Pria Yang Merenggut Kesucian Ku

Pria Yang Merenggut Kesucian Ku
Dengan cara yang manis


__ADS_3

"Buktinya aku gak kenapa kenapa kan?." Widuri tersenyum miring. Membuat Haris terdiam dan terus menatap Intens wajah Widuri.


Ada yang berubah dari wanita di depannya itu. Entah, Haris juga tidak tau. Widuri berubah seperti wanita yang tidak bisa diatur, lebih pembangkang. Padahal dulu, Widuri terlihat seperti wanita yang suka mengalah.


"Aku bisa menjaga diriku sendiri. Pak Haris tidak perlu khawatir berlebihan seperti itu" ucap Widuri lagi dengan nada mencibir.


Haris menggeleng gelengkan kepalanya. Jelas dia khawatir, Widuri adalah istrinya yang sedang mengandung anaknya.


"Awas!" Widuri mendorong tubuh Haris supaya ia bisa berdiri dari kursi itu.


"Jangan harap kamu bisa keluar dari ruangan ini tanpa seijinku, Wid" gemas Haris, menghempaskan tangan Widuri yang menempel di dadanya. Kemudian Haris mendekatkan wajahnya ke wajah Widuri sampai bibir mereka menempel. Kali ini, bukan hanya menciumnya saja, tapi Haris juga mencumbuinya mesra di ruangan itu.


"Dasar egois!" teriak Widuri marah setelah Haris memisahkan tubuh mereka.


"Kamu yang egois" balas Haris tersenyum.


'Menyebalkan sekali' batin Widuri menatap tajam Haris dengan rahang mengeras.


"Jangan marah marah seperti itu. Gak bagus untuk kesehatan bayi kita" ucap Haris sambil merapikan baju Widuri yang berantakan.


"Jangan marah marah?." Dada Widuri naik turun menahan amarah di dadanya. Seenaknya Haris mengatakan jangan marah marah. Tapi pria itu sudah membuatnya marah. Ini sudah yang kedua kali, pria itu memaksanya berhubungan intim.


"Milikmu sempit, aku menyukainya" bisik Haris malah ke telinganya.


"Pak Haris!" teriak Widuri sekuat tenaga.


Bukh! bukh! bukh! bukh!


Widuri pun memukul mukul dada Haris dengan brutal.


"Hahahaha ....!" Haris tertawa terbahak bahak, karena telah berhasil membuat wajah Widuri merona karena malu.


"Kurang ajar! apa yang sudah mereka lakukan di dalam?." Cici yang berdiri di depan pintu ruangan Haris mengeram mendengar teriakan Widuri dan tawa lepas Haris. Ia di suruh Kanzo untuk memanggil Haris, karena sebentar lagi waktunya meeting. Namun ternyata Haris dan Widuri sedang asik bermesraan di dalam.


"Awas kamu, Wid!" ancam Cici, kemudian mengetok pintu di depannya itu.


Tok tok tok!

__ADS_1


"Pak Haris!, meeting akan segera di mulai!" seru Cici dengan suara terdengar kesal.


"Ya! saya akan segera ke sana!" balas Haris berseru tanpa berniat membuka pintu karena keadaanya yang masih berantakan. Berhasil membuat amarah di dada Cici semakin membara.Tapi Cici harus menahannya, Karena tak ingin Haris marah padanya, dan mengingatkannya atas kebohongannya tentang kesuciannya. Dan Cici harus berusaha menyingkirkan Widuri dengan cara yang manis, tanpa harus mengotori reputasinya.


Cici pun menjauhi pintu ruangan Haris, melangkahkan kakinya masuk ke ruang meeting untuk mempersiapkan segala sesuatunya.


"Dimana Haris?"


Cici langsung menolah ke arah Kanzo yang baru masuk ke ruangan itu.


"Sebentar lagi datang, Pak. Dia lagi bersama Widuri di ruangannya" jawab Cici, wajahnya terlihat begitu tabah memiliki madu.


Kanzo pun menghela napasnya, kemudian mendudukkan tubuhnya di kursi yang biasa ia duduki di ruang meeting itu. Tak lama kemudian, anggota meeting pun mulai berdatangan, dan kini tinggal menunggu Pak Haris Sadad Darmawan yang terhormat.


"Maaf, terlambat" ucap Haris saat masuk ke ruang meeting itu, kemudian melangkah cepat ke arah depan layar yang ada di ruangan itu. Meeting pun di mulai, di pimpin oleh Pak Haris yang terhormat.


Sepeninggal Haris di ruang kerja pria itu. Widuri yang di kurung di dalamnya pun, menghubungi sahabatnya, Marya. Meminta tolong pada Marya untuk mengeluarkannya dari ruangan Haris.


"Marya, tolong aku. Aku di kurung Haris di ruang kerjanya" ucap Widuri.


"Kok bisa?" tanya Marya polos.


"Aku gak pegang kuncinya. Kanzo juga lagi meeting" balas Marya.


"Coba minta tolongin sama teknisi. Pasti mereka punya kunci cadangan ruangan ini" ucap Widuri.


"Oh iya, kamu benar. Sebentar, aku cari teknisi dulu." Marya yang duduk di kursi kerja suaminya pun berdiri, melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu untuk mencari teknisi. Setelah menemukan orangnya, Marya membawanya ke arah ruang kerja Haris.


Dan berhasil, akhirnya Widuri bisa keluar dari ruangan Haris. Marya dan Widuri pun segera meninggalkan gedung perusahaan, mereka pergi menghabiskan waktu berdua saja. Berbelanja, dan mencari makanan yang enak.


Haris yang sudah selesai meeting, langsung berjalan ke ruangannya. Sampai di sana, ternyata Widuri sudah tidak ada.


"Kemana dia?" gumam Haris. Haris pun segera memeriksa cctv di ruangan itu untuk mencari tau kemana istri bertubuh kurusnya itu pergi."Sudah ku duga" gumam Haris, melihat rekaman cctv ruangan itu ternyata Marya lah yang membebaskan Widuri. kemudian Haris beranjak dari tempat duduknya melangkah ke arah pintu.


"Haris"


Langkah Haris langsung terhenti melihat Cici datang ke ruangannya.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Haris memperhatikan wajah Cici.


"Tiba tiba aku pengen makan rujak, cariin" manja Cici memeluk tubuh Haris dan menyandarkan kepalanya ke dada pria itu.


"Ya udah, bentar aku cariin, tapi aku ke ruangan Kanzo dulu"ucap Haris mengusap lembut rambut Cici.


"Tapi aku ikut" manja Cici lagi memasang wajah Iba kepada Haris.


"Baiklah" pasrah Haris tidak tega jika haru menolak permintaan Cici. Padahal sebenarnya Haris ingin pergi mencari Widuri yang menghilang bersama istri dari bos besar perusahaan itu.


Cici pun tersenyum dan melepas pelukannya dari Haris, melangkahkan kakinya kembali ke meja kerjanya yang berada di depan ruangan Kanzo.


**


Di tempat lain


Dia orang wanita sama sama turun dari dalam sebuah taxi, dan sama sama melangkah masuk ke dalam sebuah pusat perbelanjaan. Wajah keduanya nampak sumiringah saat memasuki sebuah kios penjual pakaian wanita. Kedua wanita itu pun memilah Milah barang barang yang mereka butuhkan. Marya memang sengaja membawa Widuri, karena ia tau sahabatnya itu sedang galau dengan masalah yang menimpanya. Marya ingin memberikan sedikit hiburan untuk Widuri, dengan membawanya berbelanja dan mencari makanan kesukaan mereka.


"Sepertinya ini cocok untukmu."Marya menunjukkan sebuah dress pendek kepada Widuri.


"Tapi harganya mahal" ujar Widuri melihat harga baju itu setara dengan uang makannya sebulan.


" Ck! kan suami kamu kaya" Marya berdecak. Dulu Widuri lah yang mengajarinya untuk menghabiskan uang Kanzo, karena sudah menjadikannya istri simpanan.


"Tapi dia belum memberikan uang padaku" ucap Widuri.


"Tenang aja, biar nanti aku yang mengaturnya. Aku bisa menyuruh Kanzo untuk memotong gaji nya." Marya menarik turunkan kedua alisnya ke arah Widuri.


Widuri pun mengulas senyumnya, setuju dengan apa yang di katakan sahabatnya itu.


"Baiklah" ujar Widuri. Sudah dua kali Haris memaksanya berhubungan. Sebagai gantinya, Widuri akan menghabiskan uang Haris.


Puas berbelanja belanja, kedua wanita yang tengah hamil itu, pun mendudukkan tubuh mereka di salah satu restoran di dalam mall. Mereka memesan banyak makanan, dan makan sepuasnya.


"Ris, kita duduk di sana yuk!"


Refleks Widuri dan Marya menoleh ke arah sumber suara seorang wanita yang sangat mereka kenal.

__ADS_1


'Cici dan Pak Haris' batin Widuri menghentikan kunyahan nya.


*Bersambung


__ADS_2