
'Aaakh! Kenapa aku merasa seperti dipermainkan?' batin Cici menatap punggung Haris yang menghilang di balik pintu.
Kemudian Cici mengacak ajak rambutnya frustasi, hasratnya sudah berada di ubun ubun, namun ia tidak bisa menyalurkannya. Tidak ada pilihan lain selain keluar dari dalam ruangan itu dan meninggalkan gedung perusahaan.
"Mau kemana dia?" tanya Widuri yang ikut memperhatikan Cici dari rekaman cctv perusahaan itu lewat handphon Haris di atas meja.
"Gak tau sayang" jawab Haris menyuapkan makanan ke mulut Widuri yang duduk di sampingnya.
Marya yang duduk di sofa depannya memutar bola mata malas. Entah kenapa, istri dari Kanzo itu sangat tidak menyukai Haris semenjak pria itu memerawani Widuri. Meski Haris bertanggung jawab,tetap aja Marya tidak suka melihat pria itu.
Kanzo yang duduk di samping Marya, mengusap dada wanita itu supaya bisa bersabar dan menahan emosi melihat wajah Haris.
"Ayo, sudah waktunya anak ku istirahat siang" ajak Kanzo. Meski memberi ijin istrinya itu membantunya di perusahaan, tapi tetap saja Kanzo tidak mau sampai istrinya itu kelelahan. Setiap siang, Kanzo akan menyuruh istrinya itu untuk tidur siang di kamar pribadi yang ada di dalam ruang kerjanya.
"Sebentar lagi, perutku masih kenyang" tolak Marya.
Kanzo tidak peduli dengan penolakan Marya, Ia pun berdiri dari kursinya dan langsung mengangkat tubuh Marya, membawanya masuk ke dalam kamar di ruangan itu.
Sampai di ruangan itu, Kanzo naik ke atas kasur tanpa menurunkan Marya dari kendongannya. Setelah memperbaiki posisi duduk Marya di antara kedua kakinya dan menyandarkannya ke dadanya, Kanzo pun mengusap usap kepala wanita itu dari belakang supaya cepat ketiduran.
"Pak Kanzo memperlakukan ku seperti anak kecil" ujar Marya tersenyum, senang di manja manja seperti itu.
Begitulah wanita, semandiri mandirinya wanita, dia pasti akan butuh di manja manja suaminya.
"Hm! kamu memang anak kecil. Ayo pejamkan matanya, jangan senyum senyum begitu" ujar Kanzo. Pekerjaannya sangat banyak, malah istrinya itu menambah kerjaannya setiap di siang hari.
"Aku bisa tidur sendiri, kenapa mesti di tidurin seperti ini?. Bilang aja Pak Kanzo juga mengantuk" ujar Marya lagi.
"Ayo tidur."
Yang benar saja, bukan Marya yang duluan ketiduran, tetapi Kanzo. Wajar saja suaminya itu mengantuk, karena suaminya itu hampir setiap malam kerja larut malam.
Marya pun memejamkan matanya, menyusul Kanzo ke alam mimpi di siang itu.
Sedangkan Haris dan Widuri yang masih berada di ruang kerja Kanzo. Masih asyik menikmati makanan mereka.
"Udah, gak mau lagi" ujar Widuri kepada Haris yang menyuruhnya makan harus banyak.
"Sekali lagi ya" bujuk Haris. Berharap tubuh istrinya itu bisa berotot sedikit lagi, biar gak terlalu kurus. Pasti istrinya itu kelihatan bertambah cantik.
"Udah gak bisa" tolak Widuri.
"Sekali lagi" ujar Haris, memaksa Widuri menerima suapan dari tangannya.
__ADS_1
"Benar ya sekali lagi?."
"Hm!" Haris berdehem.
Widuri pun menerima suapan terakhir dari suaminya itu.
"Pak Haris kok gak makan?" tanya Widuri melihat Haris langsung merapikan meja sofa yang berantakan dengan beberapa kotak makanan dan botol minuman.
"Tadi aku sudah makan" jawab Haris, widuri langsung mengerucutkan bibirnya.
"Pembantu yang memasak makanan itu, bukan Cici. Dia hanya membawanya saja" ucap Haris tersenyum melihat wajah cemberut Widuri. Haris senang kalau Widuri cemburu pada Cici. Itu artinya Widuri mencintainya.
"Kenapa tadi gak menyuruh perawat yang tinggal di apartement memasak bubur untuk Pak Haris?." Widuri menatap Haris tak suka.
"Aku lupa" jawab Haris mengacak acak ujung kepala Widuri dengan gemas. Istrinya itu terlihat menggemaskan sekali kalau lagi cemburu seperti itu.
Vidio cctv yang tersambung langsung ke handphon Haris yang terletak di atas meja, seketika terhenti karena ada panggilan masuk. Haris yang melihatnya langsung mengambil ponselnya dan menerima panggilan telephon itu.
"Ya, halo!" ucap Haris setelah menempelkan benda pipih itu di telinganya.
"Nona Cici masuk ke sebuah hotel Pak" lapor seorang pria dari dalam telephon.
Haris terdiam sejenak dan menarik napasnya dalam sambil berpikir, siapa yang akan di temui Cici di hotel.
"Baik, Pak" patuh pria itu.
"Terus kirim laporan pada saya" ucap Haris lagi.
"Siap, Pak"
"Hm!" Haris pun mematikan sambungan telephonnya.
"Dari siapa?" tanya Widuri mendongak ke arah Haris yang berdiri di sampingnya.
"Orang yang terus mengawasi pergerakan Cici" jawab Haris.
Setelah selesai membersihkan meja sofa itu, Haris pun membawa Widuri ke ruangannya.
"Ayo sayang, kamu juga harus istirahat" ucap Haris membawa Widuri ke sofa yang ada di ruangannya.
"Aku gak mau, ini sudah masuk jam kerja" tolak Widuri, merasa tidak enak hati dengan teman satu profesinya yang berjaga sendiri di lantai satu gedung perusahaan itu.
"Istirahat atau ku pecat" ancam Haris. Istri mudanya itu memang sangat keras kepala dan selalu berani membantahnya.
__ADS_1
"Ini kan perusahaannya Pak Kanzo, Pak Haris gak bisa memecat ku" ujar Widuri melangkahkan kakinya ke arah pintu ruangan itu.
"Tapi aku juga bos di sini. Aku juga berhak memecat siapa pun di sini" balas Haris, menahan pintu yang hendak di buka oleh Widuri."Ayolah kita menghabiskan waktu di sini. Nanti malam aku harus pulang ke rumah."
Wajah Widuri langsung cemberut dan mengalihkannya ke arah lain, tak suka mendengar apa yang di katakan Haris barusan. Nanti malam adalah giliran Cici bersama Haris.
"Aku tidak akan menyentuh Cici lagi" ucap Haris, tanpa aba aba mengangkat tubuh Widuri dan membawanya ke arah sofa.
"Bohong" ucap Widuri.
"Serius, nanti kamu bisa memantaunya lewat laptop itu. Aku sudah memasang cctv di kamar Cici" jelas Haris.
Widuri semakin memanyunkan bibirnya, tidak percaya sama sekali kalau Haris tidak akan menyentuh Cici.
"Aku gak yakin."
"Terserah kamu" Haris membaringkan tubuh Widuri di sofa. Setelah mendudukkan tubuhnya di samping Widuri, tangan pria itu terulur untuk mengusap usap kepala Widuri.
"Aku gak mau tidur" Widuri berusaha mendudukkan tubuhnya, namun Haris langsung menahannya.
"Kenapa sih kamu itu bandel, selalu saja membantah." Haris memutar bola mata malas. Susah sekali menghadapi Widuri, tidak seperti Cici yang selalu penurut.
"Orang gak ngantuk di paksa tidur." Widuri berusaha untuk duduk lagi, dengan cepat Haris langsung menahan tubuhnya.
"Tidur Wid, atau mau ku tiduri?" ancam Haris.
"Gak!" tolak Widuri dengan cepat.
Haris memutar bola mata lagi mendengar Widuri menolaknya. Padahal Widuri istrinya, mencintainya, tapi wanita itu enggan melayaninya. Apa istrinya itu gak kangen dengan belaiannya yang memabukkan?. Atau Jagan jagan istrinya itu gak normal, alias gak punya nafsu.
"Kenapa? Kamu itu istriku?."
"Udah ku bilang, selagi Cici masih berstatus istrinya Pak Haris, aku gak mau di sentuh" jawab Widuri.
"Makanya, layani aku biar aku gak menyentuhnya." Haris menjadi kesal melihat Widuri. Karena Widuri tidak paham dengan kebutuhan biologisnya. Apa lagi Haris pria yang sudah merasakan surga Dunia, tentu pria itu terus menginginkannya lagi dan lagi.
"Sentuh aja, yang penting jangan menyentuhku setelah menyentuhnya."
"Kamu itu istri durhaka." Haris berdiri dari tempat duduknya dan melangkahkan kakinya ke arah meja kerjanya. Meladeni Widuri berdebat akan membuatnya semakin tambah kesal. Widuri adalah sosok istri yang selalu membuatnya gemas dan ingin marah.
"Dari pada Pak Haris, suami serakah" Balas Widuri mencibir Haris dari sofa.
"Wid!" tegur Haris menatap Widuri marah, berhasil membuat Widuri menciut.
__ADS_1
*Bersambung