Pria Yang Merenggut Kesucian Ku

Pria Yang Merenggut Kesucian Ku
Setelah tua


__ADS_3

"Kalian sudah sampai rupanya."


"Om Bagus, apa kabar?." Melihat Pak Bagus keluar dari dalam kamarnya, Haris langsung mendekati pria yang sudah tua itu, lalu menyalamnya.


"Baik, duduklah pasti kamu capek dari perjalanan jauh." Pak Bagus melangkah sedikit tertatih ke arah sofa, karena kakinya terasa kaku.Haris langsung menuntunnya dan membantunya duduk."Kanzo dimana?" Pak Bagus memutar pandangannya melihat Kanzo tidak ada di ruangan itu.


Widuri yang duduk di sofa dari tadi pun mendekati Pak Bagus. "Apa kabar Om?" sapa Widuri sembari menyalam tangan Pak Bagus.


"Di mana cucuku?." Bukannya menjawab mala pria tua itu menanyakan cucunya, siapa lagi kalau bukan Noah maksudnya.


"Bersama Gavin, Om" jawab Widuri.


Setelah Widuri menjauhi Pak Bagus, Nala dan Ibu Ratna pun menyapa Pak Bagus dengan secara bergantian.


"Kakek, Noah sudah datang" Suara bocah itu berhasil mengalihkan pandangan mereka semua ke arah tangga. Gavin berada di gendongan Marya, sedangkan Noah di gendongan Kanzo.


Wajah pasangan suami istri itu terlihat segar dengan rambut lembab mereka, jelas sekali kalau mereka baru selesai mandi.


"Ternyata kau sudah sampai Adikku" ucap Kanzo yang baru menapakkan kakinya di lantai bawah rumah itu.


Haris mendengus lantas mendekati Kanzo dan memeluk pria itu. Sudah dua Tahun mereka tidak pernah bertemu, kedua pria itu pasti sudah saling merindukan.


"Wid, apa kabar mu sahabatku?." Marya dan Widuri pun saling berpelukan melepas rindu, melakukan cipaka cipiki. Wajah kedua wanita itu terlihat sama sama berbinar senang.


"Sangat baik, bagaimana dengan mu" balas Widuri bertanya, melepas pelukannya dari tubuh Marya.


"Sangat baik juga" balas Marya.


Tidak lupa, Marya juga menyapa Nala dan Ibu Ratna yang duduk di sofa ruang tamu itu.


"Hai Nala, apa kabar?." Dengan Nala Marya juga saling berpelukan dan saling cipaka cipiki.


"Baik, Kak" jawab Nala, lalu mengambil Gavin dari gendongan Marya.


Bocah berusia dua Tahun itu langsung saja menangis. Jangankan di gendong orang lain, dengan Kanzo aja bocah itu jarang mau. Bocah itu hanya mengenal Marya, Kakek Bagus, Nenek Liana dan jangan lupakan Kakek Maiman.

__ADS_1


"Sama Mama!" histeris Gavin mengulurkan tangannya ke arah Marya yang berpelukan dengan Ibu Ratna.


"Hei, ini Tante Nala loh." Mereka sering vidio call, Gavin sangat ramah dan selalu berbicara sambil tersenyum. Ternyata kalau ketemu langsung, bocah itu tidak mau di dekati.


"Sama Mama!" Gavin terus menangis.


"Sama Om mau?" Haris mendekati Nala, meraih tubuh Gavin dari gendongan Nala." Kenapa kamu cengeng sekali?. Kau itu Abangnya, lihat Noah, dia itu tidak mudah menangis" ujar Haris pada bocah di gendongannya itu.


Namanya masih bocah, tidak akan mudah diberi nasehat. Gavin masih terus menangis mengulurkan tangannya ke arah Marya.


"Coba ajak dia naik motor, pasti diam" ujar Marya.


"Wah! ternyata kalian sudah sampai." Suara Nenek Liana tiba tiba terdengar dari arah pintu masuk. Semua menoleh ke arah wanita tua yang masih menyisakan kecantikan itu. Nenek Liana baru pulang arisan bersama teman temannya.


"Kami baru sampai Tante" ujar Widuri, menyalam Nenek Liana, diikuti Nala, Ibu Ratna dan Haris.


"Naik motor sama Om, mau?" Akhirnya Haris mengajak Gavin untuk naik motor. Dan benar saja, bocah kecil itu tangisnya langsung berhenti.


"Ayo Noah, kita juga ikut." Kanzo berdiri dari tempat duduknya, membawa Noah keluar rumah mengikuti Haris dan Gavin, membiarkan para wanita itu bercengkrama sebelum acara makan bersama.


Awalnya Haris kita motor gede, eh taunya kedua motor itu cocoknya dipakai oleh kamu wanita.


"Aku pikir kau tidak akan pernah memakai motor seperti ini" ujar Haris mengejek.


"Marya yang membelinya. Dia sering membawa Gavin naik motor mutar mutar di komplek ini" jawab Kanzo. Membiarkan Noah berdiri di depannya lalu melajukan motor matic itu dengan kecepatan rendah.


Haris langsung mengikutinya, dan mensejajarkan kedua motor itu berjalan setelah mereka keluar dari pekarangan rumah.


"Apa kamu tidak berencana kembali tinggal di sini lagi?" tanya Kanzo.


"Nanti, setelah tua" jawab Haris.


"Bagaimana dengan Nala dan mertua mu?" tanya Kanzo lagi.


"Aku pikir juga mereka sudah betah tinggal di sana" jawab Haris lagi.

__ADS_1


"Bagaimana dengan Pak Hilman, mertua mu?."


Di tanya soal Ayah mertuanya, Haris langsung menghela napas berat." Aku tidak perlu memikirkannya."jawab pria itu.


Kedua pria itu pun terus mengobrol sambil melajukan kenderaan mereka dengan kecepatan paling rendah.


Sedangkan para kaum wanita di rumah Kanzo. Kini kelima wanita itu sudah berpindah ke meja makan. Mereka bekerja sama untuk menghidangkan makanan yang di masak Marya tadi ke meja makan. Tidak lupa juga dengan menyiapkan piring, sendok dan gelasnya. Dan jangan di tanya Pak Bagus sendiri dimana, pria tua itu lebih memilih membaca koran di ruang tamu.


"Bagaimana Wid, apa kamu sudah isi lagi?" tanya Marya sembari meletakkan rendang buatannya tadi di atas meja.


"Belum" jawab Widuri tersenyum."Bagaimana dengan mu?."


"Sepertinya sudah cukup dua anak aja" jawab Marya. Sudah ada Areta, sebagai anak pertama mereka. Sepertinya sudah cukup, dan Kanzo juga tidak meminta nambah lagi.


"Aku juga pengen sih pengen dua aja. Tapi Pak Haris meminta empat. Huh rasanya aku gak sanggup kalau terus hamil dan melahirkan" desah Widuri, mengingat Haris yang kekeh ingin memiliki anak empat.


"Banyak anak banyak rezeki" ujar Marya semakin merekahkan senyumnya.


"Tapi rasanya aku gak sanggup kalau melahirkan sampai empat kali."


"Disukuri masih bisa melahirkan. Di luar sana banyak orang yang ingin bisa melahirkan, tapi gak bisa" sambung Ibu Ratna menimpali pembicaraan kedua Ibu ibu muda itu.


Widuri pun memanyunkan bibirnya, cemberut.


"Iya, Tante aja dulu pengen sekali punya banyak anak. Tapi yang dikasih cuma dua. Itu pun satu udah meninggal" sambung Ibu Liana sambil menuang air minum ke dalam gelas."Haris itu selama ini kesepian, apa lagi semenjak Ayahnya meninggal. Meski dulu ada Ibunya dan Soodam, tapi kedua wanita itu hanya menyusahkan


Haris. Kalau saja bukan untuk menutupi aib keluarga, dari dulu Haris sudah mencampakkan kedua wanita itu. Tapi ya sudahlah...."


Ibu Liana tidak melanjutkan kalimatnya lagi membicarakan Ibu Ilona yang sudah meninggal.


"Iya Wid, Ibu lihat Haris itu pria yang baik dan penyabar. Dan dia hanya meminta empat anak dari kamu. Apa salahnya kamu memberikannya kalau kamu bisa" ucap Ibu Ratna mengusap lembut lengan Widuri.


"Iya deh nanti aku kasih Mama empat cucu, dari Nala nanti eman." Widuri mengulas senyumnya, mengingat betapa baik,sabar, sayang dan cintanya Haris padanya selama dua Tahun ini.


"Calon Bapaknya aja belum kelihatan Hilalnya" celetuk Nala yang sibuk dari tadi berselancar di layar ponselnya.

__ADS_1


*Bersambung


__ADS_2