Pria Yang Merenggut Kesucian Ku

Pria Yang Merenggut Kesucian Ku
Keterlaluan


__ADS_3

Widuri yang baru sadar, langsung membuka kelopak matanya dan memutar pandangannya ke setiap sudut ruangan yang asing baginya itu. Di sebuah kamar sederhana, tapi Widuri tidak bisa menebak sekarang ini ia berada dimana.


'Aku harus keluar dari sini.'


Widuri membatin sembari turun dari atas kasur tempatnya berbaring. Widuri berusaha membuka pintu kamar tersebut, namun sayang, pintu itu tidak bisa di buka karena di kunci dari luar.


'Ya Tuhan, bantu aku, aku gak tau bagaimana keadaan suamiku sekarang.'


Sekuat tenaga Widuri berusaha membuka pintu itu, tetap saja pintu itu tidak berhasil di bukanya. Tapi bagaimana pun caranya, Widuri harus bisa keluar dari kamar itu.


"Buka pintunya! hei ! siapa pun di luar, tolong buka pintunya!" Akhirnya Widuri berteriak meminta di bukakan pintu sambil memukul mukul pintu itu, karena pintu itu tak bisa di bukanya.


"Buka pintunya!" teriak Widuri lagi.


Prank! Buarr! Bukh!


Widuri melempari barang barang yang ada di kamar itu, karena tidak ada yang membuka pintu.


"Buka pintunya!."


Di luar kamar, seorang pria yang bertugas berjaga di pintu kamar itu, menutup kedua telinganya dengan tangan, karena tak kuat mendengar kekacauan dari dalam.


'Ck! wanita itu berisik banget sih' batin Pria itu mengganggu fokusnya bermain skater di ponselnya.


"Oke! kalau gak ada yang mau membuka!. Ku hancurkan kamar ini!." Meski tidak tau siapa orang yang menculiknya, tapi Widuri tidak takut untuk melawan.


Lagi lagi dari dalam kamar terdengar suara barang barang dilempar ke dinding, pintu dan kaca jendela kamar itu.


"Julian! kenapa kamu diam saja dan menutup telinga mu?, cepat buka pintunya!."


Pria yang bernama Julian itu langsung menurutkan kedua tangannya dari telinga, menoleh ke arah pria berkulit coklat itu.


"Baik, Bos" patuh Julian segera membuka pintu kamar yang di jaganya dari tadi.


Sedangkan Widuri yang berada di dalam kamar, langsung terdiam mendengar suara pria yang sangat di kenalnya.


'Itu seperti suara Ayah' batin Widuri.


Ceklek!


Mendengar pintu itu di buka, Widuri langsung menajamkan pandangannya ke arah pintu.


"Kamu sudah bangun?" tanya pria yang membuka pintu itu.


Melihat siapa pria itu, berhasil membuat Widuri membeku di tempatnya. Benda yang di pegangnya untuk memukul pintu kamar itu langsung terjatuh.


"Ayah" lirih Widuri, tak terasa air matanya mengalir begitu saja. Ternyata Ayah nya yang menculiknya. Ayah nya membunuh Haris, suami nya.

__ADS_1


"Kenapa kamu menghancurkan kamar ini? Hm!" tanya pria itu lembut tanpa merasa berdosa. Pria itu pun mendekati Widuri, mencoba menarik putrinya itu ke dalam pelukannya, namun Widuri langsung mendorong tubuh Ayahnya itu


"Apa maksud Ayah? kenapa Ayah membunuh suamiku? Kenapa Ayah menculik ku?" Bentak Widuri murka. Melebarkan penglihatannya ke arah Pak Hilman. Tangan Widuri terkepal kuat dan tubuhnya bergetar sangking emosi.


Widuri tidak menyangka jika Ayahnya bisa melakukan tindak kejahatan. Bahkan tega melakukannya pada menantu dan putrinya sendiri.


"Apa maksud Ayah?" tangis Widuri, hatinya terasa sangat sakit dan kecewa pada sang Ayah.


Pak Hilman tidak langsung menjawab, pria paru baya itu melangkahkan kakinya ke arah jendela kamar itu. Berdiri dengan posisi tangan di masukkan ke saku celana.


"Ayah terpaksa melakukannya" jawab pria itu.


"Terpaksa?" Widuri berbicara dengan mengeraskan rahangnya.


"Ayah terlibat kerja sama dengan Pak Dirga dan Baim" Pak Hilman menjeda kalimatnya sebentar untuk menghela napasnya terlebih dahulu.


"Kerja sama?." Apa maksud Ayahnya itu?. Semenjak kapan Ayahnya menjalin kerja sama dengan Baim dan Pak Dirga?.


Pak Hilman kembali memutar tubuhnya ke arah Widuri."Ayah adalah anak buah mereka" ucap Pak Hilman lebih jelas.


"Baim dan Pak Dirga tau kalau kalian akan berlibur ke Pulau ini. Baim menyuruh kami untuk menghabisi Haris. Ayah sengaja mengambil alih tugas itu supaya Haris tidak sampai mati terbunuh. Aku hanya menusuk sedikit ginjalnya, anggap itu hukuman untuknya yang pernah menyakitimu" ungkap Pak Hilman.


"Ayah keterlaluan" geram Widuri. tidak habis pikir dengan Ayahnya tega menusuk menantunya sendiri demi uang.


"Tetaplah di sini, Ayah harus pergi" pamit Pak Hilman langsung pergi.


**


Di tempat lain.


Seorang pria tersenyum lalu tertawa terbahak bahak setelah mendengar laporan dari anak buahnya. Tak lain pria itu adalah Baim. Pria di dalam telephon melaporkan kalau Haris sudah berhasil di bunuh.


"Kerja yang bagus" ucap pria itu setelah mendapatkan laporan dari anak buahnya.


'Sekarang tinggal menghabisi Kanzo hahaha!.' Baim tertawa dalam hati, lalu melempar ponselnya ke sembarang arah.


Baim pun keluar dari tempat persembunyian nya dengan melakukan penyamaran, supaya tidak bisa dikenali siapa pun.


'Kalian harus hancur.'


Baim membatin sambil mengendarai motornya, untuk berpindah tempat sementara waktu, supaya Haris dan Kanzo tidak bisa melacak keberadaanya. Tanpa Baim sadari ada orang yang mengikutinya dari belakang.


**


"Terus ikuti dia, tapi jangan sampai ketahuan. Saya akan menyusul kesana sekarang" ujar Kanzo melalui telephon genggam di tangannya.


"Baik, Bos" patuh pria yang mengikuti Baim dari belakang.

__ADS_1


Kanzo pun mematikan telephonnya dan bergegas keluar dari sebuah ruangan di perusahaannya di Pulau tersebut.


'Aku sudah terlalu lama membiarkan mu bermain main, Baim. Dan sepertinya aku sudah terlalu sering memaafkan mu yang ingin terus berusaha menghancurkan ku' batin Kanzo.


Sampai di halaman perusahaan miliknya itu, Kanzo langsung masuk ke dalam mobil. Seorang supir yang siap mengantarnya langsung melajukan kenderaan itu, di ikuti dua mobil pengawal dari belakang.


"Ke Rumah Sakit" perintah Kanzo singkat. Sebelum menemui keparat itu, Kanzo ingin melihat keadaan Haris lagi, dan memberitahu jika keberadaan Baim sudah terdeteksi.


Sampai di rumah sakit, Kanzo langsung ke ruang perawatan Haris.


"Haris! Haris!."


Pria yang tertidur dan terbaring lemah di atas brankar itu langsung terbangun mendengar suara berat Kanzo memanggilnya.


"Zo, mana istriku?" tanya Haris langsung. Meski ketiduran, ternyata otak pria itu tidak berhenti memikirkan Widuri.


"Belum di temukan, tapi tenang aja, orang orang kita akan terus mencarinya. Sekarang aku harus meninggalkan kalian sementara waktu di pulau ini. Keberadaan Baim sudah terdeteksi, aku harus memberinya pelajaran langsung" lapor Kanzo.


"Istriku, Zo. Aku gak peduli dengan Baim. Tolong Zo, tolong bawa istriku. Dia sedang hamil anak ku, Zo" Haris gusar. Istrinya di culik tapi ia tidak bisa berbuat apa apa.


"Tenanglah, aku mengerti perasaan mu. Aku pasti akan membawanya pada mu dengan keadaan baik baik aja. Aku janji, Ris. Kunci dari masalah ini adalah Baim. Jika Baim sudah berada di tangan kita, anak buahnya pasti akan mundur" jelas Kanzo.


"Bagaimana aku bisa tenang, Zo?." Haris menangis karena terlalu mengkhawatirkan Widuri."


"Bukankah kamu yakin, jika yang menculik Widuri, Pak Hilman?. Kamu tidak perlu terlalu khawatir. Dia pasti akan baik baik saja. Setelah membereskan Baim dan Pak Dirga. Kita bisa menemui Pak Hilman." Haris sudah memberitahu ciri ciri orang yang menikamnya dan menculik Widuri, yang mirip sekilas dengan Pak Hilma, Ayah Widuri sendiri.


"Bagaimana jika itu bukan Pak Hilman? dan hanya orang yang kebetulan mirip saja. Itu artinya istriku dalam bahaya, Zo,"


"Tenanglah, Ris. Semoga tidak terjadi apa apa pada Widuri. Kalau begitu aku berangkat dulu." sambil berpamitan, Kanzo menepuk bahu Haris pelan, untuk memberikan dukungan pada sahabatnya itu. Kanzo pun langsung berlalu dari ruang perawatan itu.


"Menantu"


Langkah Kanzo langsung terhenti dan menoleh ke arah Pak Maiman yang duduk di kursi tunggu, di depan ruang perawatan Haris.


"Ada apa Ayah?" gemas Kanzo, berpikir kalau Ayah mertuanya itu akan meminta uang lagi untuk di jadikan.


"Bagaimana kabar cucu ku? aku sudah sangat merindukan nya" jawab Pak Maiman. Serius, dia sudah merindukan baby Gavin, meski baru beberapa hari tidak bertemu.


"Dia baik dan sehat" jawab Kanzo.


"Ehem!" Pak Maiman berdehem.


Kanzo langsung melangkahkan kakinya, mengerti maksud deheman Ayah mertuanya itu. Kanzo berpikir, kok bisa bisanya dia punya mertua tengil dan candu main judi seperti itu?.


"Menantu!" seru Pak Maiman melihat Kanzo mengabaikannya."Ya Tuhan, kenapa aku punya menantu durhaka seperti itu" sesal Pak Maiman. Punya menantu kaya, bermimpi bisa hidup berfoya foya.


*Bersambung

__ADS_1


__ADS_2