
"Berapa Cici akan akan membayar mu?" tanya Kanzo tanpa melepas netranya dari wajah Brandon.
"Dia tidak membayar, justru aku yang memanfaatkannya untuk mencari uang untukku" jawab Brandon tanpa takut sama sekali kepada Kanzo.
Kanzo mengangguk angguk paham." Oh ternyata kalian berdua saling memanfaatkan. Tapi kenapa kamu mau di perintah oleh Cici?."
Kanzo memicingkan matanya ke arah Brandon, sama sekali tidak percaya jika Brandon memanfaatkan Cici juga.
"Siapa bilang saya mau di perintahnya?" tanya balik Brandon.
"Lalu?" Kanzo kembali melangkahkan kakinya memutari tubuh Brandon yang berdiri di tempatnya dari tadi.
"Aku menyukai Widuri, makanya saya setuju untuk mencurinya" jawab Brandon terus terang.
Refkeks Kanzo menghentikan langkahnya kembali tepat di depan Brandon, dan menatap intens wajah pria itu. Kanzo tidak percaya dengan kalimat yang keluar dari mulut Brandon. Pria itu menyukai Widuri, wanita yang sedang hamil mengandung benih pria lain.
"Aku pikir selama ini Widuri tidak bahagia dengan pernikahannya."
"Jadi menurutmu kamu pasti bisa membahagiakan Widuri? Begitu?." Kanzo bertanya dengan nada mencibir." Haris dan Widuri itu saling mencintai. Hanya saja istri mu itu terlalu licik menguasai Haris."
"Cici bukan istri ku lagi" bantah Brandon dengan cepat.
"Ya ya! mantan istri mu" ralat Kanzo." Tapi saya curiga, jangan jangan bayi di dalam kandungan Cici itu adalah anak mu. Katakan! kapan kalian terakhir melakukan hubungan badan?."
"Kami sering melakukannya sebelum Cici dan Haris menikah" jawab Brandon." Dan aku pun yakin, jika bayi di dalam perut Cici itu adalah anakku. Setelah bayi itu lahir, pasti aku akan mengambilnya."
"Pak Maiman!" seru Kanzo memanggil pria yang berhasil menangkap Brandon dan memukulinya sampai babak belur karena berusaha kabur.
"Siap menantu" ucap Pak Maiman yang sudah masuk ke ruangan itu.
"Menantu?" gumam Brandon, mendengar pria berambut gondrong, memakai pakaian kucel dan koyak itu memanggil Kanzo menantu.
"Ayah, lepas pria ini dan awasi pergerakannya" ujar Kanzo kepada Ayah mertuanya yang sudah menjadi orang suruhannya itu.
"Siap menantu" Pak Maiman memberi hormat pada Kanzo.
"Ayah gak perlu seperti itu. Yang perlu Ayah lakukan, bekerjalah dengan benar" ujar Kanzo.
"Hahahah....!" tawa Brandon pecah, ia tidak menyangka Kanzo menjadikan Ayah mertuanya menjadi anak buahnya sendiri.
Bukh!
"Awu!" tawa Brandon langsung terhenti dan meringis kesakitan saat satu bogeman mendarat di pipinya.
"Berani kau tertawa, habis kau!" ancam Pak Maiman.
__ADS_1
"Aku gak menyangka, seorang Kanzo yang terhormat, ternyata memiliki mertua gembel seperti anda Hahaha...!" Brando tertawa kembali.
Bukh!
Kali ini Kanzo yang mendaratkan satu bogeman di pipinya.
"Sebentar lagi, kamu dan orang tua mu juga akan menjadi gembel" gemas Kanzo.. Kanzo tak terima di tertawakan seperti itu.
Pak Maiman pun mendekati Brandon dan langsung membekuk kedua tangan pria itu ke belakang, kemudian menginjak jempol kali Brandon dengan tumit kakinya.
"Menantuku itu banyak uang. Jangankan baju, bahkan pesawat pun dia mampu membelinya untuk ku. Aku sengaja berpakaian seperti ini, supaya orang orang tidak tau kalau aku punya menantu orang kaya" ujar Pak Maiman.
"Ayah, bawa dia keluar" suruh Kanzo pada Pak Maiman.
"Siap mantu" patuh Pak Maiman dan langsung menyeret Brandon keluar dari dalam ruangan itu.
Setelah Pak Maiman dan Brandon berlalu dari ruangan itu. Kanzo mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celananya dan segera menghubungi nomor istrinya yang dari tadi terus menghubunginya.
"Halo sayang, kamu dimana?" tanya seorang perempuan langsung dari dalam telephon.
"Di tempat Ayah" jawab Kanzo. Saat ini ia memang berada di rumah Pak Maiman.
"Ada apa dengan Ayah? Kenapa menemuinya tanpa mengajak ku?" tanya Marya.
"Kenapa hanya sedikit?." Marya terdengar berdecak dari dalam telephon.
"Nanti sayang, sabar. Haris masih ingin bermain main dengan Cici" jawab Kanzo tersenyum. Sesama lelaki mereka pasti akan saling memahami.
"Kamu dengan Pak Haris itu sama aja. Gak suka, gak cinta, tapi tetap juga suka menikmatinya" omel Marya, tau kemana arah pembicaraan suaminya itu.
Kanzo tertawa cekikikan, tidak munafik jadi laki laki. Sama seperti kucing, di kasih ikan tidak akan nolak.
"Ketawa lagi, awas kamu sayang, kalau masih mencari ban serap di luar sana."
"Gak lagi sayang, cintaku udah mentok di kamu."
Marya mendengus mendengar gombalan receh suaminya itu."Ya udah, sini cepat pulang, bawain makanan untuk ku ya."
"Makanan apa?" tanya Kanzo.
"Gorengan"
"Okeh sayang"
"Hm!"
__ADS_1
Marya pun mematikan sambungan telephonnya sepihak.
**
Di dalam sebuah mobil, sepanjang perjalanan Cici terus mengeraskan rahangnya karena Brandon dari tadi tidak mengangkat panggilan telephonnya.
"Kemana dia?" gemas Cici terus mencoba menghubungi nomor Brandon, Namun ternyata handphon pria yang di hibunginya itu berada di bawah kolong jembatan paret jalan.
"Pak! berhenti" perintah Cici kepada supir yang membawanya.
"Kok berhenti Non?" tanya supir itu.
"Aku lupa kalau ada janji dengan teman. Kamu pulang aja, nanti aku akan menginap di rumah orang tuaku. Dan jangan kasih tau Haris." Cici pun memberikan beberapa lembar uang berwarna merah kepada supir itu.
"Baik, Non" dengan senang hati, supir itu menerima uang dari Cici. Tanpa memberi tahu Haris, pria itu sudah memantau Cici dari kamera tersembunyi di dalam mobil itu.
Cici pun segera keluar dari dalam mobil, dan berpindah ke mobil taxi online yang di pesannya. Tanpa Cici sadari, supir taxi on line itu adalah orang yang ditugaskan Kanzo untuk memata mati Cici.
"Kamu pikir hanya kamu yang bisa bermain main?" gumam Kanzo menarik satu sudut bibirnya kesamping sambil sibuk mengendalikan setir kenderaannya.
**
Widuri turun dari dalam mobil yang mengantar mereka pulang ke apartement, langsung di ikuti Haris dari belakang. Setelah Haris duduk di kursi roda, Widuri langsung mendorongnya ke arah lif apartement untuk naik ke lantai dimana unit apartemennya berada.Sampai di apartement, Widuri langsung membawa Haris ke kamar untuk istirahat.
"Sayang, kok aku di bawa ke kamar sini?" tanya Haris melihat Widuri membawanya masuk ke kamar yang berada di samping kamar yang di tempati Widuri.
"Kamar Pak Haris di sini."
"Aku gak mau" Haris langsung berdiri dari kursi rodanya dan menarik Widuri keluar dari kamar itu, membawanya masuk ke kamar yang di tempati Widuri.
"Sebelum Pak Haris menceraikan Cici, aku gak mau tidur satu kamar, aku gak mau di gilir" ujar Widuri.
"Aku kangen sama kamu, Wid" ucap Haris lembut memeluk tubuh Widuri dari belakang. Berhasil membuat Widuri terdiam dan menikmati pelukan Haris ke tubuhnya.
"Aku berjanji tidak akan memaksamu jika kamu belum siap" ucap Haris lagi.
Lagian sekarang tubuhnya masih lemah, dia belum punya banyak tenaga untuk menghangatkan tubuhnya.
"Iyalah, Pak Haris kan bisa melakukannya dengan Cici" balas Widuri dengan nada mencibir.
"Apa yang salah, Cici juga istriku." Haris mengulas senyumnya lalu mengecup pipi tirus Widuri dari samping. Haris sengaja mengatakan itu untuk membuat Widuri cemburu. Habisnya istri tercintanya itu sih, gak mau kasih jatah suami.
"Istri siluman" Widuri mencoba melepas tangan Haris dari lingkar pinggangnya, namun tidak berhasil. Karena Haris semakin memeluknya erat.
*Bersambung
__ADS_1