
"Ris, lebih baik hari ini kamu gak usah ke kantor dulu. Nanti aku akan menyuruh orang untuk mengantar pekerjaan mu ke sini" ucap Cici setelah selesai membungkus luka di kaki Haris.
"Iya, sepertinya aku akan kesusahan berjalan dengan kaki terluka. Hari ini ada sekretaris baru di bagian keuangan. Suruh dia ke sini bersama orang yang akan mengantar pekerjaan ku. Aku ingin melihat kemampuan karyawan baru itu" ujar Haris.
"Oke, baiklah, kalau begitu aku berangkat kerja dulu. Huh! aku sudah terlambat bangat. Entah sampai kapan pekerjaan ku menumpuk. Aku juga lagi hamil, tapi Pak Kanzo masih memberiku banyak pekerjaan" oceh Cici sembari merapikan kembali penampilannya.
Selesai merapikan penampilannya, Cici mendekati Haris kembali untuk mengecup bibir pria itu.
"Aku pergi dulu" pamit Cici sekal lagi lantas melangkahkan kakinya keluar dari dalam kamar.
Melihat Cici sudah menghilang di balik pintu, Haris langsung meraih ponselnya dari atas meja nakas, Haris langsung menghubungi nomor seseorang.
"Ikuti kemana pun dia pergi" perintah Haris pada pria di balik telephon.
Baik, Pak Bos" patuh pria itu.
"Hm!" Haris pun langsung mematikan sambungan telephonnya kemudian berdiri dari sofa, melangkahkan kakinya berjalan keluar dari kamar itu. Haris memilih untuk menempati kamar yang pernah di tempati Widuri di rumah itu. Kamar itu lebih terasa nyaman bagi Haris, apa lagi di dalam kamar itu masih menyisakan aroma tubuh Widuri, yang mampu menenangkan pikirannya seperti aroma terapi.
Sampai di depan rumah, Cici langsung masuk ke dalam mobil yang akan mengantarnya kemana pun dia mau.
"Ke rumah sakit, Pak" perintah Cici sembari menutup pintu di sampingnya.
Tanpa menjawab supir itu pun langsung melajukan kendaraannya.
Sampai di rumah sakit, Cici langsung menemui Dokter yang di hubunginya semalam. Lalu memberikan sebuah kain yang di bungkus plastik kepada Dokter itu.
"Ingat, Dok. Jangan sampai ada yang mengetahui kalau aku melakukan tes DNA" ujar Cici.
"Jangan khawatir Nona. Dan silahkan berbaring di sana." Dokter itu menerima kain putih yang terdapat bercak darah itu, kemudian berdiri dari kursinya, melangkah ke arah bad pemeriksaan di ruangan itu.
Cici pun mengikutinya dan membaringkan tubuhnya di atas brankar di ruangan Dokter itu.
**
"Widuri barusan bilang kalau Haris merekomendasikan Adik Widuri menjadi sekretaris di bagian keuangan" ucap Marya pada Kanzo yang sibuk menimang nimang bayi mereka.
__ADS_1
"Iya, Haris ingin segera mengakhiri hubungannya dengan Cici. Tapi sebelum itu, Haris harus menyediakan sekretaris baru untukku" jawab Kanzo.
Marya mengerutkan keningnya. Bukankah Haris dan Widuri akan bercerai setelah Widuri melahirkan?, pikirnya.
"Maksudnya?" tanya Widuri.
"Aku yang meminta Haris untuk tidak menceraikan Cici dulu." Kanzo menjeda kalimatnya saat akan meletakkan bayi laki laki itu ke dalam box bayi yang berada di samping brankar Marya." Perusahaan lagi bermasalah, banyak pekerjaan yang harus ku bereskan. Meski sudah kamu bantu, aku masih kewalahan menghadapinya. Kalau membuang Cici sekarang, aku dan Haris semakin keteter mengurus perusahaan. Dan mencari sekretaris baru itu juga tidak mudah."
"Kalian memang gak punya perasaan. Kasihan Widuri terus terus diabaikan Pak Haris" ucap Marya terdengar kesal. Capek capek selama ini emosi melihat sikap Haris pada Widuri. Ternyata suaminya itu dalang dari semuanya.
"Lebih kasihan lagi nasib semua karyawan perusahaan, kalau sempat perusahaan kita gulung tikar" balas Kanzo.
"Tapi kalian mengorbankan perasaan Widuri" ucap Marya lagi.
"Itu urusan Haris. Dan juga Widuri sahabat mu itu terlalu keras kepala. Dia tidak mau melayani Haris sama sekali" balas Kanzo.
Marya pun terdiam dan mengerutkan keningnya. Meski Widuri adalah sahabat dekatnya, tapi sahabatnya itu tidak pernah cerita masalah urusan ranjangnya dengan Haris. Marya tidak tau kalau Widuri tidak mau melayani Haris.
"Masa sih?"
"Udah, ga usah kita ngurusin urusan rumah tangga mereka. Masalah di dalam rumah tangga itu biasa terjadi" ujar Kanzo.
"Iya, tapi dari awal menikah, Haris selalu mengabaikan Widuri. Dia lagi hamil, dia butuh perhatian lebih dari Pak Haris. Tapi Pak Haris tidak memahami berada di posisi Widuri. Mual dan muntah setiap pagi, rasanya itu sangat sakit. Belum lagi merasakan perut lapar tapi gak berselera makan. Tidur juga tidak bisa tenang, sudah mencari posisi nyaman. Belum lagi badan sering terasa pegal, pengen di urut setiap hari. Kalian laki laki tidak merasakan itu. Makanya kalian tidak mengerti dengan wanita hamil" oceh Marya panjang lebar.
"Belum lagi harus melahirkan, kalian tidak tau bagaimana rasa sakitnya. Sakit banget, rasanya mau mati" lanjut Marya lagi.
Cup!
Satu kecupan pun mendarat di kening Marya dari pria tampan yang duduk di pinggir brankarnya.
"Itulah sebabnya seorang suami mati matian mencari uang untuk membahagiakan istrinya. Karena laki laki tidak akan pernah bisa membalas jasa seorang istri yang melahirkan anak untuknya. Selain memberikan kasih sayangku, hanya itu yang bisa kulakukan. Mencari uang sebanyak banyaknya untuk memenuhi kebutuhan istriku ini." Kanzo mengelus lembut pipi Marya.
Marya tersenyum mendengar penuturan Kanzo barusan." Trimakasih, tapi aku lebih membutuhkan kasih sayang dan perhatian Pak Kanzo, dari pada uang yang melimpah."
"Keputusanku menikahi mu dulu memang tidak salah. Aku sudah menduga itu, kamu adalah wanita yang penuh cinta kasih sayang."
__ADS_1
"Gombal"
Kanzo tertawa cekikikan.
**
Haris meletakkan berkas di tangannya saat melihat handphonnya berbunyi. Haris langsung menerima panggilan telephon dari seseorang itu.
"Hm" gumam Haris memerintahkan orang di balik telephon untuk memberika laporan padanya.
"Nona Cici ke rumah sakit, dia melakukan tes DNA" lapor pria di balik telephon itu tanpa basa basi lagi.
Sontak Haris mengerutkan keningnya. Tes DNA? pikir Haris. Ngapain Cici melakuka Ter DNA. Tapi ter DNA dengan siapa?.
"Tes DNA dengan siapa?" tanya Haris.
"Saya belum tau Bos. Kami tidak bisa mencari informasi lainnya di rumah sakit itu."
"Hm!, ya sudah, biar itu menjadi urusan saya. Awasi terus kemana dia pergi" ujar Haris.
"Baik, Bos"
Haris pun mematikan sambungan telephonmya sepihak. Kemudian menghubungi no seseorang yang bisa dimintanya informasi tentang tes DNA di rumah sakit dimana Cici melakukan tes DNA. Tentu tidak sulit bagi Haris untuk mendapat informasi itu, karena rumah sakit itu masih memiliki kerja sama dengan rumah sakit milik Haris sendiri.
Pulang dari rumah sakit, Cici langsung ke perusahaan. Hari sudah menjelang siang, Cici baru sampai. Widuri yang melihatnya menatap malas pada Cici yang masuk ke ruangan itu. Tapi yang menjadi pertanyaan di pikiran Widuri, dimana Haris? Kenapa tidak masuk kerja?. Bukankah tadi Haris ke rumah utama untuk menjemput Cici. Lalu pergi kemana pria itu?.
Melihat wajah bingung Widuri. Cici pun melangkahkan kakinya mendekati Widuri.
"Haris istirahat di rumah. Tadi dia kelelahan setelah bercinta denganku" bisik Cici untuk memanas manasi Widuri.
"Yakin?" Widuri mencibir. Meski sebenarnya percaya dengan yang dikatakan Cici. Tapi Widuri tidak mau sampai terpancing emosi oleh wanita siluman itu.
"Yakinlah!" balas Cici.
"Kalau Pak Haris sampai terkapar, seharusnya kamu dong yang lebih terkapar lagi." Widuri menarik sebelah sudut bibirnya ke samping dan mengembangkan lobang hidungnya.
__ADS_1
Cici langsung terdiam dan mendengus lalu pergi meninggalkan Widuri karena kalah telak. Benar yang dikatakan Widuri. Kalau Haris sampai terkapar, seharusnya dia lebih terkapar lagi. Ketahuan sekali kalau ia berbohong.
*Bersambung