Pria Yang Merenggut Kesucian Ku

Pria Yang Merenggut Kesucian Ku
Jangan pergi


__ADS_3

"Kamu harus bisa menguasai materi materi itu dalam waktu dua Minggu."


"Dua minggu?" Nala menatap tajam Haris sambil mengambil semua berkas itu dari atas meja. Namun belum sempat Nala membacanya berkas itu sudah berpindah ke tangan Widuri.


Wanita hamil itu pun membaca berkas berkas yang diberikan Haris pada Adiknya, Nala.


"Apa ini?. Bukankah Nala akan bekerja menjadi sekretaris di bagian keuangan?. Tapi kenapa Nala harus bisa menguasai pekerjaan Cici?." Widuri mencerca dengan kening mengerut ke arah pria yang duduk di sampingnya.


Nala dan Haris pun saling berpandangan, kemudian sama sama mengalihkan pandangan mereka ke arah Widuri.


"Nala akan menggantikan Cici." Haris mengangkat sebelah tangannya untuk mengusap kepala Widuri.


"Untuk apa?" tanya Widuri.


Sebelum menjawab, Haris menarik Widuri ke dalam pelukannya." Aku akan segera melepas Cici. Tapi sebelum itu, aku harus menyiapkan sekretaris baru untuk Kanzo. Dan aku sengaja memilih Nala supaya semuanya berjalan lancar."


Widuri berusaha melepas pelukan Haris dari tubuhnya, namun pria itu semakin mengeratkan."Kenapa harus melibatkan Adikku dalam menyelesaikan masalah mu?. Aku gak setuju, selesaikan aja masalah mu sendiri. Aku gak mau jika sampai Nala ikut dimusuhi Cici nantinya. Aku gak mau hidup Adik ku berada dalam masalah di kota ini."


Tentu Widuri khawatir dengan keselamatan Nala jika Adiknya itu menjadi sektretaris pengganti Cici. Mengingat Cici adalah orang yang jahat. Dan juga, masalah Haris tidak ada hubungannya dengan Nala.


"Wid" panggil Haris dengan suara lembutnya.


"Jangan melibatkan Nala!" bentak Widuri tiba tiba. Refleks Haris melepas pelukannya dari tubuh Widuri.


"Kak Wid. Kak Haris meminta bantuanku, karena Kak Haris ingin bisa membangun rumah tangga selayaknya dengan Kak Wid. Supaya Kak Haris bisa secepatnya lepas dari Ibu Cici." Nala membantu menjelaskan sedikit alasan kenapa Haris memintanya ke kota.


"Kamu percaya itu?" Widuri mendengus."Dia ini pria labil, tidak memiliki pendirian. Sebentar sebentar dia akan berpihak padaku. Tapi lebih seringnya dia akan berpihak pada Cici. Karena apa? Karena Cici selalu siap melayani nafsunya. Dia itu tidak punya cinta! yang ada dipikirkannya hanya nafsu!. Lihat ini ! gara gara dia aku terpaksa punya anak haram!. Gara gara dia Mama mengusirku dari rumah. Hidupku, masa depanku hancur lebur karena nafsu bejatnya!. Hidupku menderita! keluarganya tidak menerimaku dengan baik. Kamu tau Nala...." Widuri berbicara berteriak teriak menunjukkan betapa sakit dan beratnya selama ini ia menjalani hidup.


"Sayang, aku minta maaf." Haris menarik Widuri ke dalam pelukannya kembali, namun Widuri langsung menepisnya.


"Dia lebih banyak mengabaikanku, membiarkanku menjalani kehamilan ini sendirian. Tidak mau tau dan tidak peduli bagaimana sulitnya aku menjalani kehamilan ini. Betapa sakitnya setiap aku harus memuntahkan isi perutku setiap pagi, sendiri menahan sakit. Dia gak mikirin itu sama sekali. Belum lagi aku harus menghadapi orang tua dan Adiknya yang tega menyakitiku. Ingin melenyapkan bayi ku." Widuri menangis terisak isak sambil menghapus air matanya.

__ADS_1


"Biarkan dia menyelesaikan masalahnya sendiri. Seperti dia membiarkan ku menghadapi masalah hidupku sendirian."


"Sayang" Haris meneduhkan pandangannya ke arah Widuri. Menyadari kesalahannya selama ini yang telah banyak menyakiti Widuri.


"Setelah masalah Pak Haris selesai dengan Cici. Datanglah menjemput ku." Widuri berdiri dari samping Haris.


"Kamu mau kemana?" dengan cetap Haris langsung meraih lengan Widuri untuk mencegahnya pergi.


"Pulang ke kampung" jawab Widuri mengulas senyumnya meski air matanya mengalir deras.


"Maksud mu?"


"Iya, maksud Kak Wid apa?" sambung Nala.


"Aku kangen sama Mama. Mama memintaku pulang. Mama yang akan mengurusku sampai melahirkan." Widuri mengusap lembut perutnya yang mulai nampak menonjol.


Tadi saat perjalanan ke rumah Haris, Widuri mendapat kiriman pesan dari Ibu Ratna. Ibu Ratna memintanya pulang dan akan melahirkan di kampung.


"Jika semua masalah sudah beres, datanglah menjemput kami" ucap Widuri lagi.


Haris langsung berdiri dan menghambur memeluk tubuh Widuri. Pria itu terdengar menangis terisak sampai meraung.


"Aku minta maaf, please jangan pergi."


Tidak taukah wanita itu betapa Haris sangat mencintainya. Sampai kesalahan Widuri yang menyebabkan nya kehilangan seorang Ibu, bisa pria itu maafkan. Meski sebenarnya Ibunya lah yang memulai kesalahan itu, yang ingin melenyapkan bayi mereka. Dan saat ini Haris merasa hidup sendiri di Dunia ini. Haris sangat membutuhkan Widuri sebagai penyemangatnya.


"Aku gak punya siapa siapa lagi selain kamu, Wid. Makanya aku menyuruh Nala untuk membantuku. Aku ingin semua masalah ku cepat terselesaikan. Masalahku dengan Cici dan masalah perusahaan juga. Setelah itu, kita bisa hidup bersama layaknya suami istri yang sesungguhnya. Aku mencintai mu, Wid. Aku mencintai mu, sayang."


"Tapi Pak Haris sering mengabaikan ku." Widuri menjadi ikut menangis terisak isak mendengar tangis Haris begitu pilu.


Widuri juga mencintai Haris, bahkan sangat mencintai pria itu. Sehingga kesalahan Haris yang besar sekali pun mampu ia maafkan. Widuri ingin pulang kampung karena kangen dengan Ibunya, meski sebenarnya rasanya berat jika akan berjauhan dengan Haris. Dan Widuri ingin menjalani kehamilannya dengan tenang sampai melahirkan nanti. Karena Haris tidak akan bisa mengurusnya dengan baik, mengingat pria itu sangat sibuk mengurus perusahaan dan masalahnya dengan Cici.

__ADS_1


"Maaf" lirih Haris.


Widuri melepas pelukan Haris dari tubuhnya, kemudian menghapus air mata pria itu." Jangan melibatkan Nala. Aku yakin Pak Haris pasti bisa menyelesaikan masalah Pak Haris sendiri. Aku gak mau Cici membenci Nala nantinya."


"Tapi jangan pergi. Kalau kamu kangen dengan Mama, kita bisa meminta Mama ke sini"


Widuri menggelengkan kepalanya."Pasti Mama gak mau."


"Aku yang akan bicara sama Mama." Haris menghapus air mata Widuri." Aku minta maaf atas semua kesalahanku, Wid. Setelah masalahku dengan Cici selesai, aku tidak akan pernah mengabaikan mu lagi."


**


"Permisi Bu."


Cici yang sibuk di meja kerjanya langsung menoleh ke arah pria yang berdiri di depan mejanya.


"Ada apa?."


"Saya sudah pergi ke rumah Pak Haris. Tapi saya tidak bisa bertemu beliau. Dan sekretaris baru di bagian keuangan itu juga tidak ikut bersama saya. Beliau tadi pergi bersama Nona Widuri."


Cici mengerutkan keningnya mendengar penjelasan pria barusan.


'Kemana Haris pergi?. Widuri, kenapa Widuri membawa sekretaris baru itu?. Apa mereka saling mengenal?.'


"Kemana Widuri membawa sekretaris baru itu?" tanya Cici pada pria yang di suruhnya tadi mengantar berkas ke rumah Haris.


"Ke rumah Pak Haris, Bu" jawab pria itu,Cici pun terdiam.


'Siapa sekretaris baru itu? Kenapa Widuri membawanya ke rumah?.'


Pikirannya menjadi tidak tenang, Cici pun bergegas merapikan meja kerjanya dan pulang ke rumah.

__ADS_1


*Bersambung


__ADS_2