Pria Yang Merenggut Kesucian Ku

Pria Yang Merenggut Kesucian Ku
Maaf


__ADS_3

"Cepat bersihkan obat itu!" bentak Soodam melihat Widuri diam saja memandanginya.


"Aku tidak mau" bantah Widuri.


"Berani kamu melawan?" geram Soodam mengangkat tangannya untuk menarik rambut Widuri kembali. Namun Widuri langsung menendangnya sampai terjatuh ke lantai.


"Widuri!"


Widuri langsung terlonjak kaget mendengar suara Haris yang tiba tiba datang membentaknya.


"Kak Haris" Soodam langsung berdiri dari lantai dan memeluk Haris sambil menangis." Kak Widuri ingin menggugurkan kandungannya, untuk kami datang dan bisa mencegahnya" ucap Soodam lagi.


"Kalian yang ingin menggugurkan kandunganku!" bentak Widuri tidak terima di fitnah sekejam itu.


"Kak Haris, itu obatnya tumpah di lantai. Untung tadi aku berhasil menghempaskan obat itu dari tangan Kak Widuri. Makanya obat itu berserak di lantai" ucap Soodam lagi berusaha membuat Haris percaya.


"Terserah Pak Haris mau percaya kepada siapa. Aku gak perduli" pasrah Widuri melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamarnya, dan menutup pintunya dengan kasar. Widuri mendudukkan tubuhnya di pinggir kasur.


'Ya Tuhan, aku sudah gak sanggup menghadapi mereka. Dan menghadapi sikap Pak Haris yang tidak tentu arah.'


Widuri membatin sambil mengusap kasar wajahnya sambil menangis terisak.


'Apa aku melaporkannya pada Ayah saja. Biar Ayah datang ke sini untuk menyelesaikan masalahku dengan Haris dan keluarganya. Sungguh aku gak sanggup lagi ya Tuhan, jika harus mempertahankan pernikahan ini' batin Widuri lagi.


Dia hanya meminta diberi status saja. Tidak mengharapkan Haris sama sekali, meski Widuri mencintai pria itu. Apa lagi untuk mengharapkan Harta, tidak terlintas sedikit pun di pikiran Widuri untuk mengeruk kekayaan Haris. Tapi keluarga Haris berpikir seolah olah dia akan menguasai Harta Haris. Sehingga mereka terus berusaha untuk menyingkirkannya.


Tak mendengar suara siapa pun di ruang tamu rumah itu. Widuri pun beranjak dari tempat duduknya melangkahkan kakinya untuk membuka pintu kamarnya untuk mengintip apakah Haris, Adik dan Ibunya masih di situ. Dan pantas saja tidak ada suara lagi, ternyata mereka sudah pergi.


**


Seminggu dari kejadian itu, Haris tidak pernah datang menemuinya. Dan seminggu itu juga, Widuri tidak pernah masuk bekerja, karena kurang enak badan. Dan hari ini, Widuri akan kembali bekerja, di tugaskan di gedung perusahaan yang baru. Hari ini adalah hari pertama gedung baru yang di sewa perusahaan milik keluarga Kanzo itu, beroperasi. Semua Karyawan yang di rumahkan mulai bekerja dengan normal seperti biasanya.


Selesai bersiap siap, Widuri yang sudah rapi dengan pakaian kerjanya melangkahkan kakinya keluar rumah. Di depan rumah, sudah ada mobil jemputan yang di kirim khusus untuk sahabatnya untuk menjemputnya. Widuri mengulas senyumnya ke pria berkulit coklat dan berlesung pipi itu.

__ADS_1


"Trimakasih, Pak" ucap Widuri saat pria itu membukakan pintu mobil untuknya.


"Jangan di panggil Bapak atuh non. Panggil namaku aja, Brandon" ucap Pria itu mengulas senyumnya.


Widuri pun semakin melebarkan senyumnya ke arah pria bernama Brandon itu.


Setelah Brandon menutup pintu di sampingnya. Pria itu pun menyusul masuk ke dalam mobi dan segera melajukan nya.


Sampai di perusahaan baru, supir pribadi milik keluarga Kanzo itu langsung turun. Setelah memarkirkan mobilnya tepat di pintu masuk gedung itu, Berlari kecil ke arah pintu yang berada di samping Widuri, untuk membukakan pintu untuk wanita hamil itu.


"Kita ini sama sama orang biasa, kamu gak perlu memperlakukan aku seperti majikan" ucap Widuri kepada Brandon.


"Saya di tugaskan untuk menjaga Anda selamat sampi tujuan Nona. Dan harus memastikan Anda baik baik saja sampai di gedung perusahaan ini" balas Brandon mengulas senyum manisnya ke arah Widuri.


"Anda terlalu berlebihan" ucap Widuri." Kalau begitu trimakasih banyak" ucap Widuri lagi kemudian melangkahkan kakinya masuk ke dalam gedung perusahaan baru itu.


Gedung itu masih terlihat sunyi, belum banyak karyawan yang datang.


"Widuri!"


"Bu Intan!" ucap Widuri mengulas senyum lebarnya.


"Aku pikir kamu akan di tugaskan di perusahaan cabang" ucap Intan berpelukan dengan Widuri.


"Apa Bu Intan pikir Marya akan tega meninggalkanku di sana?" balas Widuri mengulas senyumnya.


"Iya, kalian berdua memang sepertinya tidak akan bisa terpisahkan" ucap Bu Intan membalas senyuman Widuri.


Tak lama kemudian, karyawan pun mulai berdatangan, sehingga ruang loby perusahan itu tampak rame dengan karyawan yang masuk ke ruang kerja masing masing.


"Wid, kamu sudah datang?."


Widuri mengulas senyumnya ke arah sahabatnya, Marya yang baru datang bersama Kanzo selaku pemilik perusahaan itu. Dan tidak ketinggalan ada Cici dan Haris menyusul masuk dari belakang. Sepasang suami istri itu terlihat tampak semakin romantis.

__ADS_1


"Ayo ikut ke dalam" ajak Marya menarik Widuri dari tempat duduknya.


Hari ini adalah hari pertama para karyawan yang di rumahkan bekerja kembali, setelah beberapa Bulan di rumahkan. Sebelum mulai bekerja, tentu mereka perlu melakukan meeting besar bersama seluruh karyawan perusahaan itu. Hanya untuk sekedar mengucapkan kata sambutan dan mengucapkan rasa syukur Karena masih di beri rezeki untuk berkumpul kembali menjadi satu keluarga besar.


Sampai di sebuah ruangan kosong di dalam gedung itu. Seluruh karyawan sudah berkumpul. Semua Karyawan langsung memberi jalan, saat Kanzo,Haris, Cici, Marya dan Widuri lewat melintas di kerumunan.


"Aku di sini aja" ucap Widuri saat Marya menariknya ke bagian depan ruangan itu.


"Kamu sedang hamil, bahaya kalau kamu ikut berada di kerumunan itu" ujar Marya, memaksa Widuri ikut satu barisan bersama para petinggi perusahaan itu.


"Tapi Mar...." Widuri langsung terdiam saat Haris menarik tangannya, untuk berdiri di samping pria itu.


"Kamu juga berhak berdiri di sini. Kamu juga istriku" ujar Haris melingkarkan tangannya ke pinggang belakang Widuri.


Widuri yang tak ingin menciptakan keributan, memilih diam dan menurut.


"Maaf, seminggu ini aku gak pernah mengunjungimu. Mama sedang sakit parah sampai sekarang masih di rawat di rumah sakit" bisik Haris, Widuri langsung memutar bola mata malas.


Cici yang berdiri di sebelah kiri Haris, mengeraskan rahangnya meski wajahnya masih nampak tersenyum. Cici tidak menyangka Haris akan membiarkan Widuri satu barisan bersama mereka.Bahkan Haris, merangkul mesra pinggang Widuri.


"Cici, ayo mulai acaranya" perintah Kanzo pada Cici yang menjabat sebagai sekretarisnya.


"Baik Pak" patuh Cici melangkahkan kakinya selangkah ke depan.


"Selamat pagi semua!" Seru Cici.


"Selamat pagi juga!" balas semua karyawan berseru.


"Puji syukur kepada Tuhan yang maha baik. Setelah beberapa Bulan kita tidak bertemu. Hari ini, kita masih diberi kesehatan dan kesempatan untuk bisa berkumpul kembali, menjadi ke keluarga besar perusahaan Surya Creation Indonesia. Tidak banyak yang bisa sampaikan di sini. Untuk Pak Kanzo Rivandra Salim, di persilahkan untuk memberi sambutan kepada kita semua." Cici menoleh ke arah Kanzo saat menyebutkan nama pemilik perusahaan itu.


"Silahkan Pak" ucap Cici sekali lagi dengan wajah tersenyum ramah.


"Ehem!" Kanzo berdehem untuk memperbaiki pita suaranya sebelum mulai bicara." Selamat pagi semua!" ucap Kanzo dengan suara berseru. Wajahnya nampak tersenyum, meski beban pikirannya sangat banyak karena perusahaannya mengalami krisis keuangan akibat terjadinya kebakaran yang di sengaja di gedung perusahaan yang di bangun orang tuanya.

__ADS_1


*Bersambung


__ADS_2