
"Gak masalah jika Pak Haris menceraikan ku. Tapi yang jelas, anak di perutku inilah salah satu yang menjadi pewaris kekayaan Pak Haris. Karena apa...."
Widuri menggantung kalimatnya dan menarik satu sudut bibirnya ke atas, kemudian membungkukkan tubuhnya sampai wajahnya sejajar dengan telinga Cici.
"Kau tidak mengandung anaknya Pak Haris" ucap Widuri dengan pelan tapi sangat jelas di telinga Cici. Berhasil membuat Cici membeku seperti manusia patung bernapas.
Widuri pun meluruskan kembali tubuhnya, dan langsung melangkahkan kakinya dengan senyum merekah di bibir manisnya.
'Aku ingin melihat, apa yang akan dia lakukan lagi untuk menyingkirkan ku?' batin Widuri.
Sedangkan Cici yang masih mematung di kurisnya, terus memandangi Widuri yang sudah menghilang di balik lif.
'Apa Brandon memberitahu sesuatu padanya?' batin Cici.
Dimana Brandon? Pria itu sudah menghilang entah kemana? Dan Cici tidak bisa menghubungi pria itu dan sekali.
'Tidak tidak tidak. Aku yakin di dalam perutku ini adalah anaknya Haris. Tidak mungkin ini anaknya Brandon. Selama ini aku gak pernah hamil meski kami sering melakukannya' batin Cici mulai gelisah tidak tenang.
'Aku akan melakukan sesuatu, aku gak mau sampai Haris mengetahui apa yang ku sembunyikan selama ini. Aku gak mau sampai Haris marah dan menceraikan ku.'
Cici terus membatin, menjadi tidak bisa fokus untuk mengerjakan pekerjaannya.Tanpa Cici sadari, Haris yang berada di dalam ruangannya terus memantaunya lewat cctv yang mengarah ke arahnya.
'Apa yang dikatakan Widuri pada Cici, sampai wajahnya berubah tegang seperti itu?.' Haris bertanya tanya dalam hati. Rekaman cctv itu tidak berhasil menangkap suara Widuri saat berbisik ke telinga Cici.
Sore hari, mendengar kabar kalau Marya sudah berhasil melahirkan bayinya. Widuri langsung mengunjungi Marya ke rumah sakit. Widuri pergi sendirian, karena Haris tidak mengajaknya, pria itu pergi bersama istri tercintanya.Sampai di rumah sakit, Widuri langsung ke ruang perawatan Marya. Ternyata di sana sudah ada Haris dan Cici.
"Marya!" seru Widuri berlari kecil ke arah Marya yang terbaring di atas brankar.
Haris yang melihatnya refleks menangkap tubuh Widuri." Jangan berlari" tegurnya.
Widuri langsung terdiam di dalam pelukan pria itu.
"Bisa bahaya buat anak kita" ucap Haris lagi, mengusap lembut perut Widuri. Serius, Haris sudah sangat merindukan wanita keras kepala itu, apa lagi pada bayi mereka yang sudah sering bergerak gerak di dalam perut Widuri itu.
__ADS_1
Widuri yang sudah tersadar dari lamunannya, perlahan melepas tangan Haris yang melingkar di perutnya.
"Awas, nanti ada siluman yang ngamuk" cibir Widuri melirik Cici dari sudut matanya. Dan benar, wanita siluman itu menatapnya tak suka.
Mengingat hubungan mereka lagi tidak baik, Haris pun langsung melepasnya. Meski sebenarnya Haris masih sangat ingin memeluk wanita itu.
"Jangan pernah berlari lagi, aku gak mau anakku sampai kenapa kenapa" ujar Haris.
Widuri diam saja menanggapinya, dan melanjutkan langkah kakinya mendekati brankar dimana sahabatnya itu terbaring lemah.
"Selamat ya, sudah menjadi Ibu." Widuri memeluk Marya kemudian mengecup kedua pipi sahabatnya itu.
"Makasih, kamu juga sebentar lagi akan menyusul menjadi Ibu" balas Marya merekahkan senyumnya. Tangan Marya pun terulur mengelus perut Widuri, setelah wanita itu kembali berdiri tegak.
"Iya, anak kita nanti juga akan menjadi sahabat. Kalau bisa nanti kita akan menjodohkan anak anak kita, supaya kita menjadi besan" ujar Widuri ikut mengelus perutnya.
Kanzo dan Haris yang mendengar sama sama mengerutkan kening mereka. Meski mereka juga ikut senang jika anak anak mereka nanti ada yang berjodoh. Tapi sejak kapan kedua wanita itu berencana akan menjodohkan anak anak mereka, tanpa membicarakannya kepada mereka?.
Sedangkan Cici, hanya bisa diam dan mendengus. Merasakan anaknya akan tersingkir dari kedua anak dari wanita yang bersahabat itu.
Cici membatin dan tanpa sadar menggeleng gelengkan kepalanya, sekelebat mengingat apa yang di bisikkan Widuri tadi ke telinganya. Entah kenapa Cici menjadi sangat takut, kalau ternyata bayi di dalam perutnya itu bukan anak Haris.
'Aku harus melakukan sesuatu. Aaaakh! kenapa aku bisa lemah seperti ini karena bisikan Widuri tadi?. Ini gak bisa di biarkan. Aku yakin Widuri sudah mengetahui sesuatu. Itu artinya Marya dan Pak Kanzo juga sudah mencurigai aku. Tapi tunggu....'
Cici mengarahkan pandangannya ke arah Kanzo yang duduk bersandar di samping Marya yang terbaring. Pria itu sedang sibuk dengan laptop di atas pangkuannya.
'Tapi, kenapa Pak Kanzo diam saja? Tidak melakukan apapun padaku. Seharusnya dia sudah memecatku bukan?. Dan seharusnya Haris juga sudah mencurigai ku, dan mengetahui tentangku. Dan seharusnya Haris sudah marah padaku dan menceraikan ku.'
Cici menjadi kepikiran sendiri, kenapa Haris dan Kanzo masih memperlakukannya seperti biasa, jika kedua pria itu sudah mengetahui apa yang di sembunyikannya selama ini.
"Mana ponakan ku?" tanya Widuri tidak melihat bayi berada di ruangan itu.
"Sebentar lagi perawat akan membawanya ke sini" jawab Marya tidak bisa melunturkan senyumnya dari tadi. Meski sempat merasakan sakit di bagian perutnya setelah paska Cesar, tapi rasa sakit itu berubah nikmat mengingat dia sudah berhasil melahirkan anaknya dengan selamat dan sehat.
__ADS_1
Tak lama menunggu, pintu ruang perawatan itu pun terbuka dari luar. Nampak seorang perawat wanita masuk dengan mendorong brankar kecil berisi bayi mungil di dalamnya.
Widuri yang tidak sabaran langsung melangkah ke arah brankar itu.
"Ya ampun! bayi nya lucu banget" seru Widuri gemas sendiri melihat bayi berpipi cabi itu."Ini laki laki atau perempuan?" tanya Widuri belum mengetahui jenis kelamin bayi yang baru di lahirkan sahabatnya itu.
"Laki laki"
Kanzo yang menjawab, pria itu nampak sangat bahagia telah memiliki penerus bisnis keluarganya.
"Nama siapa?" tanya Widuri lagi mencoba mengambil bayi itu dari dalam brankar.
"Sayang" tegur Haris lagi, langsung mendekati Widuri. kawatir istrinya itu tidak bisa menggendong bayi yang baru lahir itu. Haris pun menahan tubuh bayi di gendongan Widuri itu dari bawah, kawatir Widuri menjatuhkannya.
"Aku bisa menggendongnya, dulu aku sudah terbiasa melakukannya" ucap Widuri, untuk menghilangkan kekhawatiran pria yang masih berstatus suaminya itu.
"Ayo bawa ke sofa aja" ucap Haris, tetap khawatir Widuri akan menjatuhkan bayi itu. Haris pun menuntun Widuri untuk berjalan, dengan tetap tangannya menahan tubuh bayi itu dari bawah.
'Kurang ajar, bukankah hubungan mereka tidak baik. Dan mereka akan bercerai, kenapa sekarang terlihat baik lagi?. Dan tadi Haris memanggil Widuri, sayang' batin Cici, merapatkan gigi giginya.
Selama menikah, Haris tidak pernah memanggilnya sayang. Tentu itu membuat hati Cici panas dan cemburu. Itu artinya Haris sangat mencintai Widuri, dan kepadanya Haris hanya menganggapnya istri saja.
"Namanya siapa?" tanya Widuri lagi, karena pasangan suami istri itu belum menjawabnya.
"Iya, namanya siapa, Zo?" tanya ulang Haris yang ikut duduk di sofa bersama Widuri.
"Namanya Gavin. Gavin Ziandra Salim" jawab Kanzo mengulas senyum bahagianya.
"Baby Gavin, hai!" sapa Widuri mengelus lembut pipi bayi itu, lalu mengecupnya. Widuri menjadi tidak sabaran menunggu bayi di perutnya lahir. Pasti sangat menyenangkan, bisa punya bayi sendiri.
*Bersambung
# maafin otor sudah negcewain. Jarang up karena gak bisa menghalu kalau lagi puasa. otor bisa ngetik kalau sudah buka puasa dan setelah sahur. Mohon di maklumi ya. Trimakasih sudah sabar menunggu up dari otor. Meski tak banyak yang membaca, tapi otor akan tetap konsisten kok untuk melanjutkan cerita ini sampai tamat.
__ADS_1
Sekali lagi Trimakasih ya untuk readers yang masih setia mengikuti cerita hasil ngehalu emak emak yang bermimpi ketinggian ini.