
Sampai di perusahaan, Haris langsung membawa Widuri ke ruangannya. Layaknya orang yang lagi kasmaran, Haris tak ingin jauh dari Widuri. Haris ingin menempeli tubuh istrinya itu, supaya bisa mencium aroma yang menguar dari tubuh wanita berperut buncit itu.
"Aku ngerjain apa di sini" tanya Widuri. Selama ini Widuri bekerja di bagian resepsionis, tentu Widuri tidak mengerti dengan pekerjaan Haris.
Haris yang di tanya menarik kursi yang berada di depan mejanya, dan memindahkannya ke samping kursinya.
"Sayang, bantu aku bekerja ya. Pekerjaan ku sangat banyak" ujar Haris. Dia memang sangat butuh bantuan saat ini. Mungkin Widuri bisa membantunya dengan pekerjaan yang mudah mudah.
"Aku mana mengerti." Berkas berkas di meja Haris pasti sangat penting. Salah sedikit bisa berakibat fatal dan bisa mengalami kerugian yang besar.
"Aku akan mengajarinya" ujar Haris lagi.
"Nanti salah, gimana?" Widuri mendudukkan tubuhnya di kursi yang baru di pindahkan Haris.
"Aku yakin istriku ini sangat pintar" puji Haris. Meski sebenarnya istrinya itu memiliki otak yang pas pasan.
"Dusta" cibir Widuri.
"Buktinya istriku ini pintar mencari suami yang kaya dan tampan" ucap Haris memuji diri sendiri. Padahal kan dia yang membuat Widuri terpaksa menikah dengannya.
Widuri mendengus, namun wajahnya berbinar. Haris memang tampan dan kaya. Tapi bukan Widuri yang memilihnya, melainkan takdir mereka memang sudah berjodoh.
Ehem!
Haris berdehem lantas mengambil sebagian tumpukan berkas di atas mejanya dan memberikannya kepada Widuri.
"Kalau kamu berhasil mengerjakan ini, aku akan menaikan jabatan mu menjadi asisten ku."
Widuri langsung memutar bola mata mendengar apa yang dikatakan Haris barusan. Berpikir, tidak semudah itu menaikkan jabatan, meski itu istri sendiri.
Cup!
Satu kecupan pun mendarat di pipi Widuri.
"Ayo dengarkan, biar aku jelaskan" ucap Haris seperti perintah bos pada bawahannya. Berhasil membuat Widuri mengerucutkan bibirnya, imut.
Cup!
Lagi, Haris menjatuhkan kecupan di pipi Widuri dari samping. Melihat betapa menggemaskannya bibir istrinya itu yang meminta di cium.
"Ehem! dengarkan baik baik. Awas nanti kalau pekerjaan mu ada yang salah" ancam Haris.
"Kalau ada yang salah, kenapa?" tanya Widuri menatap wajah Haris yang sangat dekat di samping wajahnya.
__ADS_1
Haris pun membalas tatapan Widuri yang begitu menggodanya.
Ya Tuhan! coba saja pekerjaannya tidak menumpuk saat ini. Sudah di pastikan, Haris akan menghabisi wanita berwajah cantik itu sekarang juga.
"Tunggu hukuman mu di rumah" jawab Haris tepat di depan wajah Widuri. Berhasil membuat Widuri merinding si bulu roma, karena merasakan hangatnya sapuan napas Haris di kulit wajahnya.
"Bos mesum" cibir Widuri tersenyum ke arah Haris.
"Aissh! jangan menggodaku sekarang, sayang. Ayok dengarkan baik baik." Setelah mendecis Haris memerintah dengan tegas kepada Widuri.
Cup!
Kali ini Widuri yang mengecup pipi Haris. Berhasil membuat pria itu menunda untuk berbicara dan menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Tentunya gemas melihat tingkah istrinya itu.
Widuri melebarkan senyumnya melihat Haris mengeraskan rahangnya. Jelas sekali pria itu gemas melihatnya, ingin memakannya sampai habis.
Melihat Widuri tak segan melihatnya, Haris pun merubah tatapannya, yang tadi bersahabat menjadi mengerikan. Bukannya takut, Widuri malah menirukannya dengan lebih mengerikannya.
'Aku lupa, kalau istriku ini keturunan dari siluman barbar' batin Haris. mengingat betapa garangnya Ayah Widuri dulu saat memintanya bertanggung jawab untuk menikahi Widuri.' Baiklah istriku, sepertinya kamu minta di makan sekarang.'
Dengan pelan Haris mengulurkan tangannya ke paha Widuri, menarik dress wanita itu perlahan ke atas dan meraba raba kulit halus dan mulus itu.
"Ukh!"
"Sayang!" tegur Haris dengan suara manjanya. Widuri benar benar mengerjainya, padahal Haris tadi serius meminta bantuannya.
Widuri pun tertawa kecil, telah berhasil mengerjai Haris.
"Kamu jahil banget sih" Haris mengembangkan pipinya, cemberut.
"Cup cup cup! suami ku merajuk." Widuri meletakkan kedua telapak tangannya di kedua pipi Haris, lalu mengecupi bibir pria itu bertubi tubi.
"Aku serius sayang. Pekerjaan ku sangat banyak. Kepalaku sudah hampir pecah memikirkannya. Belum lagi Minggu depan aku harus ke luar kota." Haris mengeluh sambil menggaruk garuk kepalanya dengan kasar.
"Trus pulang ke kampung ku kapan?." Widuri menekuk bibirnya ke bawah.
Biar bagaimana pun, Widuri harus menyiarkan berita pernikahannya di kampung halamannya. Supaya orang orang di kampungnya tau kalau dia sudah menikah. Tidak kaget nantinya, ketika Widuri pulang kampung sudah punya anak.
Haris pun terdiam, tidak bisa memastikan kapan bisa pulang ke kampung Widuri.
"Aku juga pengen di buatkan resepsi pernikahan. Kecil kecilan aja, gak apa apa" ucap Widuri menatap Haris dengan raut wajah sedih.
"Tapi sekarang aku sangat sibuk. Mungkin setelah Kanzo kembali aktif ke kantor. Baru aku bisa membagi waktu." Permintaan istrinya itu sangat sederhana. Pulang kampung untuk membuat acara resepsi pernikahan kecil kecilan. Pasang tenda di depan rumah, sewa pelaminan seadanya, dan di ramaikan orgen tunggal dengan musik dangdutan.
__ADS_1
"Tapi jangan sampai aku melahirkan" ucap Widuri lagi. Kalau sudah punya bayi, Widuri tidak akan bisa menikmati pestanya sendiri. Karena akan terganggu dengan Dede bayi yang sering minta menyusui nantinya.
"Iya, sayang" Haris mengusap lembut kepala Widuri, menjadi kasihan melihat istrinya itu."Sudah bisa kan di mulai pekerjaannya?."
Jam sudah hampir menunjukkan pukul delapan, sebentar lagi akan masuk jam kerja. Dan tidak lama lagi Haris harus menghadiri rapat di luar perusahaan. Sebelum itu, Haris harus selesai menjelaskan pekerjaan kepada Widuri tercinta.
Widuri mengangguk dan Haris pun mulai menjelaskan materi yang harus di kerjakan Widuri. Meski dengan raut wajah sedih yang di buat buat, Widuri tetap menyimak dengan baik apa yang dijelaskan Haris.
Saat menjelaskan materi pekerjaan pada Widuri. Tiba tiba terdengar bunyi telepon panggilan masuk dari hape Haris. Membuat Haris terpaksa berhenti menjelaskan.
"Sebentar sayang" ucap Haris lantas mengambil telephon genggamnya itu dari atas meja dan langsung mendial tombol hijau di hapenya.
"Halo, selamat pagi" sapa Haris langsung.
"Selamat pagi juga, Pak Haris" balas suara pria dari sebrang telephon."Begini Pak Haris, saya hanya ingin menyampaikan, kalau kami pihak dari kepolisian sudah menangkap Cici dan Ibunya. Kami sudah memasukkan mereka ke sel tahanan" jelas pria dari sebrang telephon itu.
"Trimakasih atas bantuannya, Pak. Untuk proses hukum selanjutnya, saya akan mengirim pengacara saya untuk mengurusnya" ucap Haris bernapas lega. Akhirnya masalah rumah tangganya dengan Cici, selesai. Dan sekarang Haris bisa fokus untuk menata masa depan rumah tangganya bersama Widuri.
"Sama sama, Pak Haris. Trimakasih juga atas kerja samanya" balas polisi itu."Kalau begitu, selamat pagi sekali lagi Pak Haris" ucap polisi itu untuk mengakhiri pembicaraan mereka.
"Selamat pagi juga" balas Haris.
Sambungan telephon itu pun terputus.
Haris tersenyum dan menghembuskan napasnya, lega.
"Telephon dari siapa?." Badut tawon itu langsung saja kepo.
"Dari kantor polisi, Cici dan Ibunya sudah di masukkan ke sel tahanan" jelas Haris. Nampak sekali beban di wajahnya langsung berkurang. Terlihat lebih bersinar dari sebelumnya.
"Bagus dong, akhirnya cuma aku istri Pak Haris satu satunya" ujar Widuri senang. Dia sudah tidak perlu di gilir lagi seperti selama ini. Meski sebenarnya dia tidak pernah di gilir karena selalu menolak Haris.
"Kamu senang sekarang?" Haris memeluk tubuh Widuri yang duduk di sampingnya."Tapi kamu harus siap siap tenaga setiap malam untuk melawanku."
"Aku gak mau" tolak Widuri mentah mentah. Mana sanggup jika harus gelut setiap malam. Mana badan Haris besar lagi.
"Kamu harus mau sayang. Tidak bisa, tidak." Haris mengecupi telinga Widuri dan melahapnya sampai basah. Berhasil membuat wanita hamil itu membeku dan merinding dan wajah Widuri pun terlihat merona.
Melihat itu Haris tersenyum, istrinya itu sangat mudah tergoda sekarang, tidak seperti sebelumnya, tidak mau sama sekali melayaninya.
"Aku tau kamu juga menyukainya, sayang. Nanti di rumah ya" bisik Haris ke telinga Widuri.
Waktu pun terus berlalu, yang di lewati berkerja sambil mesra mesraan, sehingga waktu tak terasa sudah menunjukkan sore hari.
__ADS_1
*Bersambung