
Pernikahan Haris dan Widuri pun sudah terjadi. Haris hanya menikahinya di KUA saja. Tidak ada acara apapun untuk meresmikan pernikahan mereka. Dan juga Widuri tidak ingin menggelar acara pernikahan mereka. Karena Widuri mau menikah dengan Haris hanya untuk memberinya dan bayi di dalam perutnya status yang jelas.
"Kalau begitu, Ayah pulang dulu. Katakan sama Ayah jika dia menyakitimu, atau siapa pun yang berani menyakitimu" ujar Pak Solihin berpamitan.
Mereka sudah pulang dari KUA, Haris pun langsung membawa Widuri dan Pak Solihin ke rumahnya.
"Iya, Yah" lirih Widuri dengan mata berkaca kaca.
"Sudah sudah, setelah kamu melahirkan nanti, Mama kamu pasti mengijinkanku untuk pulang. Mama kamu hanya sedang marah, nanti hatinya pasti luluh setelah melihat cucunya." Pak Solihin mengusap lembut bahu putrinya itu.
Widuri menganggukkan kepalanya sambil menghapus air matanya yang tak bisa di tahannya lagi.
"Ayah pergi dulu" pamit Pak Solihin sekali lagi, dan langsung pergi tanpa menegur Haris sama sekali.
"Hati hati, Yah!" ucap Haris, namun pria yang tak muda lagi itu menulikan telinganya.
Setelah Pak Solihin menghilang dari pandangan mereka. Haris pun membawa Widuri masuk ke dalam rumah. Tidak ada yang menyambutnya sama sekali, sekalipun itu pembantu di rumah itu.
"Kamar kita di atas" ucap Haris supaya Widuri mengikuti langkahnya menaiki anak tangga rumah itu.
Sampai di depan sebuah pintu, Haris membuka pintu kamar itu, membawa barang barang Widuri masuk. Di ikuti Widuri dari belakang.
Kamar yang luas, lengkap dengan prabotnya. Widuri pun memutar pandangannya ke setiap sudut ruangan kamar itu, sambil berpikir, itu kamar siapa?.
"Kamarku di sebelah, tapi mulai sekarang, kamar ini juga akan menjadi kamarmu" ucap Haris mengulas senyumnya.
Widuri memutar bola mata malas.
Haris pun melangkahkan kakinya ke arah pintu yang belum di tutup, lalu menutup pintu itu dan menguncinya.
"Kenapa di kunci?" tanya Widuri polos, lalu menelan air ludahnya bersusah payah. Haris mau apa?, kenapa harus mengurung mereka di kamar itu?.
__ADS_1
"Kamu bodoh sekali" cibir Haris melangkahkan kakinya mendekati Widuri. Entah kenapa rasanya Haris sangat bahagia hari ini, setelah menikahi Widuri.
"Pak Haris jangan macam macam" ancam Widuri. Mereka sudah membicarakannya sebelum menikah. Kalau mereka menikah hanya untuk memberinya dan bayi di perutnya status.
"Cukup satu macam, Wid."
Hap!
Tiba tiba tubuh Widuri sudah menempel ke tubuh Haris, karena Haris menarik pinggangnya dengan cepat. Haris menempelkan keningnya ke kening Widuri, sampai napasnya terasa hangat menyapu kulit wajah Widuri.
"Kita sudah suami istri, aku punya hak atas dirimu. Terserahku mau apa" ucap Haris dengan suara sensualnya.
"Aku gak mau" Widuri berusaha mendorong tubuh Haris, tapi itu tidak akan berhasil. Karena tubuh kurusnya tidak akan mampu mengalahkan tenaga pria itu.
"Aku akan memaksamu" ucap Haris, lalu mengecup kilas bibir wanitanya itu, berhasil membuat Widuri membeku.
Haris pun mengangkat tubuh Widuri membawanya ke arah tempat tidur dan meletakkan wanita yang sedang mengandung anaknya itu, di atas kasur dengan sangat hati hati.
Sepeninggal Haris, Widuri mendudukkan tubuhnya bersandar ke kepala ranjang."Apa kamu senang di samping Ayahmu, Nak?" gumam Widuri mengusap lembut perutnya yang masih rata.
Padahal sebenarnya Widuri sangat membenci Harus semenjak kejadian itu. Dan bahkan tak ingin bertemu Haris jika saja Ibunya tidak mengusirnya dan Ayahnya mengantarnya bertemu Haris. Tapi perlakuan lembut Haris barusan, berhasil meluluhkan hati Widuri. Tiba tiba hatinya sangat senang melihat wajah Haris, dan bahkan tak ingin Haris jauh darinya.
Ceklek!
Mendengar pintu kamar itu di buka dari luar, refleks Widuri menoleh ke arah pintu. Di lihatnya Cici dan Ibu Ilona masuk ke dalam kamar menatapnya tak suka.
"Kamu benar benar egois ya, Wid. Kamu gak punya perasaan, tega merebut hati suami temanmu sendiri" ucap Cici dengan air mata yang terus mengalir di pipinya." Aku pikir kamu orang baik, sehingga aku mau berteman denganku. Ternyata aku salah" ucap Cici lagi.
"Aku juga tidak akan mau menikah dengan Pak Haris, jika bukan karena bayi di dalam perutku ini. Kalau kamu mau menyalahkan, salahkan saja suami kamu" balas Widuri tidak terima di salahkan.
"Hei ! berani kamu malawan?. Ini rumahku!" gertak Ibu Ilona.
__ADS_1
"Aku gak bilang ini rumahku" balas Widuri mencoba untuk melawan Ibu Iloni, meski sebenarnya ia gentar. Tapi Widuri tidak boleh tertindas di rumah itu.
"Aku peringatkan kamu ya. Jangan menyentuh apa pun di rumah ini, karna kamu bukan menantuku" ucap Ibu Ilona.
"Dan jangan menyentuh suamiku. Kalau kamu berani, lihat saja Wid. Aku bisa menghabisi kamu dan bayi kamu" ancam Cici, berbicara dengan merapatkan gigi giginya." Dan setelah bayi sialan itu lahir, pergi dari sini" ucap Cici lagi.
"Kenapa tidak mengatakannya kepada suami kamu, untuk tidak menyentuhku?. Dan aku tidak akan takut dengan ancaman mu" balas Widuri.
"Kau itu ya!" geram Ibu Ilona, tiba tiba menarik rambut Widuri, sampai membuat Widuri meringis kesakitan."Berani kamu melawan? Ha!" bentak Ibu Ilona.
Widuri yang kesakitan tidak menjawab, ia sibuk berusaha melepas tangan Ibu Ilona dari rambutnya.
Cici yang melihatnya tersenyum miring, tanpa kasihan sedikit pun melihat Widuri yang kesakitan.
"Jangan pikir karena Haris menikahimu, kau akan menjadi ratu di rumah ini. Sehingga kamu berani untuk melawan" ucap Ibu Ilona semakin menarik kuat rambut Widuri." Dan jangan kamu pikir aku gak tau akal bulusmu. Kamu sengaja menjebak Haris kan?, supaya dia menikahimu dan Haris akan memberimu uang yang banyak. Aku sudah khatam sifat orang kampung dan miskin sepertimu."
"Sakit!" ringis Widuri menangis. Bisa saja dia membalas menarik rambut Ibu mertuanya itu, tapi jika Widuri melakukannya, pasti nanti dia yang semakin bersalah.
"Sakit? itu belum seberapa dengan rasa sakit hatiku, Wid. Kamu tidur dengan suamiku di waktu malam pertama pernikahanku!. Kamu mengandung anak suamiku, Wid. Dan sekarang kamu menjadi istri suamiku!." Cici berbicara dengan tubuh bergetar menahan betapa emosi dan sakit hatinya dia saat ini.
"Haris yang datang ke kamarku, dia memaksaku malam itu. Aku yang menjadi korban, kenapa kamu menyakahkanku?" balas Widuri.
"Awo!" jerit Widuri tiba tiba karena Ibu Ilona semakin menarik kuat rambutnya, sampai kulit kepalanya terasa mau lepas.
"Karena kamu mau menikah dengan Haris, Wid!" jawab Cici berteriak. Sulit menerima kenyataannya, suami sendiri menikah dengan teman sendiri. Meski semua awalnya dari kesalahan Cici. Tapi tidak seharusnya semua itu terjadi.
"Aku menikah untuk bayi ini" jawab Widuri.
"Okeh! jika kamu menikah demi bayi itu. Ingat Wid, cukup demi bayi itu. Jangan coba coba mengambil Haris dariku. Jangan coba coba mengambil hatinya. Haris hanya milikku, Wid. Aku gak mau jika aku harus membagi tubuh Haris kepadamu, Wid. Cukup sekali Wid, jangan lagi apa pun alasan kamu" ucap Cici lalu keluar dari dalam kamar itu. Ia harus segera kembali ke perusahaan, jangan sampai Haris mengetahui kalau ia menemui Widuri.
"Awas kalau kamu berani memberitahu haris."Ibu Ilona pun menghempaskan kasar kepala Widuri, sampai terbentur ke kepala ranjang, dan langsung pergi dari kamar itu.
__ADS_1
*Bersambung