Pria Yang Merenggut Kesucian Ku

Pria Yang Merenggut Kesucian Ku
Selamat datang anak Papa


__ADS_3

Semakin lama Widuri pun sering kesakitan, sangat sakit, sampai wanita itu meringis sambil meremas kasur di sampingnya.


Haris yang terbaring di atas brankar sebelahnya, hanya bisa menatap kasihan pada Widuri tanpa bisa berbuat apa apa. Ya, seperti permintaan Haris yang ingin melihat istrinya melahirkan, akhirnya Widuri pun melahirkan di ruang perawatan itu.


"Dokter, istriku terus kesakitan. Apa gak lebih baik di cesar aja?." Haris tidak tega melihat Widuri yang terus merintih kesakitan.


"Melahirkan memang gitu, Pak. Pasti sakit" jawab Dokter itu.


"Tapi kenapa lama sekali bayi kami lahir? Kasihan istriku. Sudah berapa jam istriku menahan sakit? Cesar aja Dok, biar cepat" ucap Haris lagi gak sabaran.


Dokter yang akan membantu Widuri itu menghela napasnya. Pria itu rewel sekali, dari tadi terus mengoceh ini itu. Sedangkan istrinya sendiri yang akan melahirkan diam saja.


"Pak, kalau bisa normal kenapa harus di cesar. Cesar itu penyembuhanya lama loh, Pak. Bisa sampai tiga Bulan. Sedangkan kalau melahirkan normal. Besoknya istri Bapak sudah bisa jalan" jelas Dokter itu dengan sabar.


"Aakh!" rintih Widuri saat merasakan sakit yang sangat dasyat.


Dokter dan perawat di ruangan itu, pun langsung mendekati Widuri. Setelah di periksa, Widuri sudah siap untuk melahirkan bayi nya.


"Kamu pasti bisa, Wid" ucap Haris, mengulurkan tangannya ke arah Widuri, supaya Widuri menjadikannya sebagai pegangan.


Wuduri pun meremas kuat tangan Haris saat Dokter menyuruhnya mengejan. Membuat Haris dengan sabar menahan rasa sakit akibat Widuri mencengkram tangannya.


"Kamu pasti bisa, Wid. Kamu adalah wanita yang kuat" ucap Hari lagi melihat Widuri begitu kelelahan, namun bayi mereka belum juga lahir.


Widuri menganggukkan kepalanya sembari tersenyum ke arah Haris. Meski rasanya sakit banget, tapi demi si buah hati, Widuri tetap semangat dan harus kuat.


Haris pun ikut tersenyum, kemudian mengeratkan pegangan tangannya memegang tangan Widuri saat Dokter yang membantu persalinan menyuruh Widuri untuk mengejan lagi. Setelah beberapa kali berusaha, akhirnya Widuri berhasil melahirkan bayi mereka. Berhasil membuat Ruangan itu langsung di penuhi suara tangis seorang bayi.


Widuri langsung memejamkan matanya sembari menghela napasnya, lega. Begitu juga dengan Haris langsung mengucap syukur sambil menangis terisak isak.


"Wid, bayi kita udah lahir. Kamu hebat, Wid. Kamu hebat sayang. Kita sudah punya anak, sayang. Ya Tuhan, aku sudah menjadi Ayah." Haris mengoceh dalam tangisnya.


Saat Haris menoleh lagi ke arah Widuri. Ternyata istrinya itu sudah tak bergerak.


"Dokter, istri saya kenapa gak bergerak?" Haris langsung panik. Haris pun menelan air ludahnya, tidak bisa membayangkan jika sesuatu yang buruk terjadi pada Widuri.


"Tenang, Pak. Istri Anda ketiduran. Kelelahan setelah berusaha melahirkan bayi kalian. Biarkan dia istirahat" jawab Dokter itu tersenyum sembari membereskan Widuri dari sisa sisa melahirkan.


Haris bernapas lega, Haris pikir istrinya....


Jangan sampai istrinya meninggal gara gara melahirkan normal. Bisa bisa Haris gila nanti. Dan Haris juga bingung bagaimana merawat bayi mereka nanti.

__ADS_1


"Ini Pak, bayi nya."Dokter itu pun meletakkan bayi baru lahir itu di samping Haris.


Haris langsung mengarahkan pandangannya ke arah bayi itu dengan di iringi air mata bahagia mengalir dari sudut matanya. Ya, Haris terharu melihat buah benih yang di taman paksa di rahim Widuri sudah lahir ke Dunia.


"Selamat datang anak Papa" lirih Haris dengan suara lembutnya. Haris pun mengecup kening bayi mungil itu dengan lembut. Tak lupa juga Haris mengumandangkan adzan di telinga bayi berjenis kelamin laki laki itu.


'Kamu adalah penyelamat cinta Papa, sayang. Trimakasih sudah bertumbuh kembang di rahim Ibu mu. Jadilah anak yang baik dan salih. Amin!' ucap Haris dalam Doa.


Karena bayi itu lahir sebelum waktunya, membuat Haris harus merelakan bayi itu segera di bawa ke ruang bayi, untuk diberikan perawatan khusus.


Sepeninggal Dokter dan perawat dari ruangan itu. Haris memandangi wajah Widuri yang terlelap. Tangan Haris berusaha menjangkau wajah Widuri untuk mengelus pipi istrinya itu.


"Aku berjanji, Wid. Setelah ini, tidak ada lagi orang yang akan memisahkan kita" guman Haris.


Haris pun menghubungi Kanzo, mengabari sahabatnya itu, kalau istrinya sudah melahirkan.


"Iya, Ris. Ada apa?" tanya Kanzo langsung dari sebrang telephon.


Bukannya langsung menjawab, malah Haris menangis terisak. Membuat Kanzo yang mendengar menjadi khawatir.


"Ada apa, Ris!. Apa terjadi sesuatu?." Kanzo baru selesai membereskan Baim dan Pak Dirga, jangan sampai terjadi tragedi baru lagi.


"Ada apa dengan Widuri?" tanya Kanzo langsung panik."Cepat katakan! apa yang terjadi?."


"Widuri sudah melahirkan, Zo. Bayi kami sudah lahir" jawab Haris di dalam tangisnya.


"Melahirkan?." Jelas Kanzo bingung dengan apa yang dikatakan Haris barusan.


"Iya, Zo. Istriku berhasil lepas dari orang yang menculiknya." Haris pun menceritakan bagaimana Widuri bisa sampai di rumah sakit dan tiba tiba akan melahirkan bayi mereka.


Mendengar cerita Haris, Kanzo bernapas lega. Itu artinya masalah yang menimpa mereka sudah berhasil mereka lewati.


"Ya udah, aku akan segera ke sana" ucap Kanzo lalu mengakhir telephonnya.


**


Kanzo yang baru selesai menerima telepon dari Haris, melangkahkan kakinya ke sebuah ruangan di salah satu gedung kosong. Lantas tersenyum miring ke arah dua orang pria yang di ikat duduk di atas bangku.


"Aku selalu berusaha baik pada kalian. Tapi kalian selalu saja mengajak bermusuhan" ujar Kanzo pada Baim dan Pak Dirga. Kanzo menghela napasnya kasar, menyesalkan permusuhan yang terjadi di antara mereka. Padahal dulu Pak Dirga adalah salah satu sahabat Pak Bagus. Begitu juga dengan Baim dan Kanzo, mereka berteman baik. Tapi karena persaingan bisnis mereka jadi bermusuhan.


Pak Dirga tersenyum miring mendengar apa yang di katakan Kanzo barusan.

__ADS_1


"Sombong sekali Anda" ucap Pak Dirga." Jika bukan karena saya yang memberi modal Ayah mu dulu. Kalian itu tidak akan jadi pengusaha sampai sekarang. Aku yang membantu Bagus mendirikan perusahaan kalian!."


Begitulah manusia kalau sudah di serang penyakit iri, tidak percaya jika roda kehidupan itu bisa berputar. Dan tidak bisa melihat orang yang di bantunya dulu, posisinya berada di atasnya.


"Aku tau itu" Kanzo tersenyum miris." Om ingin aku harus bagaimana sekarang?. Menghancurkam perusahaan kami, perusahaan yang mati matian di bangun Papa?."


"Papa juga dulu banyak mengeluarkan modal, tenaga, pikiran dan waktu terkuras mendirikan perusahaan itu. Dan bukan hanya Om saja yang menanam modal di perusahaan Papa, tapi Om Benny juga. Dan juga, bukankah Papa juga sudah mengembalikan uang itu?. Jadi dimana lagi salahnya?."


"Salahnya, kalian melakukan kecurangan dalam memenangkan tender. Kalian sengaja menawarkan harga yang murah untuk menghancurkan perusahaanku." Pak Dirga berbicara dengan merapatkan gigi giginya.


"Bukan kami, Pak Dirga yang terhormat, tapi Anda. Harga Anda terlalu tinggi" balas Kanzo.


Selama ini, Pak Dirga selalu menawarkan harga yang cukup tinggi pada customer, berharap mendapatkan keuntungan yang banyak. Sedangkan prinsip Pak Bagus dan Kanzo, tidak apa apa untuk sedikit, yang terpenting pekerjaan itu ada terus menerus.


Kanzo pun melangkahkan kakinya dari ruang penyekapan itu, malas jika harus berlama lama mendebatkan hal yang tidak penting dengan Pak Dirga dan Baim. Lagian pekerjaan Kamzo sangat banyak, lebih baik Kanzo menyelesaikan pekerjaannya satu persatu. Yang penting sekarang Baim dan Pak Dirga sudah berhasil di tangkap. Untuk urusan selanjutnya, sudah ada orang yang di tugaskan Kanzo untuk membereskan kedua orang itu.


**


"Sayang, dimana sekarang?. Dari tadi aku menunggu kabar mu."


Kanzo mengulas senyum melihat wajah cantik di layar ponselnya. Wanita itu semakin hari bertambah manja, apa lagi semenjak melahirkan.


"Lagi di perjalanan, sayang. Ini aku lagi di mobil menuju bandara. Aku harus kembali ke Pulau B, untuk mengurus Haris dan Widuri" jawab Kanzo.


"Baby Gavin sangat rewel. Sepetinya kangen dengan Papa nya" ucap Marya. Beberapa malam ini memang baby Gavin sering nangis setiap malam. Mungkin karena tidak merasakan kehadiran sang Papa beberapa hari ini.


"Gavin aja yang kangen, Mama Gavin, gak?" tanya Kanzo senyumnya semakin merekah melihat Marya mengangguk angguk di layar ponselnya. Wanita itu terlihat begitu menggemaskan, membuat Kanzo tak sabaran untuk pulang ke rumah.


"Aku ada kabar gembira untuk mu" ucap Kanzo. Marya langsung menajamkan penglihatannya memperhatikan wajah Kanzo.


"Apa?" tanya wanita cantik itu.


"Tadi aku mendapat kabar dari Haris, kalau bayi mereka sudah lahir" jawab Kanzo.


"Lahir? Kok bisa?" Marya langsung saja menautkan kedua alisnya.


Kanzo menghela napasnya, kemudian menceritakan apa yang di ceritakan Haris tadi padanya.


"Tapi, syukurlah. Siang malam aku hampir gak bisa tidur memikirkan mereka" desah Marya.


*Bersambung

__ADS_1


__ADS_2