
Di ruang kamar sebuah hotel, sepasang suami istri tengah menikmati manisnya bercinta. Meski mereka sudah sering melakukannya, tapi rasa nikmat memadu kasih itu tetap sama rasanya dari dulu.
Trrrrt trrrrt trrrrt!
Getaran ponsel dari atas meja nakas berhasil menghentikan kegiatan panas suami istri itu sejenak.
"Sebentar sayang" ucap Haris meraih ponsel miliknya dari atas meja untuk melihat siapa yang menghubunginya. Haris segera mendial tombol hijau di layar ponselnya itu.
"Halo"
"Kemana kamu menyuruh anak buah mu membawa Bella?" cerca seorang pria langsung dari dalam telephon, tak lain pria itu adalah Kanzo, sahabat Haris sendiri.
Haris berdecak kesal karena sahabatnya itu sudah mengganggu kegiatan panas mereka demi wanita yang tidak penting sama sekali.
"Di salah satu kamar yang ada di club." Haris pun menyebutkan nomor kamar dimana ia menyekap Bella.
"Kamu dimana sekarang?" tanya Kanzo.
"Di hotel" jawab Haris.
"Kembali ke club sekarang juga" perintah Kanzo tegas tak ingin Haris membantahnya.
"Aku sedang bercinta dengan istriku. Kalau kamu mau, tunggu kami selesai bercinta. Lagian aku sudah menangkapnya, aku pikir selanjutnya adalah tugasmu, lagian itu mantan istrimu" ketus Haris. Selalu sahabatnya itu ingin jadi bos, padahal kalau bukan karena bantuannya, sahabatnya itu tidak akan sukses menjadi bos besar seperti sekarang.
"Ayolah, kalau aku sendiri kesana, Marya akan curiga, dikiranya nanti aku berselingkuh" bujuk Kanzo supaya Haris menurut.
Club adalah tempat berbahaya untuk pria tampan dan mapan sepertinya. Kalau dia sendiri ke sana, bisa bisa dia akan menjadi buruan wanita wanita di sana. Kanzo tidak mau sampai dia terjebak dan lupa pulang.
"Baiklah, tunggu aku selesai dulu."
Tlut!
Tak ingin Kanzo berbicara lagi, Haris langsung memutuskan sambungan telephonnya, melanjutkan aksinya menaklukkan tubuh wanita di bawahnya itu.
"Stop!" seru Widuri mendorong dada Haris supaya pria itu menghentikan kegiatannya. Widuri tidak mau setelah mereka bercinta Haris langsung meninggalkannya, enak saja pria itu.
__ADS_1
"Gak sayang, nanggung" ucap Haris menghiraukan Widuri yang terus berusaha mendorong tubuhnya. Tubuh istrinya yang kecil itu tidak akan sanggup menyingkirkan tubuh nya yang gagah.
"Aku gak mau lagi! Ahh!."
Meski katanya gak mau lagi, tapi tetap saja tubuhnya mersepon bagaimana rasa nikmat yang luar biasa.
Haris terkekeh, berpikir wanita suka sekali munafik untuk yang satu itu. Yang katanya gak mau tapi tetap suka. Haris pun menambah laju kecepatannya ritme permainannya sampai membuat Widuri tidak bisa berkata apa apa lagi selain....
Berteriak teriak.
Haris selalu saja berhasil membuatnya gila.
"Oh sayang, aku mencintaimu mmuah mmuah." Haris mengecup gemas kedua pipi istrinya itu setelah mengakhiri percintaan mereka. Tidak peduli bibir Widuri yang mengerucut, cemberut
"Jangan cemberut. Nanti kita ulangi lagi percintaan kita." Haris mengedipkan mata genitnya ke arah Widuri, lalu mengecup bibir wanita itu dan segera turun dari atas tubuh Widuri, masuk ke dalam kamar mandi.
Selesai membersihkan diri, Haris langsung keluar dengan hanya memakai handuk di pinggangnya. Di lihatnya Widuri sudah tidak ada di atas kasur lagi atau pun di dalam kamar.
"Wid!" panggil Haris memutar pandangannya ke setiap sudut kamar itu. Widuri memang sudah tidak ada di dalam kamar hotel itu.
Segera Haris memakai pakaiannya dan langsung keluar dari kamar hotel itu untuk mencari Widuri. Sambil berjalan cepat, Haris pun mengabari Kanzo, kalau Widuri hilang.
"Halo, Zo. Widuri hilang, aku harus mencarinya" ucap Haris suaranya terdengar bergetar sangking khawatirnya.
"Kok bisa?" tanya Kanzo dari sebrang telephon. Haris pun menceritakannya.
Terdengar Kanzo mengehla napas."Aku sudah sampai di club. Cari dulu di sekitaran hotel. Setelah aku selesai membereskan Bella, aku akan menyusul ke sana."
Malam ini mereka menginap di hotel yang berbeda, karena tadi mereka pulangnya masing masing dan tidak saling mengabari mereka akan menginap di hotel mana malam ini.
"Istriku lebih penting, Zo" kesal Haris mendengar Kanzo mendahulukan mengurus Bella dari pada membantunya mencari Widuri.
"Sebentar saja. Tenanglah, jangan langsung panik begitu. Tidak mungkin istrimu di culik kalau kamar kalian terkunci dari dalam. Itu artinya istrimu pergi sendiri" terang Kanzo setelah mendengar penjelasan Haris tadi.
"Dia lagi hamil, ini sudah larut malam. Aku khawatir hal yang buruk menimpa kami lagi, Zo."
__ADS_1
"Tenangkan pikiranmu, istrimu itu tidak akan melakukan hal yang membahayakan dirinya dan bayi kalian. Aku yakin istrimu masih di sekitar hotel, mungkin saja dia hanya pindah kamar karena kesal padamu." Kanzo mencoba menenangkan Haris yang mungkin masih trauma dengan apa yang pernah menimpa mereka.
"Semoga aja benar seperti itu" Haris menghela napasnya kasar mencoba untuk tenang.
"Ya sudah, selesai urusanku di sini, aku akan segera ke sana" ucap Kanzo lagi.
"Baiklah" Haris pun memutuskan sambungan telephonnya.
Pria yang baru keluar dari dalam lif itu melangkahkan kakinya ke arah meja resepsionis, untuk bertanya apakah petugas hotel itu melihat istrinya keluar atau tidak.
"Selamat malam, Pak. Ada yang bisa kami bantu?." Petugas resepsionis itu menyapa Haris dengan sangat ramah, senyum wanita itu juga terlihat sangat manis.
"Apa kalian melihat istriku keluar dari hotel ini? Ini orangnya." Haris menunjukkan foto Widuri yang menjadi walpaper handphonnya.
Resepsionis wanita itu mengerutkan keningnya, mencoba mengingat ingat siapa saja tadi yang berlalu lalang di loby hotel.
"Dia keluar berkisar beberapa menit yang lalu, belum ada setengah jam" ucap Haris lagi.
"Kalau saya gak salah lihat, sepertinya istri Bapak tadi keluar bersama dua orang pria berpakaian hitam, Pak. Dan naik ke sebuah mobil sedan berwarna hitam juga" jelas resepsionis itu setelah berhasil mengingatnya.
"Trimakasih, Mbak" Haris langsung berlari keluar dari gedung hotel itu ke parkiran mobilnya. Buru buru masuk dan langsung melajukan kenderaan itu dengan kecepatan tinggi. Entah kemana Haris pergi, tujuannya hanya satu, mencari Widuri yang di duga ada yang menculiknya. Sambil menyetir, Haris menghubungi Kanzo, meminta bantuan dari pria itu.
"Halo Ris...."
"Zo, Widuri di culik, tolong kirim bantuan" potong Haris cepat tak ingin memberikan Kanzo kesempatan berbicara.
"Oke!" balas Kanzo langsung mematikan telephonnya, segera menghubungi Ayah mertuanya kesayangannya. Siapa lagi kalau bukan Pak Maiman. Namun sial, nomor Ayah mertua tidak bisa di hubungi.
"Kemana si tua bangka itu?" gemas Kanzo. Pasti saat ini mertuanya itu sedang menghabiskan uangnya di meja perjudian. Kanzo pun mencoba menghubungi Adi, adik iparnya. Ternyata nomor pria itu juga tidak aktif.
"Kemana mereka?" gumam Kanzo kesal sendiri. Lagi gawat darurat begini tidak ada yang bisa di hubungi.
Terpaksa Kanzo mengurungkan niatnya untuk menemui Bella, mantan istrinya. Padahal Kanzo sudah hampir sampai di depan pintu kamar Bella yang berada di dalam gedung club malam itu. Dia harus membantu Haris mencari Widuri.
*Bersambung
__ADS_1