam perutnya itu. Biar bagaimana pun bayi tak berdosa itu adalah anaknya juga.
Tidak cukup rasanya jika hanya mengecup pipi Widuri. Pria yang akan segera menjadi seorang Ayah itu, pun mengecupi seluruh wajah Widuri sambil menangis. Betapa Haris sangat bahagia saat ini, semakin yakin akan mempertahankan pernikahannya dengan Widuri.
Sedangkan Widuri yang diperlakukan Haris semanis itu, mengulas senyumnya. Wanita mana yang tidak luluh hatinya, mendapatkan cinta sebesar itu dari suami sendiri. Namun air mata yang menetes dari sudut mata Widuri, bukanlah air mata bahagia, melainkan air mata kesedihan, mengingat statusnya yang akan menjadi istri sementara seorang Haris.
Setelah mendapatkan resep vitamin untuk Widuri dan bayi mereka. Haris pun membawa Widuri kembali ke perusahaan. Sampai di perusahaan, Haris membawa Widuri ke ruangannya, dan tidak mengijinkan Widuri untuk bekerja hari ini.
"Pak Haris, ini hari pertama kerjaku, masa aku langsung absen" ujar Widuri yang duduk di pangkuan Haris.
"Biarkan aja, kan ada Aurel di sana" balas Haris, tak ingin jauh jauh dari Widuri hari ini. Sambil bekerja, sebelah tangannya pun sibuk mengelus elus perut Widuri.
"Aku gak enak sama Marya dan Pak Kanzo" ucap Widuri lagi, beralasan.
Sebenarnya Widuri sangat senang berada di dekat Haris seperti saat ini. Tapi mengingat Widuri harus pergi setelah melahirkan, Widuri tidak mau sampai hidupnya ketergantungan dengan pria itu. Dan akhirnya nanti membuatnya susah melupakan Haris.
"Kamu juga istri bos di sini" ujar Haris.
Meski bukan orang nomor satu di perusahaan itu. Tapi Haris adalah penanam saham terbesar no dua di perusahaan itu. Haris juga mempunyai wewenang yang tinggi di perusahaan keluarga sahabatnya itu.
"Aku ingin menemui Marya" Widuri mencoba beralasan sekali lagi, berharap bisa lepas dari pria itu.
__ADS_1
"Jangan mengganggu mereka. Mereka juga sibuk bekerja sambil bermesraan di ruangan Kanzo. Kamu mau jadi penonton?."
Widuri menatap kesal pada Haris, karena pria itu juga punya banyak alasan untuk menahannya di ruangan itu. Yang akhirnya membuat Widuri pasrah.
Pulang kerja, Haris kembali membawa Widuri pulang ke rumahnya. Meski tadi Widuri meminta untuk di antar ke rumah yang biasa di tempati nya, tapi Haris menolaknya. Haris mengatakan, tidak tenang kalau membiarkan Widuri yang sedang hamil harus tinggal sendirian.
Sampai di rumah, Haris memarkirkan mobilnya tepat di depan pintu masuk rumah itu. Di lihatnya Widuri yang duduk di sampingnya sudah tertidur pulas. Wajar saja, malam sudah menunjukkan jam sepuluh. Haris pun terpaksa mengangkat tubuh Widuri masuk ke dalam rumah.
"Haris, akhirnya kamu pulang. Aku sudah menunggumu dari tadi." Cici berdiri dari sofa ruang tamu untuk menyambut Haris yang baru pulang dengan senyum manis di bibirnya.
"Aku terpaksa lembur, banyak pekerjaan yang harus di selesaikan" ujar Haris.
"Widuri kenapa?" tanya Cici tetap mempertahankan senyumnya, meski di dalam hatinya sudah terbakar amarah dan api cemburu. Cici harus menahannya, dia tidak boleh marah marah di depan Haris.
"Widuri ketiduran di mobil, kasihan jika harus membangunkannya" jawab Haris melangkahkan kakinya menaiki anak tangga rumah itu. Yang langsung di ikuti Cici dari belakang.
"Aku akan menyiapkan air hangat untukmu." Sampai di lantai dua rumah itu, Cici melangkahkan kakinya ke arah kamar yang di tempati nya, sedangkan Haris melangkah masuk ke kamar yang di tempati Widuri.
Di dalam kamar Cici sedang menyiapkan pakaian untuknya.
"Apa kamu sudah makan?. Tadi aku memasak sup ikan kesukaan mu" ujar Cici, mendekati Haris yang baru masuk, dan membuka kancing baju pria itu, lalu melepasnya dari tubuh Haris.
"Sebenarnya aku sudah makan, tapi lapar lagi" jawab Haris, berusaha untuk membuat istrinya itu tidak kecewa.
Itulah Haris, dia terlalu lembek pada wanita dan tidak tegaan orangnya.
"Mandilah, aku akan ke dapur untuk memanaskannya." Cici mengulas senyumnya.
Sebenarnya sangat mudah membuat hati istri senang, jika suaminya peka. Cukup di hargai dan di dengarkan saja, sudah.
__ADS_1
"Baiklah" balas Haris dan segera masuk ke dalam kamar mandi.
Cici menaruh baju kotor di tangannya ke ranjang baju kotor, setelah itu baru keluar dari dalam kamar.
'Kamu hanya milikku Haris. Bagaimana pun caranya, aku harus berhasil mengambil seluruh hatimu, Ris.'
Cici membatin saat menuruni anak tangga rumah itu.
Sampai di dapur, Cici pun langsung memanaskan sup ikan yang di masaknya tadi. Setelah panas, Cici menuangnya kembali ke dalam mangkok dan menaruhnya di atas nampan. Cici akan membawa makanan itu ke dalam kamar, supaya Haris tidak perlu turun lagi ke bawah.
Di dalam kamar, Haris sudah selesai mandi, dan susah tapi dengan pakaian santai.
Ceklek!
Mendengar pintu kamar itu terbuka, Haris langsung menoleh ke arah Cici yang melangkah masuk membawa sebuah nampan berisi makanan dan minuman. Haris langsung mendekati Cici dan mengambil nampan itu dari tangan istrinya.
"Seharusnya kamu gak perlu membawanya ke kamar" ujar Haris, membawa nampan itu ke arah sofa dan mendudukkan tubuhnya di sana.
"Gak apa apa" balas Cici tersenyum, mendudukkan tubuhnya di samping Haris dan menyandarkan kepalanya ke lengan pria itu.
"Malam ini, tidur di sini ya!. Tadi malam aku gak bisa tidur tanpa kamu. Mungkin aku belum terbiasa jika harus berbagi waktu" ucap Cici dengan suara membujuk.
Haris yang sudah menyuapkan makanan ke mulutnya, terdiam dan menghela napasnya. Dia baru satu malam tidur bersama Widuri, tapi Cici sudah memintanya.
"Sebulan ini aku udah terbiasa tidur di sampingmu. Tiba tiba gak ada kamu tadi malam, aku gak bisa tidur. Please ya!." Cici mengangkat kepalanya dari lengan Haris, menatap pria itu mengiba, sehingga membuat Haris tidak tega melihatnya.
"Baiklah!" ucap Haris, mengusap lembut ujung kepala Cici sembari tersenyum.
"Trimakasih" Cici merekahkan senyumnya dan kembali menyandarkan kepalanya di lengan pria itu.
__ADS_1
*Bersambung