Pria Yang Merenggut Kesucian Ku

Pria Yang Merenggut Kesucian Ku
Kemana kamu membawa istriku


__ADS_3

"Nanti kamu di antar supir dulu ya. Nanti malam akan ku usahakan datang" ucap Haris mengusap kepala Widuri dengan lembut.


Widuri menganggukkan kepalanya mencoba mengerti di posisi Haris.


"Trimakasih Wid, sudah mengerti aku" balas Haris.


"Cici dan anaknya sedang dalam bahaya. Aku tidak seegois itu untuk menguasai mu. Lagian aku sudah terbiasa tinggal sendirian dari dulu" ucap Widuri.


Haris menghela napasnya, mendengar kalimat kecewa Widuri. Namun saat ini Haris tidak bisa lebih mementingkan Widuri, karena Cici dan bayinya sedang dalam bahaya.


"Itu mobil Pak Haris sudah datang" tunjuk Widuri ke arah mobil Haris yang masuk ke halaman rumah sakit.


"Sayang, kamu tunggu di sini aja ya. Aku kesana dulu" pamit Haris, setelah sempat mengecup kening Widuri, Haris langsung berlari ke arah mobil yang menuju ruang UGD.


Haris langsung membuka pintu penumpang belakang, dan langsung mengeluarkan Cici dari dalamnya membawanya masuk ke ruang UGD.


Widuri yang masih di dalam mobil, hanya bisa diam memandangi Haris yang semakin menjauh.


'Dulu aku menyuruh Marya untuk menerima segala alasan Pak Kanzo mengabaikannya. Sekarang, apakah aku harus menerima alasan Pak Haris mengabaikanku?' batin Widuri.


"Nona, Pak Haris menyuruh saya untuk mengantar Nona pulang."


Widuri langsung menoleh ke arah seorang pria yang berdiri di sampingnya. Widuri pun menganggukkan kepalanya. Lagian buat apa dia berdiam diri di situ, toh Haris sedang sibuk mengurus istri pertamanya. Lebih baik Widuri segera pulang ke rumah.


Pria yang bekerja sebagai supir itu, pun menutup pintu di samping Widuri. Kemudian berlari kecil memutari bagian depan mobil itu ke arah pintu sebelah kursi pengemudi. Setelah supir itu masuk, kenderaan itu pun melaju secara perlahan meninggalkan rumah sakit.


"Kalau Nona butuh hiburan, saya bisa membawa Nona ke tempat yang bisa membuat Nona terhibur" ujar supir itu, tak lain adalah Brandon. Supir yang biasa mengantar jemput Widuri.


"Kemana?" Widuri menghapus air matanya yang sempat keluar. Ya, sepertinya ia butuh hiburan saat ini, untuk menenangkan hatinya yang sedih.


"Ke pasar malam" jawab Brandon mengulas senyumnya ke arah Widuri.


Widuri menganggukkan kepalanya sembari tersenyum." Bawa aku ke sana" ujarnya kepada sang supir itu.


"Baik Nona" patuh Pria berkulit coklat itu.


Tak butuh waktu lama, pasar malam yang di katakan Brandon pun sudah sampai. Brandon memarkirkan mobilnya tempat yang sudah di sediakan. Dan langsung turun dari dalam mobil, berlari kecil ke arah pintu di samping Widuri.

__ADS_1


"Silahkan Nona" ucap Brandon.


"Jangan terus memanggil Nona. panggilan Itu sangat tidak cocok untukku" balas Widuri.


"Kalau saya memanggil nama kepada Anda, sangat tidak sopan juga, Nona" ucap Brandan, sambil mengikuti langkah Widuri dari belakang.


"Terserah kamu saja, sekarang aku pengen memakan kembang gula itu, tolong belikan untukku. Pembelinya sedang rame, aku khawatir nanti tubuhku terdorong karena berdesakan di sana" pinta Widuri. Lagian tubuhnya sedang lemah, Widuri tidak mau sampai terjadi sesuatu padanya di pasar malam itu.


"baik Nona, apa Nona menginginkan sesuatu lagi?, biar sekalian saya belikan" tanya Brandon.


"Aku pengen makan pisang coklat, apa di sini ada penjualnya?."


"Sepertinya ada di trotoar jalan."


"Aku juga pengan makan eskrim rasa duria. Manisan kedondong, sate kambing, dan minuman sari tebu" ucap Widuri dengan wajah sumiringah.


"Baik Nona, kalau begitu untuk keamanan dan kenyamanan Nona, lebih baik Nona menunggu di mobil aja, supaya saya tenang pergi mencari semua pesanan Nona" ujar Brandon dengan sangat sopan.


"Aku malas di dalam mobil, aku tunggu di sana aja. Aku pengen main gelang gelang, mana tau dapat hadiah." Widuri langsung melangkahkan kakinya ke arah sebuah permainan lempar gelang yang ada di pasar malam itu. Widuri sangat banyak membeli gelang, supaya ia bisa main sampai puas dan berharap mendapat hadiah.


'Kasihan sekali kamu Nona' batin Brandon yang sempat memperhatikan Widuri sebentar.


"Pak, aku beli gelangnya lagi, Pak" ucap Widuri kepada penjaga permainan itu. Karena masih belum berhasil mengusir kesedihan di hatinya.


"Emang Adek pengen hadiah yang mana?. Adek udah banyak loh menghabiskan gelangnya" tanya si penjaga permainan itu. Karena Widuri sudah membeli banyak gelang gelangnya.


"Gak ada Pak, cuma gak puas aja kalau belum berhasil melingkarkan gelangnya" jawab Widuri. Ia memang ingin menghibur diri saja tanpa berharap besar untuk mendapatkan hadiah dari pemainan itu.


Tanpa bicara lagi, si Bapak itu pun memberikan gelang gelang lagi pada Widuri. Dan Widuri pun langsung melemparinya ke arah botol botol itu. Belum sempat gelang di tangannya habis, Brandon sudah kembali membawa semua pesanannya.


"Nona, ini semua pesanan Nona sudah dapat" ujar Brandon menunjukkan semua plastik yang bawanya.


"Sebentar, aku habiskan gelang gelang ini dulu" balas Widuri sambil pokus melempar gelang ke salah satu botol incarannya. Dan...


"Yeh!" tiba tiba Widuri berseru tanpa sadar memeluk tubuh Brandon sangking senangnya."Akhirnya aku berhasil!" seru Widuri lagi.


"Nona" tegur Brandon karena Widuri tanpa sadar sudah membuat lehernya tercekik.

__ADS_1


"Maaf maaf" Widuri langsung melepas pelukannya dari leher Brandon yang memiliki tinggi sama seperti tubuhnya.


"Mari kita pulang Nona, ini sudah hampir larut malam." Gak terasa, ternyata jam sudah menunjukkan Jam sepuluh malam. Rasanya baru saja mereka sampai di pasar malam itu. Dan Widuri juga belum makan malam.


Widuri pun menganggukkan kepalanya, setuju dengan ajakan Brandon.


"Dek! ini hadiahnya" sahut penjaga permainan gelang gelang itu, mengambil sebuah termos es berukuran besar dan memberikannya kepada Widuri.


"Ini hadiahnya, Pak?" tanya Widuri menerima termos es itu dari si Bapak.


"Iya Dek" jawab si Bapak itu.


"Kalau begituTrimakasih, Pak!."


"Sama sama."


Widuri dan Brandon pun meninggalkan pasar malam itu.


Sampai di rumah, turun dari dalam mobil, Widuri langsung masuk ke dalam rumah. Di ikuti Brandon membawa termos es dan semua makanan pesanannya.


"Wid, kamu dari mana?."


Widuri langsung terlonjak kaget dan mengarahkan pandangannya ke arah Haris yang duduk di sofa ruang tamu rumah itu menatapnya dan Brandon dengan tajam.


"Aku..."


"Brandon! kemana kamu membawa istriku?. Bukankah saya menyuruhmu mengantarnya pulang? Ha!" bentak Haris tiba tiba.


"Pak Haris, aku memintanya mengantarku ke pasar malam" ucap Widuri melangkahkan kakinya mendekati Haris.


"Kamu pergi jalan berdua dengan laki laki lain, Wid. Istri macam apa kamu?."


Langkah Widuri langsung terhenti mendengar pertanyaan yang bersifat hinaan itu padanya. Widuri menggeleng gelengkan kepalanya tidak percaya, Haris akan menghinanya.


"Tadi perawat dan Dokter yang akan mengurusmu sudah sampai di sini, tapi kamu malah kelayapan. Dan aku harus terpaksa meninggalkan Cici yang sakit sendirian di rumah sakit, karena terlalu mengkhawatirkan mu, Wid. Tapi kamu ternyata asyik asyik jalan berdua dengan Brandon" Cerca Haris marah marah.


"Jangan jangan selama ini kalian memiliki hubungan. Sampai kamu gak mau ku sentuh, Wid" Haris memicingkan matanya ke arah Widuri dan Brandon bergantian.

__ADS_1


*bersambung


__ADS_2