
Haris masuk begitu saja ke ruangan Kanzo tanpa mengetuk pintunya terlebih dahulu, berhasil membuat pria yang duduk di kursi kebesarannya kaget.
"Kau" Kanzo mendengus kesal.
"Jam berapa acaranya di mulai?." Haris mendudukkan tubuhnya di kursi yang berada di depan Kanzo, tidak peduli pria itu kesal melihatnya.
"Tunggu karyawan banyak yang datang" jawab Kanzo, lalu bertanya pada Haris." Berapa lama kalian di sini?. Perkerjaanku sangat banyak, bantu aku membereskannya, setelah itu kita liburan sama sama. Marya seringkali merajuk karena aku jarang memiliki waktu untuknya."
"Kenapa gak meminta Adi membantu mu?. Bukankah sekarang dia sudah kuliah, dan sudah bisa di andalkan?" Jawa Haris dengan pertanyaan.
Adi adalah Adik kandung Marya, yang baru berusia dua puluh satu Tahun. Sekarang sedang menjalani kehidupannya menjadi seorang mahasiswa.
"Dia gak mau, katanya mau buka usaha sendiri" desah Kanzo.Dari dulu Adik iparnya itu sangat sulit di taklukkan. Meski Adi sudah menerima sebagai Kakak ipar, tapi tetap saja Adi tidak mau dekat dekat dengannya.
"Ya udah,aku bantu. Tapi kamu harus membayar semua biaya liburan keluargaku" ucap Haris.
"Okeh, tapi liburan lokal aja" balas Kanzo.
"Baiklah, kebetulan kamu juga sudah bosan jika berwisata di luar. Kami kangen juga dengan alam Indonesia."
**
Acara pun di mulai, tidak ada acara potong pita, meski gedung itu baru selesai di bangun. Kanzo dan Haris hanya memberi sedikit kata sambutan, melakukan doa bersama, di lanjutkan dengan acara makan bersama. Sebagai bentuk rasa syukur mereka, Kanzo beserta keluarga pun mengundang anak anak dari sebuah panti Asuhan, memberikan sumbangan kepada anak anak yang kurang beruntung itu, dan akan menjadi donatur tetap panti Asuhan itu.
"Sayang, kenapa?. Kamu mual lagi." Haris mendekati Widuri yang terlihat mengernyit saat mendekati hidangan di atas meja.
"Iya" jawab Widuri." Perasaan hidangan ini ada baunya yang tidak sedap."
"Selesai acara ini, kamu harus berobat" ucap Haris lembut namun terdengar tengah tak ingin di bantah.
"Aku hanya masuk angin...."
Cup!
Widuri langsung terdiam saat Haris mengecup pipinya dari samping. Pria itu tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya ke arah Widuri.
"Kamu sudah telat datang Bulan kan. Bisa aja kamu lagi hamil sayang" bisik Haris ke telinga Widuri. Berhasil membuat kening wanita itu mengerut. Mengingat ingat tanggal Bulanannya. Kenapa ia bisa lupa? Dan Haris malah yang mengingatnya.
Ya, Widuri memang sudah telat datang Bulan, untuk Bulan ini, walau cuma dua hari.
"Nanti kita periksa." Tangan Haris terulur untuk mengelus perut Widuri yang masih langsing.
Widuri hanya bisa pasrah, kalau dia benar hamil lagi.
"Kamu pengen makan apa biar kuambilkan?." Haris melepas tangannya dari perut Widuri, lalu mendekati meja hidangan. Mengambil piring dan mengisinya dengan nasi.
"Itu aku pengen Sempolnya" tunjuk Widuri dengan jari telunjuknya.
__ADS_1
"Apa lagi?" tanya Haris setelah mengambil Sempol beberapa tusuk.
"Sate Ayam"
"Lagi?"
"Ayam bakar, udang goreng, sama sop."
"Makan mu banyak sekali." Haris sudah tidak heran lagi dengan nafsu makan istrinya itu. Tapi meski makan banyak, tetap istrinya itu tidak mau gemuk.
"Haris pun membawa piring di tangannya ke arah meja tempat duduk mereka dan meletakkannya di atas meja.
"Kak Wid, makan mu banyak banget?" komentar Nala melihat makanan di piring Widuri sampai menggunung.
"Mumpung gratis" Widuri mengulas senyumnya, semangat ingin menikmati berbagai macam makanan di piringnya.
"Biar Kakak mu kuat menunggang kuda" celetuk Haris mengedipkan mata genitnya ke arah Nala.
Nala yang tau maksud Haris, langsung memutar bola mata.
"Untung Kak Haris kaya, kalau miskin. Kak Haris sepertinya harus puasa setiap hari supaya Kak Wid bisa makan sebanyak itu setiap hari" ucap Nala masih heran dengan perut Widuri yang kecil tapi banyak isinya.
"Tuhan itu memang tau yang dibutuhkan hambanya" balas Widuri, suaranya terdengar kumur kumur karena sudah terisi makanan.
"Ya ya ya, makanlah yang banyak. Biar Kak Wid kuat menunggang kuda." Nala jadi ikut ikutan neglantur.
"Gak ada Mama mertua" jawab Haris mengulas senyumnya.
"Ris, teman teman kita nanti ngajak ke club" ujar Kanzo tiba tiba datang mendekati mereka.
"Dimana?" tanya Haris.
"Tempat biasa. Mereka sudah datang ke sini. Gak enak kalau nolak" jawab Kanzo.
"Gak boleh" cetus Widuri, tau kemana kedua pria itu akan pergi nanti malam.
"Kami hanya menemani saja, kamu gak akan ikut minum" ujar Kanzo.
"Gak percaya" cetus Widuri.
Kanzo mengedikkan bahunya. Emang mereka suami takut istri?. Meski tidak di ijinkan istri mereka, kedua pria itu akan tetap pergi menemani teman teman bisnis mereka pergi ke klub malam.
"Kami janji tidak akan mabuk, apa lagi mabuk ja lang" gurau Haris mengecup pipi Widuri dari samping.
Selama ini mereka sering masuk club hanya untuk menemani rekan bisnis mereka setelah pertemuan. Tapi mereka tidak pernah sampai mabuk. Bahkan kedua pria itu sangat jarang mencicipi minuman yang tidak sehat itu.
"Awas aja kalau berani" ancam Widuri, wajahnya nampak cemberut.
__ADS_1
"Gak akan berani sayang" Haris mengecup pipi Widuri lagi dengan gemas.
Pria itu terlihat sangat bahagia hari ini. Karena menduga Widuri sedang mengandung anak keduanya saat ini. Mudah mudahan saja benar, Widuri hamil.
"Kalau untuk teman, Pak Kanzo selalu ada waktu. Buat aku dan Gavin, selalu saja beralasan sibuk bekerja."
Kanzo langsung memutar tubuhnya ke arah Marya yang sudah berdiri di belakangnya. Ternyata wanita itu mendengarkan pembicaraannya dengan Haris.
"Kamu ini cemburuan sekali." Kanzo meraih lengan Marya, menuntunnya untuk duduk di sampingnya.
"Siapa juga yang cemburu." Marya mengembangkan pipinya, cemberut.
"Mereka rekan bisnis kita sayang. Aku menerima ajakan mereka hanya sebatas menghargai saja. Tidak enak jika aku menolak, sedangkan mereka sudah datang ke acara kita. Jangan merajuk seperti itu, kamu terlihat tambah cantik." Kanzo mengulum senyum saat menggombal Marya di akhir kalimatnya.
Kalau lagi cemberut begitu, istri cantiknya itu memang terlihat bertambah cantik dan menggemaskan.
"Bagaimana kalau nanti malam kamu ikut menemaniku?. Kita bisa bersenang senang di sana" aja Kanzo.
"Gak mau" tolak Marya.
"Ayolah, kamu kesana bersama suami kamu, tidak masalah" bujuk Kanzo.
"Gak mau" tolak Marya lagi.
"Aku mau ikut." Tiba tiba Widuri nyeletuk manja minta ikut ke club.
"Gak boleh" di kubu ini, Haris yang menolak.
"Gak boleh sayang, kamu lagi kurang enak badan."
"Ikut" kukuh Widuri.
"Kita bawa aja mereka Ris. Biar cewek cewek di sana gak ada yang berani dekatin kita lagi" ujar Kanzo.
"Gak" tolak Haris dengan cepat. Tidak mau sama sekali untuk membawa Widuri ke tempat yang tidak baik itu. Apa lagi saat ini sepertinya Widuri lagi hamil.
Widuri mengerucutkan bibirnya, cemberut. Widuri pun melongos beranjak dari kursinya.
"Wid! sayang" panggil Haris menyusul Widuri, lalu menangkap tubuh wanita itu.
"Kalau kamu hamil, tidak bagus kita kesana" jelas Haris dengan suara membujuk."Aku gak mau terjadi apa apa lagi sama kamu dan bayi kita. Aku sangat menyayangi mu, Wid. Kami sebentar aja di sana. Aku akan cepat pulang" bujuk Haris.
"Tapi cepat pulang" manja Widuri.
Widuri mengulas senyumnya, lalu mengangguk.
"Ayo kembali duduk di sana. Sebentar lagi kita pulang." Haris membawa Widuri kembali ke meja mereka tadi.
__ADS_1
*Bersambung