Pria Yang Merenggut Kesucian Ku

Pria Yang Merenggut Kesucian Ku
Terserah ku


__ADS_3

"Hari ini aku akan mulai bekerja lagi, di tugaskan di anak cabang perusahaan" ujar Widuri, melihat Haris memperhatikannya dengan kening mengerut.


"Kamu gak perlu bekerja lagi, apa lagi kamu sedang hamil, nanti kamu bisa kelelahan, aku gak mau kamu dan anakku menjadi sakit" oceh Haris berdiri dari tempat duduknya dan mendekati Widuri.


"Aku bosan kalau hanya di rumah" balas Widuri membalas tatapan Haris yang sudah berdiri di depannya." Dan juga, aku rasa, aku gak perlu tinggal di rumah ini. Aku ingin tinggal di rumah Marya. Aku merasa di sana lebih nyaman. Dan sebaiknya aku dan Cici tidak tinggal di atap yang sama" ujar Widuri lagi, melangkahkan kakinya ke arah meja nakas dan meraih tas kerjanya dari sana.


"Aku sudah mendapatkan status istri dari Pak Haris. Aku rasa aku gak membutuhkan...."


"Widuri!" bentak Haris tiba tiba, tak suka mendengar apa yang di katakan Widuri barusan.


Haris pun menarik lengan Widuri kasar, sehingga wanita itu menubruk tubuhnya. Tanpa aba aba, Haris langsung menyerang bibir wanita itu dengan brutal, membuat Widuri meronta ronta memukul mukul dadanya.


"Jangan berpikir, aku menikahi mu karena bayi kita. Kamu salah, Wid. kamu salah" lirih Haris setelah melepas pagutan nya. Widuri yang bernapas ngos-ngosan menatap tajam wajah Haris. Haris pun menempelkan keningnya ke kening Widuri." Aku mencintaimu, Wid. Jika saja aku tidak terjebak dengan keisengan Kanzo. Mungkin saat itu kamu yang menjadi pengantinku di pesta itu" ucap Haris lagi dengan suara lembutnya.


'Aku juga mencintaimu, Pak Haris. Tapi aku tidak bisa jika selamanya menjadi istrimu. Selain sudah membuat Cici terluka, Ibu mu juga tidak menerimaku menjadi menantunya' batin Widuri.


"Aku gak butuh pengakuan itu sekarang" balas Widuri menjauhkan wajahnya dari wajah Haris."Dan jangan Pak Haris pikir, aku mau berbagi suami. Pak Haris salah besar" ucap Widuri lagi, melepas tangan Haris dari pinggangnya dan langsung pergi keluar kamar.


Haris yang masih di dalam kamar Widuri, mengusap kasar wajahnya dengan kedua telapak tangannya, lalu menyugar kasar rambutnya ke belakang. Kenapa Widuri dan Cici selalu membuatnya di dalam pilihan yang sulit?. Kenapa dia selalu tidak bisa menentukan pilihannya di antara kedua wanita itu?. Ya Tuhan, apa ini karma karena aku pernah mencibir Kanzo yang memiliki istri dua?, pikir Haris. Haris pun keluar dari dalam kamar itu, segera menyusul Widuri ke lantai bawah rumah itu, untuk mengajaknya berangkat kerja bersama.


Widuri yang sudah sampai di lantai bawah, melangkah lurus saja ke arah pintu keluar rumah itu, tanpa berniat sedikit pun menegur Ibu Ilona yang duduk menonton di sofa ruang keluarga.


"Haris, lihatlah istri kamu itu. Tidak punya sopan sama sekali, dasar orang kampung. Apa dia tidak di didik orang tuanya untuk hormat pada orang tua" oceh Ibu Ilona kepada Haris yang baru menapakkan kakinya di lantai.

__ADS_1


Widuri yang mendengar Ibu Ilona menghinanya, menghentikan langkahnya dan memutar tubuhnya ke arah wanita tua itu.


"Bagaimana dengan Anda Nyonya besar?. Apa Anda sudah mendidik anak Anda dengan benar, jika iya, kenapa masih tidak bermoral?." Widuri menarik satu sudut bibirnya ke atas mencibir Ibu Ilona.


"Jelas saya mendidiknya dengan baik, dan memberinya pendidikan yang tinggi. Gak seperti kamu, miskin dan kampungan, dan sekolahmu hanya Diploma di kampus sederhana. Lihat Haris, dia menjadi pria yang pintar dan sukses" jawab Ibu Ilona tidak mau kalah.


"Ma!" tegur Haris, tak ingin Mamanya merendahkan Widuri.


"Enak saja dia mengatakan kamu gak bermoral, dan Mama gak mendidik kamu dengan benar" bela Ibu Ilona melihat tatapan marah Haris ke arahnya.


"Apa perlu Mama harus merendahkannya?. Widuri itu istriku Ma. Sedang mengandung cucu Mama sekarang. Apa Mama sama sekali gak bisa membuka hati Mama untuk menerimanya?" ujar Haris.


Widuri yang malas mendengar perdebatan Ibu dan Anak itu, memilih melangkahkan kakinya ke luar rumah. Setelah keluar dari gerbang rumah itu, Widuri langsung masuk ke dalam taxi yang di pesannya secara on line.


Tadi malam, sebelum Haris masuk ke dalam kamarnya. Widuri menghubungi Marya, meminta kepada sahabatnya itu, untuk memberinya pekerjaan. Dan sekarang Widuri sudah sampai di anak cabang perusahaan milik suami dari sahabatnya itu. Widuri pun melangkahkan kakinya ke meja resepsionis di ruang paling depan gedung perusahaan itu. Widuri akan menunggu Marya di sana.


Widuri langsung menoleh ke arah Haris yang baru masuk ke gedung perusahaan itu. Tadi Haris pikir Widuri akan menunggunya di luar rumah, nyatanya, saat Haris keluar dari rumah, Widuri sudah tidak ada.


"Kenapa?" tanya balik Widuri mengerutkan keningnya ke arah Haris.


Haris menghela napasnya, kemudian menarik lengan Widuri, membawa wanita itu untuk ikut ke ruangannya.


"Pak Haris, lepasin!" Widuri menarik tangannya, namun tidak bisa lepas karena Haris memegang erat tangannya.

__ADS_1


Haris pun memaksanya ikut masuk ke ruangan pria itu. Sampai di dalam ruang kerja Haris, pria itu langsung memeluknya dari belakang.


"Maafin Mama aku tadi ya" ucap Haris dengan suara lembutnya.


"Aku gak peduli dengan Mama kamu" balas Widuri, matanya berkaca kaca. Jelas hati Widuri sakit mendapat hinaan dari Ibu mertuanya itu. Belum lagi kemarin wanita itu menyakitinya.


"Iya, kamu gak perlu peduli padanya. Yang perlu kamu peduliin, aku dan anak kita" Haris pun mengelus elus lembut perut Widuri." Nanti saat istirahat makan siang, kita ke Dokter ya. Aku ingin melihatnya." Haris menarik napasnya dengan pelan seperti menghirup aroma tubuh Widuri, sambil mengeratkan pelukannya ke tubuh wanita itu. Haris mengulas senyumnya, entahlah? Haris merasa nyaman ketika berada di dekat Widuri.


"Aku kangen sama kamu, Wid!" lirih Haris. Widuri yang berada di dalam pelukannya, langsung melepas pelukannya dan menjauhinya.


"Aku gak mau. Setelah melakukannya dengan Cici, kamu masih ingin menyentuhku!, aku jijik" ketus Widuri.


"Aku sudah mandi, kenapa kamu jijik?" Haris menatap Widuri tak suka.


Widuri memutar bola mata malas. Bukan masalah mandi atau tidak mandi yang dia katakan. Tapi Widuri jijik jika harus di gilir dengan Cici. Lagian, tadi malam Haris sudah melakukannya dengan Cici, apa itu belum cukup?.


"Aku gak mau di sentuh" ucap Widuri melangkahkan kakinya ke arah pintu ruangan itu. Namun belum sempat Cici membuka pintunya, Haris sudah menarik tubuhnya, dan menggendongnya, membawanya ke meja kerja pria itu, dan mendudukkan tubuhnya di sana, menyerang secara brutal bibir wanita itu sampai puas, baru melepasnya.


"Pak Haris!" teriak Widuri sambil bernapas ngos-ngosan. Tidak terima Haris memaksanya berciuman.


"Kamu istriku, terserah ku mau ku apakan" Haris melap bibir basah Widuri sembari tersenyum.


"Tapi kita menikah bukan dasar suka apa lagi cinta. Kita menikah demi anak ini. Apa Pak Haris lupa?."

__ADS_1


"Gak!"jawab Haris cepat, membuat Widuri menjadi kesal."Itu menurutmu, tapi menurutku beda lagi." Haris pun menarik rambut Widuri dari belakang, membuat wajah wanita itu mendongak, dan langsung menyerang bibir mungil Widuri lagi dengan rakus.


*Bersambung


__ADS_2