Pria Yang Merenggut Kesucian Ku

Pria Yang Merenggut Kesucian Ku
Berani macam macam


__ADS_3

Mengingat tadi Haris meminta untuk diantarkan pekerjaannya ke rumah dan meminta karyawan baru itu untuk menemuinya di rumah. Cici melangkahkan kakinya ke ruangan sekretaris di bagian keuangan perusahaan itu.


"Permisi" ucap Cici.


Nala yang sibuk mempelajari pekerjaan barunya langsung menoleh ke arah wanita hamil yang berdiri di depan meja kerjanya itu.


"Iya Bu, ada yang bisa saya bantu?" tanya Nala dengan sopan.


"Kamu sekretaris baru itu ya?. Perkenalkan, nama saya Cicilia Calestra. Sektretaris dari Direktur utama perusahaan ini." Cici mengulurkan tangannya dan tersenyum ramah pada Nala.


'Oo ini istri pertama Kak Haris. Kelihatannya baik dan ramah. Masa sih wanita itu selicik dan sejahat itu?' batin Nala memperhatikan wajah Cici. Nala pun berdiri dari kursinya, menyambut ramah tangan Cici.


"Nama saya Nala Diva" ucap Nala memperkenalkan diri.


"Oh Ya, saya ke sini untuk menyampaikan, kalau Pak Haris meminta Anda menemuinya di rumah sekarang juga. Anda nanti akan pergi bersama seorang karyawan yang akan mengantar pekerjaan Pak Haris ke rumah. Silahkan tunggu di loby. Nanti orang itu akan menunggu Anda di sana" ucap Cici mengatakan maksud kedatangannya ke meja Nala.


"Baik, Bu, Trimakasih" balas Nala.


"Kalau begitu saya permisi" pamit Cici langsung melangkah kan kakinya meninggalkan meja kerja Nala.


'Kenapa Kak Haris menyuruhku ke rumahnya?. Apa hari ini Kak Haris gak masuk kerja?' batin Nala sembari memperhatikan punggung Cici yang semakin menjauh.


Nala pun merapikan meja kerjanya, kemudian melangkahkan kakinya meninggalkan meja kerjanya. Sampai di ruang loby perusahaan, Nala menghampiri Widuri yang lagi sibuk bekerja.


"Kak Wid" Panggil Nala.


Widuri langsung menoleh ke arah Nala yang melangkah ke arahnya.


"Aku di minta Kak Haris ke rumahnya." Nala berbicara berbisik ke telinga Widuri supaya wanita yang duduk di sebelah Widuri tidak mendengarnya.


Widuri mengerutkan keningnya ke arah Nala," Untuk apa?."


Nala menggelengkan kepalanya, memang tidak tau alasan Haris menyuruhnya datang ke rumahnya.


Widuri pun jadi terdiam dan berpikir hal hal yang buruk. Jangan jangan Haris ingin menjebak adiknya. Tidak tidak tidak. Widuri tidak mau sampai hal buruk yang menimpanya, menimpa Adiknya juga.


"Aku ikut" Widuri berdiri dari kursinya dan langsung menarik tangan Adiknya itu membawanya keluar gedung perusahaan.


Widuri pun membawa Nala masuk ke dalam sebuah mobil yang terparkir di halaman perusahaan itu. Seorang wanita yang bekerja sebagai supir pribadi langsung menyusul masuk.

__ADS_1


"Ke rumah Pak Haris" ujar Widuri kepada supir wanita itu.


"Siap Non" balas wanita yang duduk di kursi pengemudi mobil itu dan langsung melajukan nya secara perlahan.


"Kak Wid, Istri pertama Kak Haris gak tau kalau aku adiknya Kak Wid. Dan juga tadi dia menyuruhku pergi bersama seorang Karyawan yang akan mengantarkan pekerjaan Kak Harus. Nanti orang itu menunggu ku di loby gimana?" oceh Nala.


Statusnya sebagai Adik dari Widuri kan harus di rahasiakan sementara. Kalau mereka terlalu dekat begini, pasti orang orang jadi bertanya tanya. Apa lagi Cici, bisa bisa curiga dengan Nala.


"Emang kenapa kalau siluman itu tau kalau kamu Adikku?" heran Widuri mengerutkan keningnya.


Nala menghela napasnya, sebenarnya dia dipanggil bekerja di perusahaan itu kan untuk menggantikan Cici nantinya. Tapi Cici dan karyawan lain gak boleh tau, sebelum misi untuk menyingkirkan Cici di lakukan.


"Kak Haris menyuruhku untuk merahasiakan itu untuk sementara waktu" jawab Nala. Biar nanti Haris yang menjelaskan pada Widuri, apa maksud dan tujuan pria itu mendatangkannya ke kota.


Sampai di halaman rumah keluarga Darmawan, supir wanita itu langsung memarkirkan kendaraannya tepat di depan pintu masuk rumah itu.


"Trimakasih" ucap Widuri saat tangannya berusaha membuka pintu mobil itu.


"Sama sama, Non" balas supir itu.


Widuri dan Nala pun keluar dari dalam mobil. Widuri membawa Adiknya itu masuk ke dalam rumah untuk menemui Haris.


"Tadi di kamar Nona" jawab pembantu itu.


"Makasih Bi" balas Widuri menarik tangan Nala berjalan ke arah tangga rumah itu.


Sampai di lantai dua rumah itu, Widuri melangkah ke arah pintu kamar Cici, dan langsung menggedor.


"Pak Haris!" seru Widuri sambil tangannya memukul mukul pintu di depannya.


"Kak, ada apa? Kenapa Kak Wid emosi begitu?" tanya Nala heran. Kakaknya itu sudah mirip Mama mereka, galak.


"Pak Haris! buka pintunya!" seru Widuri lagi. Entah kenapa tiba tiba emosinya sampai ke ubun ubun setelah Nala mengatakan, kalau Haris meminta Adiknya itu untuk menemuinya di rumah.


Sekelebat bayangan saat Haris merenggut kesuciannya berputar di memori ingatannya. Widuri khawatir jika Haris akan melakukan hal yang sama pada Adiknya itu.


"Pak Haris! buka pintunya!." Suara Widuri semakin kencang memanggil Haris yang belum juga keluar dari dalam kamar itu.


Sedangkan Haris yang berada di kamar sebelah, mengerutkan keningnya mendengar samar samar suara seorang wanita yang sangat mirip dengan suara Widuri.

__ADS_1


'Seperti suara Widuri' batin Haris, fokusnya menjadi terganggu mendengar suara samar samar yang meneriaki namanya itu.Karena penasaran, Haris pun memutuskan keluar dari dalam kamar itu.


"Widuri, sayang" panggil Haris melangkahkan kakinya ke arah Widuri dan Nala dengan sedikit pincang.


Widuri dan Nala yang mendengar suara Harus langsung memutar tubuh mereka ke arah pria itu. Pandangan Widuri langsung terarah ke kaki Haris yang di balut perban.


"Aku di kamar mu, kenapa kamu mencariku ke kamar Cici?." Haris bertanya sambil mengusap lembut kepala Widuri, kemudian mengecup keningnya setelah langkahnya berhenti tepat di depan Widuri.


Widuri langsung memutar bola mata malas melihat manisnya perlakuan Haris padanya. Pria itu sering kali seperti itu, sebentar membuatnya melayang, sebentar menjatuhkannya lagi.


"Nala, apa kabar?" tanya Haris tersenyum pada Nala yang berdiri di samping Widuri.


"Baik Kak Haris" balas Nala.


"Ayo, kita bicara di dalam kamar Widuri" aja Haris menggandeng tangan Widuri masuk ke kamar yang pernah di tempati Widuri di rumah itu, di ikuti Nala dari belakang.


'Kak Haris kelihatannya sayang banget sama Kak Wid. Tapi kenapa Kak Wid keras kepala Sama Kak Haris ya?' batin Nala bertanya.


"Nala, tutup pintunya dan kunci" ucap Haris pada Nala yang ikut masuk ke dalam kamar itu.


"Iya, Kak" patuh Nala. Lalu memutar pandangannya ke setiap sudut kamar itu. Kamar yang luas dan mewah itu.Betapa beruntungnya Kakaknya mendapatkan suami sekaya itu, pikir Nala.


"Kenapa Pak Haris menyuruh Adikku menemui Pak Haris di rumah ini?" tanya Widuri langsung sebelum Haris sempat mendudukkan tubuhnya di sofa.


"Aku harus mentraningnya menjadi sekretaris Direktur. Tapi hari ini kaki ku lagi sakit, aku gak bisa berangkat ke kantor" jawab Haris apa adanya.


"Kan bisa besok besok, gak perlu harus memintanya ke sini" cetus Widuri.


Haris menghela napasnya, bisa menebak kalau istrinya itu sudah salah sangka padanya.


"Duduklah, jangan marah marah tidak jelas seperti itu." Haris menarik lembut tangan Widuri, supaya wanita itu duduk di sampingnya.


"Awas kalau Pak Haris berani macam macam sama Adikku" ancam Widuri, wajahnya nampak galak tak bersahabat.


Haris menghela napasnya lagi, melihat sifat arogan istrinya itu keluar. Meski pernah melakukan kesalahan besar pada Widuri. Tapi Haris tidak seburuk itu, mengembat semua wanita untuk pengobat dahaganya.


"Nala, duduklah. Kamu pelajari ini semua. Kalau nanti kamu gak paham, kamu bisa bertanya sama aku" ujar Haris meletakkan beberapa berkas di depan Nala yang baru mendudukkan tubuhnya di sofa yang bersebrangan dengan Haris dan Widuri.


*Bersambung

__ADS_1


__ADS_2