Pria Yang Merenggut Kesucian Ku

Pria Yang Merenggut Kesucian Ku
Aku mencintai Pak Haris


__ADS_3

"Aku gak mau tau, kamu harus membuatku bisa kabur dari sini."


Sepertinya Cici lupa jika rumah sakit itu adalah milik Tuan Haris yang terhormat. Semua yang bekerja di bawah naungan Haris adalah mata mata pria itu. Sehingga dengan siapa pun Cici bekerja sama, semua bocor pada Haris dan Kanzo.


"Apa kamu menyuruhku untuk mempertaruhkan jabatan ku di sini Nyonya?. Apa kamu pikir uang yang kamu berikan bisa memenuhi kehidupanku selama seratus Tahun ke depan?." Dokter laki laki itu tersenyum miring ke arah Cici di atas brankar.


"Aku sudah membayar mu sangat mahal untuk memalsukan hasil tes DNA kemarin, jika anak yang ku kandung itu bukan anak Haris.Sekarang anak itu sudah tidak ada, dan kamu tidak perlu melakukannya lagi. Yang perlu kamu lakukan, bawa aku kabur dari sini."


Dokter laki laki itu tertawa kecil melihat Cici memerintah ya seperti bos. Wanita di depannya itu sungguh bodoh rupanya. Apa wanita itu pikir, sekali transaksi bisa untuk membayar dua tugas tanpa ada kesepakatan.


"Bukan kamu yang membayarnya, tapi aku."


Suara Haris yang tiba tiba ada di ruangan itu berhasil mencuri perhatian Cici dan Dokter laki laki itu.


"Haris" gumam Cici.


Haris yang sejak tadi mendengarkan pembicaraan Cici di balik pintu, melangkahkan kakinya mendekati Cici.


"Kamu membayarnya menggunakan uangku, Cicilia" ucap Haris dengan santai saat kakinya tepat berdiri di samping brankar.


"Haris, apa maksud mu?. Wajar aja aku memakai uangmu untuk membayar pengobatan ku. Kamu dari mana?, kenapa kamu membiarkanku berjuang sendiri?. Padahal aku sangat membutuhkan dukungan dari mu. Anak kita sudah gak ada, Haris." Cici mulai meneteskan air matanya.


Haris tersenyum miring ke arah Cici. Melihat betapa pintarnya wanita itu menutupi kesalahannya. Padahal tadi sudah jelas Haris mendengar pembicaraannya dengan Dokter di ruangan itu. Dan tanpa Cici sadari, Haris juga sudah bekerja sama dengan Dokter itu.


"Karena anak kita sudah tidak ada." Haris menjeda kalimatnya dan menatap wajah Cici dengan intens." Mulai hari ini, kamu bukan lagi istriku Cicilia Calestra."


Duarr!


Bagai di sambar petir, Cici langsung membeku di atas brankar. Air mata Cici langsung mengalir begitu deras, mendengar Haris menceraikannya tanpa ada pembicaraan apa pun di antara mereka berdua sebelumnya.

__ADS_1


'Tidak tidak tidak.'


Cici membatin sambil menggelengkan kepalanya. Tidak percaya apa yang di dengarnya barusan.


"Aku menceraikan mu, Ci" jelas Haris sekali lagi.


"Aku gak mau, Haris. Kenapa kamu mencarikan ku?. Apa salahku?. Aku baru kehilangan anak kita, Ris. Kenapa kamu tega menceraikan ku di saat keadaan ku lemah begini?. Kamu keterlaluan, Ris. Kamu jahat. Apa kamu lupa? Kalau Ibu ku dulu pernah menyelamatkan nyawa Ibu kamu?. Kamu lupa, Ris?. Kamu mempunyai hutang Budi pada Ibuku. Dan karena wanita murahan itu, kamu menyingkirkan ku, Ris. Ingat Ris, gara gara pendonoran ginjal itu, Kesehatan Ibuku menjadi tidak stabil. Sekarang kamu malah menceraikan ku. Aku gak terima, Ris!. Aku gak terima!. Kalau kamu tidak mencabut kata kata mu. Aku akan membalas perbuatan kalian, terutama Widuri. Aku akan mengambil ginjal Widuri sebagai ganti ginjal Ibuku" ucap Cici berapi api.


"Kenapa kamu marah, Ci?. Aku sudah menerima kamu dengan baik dengan segala kekurangan mu. Tapi apa? kamu yang mulai jahat duluan, Ci. Kamu berpura pura baik di depan ku. Padahal di belakang ku kamu menyakiti Widuri. Bukan hanya itu saja, kamu bahkan mengandung anak pria lain sebelum kita menikah. Dan kamu juga tidur dengan pria lain, padahal kamu berstatus istriku. Dan...." Haris menarik napasnya sebelum melanjutkan bicaranya." Kamu sengaja menggugurkan kandungan mu, karena ragu dengan Ayah biologis bayi itu. Kamu juga menuduh Widuri yang menyebabkan kamu keguguran. Padahal semua adalah rencana mu!."


"Aaa! sakit" tiba tiba Cici berteriak karena kesakitan di bagian perutnya.


"Maaf Pak Haris. Tolong keluar sebentar, saya harus menanganinya. Dan saya sarankan, jangan mengajaknya berdebat dulu. Keadaannya saat ini masih sangat rentan dengan pendarahan" ucap Dokter yang dari tadi di ruangan itu.


Haris menghela napasnya kasar, lantas keluar dari ruangan itu dan kembali keruangan dimana Widuri dan Nala berada. Setidaknya, Haris merasa lega telah menceraikan Cici. Cici tidak lagi menjadi istrinya. Dan Haris hanya tinggal mengurus perceraiannya secara resmi dengan Cici.


Ceklek!


Widuri, Marya dan Nala langsung menoleh ke arah pintu terbuka. Mereka melihat wajah Haris terlihat begitu emosi. Wajahnya terlihat merah dan rahangnya mengeras.


"Pak Haris, bagaimana keadaan Cici?" tanya Widuri berdiri dari tempat duduknya dan mendekati Haris yang melangkah ke arahnya. Widuri mengusap dada Haris untuk meredam sedikit emosi pria itu.


"Aku sudah menceraikannya" jawab Haris. Memeluk Widuri dan menangis terisak di bahu wanita itu."Aku minta maaf,Wid. Aku sering menyakitimu karena Cici. Aku selalu percaya padanya."


Widuri mengangkat kedua tangannya untuk mengusap usap punggung Haris dari belakang."Ssst! jangan menangis ya. Yang penting sekarang Pak Haris sudah tau semua."


"Kamu benar, Wid. Aku ini memang laki laki bodoh. Gak tegas, gak punya pendirian, pria labil. Gak bisa memastikan perasaan sendiri." Haris merutuki kebodohannya sendiri di dalam tangisnya.


Itulah kelemahan seorang Haris. Meski pintar dalam berbisnis, tapi bodoh dalam menghadapi wanita. Terlalu polos sehingga mudah di tipu dan diluluhkan.

__ADS_1


"Sssst!" Widuri melepas pelukan pria itu dari tubuhnya dan mengangkat kepala pria cengeng itu dari bahunya. Kemudian melap lelehan bening yang mengalir di pipi pria bodoh itu."Justru karena itu aku tetap bertahan. Bertahan di sisimu meski rasanya menyakitkan. Bertahan untuk Pak Haris. Bertahan untuk bisa menyingkirkan Cici yang terus menipu Pak Haris. Aku melakukan itu, karena aku juga men...." Widuri menundukkan kepalanya tanpa melanjutkan kalimatnya lagi.


"Ayo katakan karena apa?. Aku ingin mendengarnya" Haris tersenyum kecil bisa menangkap apa yang akan dikatakan Widuri barusan. Haris pun meraih dagu Widuri supaya wajah wanita itu menghadapnya.


"Aku mencintai Pak Haris" lirih Cici tersenyum dengan wajah memerah.


"Cie cie cie! yang mengaku cinta wajahnya merah" goda Marya dan Nala bersamaan.


Haris pun semakin mengembangkan senyumnya dan menarik pelan pinggang Widuri sampai tubuh mereka menempel. Tanpa ada rasa malu, Haris meraup bibir mungil itu dengan bibirnya, dan menciumnya mesra, hanya sebentar.


Bukh!


"Pak Haris" rengek Widuri manja sambil memukul dada Haris yang nyosor tanpa mengingat sopan santun.


Haris tertawa kecil sambil melap bibir basah Widuri dengan jempol tangannya. Istri keduanya itu memang sangat pemalu jika di perlakukan dengan romantis. Tapi itu yang membuat Haris semakin gemas dan ingin memakan habis wanita itu.


"Lalu bagaimana keadaan Cici dan bayi nya?" tanya Marya yang belum puas mendapatkan informasi tentang Cici.


Sebelum menjawab, Haris membawa Widuri untuk duduk di sofa."Bayinya meninggal, dan Cici masih berada di ruang IGD. Dan mungkin sebentar lagi akan di pindahkan ke ruang rawat. Cici juga sudah menjadi tersangka kasus hukum saat ini" jelas Haris.


"Kenapa Pak Haris gak terlihat sedih?. Apa pak Haris sangat yakin kalau bayi itu bukan milik Pak Haris?" tanya Marya lagi. Melihat raut wajah Haris tidak ada sedih sedihnya soal bayi Cici yang sudah tiada.


"Menurut pemeriksaan Dokter, bayi itu sudah berusia lima Bulan lebih. Sedangkan pernikahan kami baru genap lima Bulan. Dari situ sudah jelas kalau bayi itu bukan milikku. Karena aku tidak pernah menyentuh Cici sebelum pernikahan" jawab Haris begitu yakin.


"Pasti itu anak dari suami pertamanya" Marya menghela napasnya, tidak habis pikir dengan pemikiran Cici. Menikah dengan pria lain padahal masih berstatus istri." Kalau di pikir pikir, sebenarnya pernikahan kalian tidak sah. Karena Brandon belum pernah menceraikan Cici. Ya, meski menikah sirih, tapi tetap saja Cici masih istri dari Brandon."


"Hanya Cici dan Tuhan lah yang tau siapa dia sebenarnya" desah Haris sedikit menyesali apa yang sudah dilewatinya.


*Bersambung

__ADS_1


__ADS_2