
"Sayang, nanti istirahat duluan ya. Tak usah menunggu ku. Dan jangan lupa nanti makan malam, oke" ucap Haris saat. mengantar Widuri pulang ke rumah sore ini.
Meski banyak pekerjaan di kantor, tapi Haris tidak mengijinkan Widuri ikut lembur. Cukup dia yang bekerja keras untuk mencari nafkah, istrinya jangan. Kalau perlu, istrinya itu berhenti aja bekerja. Tapi Widuri tidak mau, katanya bosan kalau di rumah aja sendirian.
"Tapi pulangnya jangan lama" manja Widuri sambil tangannya mengelus elus lembut perutnya yang terasa gatal.
"Iya, istriku" gemas sekali Haris melihat bibir manyun istrinya itu. Apa lagi sekarang Widuri suka bermanja padanya, membuat Haris ingin terus memakan istrinya itu.
"Nanti pulang kerja bawa makanan ya" ucap Widuri lagi.
"Makanan apa?" tangan Haris pun ikut mengelus elus perut buncit Widuri yang akhir akhir ini katanya sering gatal.
"Apa aja, yang penting jangan yang manis" jawab Widuri.
"Baiklah, kalau begitu istriku ini turun dulu, biar suami kamu ini pergi mencari makan lagi." Sudah dari tadi mereka sampai di depan pintu rumah, namun istrinya itu masih enggan untuk turun, padahal Haris harus kembali lagi ke perusahaan.
Mendengar Haris mengusirnya, pandangan Widuri langsung menajam seperti mata nenek lampir yang akan menyihir musuhnya menjadi kelelawar.
"Ampun yang mulai ratu" ucap Haris saat menyadari kesalahannya.
Tanpa mengatakan apa pun, Widuri membuka pintu di sampingnya dan langsung melongos turun.
Buarr!
"Astaqfirulloh!" kaget Haris langsung memegangi dadanya, mendengar suara pintu mobilnya di banting kuat.
"Dasar tawon, kecil kecil mematikan" maki Haris bergumam, kemudian melajukan kenderaan nya perlahan meninggalkan pekarangan rumahnya.
Istrinya itu terkadang gak ada lembut lembutnya. Galak benar kalau marah.
"Lihat aja, aku gak akan memberinya jatah lagi. Bilangin aku tawon lagi." Sampai di dalam kamar, Widuri mengerutu tidak jelas , marah dan kesal dengan Haris. Haris sepertinya lupa, jika di dalam mobilnya ada cctv yang bisa dipantau Widuri dari layar ponselnya.
Widuri pun melempar tasnya ke atas kasur. Dan juga melepas sendalnya ke lantai. Lalu membuat seluruh pakaiannya dan membuangnya ke keranjang baju kotor, kemudian melangkah masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Tanpa Widuri sadari, Harus melihat tingkahnya itu dari benda pipih canggih pria itu.
"Dia sangat lucu" gumam Haris tersenyum sambil menyetir.
Melihat pemandangan indah itu, rasanya Haris ingin cepat kembali ke rumah. Namun ia harus menahan diri Karena banyaknya tanggung jawab yang harus ia kerjakan.
__ADS_1
**
"Zo!" panggil Haris melihat Kanzo datang ke perusahaan.Kanzo langsung menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Haris.
"Kapan kamu mulai aktif lagi ke perusahaan?. Widuri mengajakku pulang kampung. Dia minta dibuatkan acara resepsi di sana" tanya Haris.
Kanzo yang di tanya menggaruk keningnya sendiri sambil berpikir. Dia juga belum tau kapan dia bisa aktif ke kantor. Karena Marya masih dalam tahap pemulihan operasi sesar. Ya, setidaknya istrinya itu bisa ke kamar mandi sendiri tanpa di bantu. Baru Kanzo bisa kembali rutin ke perusahaan.
"Jangan sampai Widuri melahirkan" ujar Haris.
"Tunggu Marya sehat sedikit lagi. Mungkin dia Minggu lagi aku sudah bisa aktif datang" jawab Kanzo setelah berpikir pikir.
"Baiklah" balas Haris. Haris berpikir setelah kembali dari luar kota, dia akan bisa membawa istrinya pulang kampung.
"Apa sudah ada kabar tentang Baim dan Bapaknya?." Kanzo menghela napasnya. Terlalu sibuk mengurus istri dan membangkitkan perusahaan, membuat kedua pria itu tidak punya waktu memikirkan musuh mereka.
"Saat ini Baim berada di sebuah kota kecil. Dia tidak akan bisa lolos lagi dari sana. Hanya saja karena dia tidak menggunakan internet sama sekali, jadi sulit untuk menangkapnya. Karena keberadaannya di kota itu tidak bisa di deteksi" jawab Haris.
"Tunggu saja uangnya habis, pasti dia akan mendatangi salah satu mesin ATM di kota itu" ujar Kanzo.
"Sebelum kabur, dia mengambil uang yang banyak dari bank. Dia sudah menyiapkan itu semua sebelum bersembunyi" jelas Haris.
Kanzo diam dan berpikir bagaimana caranya supaya bisa menangkap Baim dan Bapaknya. Orang yang sudah membakar gedung perusahaannya.
"Sebelum kamu menyuruhku aku sudah melakukannya" cetus Haris. Sahabatnya itu terlalu sibuk mengurus istri, sampai lupa membereskan musuh. Padahal Haris juga mempunyai istri, dia malah. Tapi Haris masih bisa berpikir dengan cepat, tanpa Harus menunggu perintah dari Kanzo.
"Bagus, kau memang Adik ku yang cerdik. Tapi bodoh menghadapi wanita." Setelah memuji Haris, Kanzo pun menjatuhkannya sambil tangannya menepuk nepuk pelan bahu Haris.
Haris yang kesal, pun menepis tangan Kanzo." Kalau kau pintar menghadapi wanita, tidak mungkin kau bisa di selingkuhi selama lima Tahun."
Setelah mencibir Kanzo, Haris langsung pergi melongos masuk ke ruangannya.
"Itu karena aku belum tau" gumam Kanzo menyadari kebodohannya juga. Menatap punggung Haris yang menghilang di balik pintu ruangan pria itu.
**
Hampir jam dua belas malam, Haris baru sampai di rumah. Di lihatnya Widuri sudah tidur lelap di atas tempat tidur. Haris mengulas senyum, betapa bahagianya Haris sekarang, setelah Widuri menjadi istrinya satu satunya.
Haris membuka sepatunya dan meletakkan jas dan tasnya di atas sofa. Kemudian Haris membuka kemeja dan celana bahan yang di kenakan nya, sampai hanya meninggalkan celana bokser saja.
__ADS_1
Haris naik ke atas tempat tidur dan mendekati Widuri yang terlelap di bawah selimut.
"Ukh!"
Tiba tiba Widuri melenguh dalam tidurnya. Widuri langsung membuka matanya saat merasakan, sesuatu yang di rasakannya semakin nyata. Ternyata Haris sedang menikmati tubuhnya.Widuri pun kembali memejamkan matanya, memilih menikmati setiap sentuhan pria itu.Sangat nikmat, Haris selalu berhasil membuatnya mabuk kepayang.
Tok tok tok!
"Kak! Kak Wid!. Kak Haris!."
Refleks kegiatan memadu kasih itu terhenti saat mendengar Nala memanggil mereka sambil mengetok pintu.
"Kak Haris! apa kalian sudah tidur?" seru Nala lagi dari luar kamar.
"Sebentar!" balas Haris berseru. Wajahnya terlihat sangat frustasi karena belum berhasil mencapai puncak tertinggi.
"Pasti itu sesuatu yang sangat penting" ucap Widuri. Jika tidak, tidak mungkin Nala sampai mengganggu istirahat mereka tengah malam.
"Sebentar, jangan tidur ya, nanti kita lanjut lagi." Haris segera turun dari atas tempat tidur untuk menemui Nala di depan pintu kamar mereka.
"Iya" balas Widuri tersenyum.'Dasar pria mesum' maki Widuri dalam hati.
Haris pun melangkahkan kakinya ke arah pintu, untuk membukakan pintu untuk Nala.
"Ada apa" tanya Haris langsung setelah membuka pintu.
Nala menoleh ke arah rambut Haris yang acak acakan. Wajah dan tubuhnya terlihat berkeringat. Jelas sekali pria itu sedang melakukan olah raga malam.
"Pak Kanzo barusan menelephon. Pak Haris harus segera berangkat malam ini ke luar kota. Katanya urusannya urgen" jelas Nala.
"Bilang sama Kanzo. Besok baru aku berangkat." Haris memutar mata jengah. Dia baru sampai di rumah, lagi asyik asyik dengan istri, malah di suruh ke luar kota.
"Tapi Kak, Pak Kanzo sudah menyiapkan keberangkatan Kak Haris sekarang."
"Besok." Haris yang kesal langsung masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya.
"Ada apa?" tanya Widuri dari atas kasur, melihat wajah Haris masam.
"Kanzo menyuruhku berangkat ke luar kota sekarang. Kamu ikut ya." Tidak peduli dengan perintah Kanzo, Haris kembali mengungkung tubuh Widuri, dan langsung melakukan penyatuan yang dahsyat. Berhasil membuat Widuri berteriak teriak seperti orang kesurupan.
__ADS_1
'Apa Iya, proses bercinta itu sampai segitunya?' batin Nala bertanya tanya mendengar samar samar suara Widuri berteriak teriak keenakan.
*Bersambung.