
Widuri berdiri dari kursi kerjanya setelah selesai bekerja dan sudah saatnya pulang kerja. Namun saat melangkah keluar gedung perusahaan, langkahnya harus terhenti karena seseorang menarik lengannya.
"Aku antar pulang" ucap Haris, orang yang berani menarik tangan Widuri.
"Aku bisa pulang sendiri" tolak Widuri.
"Menurut lah demi anak kita, Wid" ucap Haris meneduhkan pandangannya ke arah Widuri.
"Aku gak mau satu mobil bersama siluman" ucap Widuri.
"Wid, jaga bicaramu. Cici bukan siluman. Dia juga istriku Wid, Ibu dari anakku juga. Dan kenapa kamu begitu tidak menyukainya?. Padahal Cici sudah mau menerima hubungan kita. Malah dia yang mendukungku, Wid. Untuk tetap mempertahankan pernikahan kita. Meski kamu pernah menyakitinya dan bahkan ingin memusnahkan bayi kami" cerca Haris.
Widuri langsung menarik kasar tangannya dari genggaman Haris, dan memandang Haris dengan mata berkaca kaca. Tanpa mengatakan apa pun, Widuri pun melangkahkan kakinya dengan cepat meninggalkan Haris.
Namun Haris langsung mengejarnya dan menangkap tubuhnya.
"Lepasin Pak Haris" geram Widuri, berbicara merapatkan gigi giginya.
"Aku akan mengantarmu pulang" ucap Haris memaksa wanita itu masuk ke dalam mobilnya, dan langsung menutup pintunya.
"Apa Pak Haris punya bukti kalau aku ingin melenyapkan bayi kalian? Hah!" teriak Widuri setelah Haris masuk ke dalam mobil. Ternyata itu alasan Haris marah padanya. Cici sudah membuat cerita baru kepada Haris setelah kejadian di toilet perusahaan itu.
"Kalau Pak Haris punya bukti, tunjukkan!. Aku juga siap di penjara kalau memang aku menyakiti istri siluman mu itu" geram Widuri tubuhnya sampai terlihat gemetar sangking emosinya.
"Jaga bicaramu Wid, Cici bukan siluman. Justru kamulah siluman. Kamu wanita yang kasar, tidak punya sopan dan etika. Kau tidak pernah berbicara baik padaku, padahal aku ini suami kamu, Wid" balas Haris tidak terima jika Cici dikatakan siluman.
"Suami hanya status" cibir Widuri.
"Wid, aku serius sama kamu. Aku mencintai kamu Wid!. Tapi tolonglah rubah sikap mu. Aku akan berusaha adil pada kamu dan Cici Wid. Kamu istriku, Cici juga istriku. Kalian berdua sama sama mengandung anakku. Kamu boleh tidak memikirkan aku, Wid. Tapi pikirkan anak kita. Kalau kita berpisah, kasihan anak kita nanti. Dia membutuhkan kita berdua sebagai orang tuanya, Wid. Cobalah mengerti sedikit saja keadaan kita, Wid" cerca Haris wajahnya nampak begitu frustasi.
Haris pun mengusap wajahnya kasar, dan tak terasa air matanya mengalir begitu saja dari sudut matanya.
"Aku mencintai kamu, Wid" ucap Haris tanpa permisi tiba tiba memeluk tubuh Widuri." Aku gak mau kehilangan kamu" lirih pria itu.
"Tapi caramu memperlakukan aku tidak seperti itu. Pak Haris lebih peduli dan lebih perhatian sama Cici. Lebih banyak menghabiskan waktu sama Cici. Lebih percaya sama Cici. Dan aku...." Widuri tidak bisa melanjutkan kalimatnya karena Haris tiba tiba membungkam bibirnya dengan Ciuman.
Setelah melepas ciumannya, Haris pun langsung melajukan kendaraannya perlahan meninggalkan pekarangan perusahaan, tanpa melepas pelukannya dari tubuh Widuri.
Sampai di depan rumah Widuri, Haris langsung menghentikan kendaraannya, kemudian mengantar Widuri masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Aku pergi dulu, nanti malam akan ku usahain pulang ke sini" ucap Haris lalu mengecup kening Widuri begitu hikmat, kemudian berlalu.
Widuri yang berdiri di tempatnya, diam saja sambil menatap punggung Haris yang menghilang di balik pintu. Kemudian Widuri pun masuk ke dalam kamarnya.
Tok tok tok!
'Siapa yang datang?' batin Widuri, baru saja ia mendudukkan tubuhnya di atas kasur, sudah ada yang datang mengetuk pintu.
Tok tok tok!
"Ck! siapa sih?" gumam Widuri kesal.
Mendengar pintu rumah itu terus di ketuk, Widuri pun terpaksa berdiri dari tempat duduknya, melangkahkan kakinya keluar kamar untuk membukakan pintu.
"Sepertinya kamu ingin di beri pelajaran ya?" cerca langsung seorang wanita yang tak muda lagi bersama seorang wanita yang perkiraan seumuran dengan Widuri.
"Untuk apa kalian datang ke sini?" tanya Widuri terlihat menantang.
"Untuk memberimu pelajaran, karena tidak mau menjauhi Kak Haris" ucap wanita yang pernah mengaku Adik dari Haris itu, kemudian mendorong tubuh Widuri masuk ke dalam rumah.
Ibu Ilona dan wanita bernama Soodam itu pun masuk tanpa ijin dan mengunci pintu rumah itu. Tanpa aba aba, Soodam pun menarik rambut Widuri dengan kuat.
"Sudah ku bilang, jauhi Kak Haris." Soodam berbicara dengan merapat gigi giginya.
"Aku sudah menjauhinya, tapi Pak Haris sendiri yang terus datang menemuiku" lirih Widuri menangis. Kepalanya sangat terasa sakit karena Adik iparnya itu menarik kuat rambutnya.
"Kenapa masih di sini?, Pergi dari kota ini" ujar Soodam.
"Terserah aku mau tinggal dimana?. Kenapa kalian mengatur hidupku?. Kenapa kalian gak meminta Pak Haris untuk meninggalkan aku?" balas Widuri sambil menahan rasa sakit dikepalanya.
"Karena jika kamu masih di kota ini, Haris akan terus menemui mu!" bentak Ibu Ilona.
"Ma, kasih obat penggugur kandungan itu ke mulutnya" ujar Soodam pada Ibunya.
"Oh iya, Mama hampir lupa." Ibu Ilona pun membuka tasnya, dan mencari sesuatu di dalamnya. Setelah ketemu, Soodam membekuk kedua tangan Widuri ke belakang, supaya Widuri tidak bisa melawan ketika Ibu Ilona memasukkan obat penggugur kandungan itu ke mulut Widuri.
"Ayo cepat, Ma" ucap Soodam lagi, Karena Widuri terus meronta ronta.
"Tolong!" teriak Widuri.
__ADS_1
"To..."
Teriakan Widuri terputus saat Ibu Ilona menekan kuat mulutnya. Ibu Ilona pun berusaha memasukkan obat serbuk itu ke mulut Widuri.
Bukh!
"Aaaa!" teriak Ibu Ilona yang merasakan tubuhnya terhunyung ke belakang Karena Widuri menendangnya.
Dukh!
Bruk!
Setelah kepala Ibu Ilona terbentur ke dinding, Ibu Ilona pun terjatuh ke lantai dan langsung pingsan.
"Mama!" panggil Soodam terpaksa melepaskan kedua tangan Widuri yang di bekuknya dari tadi, dan berlari ke arah Ibu Ilona yang sudah tak sadarkan diri di lantai.
"Kamu apakan Mama ku? Hah!. Kalau terjadi apa apa sama Mama. Awas kamu! aku tidak akan membiarkan mu bisa bebas" bentak Soodam kepada Widuri yang terdiam berdiri di tempatnya.
"Ma, Ma, Mama!" panggil Soodam berkali kali sambil menepuk nepuk pipi Ibu Ilona. Namun wanita tua itu tak juga sadar dari pingsannya.
"Kak Haris, aku harus menelephon Kak Haris" gumam Soodam. Kemudian mengeluarkan handphonnya dari dalam tas kecilnya, dan langsung menghubungi Haris.
"Halo Kak!" ucap Soodam setelah Haris menerima panggilan teleponnya.
"Iya Soodam, ada apa?" tanya Haris dari dalam telephon. Dia sedang di perjalanan menuju perusahaan.
"Mama pingsa Kak" jawab Soodam menangis.
"Pingsan? Kok bisa?."
"Kami berkunjung ke rumah Kak Widuri. Kami datang ke sini baik baik. Tapi Kak Widuri langsung menyerang Mama. Kak Widuri menendang Mama. Dan rambutku juga di Jambak Kak Widuri" jawab Soodam, pura pura menangis, padahal matanya menyorot tajam ke arah Widuri, supaya wanita itu tidak mengeluarkan suara sedikit pun.
"Kakak akan segera ke sana" ucap Haris langsung mematikan sambungan telephonnya dan memutar balik arah mobilnya.
Soodam yang berjongkok di samping Ibu Ilona, kembali berdiri dan melangkahkan kakinya mendekati Widuri.
"Bersihin tumpahan obat itu, atau kamu akan berakhir di penjara bersama bayi di dalam perutmu itu" ancam Soodam. Kemudian memukul kepalanya sendiri dengan handphon di tangannya, lalu mengacak acaknya, berantakan.
*Bersambung
__ADS_1