Pria Yang Merenggut Kesucian Ku

Pria Yang Merenggut Kesucian Ku
Wanita susah di mengerti


__ADS_3

'Cici dan Pak Haris' batin Widuri menghentikan kunyahan nya.


"Jangan terlalu memikirkan mereka. Fokus aja dengan kehamilan mu. Mereka tidak lebih penting dari bayi kamu" ujar Marya menatap Iba sahabat nya itu.


Widuri kembali mengalihkan pandangannya ke arah makanan di depannya dan kembali menikmatinya.


"Kamu tidak menghadapinya sendiri, Wid. Ada aku yang selalu ada untukmu" ucap Marya lagi, mengulurkan tangannya menyentuh tangan Widuri di atas meja.


Widuri mengulas senyumnya, lalu mengangguk. Marya pun ikut mengulas senyumnya.Dulu Widuri lah yang selalu menyemangatinya, selalu ada untuknya.


"Ris, aku gak mau lagi, udah ya makannya. Aku pengen makan rujak aja."


"Tapi kamu baru makan nasinya sedikit, Ci. Nanti asam lambung mu bisa naik kalau banyak makan rujak."


'Apa Cici juga lagi hamil?' batin Cici dan Marya sama sama bertanya tanya dalam hati, mendengar percakapan Cici dan Haris dari meja yang tidak jauh dari mereka.


"Mual" manja Cici, berhasil membuat Haris terdiam dan memandangi wajah Cici dengan intens. Pria itu berpikir, apakah Cici sedang hamil?.


"Ya udah" ucap Haris mengusap lembut ujung kepala Cici sembari tersenyum.


Wajah Cici pun langsung berbinar dan langsung membuka kotak makanan berisi rujak yang di bawa mereka dari luar, dan langsung melahapnya.


"Wid, ayo!" ajak Marya, tak ingin membiarkan Widuri melihat lebih lama pasangan suami istri yang lagi romantis itu.


Widuri pun menganggukkan kepalanya, dan langsung berdiri dari tempat duduknya, dan langsung di ikuti Marya. Saat melintas di samping meja Cici dan Haris. Kedua wanita itu lewat begitu saja, berpura pura tidak melihat Haris dan Cici.


Sampai di perusahaan, Cici langsung mendudukkan tubuhnya di kursi meja resepsionis ruang terdepan gedung perusahaan itu. Sedangkan Marya, ia pun langsung masuk ke ruang kerja suaminya.


"Dari mana? Hm!" gemas Kanzo bertanya. Istrinya itu pergi gak bilang bilang, di telepon gak di angkat, di SMS gak di balas.


"Cari makanan" jawab Marya mendudukkan tubuhnya di pangkuan Kanzo, dan mengecup singkat bibir pria itu.


"Mana untukku?" tanya Kanzo melihat istrinya itu tidak membawa apa apa.

__ADS_1


"Ini" Marya membuka kancing baju atasnya sampai menampakkan bagian tubuhnya yang paling menggemaskan itu.


"Nakal ya sekarang" ucap Kanzo tersenyum sambil mencubit pelan dagu istrinya itu. Istrinya itu, yang dulu pasif, sekarang sering kali menggodanya.


"Pak Kanzo yang ngajarin" balas Marya memasang wajah imutnya.


"Sayang, lihatlah. Mama kamu menggoda Papa terus" ucap Kanzo kepada bayi di dalam perut istrinya itu, sambil tangannya mengusap usap lembut perut buncit Marya.


"Papa kamu aja yang genit, mudah tergoda dengan cewek" balas Marya berbicara menirukan suara anak kecil.


"Hm!" Kanzo memeluk erat tubuh Marya." Kenapa gak dari dulu aku menemukan mu?" tanya Kanzo menjatuhkan dagunya di bahu Marya.


"Karena pak Kanzo gak nyari" jawab Marya.


"Sampai sekarang masih aja kamu sering memanggilku Pak Kanzo" kesal pria itu.


"Dari dulu aku terlalu terbiasa memanggil itu. Oh ya sayang, Pak Haris belum memberikan Widuri uang sama sekali. Tadi kami berbelanja, bisa kan suamiku ini untuk mengatakan kepada pihak keuangan untuk memotong gaji Pak Haris?. Aku sudah menggunakan uang suami ku ini untuk membayar belanjaan kami" ujar Marya.


"Tentu bisa, sayang. Kamu lupa, kalau suami mu ini orang yang paling berkuasa di perusahaan ini?."


"Bagi dua ke rekening Widuri" bisik Marya.


"Hm! baiklah sayang. Sekarang waktunya istri dan anakku ini istirahat siang." Kanzo berdiri dari tempat duduknya, membawa tubuh wanita hamil itu ke dalam kamar istirahat yang ada di ruangan itu. Sampai di dalam, Kanzo langsung meletakkan tubuh Marya di atas kasur dan menyelimutinya.


"Istirahatlah" ucap Kanzo, setelah mengecup kening Marya, Kanzo langsung keluar dari ruangan itu, dan tidak lupa menutup pintunya kembali.


"Haris" ucap Kanzo melihat Haris berada di ruangannya.


"Kepala ku pusing Zo" keluh Haris menghela napasnya kasar.


Kanzo mengerutkan keningnya, pusing kenapa sahabatnya itu?.


"Mama gak mau menerima Widuri menjadi menantunya. Dan Widuri meminta untuk tinggal sendiri di rumah Nona Marya yang biasa ia tempati. Aku gak mungkin bisa membiarkan Widuri tinggal sendiri dalam keadaan hamil. Ya Tuhan, belum lagi aku harus menghadapi Cici yang ingin terus menguasaiku" desah Haris menyandarkan kasar punggungnya di sandaran sofa.

__ADS_1


"Kenapa kamu gak melepaskan Cici saja. Dia sudah membohongimu" ujar Kanzo mendudukkan tubuhnya di sofa yang bersebrangan dengan Haris.


"Aku kasihan melihatnya menangis memohon sama aku" jawab Haris, memang hatinya gampang tersentuh.


"Terserah kamu saja, tapi aku gak yakin kalau Cici tidak memiliki kebohongan lainnya. Seharusnya kamu belajar dari pengalamanku berumah tangga"ujar Kanzo lagi.


Haris pun terdiam dan menghela napasnya, memikirkan apa yang di katakan sahabatnya itu. Tapi kan, selama mereka menikah sudah membuktikan kalau dia menjadi istri yang baik. Mau berdamai dengan kenyataan, kalau Widuri juga sudah menjadi istri Haris.


"Oh ya, bagaimana hubunganmu dengan Widuri?" tanya Kanzo tersenyum.


Haris juga ikut tersenyum. Entahlah, mendengar nama Widuri saja di sebut, Haris sudah senang.


"Kau lebih mencintai Widuri" ucap Kanzo.


"Ini semua gara gara kau" kesal Haris. Jika saja sahabatnya itu tidak iseng mengatakan pada Cici. Kalau ia menyukai Cici, yang membuat Cici langsung baper. Mungkin Haris tidak menghadapi posisi serumit ini.


"Makanya, jangan kelamaan bingung" cibir Kanzo masih setia mengulas senyumnya." Mungkin memang kedua wanita itu sudah menjadi takdirmu. Buktinya, kamu tidak bisa lepas dari keduanya."


"Entahlah" Haris menghela napasnya kasar." Widuri selalu berpikir ingin lepas dariku setalah melahirkan nanti. Kami menikah, karena dia hanya membutuhkan status saja. Tidak untuk berumah tangga dengan selayaknya."


"Semua tergantung kamu. Kalau kamu ingin Widuri tetap bertahan di sampingmu. Teruslah tunjukkan kalau kamu mencintainya. Marya juga dulu begitu, terus meminta ingin di lepas. Tapi baru dicuekin sebulan saja, dia sudah langsung sedih. Terkadang wanita memang susah di mengerti, bingung kita bagaimana cara mendekatinya."


Kedua pria berusia tiga puluh tiga Tahun itu pun terus berbicara, mengobrol santai membicarakan soal istri istri mereka. Tanpa Meraka tau jika di lantai bawah gedung itu sudah terjadi keributan.Tepatnya di dalam toilet karyawan.


"Wid!, apa yang sudah kamu lakukan tadi dengan suamiku?." Cici bertanya dengan mengeraskan rahangnya.


"Kenapa kamu gak menanyakannya pada suami kamu?" tanya balik Widuri membalas tatapan Cici tanpa takut sedikit pun. Membuat Cici semakin geram dan marah.


"Dasar kamu wanita murahan!, pelakor!" teriak Cici sengaja supaya orang orang yang sedang berada di toilet itu mendengarnya.


"Kamu yang murahan!, jangan pikir aku gak tau, kalau kamu sudah gak suci lagi menikah dengan Pak Haris!. Murahan siapa?, aku atau kamu?" balas Widuri tidak terima.


"Kurang ajar!"

__ADS_1


Plak!


*Bersambung


__ADS_2