Pria Yang Merenggut Kesucian Ku

Pria Yang Merenggut Kesucian Ku
Buktikan


__ADS_3

Haris menurunkan kecepatan kendaraannya saat akan membelok masuk ke gerbang pekarangan rumahnya. Setelah memarkirkannya dengan sempurna di depan tepat di depan pintu masuk rumah itu. Haris segera turun dan melangkah memutari bagian depan mobilnya untuk membukakan pintu di samping Cici.


"Ci, aku pergi dulu ya sebentar aja" ucap Haris setelah membantu Cici keluar dari dalam mobil.


"Kemana?" tanya Cici menatap Haris cemberut. Cici tau Haris akan pergi ke rumah Widuri.


"Aku lihat tadi sepertinya Widuri kurang sehat, aku lihat dia sebentar dulu baru nanti kita sama sama ke rumah orang tua kamu" jawab Haris. Setelah menjatuhkan satu kecupan di kening wanita itu, Haris pun kembali masuk ke dalam mobil miliknya dan segera melajukannya.


"Awas kamu Wid" geram Cici bergumam dengan tangan mengepal.


Sampai di rumah yang di tempati Widuri. Setelah memarkirkannya, Haris langsung turun dan melangkah ke arah pintu masuk rumah itu.


Tok tok tok!


Haris mengetok pintu di depannya tanpa memanggil Widuri. Karena kalau dia bersuara, Widuri tidak akan mau membuka pintu untuknya.


"Untuk apa lagi Pak Haris datang ke sini?" ketus Widuri setelah membuka pintu dan melihat pria yang berdiri di depan pintu.


"Untuk melihat anakku" jawab Haris mendorong pintu rumah itu sembari melangkah masuk dan menutup pintu rumah itu kembali.


Saat melihat Widuri melangkah ke arah kamarnya, Haris langsung menangkap tubuh Wanita itu membawanya ke gendongannya dan langsung menyambar bibir Widuri dengan rakus.


Widuri yang tak mungkin melawan Haris, kali ini pasrah menikmati. Karena percuma juga memberontak, Haris tidak akan melepasnya sebelum pria itu mendapatkan kepuasannya.


Namun melihat Widuri pasrah, Haris pun melepas pagutannya dan memandang intens wajah Widuri yang menatapnya dengan sendu.


"Lakukanlah Pak Haris" lirih Widuri mengulurkan tangannya untuk menyentuh wajah pria itu."Selagi aku menjadi milikmu, selagi aku mencintaimu" lirih Widuri lagi.


Sepertinya Widuri sudah lelah jika harus marah dan emosi menghadapi pria yang berstatus suaminya itu. Haris tidak akan peduli sama sekali dengan perasaannya. Haris hanya menginginkan tubuhnya dan anaknya.


Haris terdiam dan menatap Intens wajah sedih Widuri yang sudah meneteskan air mata itu.


"Lalukanlah!" teriak Widuri tiba tiba.Sakit, rasanya sangat sakit jika hanya dijadikan pemuas nafsu saja.

__ADS_1


Haris menggeleng gelengkan kepalanya, dia memang ingin melakukannya, tapi melihat Widuri sedang tidak baik baik saja, Haris menjadi tidak tega. Haris pun membawa wanita di gendongannya itu ke dalam kamar, membaringkannya di atas kasur.


"Aku juga mencintaimu Wid, tapi tolong rubahlah sikap kasarmu, supaya hati Mama bisa luluh. Aku bisa membelamu di depan Mama" ucap Haris.


Langsung saja Widuri menajamkan pandangannya ke wajah Haris yang duduk di sampingnya. Apa kata pria itu?. Merubah sikap kasarku?, pikir Widuri. Tidak taukah pria itu, jika Ibunya sendiri kasarnya melebihi Nenek sihir?.


"Sekarang siapa yang membutuhkan siapa di antara kita berdua?" Widuri tersenyum miring ke arah Haris."Aku gak membutuhkan Pak Haris dan keluarga Pak Haris di masa depan. Aku sudah bilang, aku meminta di nikahi hanya untuk statusku dan anak itu. Tidak lebih dari itu. Jadi aku gak perlu harus membuat luluh hati Mama Pak Kanzo untuk menerimaku. Dan Pak Kanzo tidak perlu membelaku" ucap Widuri kemudian menjeda kalimatnya."Pak Haris ini aneh!." Widuri menghembuskan napasnya kasar dari hidung."Bukankah Pak Haris sudah membayarku ganti rugi atas apa yang sudah dilakukan Pak Haris terhadapku?. Masalah di antara kita sudah beres Pak Haris. Tapi kenapa Pak Haris masih datang menemui ku?." Widuri menajamkan pandangannya ke arah Haris yang terdiam.


"Kalau masalah anak mu ini, jangan khawatir. Aku pasti akan menjaganya dengan baik. Setelah lahir, aku akan memberikannya pada Kamu" lirih Widuri dengan suara tercekat menahan tangis.


"Aku minta maaf!" Haris meraih tubuh Widuri, namun wanita itu langsung menepis tangannya.


"Jangan menggangguku lagi, tolong!. Biarkan hidupku tenang demi anakmu ini" ucap Widuri."Atau Pak Haris lebih mementingkan nafsu dari pada kesehatan anak Pak Haris sendiri?."


"Aku mencintaimu, Wid."


"Buktikan kalau Pak Haris mencintaiku!" bentak Widuri tiba tiba. Entahlah? Hatinya terasa sakit setiap mendengar Pak Haris mengatakan mencintainya."Buktikan dengan cara tidak menyentuhku."


Haris terdiam memandangi wajah Widuri yang sudah basah dengan air mata.


Kini Widuri yang terdiam membalas tatapan Haris padanya.


"Baiklah" ucap Widuri.


Haris mengulas senyumnya, tangannya pun terangkat untuk mengusap lembut ujung kepala Widuri.


"Tunggulah di sini, aku akan mencari makanan untuk kita." Haris berdiri dari tempat duduknya kemudian melangkahkan kakinya keluar dari rumah itu.


Hampir satu jam berlalu, Haris sudah kembali. Pria itu membawa makanan untuk makan malam mereka. Dan juga membawa banyak buah makanan lainnya.Haris juga tidak lupa untuk membeli susu hamil untuk Widuri.


Setelah menyusun semua belanjaannya itu ke tempat yang tersedia. Haris pun membuatkan segelas susu hamil untuk Widuri kemudian mengajak Widuri untuk makan malam.


"Wid, ayo makan" ajak Haris masuk ke kamar Widuri dengan membawa nampan berisi makanan di tangannya.

__ADS_1


"Makan aja duluan" tolak Widuri, tak ingin menciptakan moment apa pun dengan Haris.


Haris yang tak ingin memaksa pun, meletakkan sepiring nasi dan segelas susu dan air putih di atas nakas.


"Nanti makan ya" ucap Haris dengan suara lembutnya, langsung keluar dari kamar itu setelah sempat mengusap lembut kepala Widuri.


'Dia seperti pria labil' batin Widuri yang memperhatikan punggung Haris yang menghilang di balik pintu.


Widuri pun meraih makanan itu dari atas meja nakas dan langsung memakannya. Begitu juga dengan Haris, ia memakan makanannya di meja makan yang berada di dapur rumah itu.


**


"Cici, kamu kenapa menangis, sayang?" tanya Ibu Ilona yang masuk ke kamar Cici bersama pembantu yang membawa makanan.


"Haris menemui Widuri, Ma. Dia belum pulang jam segini, padahal malam kami akan menginap di rumahku" jawab Cici menghapus air matanya.


'Untuk apa dia menemui wanita kampung itu lagi?. Aku pikir Haris sudah tidak mempedulikan wanita itu' batin Ibu Ilona.


"Padahal aku sudah pengen makan masakan Ibu aku" tangis Cici lagi.


"Sudah kamu telephon?" tanya Ibu Ilona mengusap lembut kepala menantu kesayangannya itu.


"Udah, Ma. Tapi Haris gak mengangkatnya." Cici semakin menangis terisak sambil menghapus air matanya.


"Kamu sih, kenapa sok baik. Menyuruh Haris memperbaiki hubungannya dengan wanita kampung itu" ujar Ibu Ilona.


"Tapi, Ma. Kasihan anak yang di kandungan Widuri kalau tidak mendapatkan perhatian dari Haris. Bayi itu gak bersalah, Ma" balas Cici.


"Kamu memang wanita yang baik, sayang. Tapi kamu salah jika masih tetap mengijinkan Haris menemui wanita kampung itu. Wanita itu pasti akan mempengaruhi Haris" puji Ibu Ilona, menarik menantu kesayangannya itu ke dalam pelukannya.


"Tapi tenang aja, Mama akan memberi pelajaran kepada wanita itu supaya tidak mengganggu Haris lagi."


Senyum Cici langsung mengembang, mendengar mertuanya itu akan memberi Widuri pelajaran. Jadi dia tidak perlu repot repot lagi. Cukup dia menjadi menantu dan istri yang baik dan penurut saja kepada Haris, semua masalah sudah beres.

__ADS_1


*Bersambung


__ADS_2