Pria Yang Merenggut Kesucian Ku

Pria Yang Merenggut Kesucian Ku
Sudah tau semua


__ADS_3

"Kok perasaan dari tadi gak ada yang antar makanan ya ke sini ?. Ini udah hampir siang, Pak Haris belum di kasih sarapan. Dari tadi Pak Haris hanya makan eskrim terus.ucap Widuri menatap wajah pria yang terbaring di sampingnya itu.


Haris mengulas senyumnya sambil mengusap lembut rambut Widuri.


"Aku belum bisa makan. Tenggorokannya masih sakit kalau di lewati makanan keras, bahkan bubur pun gak bisa" jawab Haris.


"Gitu ya?."


Haris menganggukkan kepalanya.


"Apa gak apa apa makan es krim terus?" tanya Widuri lagi.


"Dokternya yang nyuruh, katanya bisa membantu penyembuhan bekas operasinya" jawab Haris.


Kini Widuri yang mengangguk angguk kepala.


"Kamu juga dari tadi gak makan apa apa. Apa anak kita gak lapar?." tangan Haris berpindah mengelus perut Widuri.


"Tadi aku sudah makan sedikit sebelum berangkat ke sini." Widuri ikut mengelus perutnya.


"Gak pengen makan sesuatu?" tanya Haris mengarahkan pandangannya ke wajah Widuri.


Widuri diam sebentar sambil berpikir, lalu menjawab." Pengen makan pisang goreng keju."


Haris mengulas senyumnya. Haris sangat senang, ini pertama kali mereka mengobrol dengan baik, layaknya suami dan istri.


"Sebentar, biar aku suruh pihak dapur rumah sakit ini membuatkannya untuk kalian" ucap Haris, meraih ponsel di samping tubuhnya. Setelah menghidupkan layarnya, Haris pun mengetik pesan, untuk meminta pengurus dapur membuatkan pisang goreng keju untuk Widuri.


Haris pun melatih handphonnya yang terletak di atas meja nakas yang berada di samping brankar, setelah menghidupkan layarnya Haris pun memesan pisang goreng keju kepada petugas dapur Rumah sakit itu.


"Bayi nya pengen es krim juga, boleh?" tanya Widuri mengelus perutnya lagi.


"Kenapa harus bertanya?, tentu boleh" jawab Haris.


"Tapi, aku pengen bekas yang kamu makan tadi, apa boleh?" tanya Widuri lagi, meneduhkan pandangannya ke wajah Haris.


Berhasil membuat Haris terdiam dan memandangi wajah Widuri. Menyadari sesuatu, kalau ia selama ini tidak pernah bertanya dan tidak pernah tau apa yang di inginkan Widuri semenjak hamil.


"Aku...aku minta maaf ya, selam ini kurang perhatian sama kamu dan anak kita" ucap Haris merasa bersalah.


"Boleh gak aku makan eskrim nya?" tanya Widuri lagi, dari tadi dia sudah ngiler saat menyuapi Haris memakan eskrim, tapi Widuri segan untuk memintanya, karena selama ini mereka tidak pernah seakrab itu.

__ADS_1


Haris menganggukkan kepalanya sembari tersenyum dan tangannya mengusap lembut rambut Widuri dari samping.


Wajah Widuri langsung sumiringah, dan bergegas melangkah ke arah lemari pendingin yang ada di ruangan itu. Widuri mengambil eskrim dari dalam kulkas dan langsung melahapnya sambil berjalan ke arah Haris.


'Hari ini dia kelihatan berbeda. Terlihat manis dan bertingkah seperti anak anak' batin Haris memperhatikan Widuri memakan eskrim begitu lahap sampai bibirnya belepotan.


'Aku gak akan melepaskan mu, Wid. Aku tidak akan pernah menerima alasan mu untuk berpisah. Aku sangat mencintai kamu, Wid' batin Haris lagi.


Widuri yang sadar di perhatikan, mengerutkan keningnya ke arah pria yang terbaring di atas brankar itu.


"Ada apa?"


"Suapin lagi" Haris membuka mulutnya, supaya Widuri menyuapkan eskrim ke mulutnya.


Widuri menganggukkan kepalanya, kemudian menyuapkan eskrim di tangannya ke mulut Haris.


"Ini lebih enak dari yang tadi" ucap Haris setelah menelan eskrim di mulutnya.


Widuri meperhatikan kotak eskrim di tangannya. Perasaan eskrim yang di makan mereka sekarang sama dengan eskrim yang dimakan Haris tadi. Kenapa bisa rasanya lebih enak dari yang tadi?.


Seketika, Widuri pun terdiam, saat tangan Haris melap bibirnya yang belepotan dengan eskrim, kemudian Haris memakan eskrim yang menempel di jari jempolnya.


"Ini lebih enak lagi" ucap Haris tersenyum manis.


Ingin rasanya Haris mengecup bibir istri keduanya itu. Jika saja tubuhnya sehat, tenggorokannya tidak sakit akibat bekas operasi. Namun karena pengaruh obat, Haris tampaknya mengantuk kembali.


"Tidurlah" ucap Widuri melihat Haris seperti menahan kantuk.


"Aku takut, saat aku terbangun, kamu sudah gak ada di sini, Wid" lirih Haris memejamkan matanya yang rasanya berat sekali.


"Aku gak akan kemana mana sebelum Cici datang menggantikan ku untuk menjagamu" balas Widuri.


Haris membuka matanya kembali, menatap teduh wajah Widuri.


"Tetaplah di sisi ku, Wid. Apa pun yang terjadi. Aku mohon, tetaplah bertahan menjadi istriku uhuk uhuk uhuk!." Haris terbatuk batuk karena banyak bicara.


"Jangan memaksa untuk bicara" Widuri segera mengambilkan air minum dan meminumkannya pada Haris.


"Aku sudah tau semua, Wid. Beri aku waktu." Haris kembali memejamkan matanya dan langsung ketiduran.


Widuri terdiam dan menatap intens wajah Haris.

__ADS_1


'Tau semua? apa maksud Pak Haris?.'


**


Malam hari, Cici baru sampai di rumah sakit. Kanzo bos perusahaan tempatnya bekerja benar benar membuatnya kelelahan. Kanzo sengaja memberinya banyak pekerjaan, supaya ia tidak punya banyak waktu bersama Haris.


Cici yang sudah sampai di depan ruang perawatan Haris, langsung membuka pintunya tanpa mengetuknya terlebih dahulu.


'Kurang ajar' batin Cici.


Di kiranya Widuri sudah pulang, ternyata wanita itu tidur dengan manisnya di dalam pelukan Haris.


'Ini gak bisa di biarkan.'


Cici membatin dengan dada naik turun menahan emosi. Tapi Cici harus menahannya, ia harus menyingkirkan Widuri dengan cara yang manis. Dia harus menguasai waktu Haris supaya Widuri tidak betah menjadi istrinya Haris.


"Haris, Widuri" panggil Cici dengan suara lembutnya sambil menggoyang sedikit tangan kedua manusia itu bergantian.


Widuri langsung terbangun dan membuka matanya. Pandangannya langsung terarah ke arah Cici yang berdiri di samping brankar.


"Kamu udah pulang, Ci?" tanya Widuri.


"Sudah" jawab Cici datar dan menatap Widuri dengan marah.


Widuri tersenyum mengejek." Kamu pasti capek kerja, seharusnya kamu pulang ke rumah aja istirahat. Biar aku saja yang menjaga Pak Haris di sini."


"Jangan mengaturku, Haris itu suamiku. Sedangkan kamu hanya istri sementara. Aku yang lebih berhak atas Haris" geram Cici, berbicara pelan dengan gigi yang merapat.


"Yang jelas, kan saat ini aku masih istri Pak Haris. Untuk urusan nanti, ya nanti aja di pikirin" balas Widuri tanpa menyurutkan senyumnya." Lagian Pak Haris sendiri gak keberatan aku temani."


Rahang Cici semakin mengeras melihat Widuri berani menantangnya. Kalau saja Harus tidak ada di ruangan itu, sudah pasti Cici menarik rambut madunya itu.


" Aku ingatkan kamu sekali lagi, Wid...."


"Ci, kamu sudah pulang?." Suara Haris langsung membuat Cici terdiam dan tidak bisa melanjutkan kalimatnya.


"Iya, aku baru pulang. Widuri pasti lelah menjagamu seharian" jawab Cici mengulas senyumnya, kemudian berbicara pada Widuri yang masih berada di pelukan Haris.


"Wid, Trimakasih ya udah jagain Haris seharian. Kamu pasti lelah, kamu pulang aja ya, biar aku yang ngejaga Haris. Besok pagi, kamu gantiin aku lagi ya."


Widuri langsung memutar bola matanya malas, pintar sekali Cici berakting menjadi wanita baik dan lemah lembut.

__ADS_1


*Bersambung


__ADS_2