
Sampai di tempat tujuan, Widuri dan Marya langsung memesan tempat penginapan untuk mereka. Resort yang berada di bibir pantai menjadi pilihan kedua wanita itu. Sembari menunggu keluarga mereka tiba di tempat, kedua wanita itu memilih berfoto ria di taman sekitaran hotel.
"Wid, jangan up di sosmet. Nanti mereka tau kita berada dimana" ujar Marya setelah mengambil foto Widuri yang berdiri di depan sebuah bunga.
"Aku tau" Widuri mengulas senyumnya, begitu juga dengan Marya.
Sudah lama sekali kedua wanita itu tidak menghabiskan waktu bersama. Semenjak Widuri keluar Negri, baru ini mereka menghabiskan waktu berdua.
"Ayo kita ke sana, nanti mereka tidak melihat kita" Marya mengajak Widuri ke arah gerbang masuk kawasan hotel itu, supaya nanti keluarga mereka tidak sampai harus mencari mereka.
Widuri mengangguk, kedua wanita itu langsung melangkahkan kaki mereka ke arah gerbang masuk kawasan hotel.
Tak lama menunggu, keluarga mereka pun sudah sampai.
"Momy!" seru Noah dari gendongan Nala yang baru keluar dari dalam mobil yang mengantar mereka.
"Anak Momy, apa kabar sayang?" Widuri mendekati Noah dan langsung mengambil balita itu dari gendongan Nala.
"Tentu baik Momy." Nala yang menjawab. Keponakannya itu sangat pintar, tidak akan menangis atau rewel meski tidak melihat Widuri saat bangun tidur.
Berbeda dengan Gavin yang sudah berada di gendongan Marya. Bocah itu selalu menangis setiap bangun pagi jika tidak melihat Marya berada di dalam kamar.
"Tadi pagi dia terus menangis mencarimu. Tapi untung saja tadi Adi datang dan langsung membawanya naik motor" ujar Nyonya Liana mengusap kepala Gavin yang sedang tidur di gendongan Marya.
"Adi tadi pagi datang ke rumah, Ma?" tanya Marya pada Ibu mertuanya.
"Ayah yang menguruhnya datang. Ayah khawatir cucu Ayah ini akan nangis terus karena gak ada kamu." Pak Maiman yang menjawab pertanyaan wanita cantik berwajah keibuan itu."Lagian kamu sama suami kamu ada ada aja. Rumah sudah besar, fasilitas kamar sudah seperti di hotel, masih saja membuang buang uang menyewa hotel" lanjut Pak Maiman sok bijak menasehati.
Nyonya Liana langsung saja memutar bola mata malas mendengar kalimat besannya yang sok menasehati itu.
"Bagus membuang uang untuk menghibur diri, dari pada membuang uang untuk hal yang merugikan" ketus Pak Bagus sembari melintas di samping Pak Maiman.
"Aku sering menang bermain judi, jadi aku gak merasa merugi!" seru Pak Maiman ke arah Pak Bagus tidak terima dikatakan melakukan hal yang merugikan.
"Ya Tuhan, kenapa aku bisa mendapat besan seperti pria brandalan ini" desah Nyonya Liana lantas melangkahkan kakinya menyusul Pak Bagus berjalan ke arah resort pinggir pantai.
"Itu karena putriku cantik, makanya anak kalian tergila gila" jawab Pak Maiman tersenyum bangga.
"Tapi sampai kapan Ayah terus main judi?" ketus Marya langsung berlalu membawa Gavin di gendongannya.
__ADS_1
Dari jaman dahulu, Ayahnya itu tidak berubah juga. Marya sampai berpikir, kenapa Ibunya sampai bisa menikah dengan pria seperti Ayahnya?.
"Ayo Wid, kita ke resort" ajak Marya pada Widuri yang masih berdiri di sana.
"Tunggu sebentar, Mama dan Nala lagi memesan makanan dan minuman untuk kita nanti di pinggir pantai" balas Widuri.
Hari sudah siang, mereka semua belum makan. Rencananya mereka akan makan siang bersama di pinggir pantai dengan menggelar tikar.
Setelah Nala dan Ibu Ratna memesan makanan di restoran yang berada di sekitaran hotel, baru mereka pergi ke arah resort tempat mereka menginap.
Sampai di sana, mereka masuk ke resort masing masing. Jika Marya dan Widuri sendiri sendiri. Nala dan Ibu Ratna satu resort untuk berdua, begitu juga dengan Pak Bagus dan Nyonya Liana.
Setelah beristirahat sebentar, baru mereka keluar dari resort masing masing, setelah petugas hotel datang menginformasikan kalau makanan yang mereka pesan sudah di hidangkan di pinggir pantai.
"Momy, Papa mana?."
Widuri langsung menoleh ke arah bocah yang berjalan di sampingnya. Bocah dua Tahun, memakai kaos oblong warna putih dipadukan dengan celana pendek warna coklat muda, bocah itu juga memakai topi berwarna coklat muda juga.
"Kerja" jawab Widuri singkat, wajahnya masih nampak kesal, mengingat tadi malam Haris ingin meninggalkannya di hotel setelah selesai bercinta.
"Momy marahan sama Papa?" tanya Noah mendengar jawaban singkat Widuri dan nadanya pun tidak ramah di telinganya.
"Wajah Momy kelihatan cembelut" jawab Noah.
"Siapa yang cemberut?. Ini buktinya Momy tersenyum." Widuri menunjukkan senyum terbaiknya ke arah Noah.
"Noah!."
Suara seorang bocah memanggil Noah, berhasil mengalihkan pandangan Widuri dan bocah di sampingnya. Widuri langsung melempar senyum ke arah Marya dan Gavin yang menunggu mereka di depan sebuah resort.
"Hai tampan!" sapa Widuri mendekati Marya dan Gavin, menurunkan tubuhnya di depan Gavin, lalu meraih tubuh bocah menggemaskan itu ke gendongannya.
Gavin tersenyum senang saat wanita itu mengecupi kedua pipinya.
"Kamu memang sangat tampan dan menggemaskan" puji Widuri melihat wajah Gavin yang perpaduan wajah Marya dan Kanzo.
"Tante Marya, Noah juga tampan kan?" tanya Noah ingin di puji juga, mendongakkan wajahnya ke arah Marya yang berdiri di depannya.
Marya semakin merekahkan senyumnya dan menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Sangat tampan" jawab Marya menurunkan tubuhnya di depan Noah, lalu mencubit gemas pipi cabi bocah itu.
Noah tersenyum sampai menampakkan gigi giginya yang kecil kecil berjejer rapi. Marya pun mengangkat tubuh bocah itu ke gendongannya, membawanya ke arah pinggir pantai tempat mereka piknik, bersama Widuri yang menggendong tubuh Gavin.
Sampai di pinggir pantai, di sana sudah ada Pak Bagus, Nyonya Liana, Ibu Ratna dan Nala.
"Kakek!" seru Gavin dan Noah bersamaan. Widuri dan Marya pun langsung menurunkan kedua bocah itu dari gendongan mereka. Kedua bocah itu langsung berlari ke arah Pak Bagus. Di sambut langsung pria tua itu dengan pelukan hangatnya.
"Gantengnya cucu cucu Kakek." Pria itu mengecupi kedua pipi bocah tampan itu secara bergantian setelah tubuh kedua bocah itu duduk di atas pangkuannya.
"Kalian cepatlah duduk, supaya kita makan bersama sama" ujar Ibu Ratna, perutnya sudah lapar dari tadi, mulai menyendokkan nasi ke piringnya.
"Kamu belum lapar, Ma. Kami ingin mandi di pantai dulu baru makan" ucap Widuri.
"Kak Wid kan lagi hamil, apa gak apa apa mandi di pantai?" tanya Nala.
"Aku gak berenang, hanya pengen menyelupkan badan aja. Dan Marya akan menjagaku" jawab Widuri tersenyum, sambil mengelus lembut perutnya. Dia sangat ingin beredam di air laut.
"Ya udah pergilah, jangan lama lama mandinya, nanti kamu masuk angin, bisa sakit" omel Ibu Ratna menasehati, mulai menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Iya, Ma" patuh Widuri, tentu ia tidak akan lupa untuk menjaga kesehatannya.
Kedua wanita itu pun melangkahkan kaki mereka ke bibir pantai. Perlahan menenggelamkan sebagian tubuh mereka ke dalam air.
Jika kedua wanita itu asyik menikmati mandi air laut. Berbeda dengan ke dua pria yang sudah lelah mencari keberadaan mereka dari tadi malam. Kedua pria itu masih sama sama terlelap di atas tempat tidur masing masing.
**
Tiga hari berlalu.
Sudah tiga hari Widuri dan Marya beserta keluarga mereka menghabiskan liburan di pantai itu. Namun kedua pria yang bernama Haris dan Kanzo itu belum berhasil melacak keberadaan mereka. Karena orang orang suami mereka saat ini berada di bawah kendali kedua wanita itu. Sampai saat ini, anak buah kedua pria itu belum juga di ijinkan untuk mengaktifkan ponsel masing masing.
Tak tak tak tak!
Haris yang duduk di kursi meja kerja Kanzo di ruang kerja pria itu duduk termenung mengetuk ngetuk meja di depannya dengan menggunakan ujung telunjuknya, berpikir kita kira kemana Widuri dan Marya pergi bersembunyi, sampai sangat sulit mereka temukan.
'Sepertinya aku sudah tau mereka pergi kemana.'
Haris membatin sembari mengulas senyum, setelah menemukan titik terang keberadaan anak dan istrinya.
__ADS_1
*Bersambung