Pria Yang Merenggut Kesucian Ku

Pria Yang Merenggut Kesucian Ku
Apa yang mereka rencanakan?


__ADS_3

"Ci, kamu pulang aja ya. Malam ini biar Kanzo yang menjagaku" ucap Haris pada Cici.


"Tapi Ris, aku...."


"Malam ini biar aku yang menjaga Haris."


Ucapan Cici terpotong dengan suara pria yang masuk ke dalam ruangan itu. Cici pun mengarahkan pandangannya ke arah Kanzo yang datang bersama Marya.


"Wid, ayo pulang. Malam ini kamu tidur di rumah kami aja." Marya mendekati Widuri, lalu membantu wanita yang sedang hamil muda itu turun dari atas brankar.


"Kamu juga sedang hamil, gak usah membantuku" ujar Widuri.


"Gak apa apa" balas Marya.


Sebelum pergi, Widuri pun berpamitan pada Haris.


"Pak Haris, kalau begitu aku pulang dulu" pamit Widuri, mengambil tangan Haris lalu mengecupnya dengan mata melirik ke arah Cici.


Haris mengangguk, ia pun menarik leher Widuri supaya wanita itu lebih mendekatinya. Dan satu kecupan langsung mendarat di keningnya.


"Jaga anak kita baik baik ya" ucap Haris sambil tangannya mengusap lembut kepala Widuri.


Widuri mengangguk sembari tersenyum."Kalau begitu aku pergi dulu" pamit Widuri sekali lagi. Widuri juga berpamitan pada Kanzo, lalu pergi tanpa menegur Cici sama sekali.


'Sepertinya mereka sedang mempermainkan ku. Apa yang mereka rencanakan?' batin Cici menatap Kanzo dan Haris dari sudut matanya.


"Ci, kamu pulang aja ya" suruh Haris lagi, melihat Cici diam saja dari tadi.


"Ya udah, kalau begitu aku pergi dulu." Cici akhirnya pasrah di suruh pulang, tidak bisa merengek karena ada Kanzo di ruangan itu. Cici pun mendekati Haris, setelah mengecup bibir pria itu, Cici langsung pergi.


Melihat Cici sudah menghilang di balik pintu, Kanzo melangkahkan kakinya ke arah pintu, untuk mengunci pintu ruangan itu.


"Trimakasih Zo" lirih Haris menatap Kanzo dengan mata berkaca kaca.


Kanzo mengulas senyumnya, Haris sahabatnya bahkan mereka sudah seperti saudara. Tidak mungkin Kanzo membiarkan orang lain menzolimi sahabatnya itu.


"Kamu adalah Adik ku" Kanzo yang sudah berdiri di samping brankar, menepuk pelan bahu Haris.


"Beda usia kita hanya hitungan Bulan" Haris mengulas senyumnya.

__ADS_1


"Tetap saja aku yang lebih tua dari kamu" ucap Kanzo lagi.


"Baiklah, kamu Abang nya" balas Haris.


"Bagaimana? Apa rencana mu selanjutnya?" tanya Kanzo sembari mendudukkan tubuhnya di kursi yang berada di samping brankar.


Kanzo sudah memberitahu tentang hubungan Cici dan Brandon. Yang berhasil membuat Haris kaget dan sempat sok, melihat bukti bukti kalau Cici adalah istri sirih Brandon. Dan sikap lemah lembut Cici selama ini hanyalah tipu daya untuk menaklukkan hati seorang Haris. Sebelum melakukan operasi kemarin, Haris juga sudah melihat Cici menemui Brandon lewat cctv rumah sakit itu yang di pantainya lewat laptopnya. Dan tadi pagi Haris juga mendengar pembicaraan Cici dan Widuri di ruangan itu.


"Sampai Cici melahirkan, tunggu sampai Cici melahirkan, Zo. Baru mungkin aku bisa bertindak" jawab Haris, Kanzo mengangguk paham.


Jika Harus bertindak sekarang, khawatir Cici akan membuat bayi di kandungannya sebagai senjata mengancam Haris. Seperti yang sudah pernah terjadi pada sahabatnya, Kanzo. Meski saat ini, Haris sudah meragukan dengan anak di dalam kandungan Cici. Tapi Haris tetap ingin bayi tak berdosa itu baik baik saja sampai lahir nanti.


"Bagaimana dengan Widuri? Apa kamu sudah memberitahunya?."


"Sudah, tapi aku belum menjelaskannya."


"Fokuslah pada kesehatan mu dulu. Masalah Cici dan brandon, biar aku yang mengurusnya. Tapi setelah sehat, kamu harus membantuku meringkus Baim dan Ayahnya."


"Bagaimana dengan Bella dan sekretaris Baim?."


"Itu lebih mudah mengurusnya, dahulukan membereskan Baim dan Ayahnya."


Baim adalah orang yang menyuruh orang membakar gedung perusahaan milik keluarganya. Sehingga membuatnya mengalami kerugian yang sangat besar.


"Lagi banyak pekerjaan begini, kenapa kamu harus sakit!." Kanzo melangkahkan kakinya ke arah sofa di ruangan itu. Setelah mendudukkan tubuhnya, Kanzo mengeluarkan laptop dan beberapa berkas dari dalam tasnya, dan mulai sibuk bekerja.


**


'Seharusnya aku tidak mengancam Widuri waktu itu. Sialan! kenapa aku tidak berpikir kalau Widuri pasti melapor pada Marya?.'


Cici yang sedang dalam perjalanan pulang ke rumah, merutuki kebodohannya dalam hati. Seharusnya dia tidak pernah mengancam Widuri, karena sudah pasti Widuri akan mengadu pada Marya dan Kanzo. Tapi karena emosi dan terlalu berambisi tetap bisa memiliki Harus, Cici lupa akan hal itu.


Cici pun mengeluarkan handphonnya dari dalam tas kecilnya, kemudian mengetik sesuatu dan mengirimnya kepada seseorang.


Aku sudah membayar mu mahal, aku gak mau tau. Kamu harus menyingkirkan Widuri dari hidup Haris.


Begitulah pesan yang dikirim Cici kepada Brandon.


Tanpa Cici tau, jika pesannya itu sudah berhasil masuk ke handphon milik Kanzo yang lain. Dan bahkan Kanzo sendiri bisa mendengar pembicaraan Cici dengan siapa pun lewat telepon.

__ADS_1


Kanzo mengulas senyumnya membaca peran Cici kepada pria bernama Brandon itu. Berpikir, kalau Cici menganggap semua orang bodoh, tidak bisa mengetahui rahasianya. Cici lupa, jika Kanzo memiliki banyak orang orang suruhan, yang bisa mencari tau dengan cepat informasi apa saja yang dia inginkan.


**


Bangun pagi, seperti biasa Widuri selalu memuntahkan isi perutnya. Marya yang sudah mengetahui kebiasaan itu, mendatangi kamar yang di tempati Widuri di rumah itu.


"Marya!"


Marya langsung menoleh ke arah Ibu mertuanya yang sedang menaiki anak tangga rumah itu.


"Ini Mama buatkan jehe hangat, kasih ke Widuri ya" ucap Ibu Liana memberikan nampan di tangannya kepada Marya. Ibu Liana sudah mendengar cerita dari Marya, jika Widuri selalu mengalami mual dan muntah di lagi hari.


"Makasih, Ma" balas Marya setelah menerima nampan itu.


"Jadi selama ini yang mengurus dia siapa?" tanya Ibu Liana.


"Gak ada Ma, tapi akhir akhir ini Pak Haris menugaskan seorang perawat dan satu orang Dokter untuk menjaga Widuri di apartement" jawab Marya.


Ibu Liana menghela napasnya kasar. Jika saja mendiang Ibu Ilona masih ada, sudah pasti Ibu Liana menyemprot habis sahabatnya itu karena sudah menelantarkan menantunya. Ibu Liana tidak menyangka jika sahabatnya itu bisa berbuat kejam pada Widuri.


"Ajak Widuri tinggal di sini aja. Di sini kan banyak kamar kosong. Kasihan dia dalam keadaan hamil tinggal sendiri, gak ada yang memperhatikannya" ucap Ibu Liana dengan suara lembutnya.


Marya mengulas senyumnya, bersyukur memiliki Ibu mertua sebaik Ibu Liana. Meski Marya berasal dari keluarga sederhana, tapi Ibu Liana tetap menerimanya dengan tangan terbuka.


"Iya, Ma. Tapi sepertinya Mama hasur memintanya juga kepada Pak Haris" balas Marya.


"Ya udah, sana masuk, mungkin Widuri membutuhkan bantuan."


"Kalau begitu, Marya masuk dulu Ma" pamit Marya lalu melangkahkan kakinya ke arah kamar yang di tempati Widuri.


"Wid!" panggil Marya saat tangannya berhasil membuka pintu kamar itu.


Widuri yang baru keluar dari dalam kamar mandi, langsung menoleh ke arah Marya yang baru masuk.


"Ini aku bawakan air jahe. Mama yang membuatkannya untuk mu. Kata Mama, air jahe bisa menghangatkan tubuh dan mengurangi rasa mual" celoteh Marya meletakkan nampan di tangannya di atas nakas.


"Kamu sangat beruntung Marya" Widuri mendekati Marya.


"Hadapi saja bagaimana takdir memperlakukan, mu. Mungkin bisa saja semua yang kamu alami sekarang ini, adalah awal dari kebahagiaan mu." Marya memeluk tubuh Widuri dan mengusap usap punggung sahabatnya itu dengan lembut.

__ADS_1


"Aku akan selalu ada untuk mu" ucap Marya lagi.


*Bersambung


__ADS_2