Pria Yang Merenggut Kesucian Ku

Pria Yang Merenggut Kesucian Ku
Menjadi wanita yang sukses


__ADS_3

Sore hari, Haris keluar dari ruang kerjanya, masuk ke dalam lif untuk turun ke lantai bawah. Seperti permintaan Widuri tadi pagi. Haris akan membawa istrinya itu menjenguk Ibu Ilona yang sedang terbaring lemah tak berdaya di rumah sakit.


"Sayang"


Widuri langsung menoleh ke arah Haris yang baru keluar dari dalam lif. Pria itu terlihat tampan sekali dengan senyum manis di bibirnya. Sepertinya pria itu sedang bahagia, sampai aura ketampanannya begitu terpancar.


Cup!


Satu kecupan pun mendarat di kening Widuri saat pria itu berdiri tepat di sampingnya.


"Ayok!" ajak Haris sambil membantu Widuri berdiri dari tempat duduknya. Widuri menganggukkan kepalanya sembari mengulas senyum tipisnya. Sepertinya mood wanita hamil itu sedang baik hari ini. Atau mungkin saja Widuri sedang merindukan perhatian dari suaminya itu.


'Pak Haris kelihatan lebih sayang kepada Kak Wid, dari pada Cici' batin Aurel sambil memperhatikan bahasa tubuh Haris dan Widuri yang berjalan keluar dari gedung perusahaan.


'Tapi bukannya Pak Haris menikahi Kak Wid karena insiden salah kamar?' batin Aurel lagi.


Menurut kabar yang beredar, Haris terpaksa menikahi Widuri, karena tak sengaja menodai wanita itu. Haris harus bertanggung jawab dan memberi status pada Widuri dan bayi yang berada di dalam kandungannya.


Para karyawan pun, setuju dengan hal itu. Haris memang harus bertanggung jawab pada Widuri dan bayi nya. Dan Widuri sendiri pun mendapat dukungan dari para karyawan perusahaan, untuk menjadi istri kedua dari Haris Sadad Darmawan.


Sampai di parkiran, Haris pun membukakan mobil untuk Widuri.


"Aku gak mau memakai mobil ini" ujar Widuri dengan wajah cemberut. Apa lagi ia harus duduk di kursi yang sering di duduki Cici, Widuri gak rela.


Haris menghela napasnya, ia tau Widuri tidak mau duduk di kursi penumpang depan karena kursi itu sering di duduki Cici.


"Ya udah, kita pakai mobil perusahaan" ujar Haris, memanggil seorang karyawan yang bertugas sebagai driver di perusahaan itu.


Pria yang di panggil pun langsung mendekat." Iya, Pak!. Ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang supir itu dengan sopan.


"Bawakan mobil yang putih itu ke sini." tunjuk Haris ke arah mobil perusahaan yang terparkir di pinggir halaman gedung." Dan Nanti tolong antar Cici pulang ke rumah dengan menggunakan mobil saya. Dia sedang keluar bersama Pak Kanzo" ujar Haris memberikan kunci mobilnya kepada supir perusahaan itu.

__ADS_1


"Baik Pak!" patuh pria itu, dan segara undur diri untuk mengambil mobil perusahaan yang di tunjuk Haris.


Tak lama menunggu, seorang supir itu pun datang membawa mobil perusahaan yang di minta Haris. Setelah pria itu turun dari dalam mobil, Haris pun membukakan pintu untuk Widuri dan membantu wanita itu untuk duduk. Haris menyusul masuk dan langsung melajukan kenderaan itu meninggalkan perusahaan.


Sambil menyetir, Haris meraih tubuh Widuri supaya wanita itu bersandar di dadanya. Sepanjang perjalanan, Haris sering kali mengecup ngecup ujung kepala istri keduanya itu. Haris sangat merindukan aroma tubuh Widuri yang memabukkan itu.


"Wid, kamu kembali ya tinggal di rumah."


"Aku gak mau" tolak Widuri dengan cepat.


"Aku sangat khawatir membiarkanmu tinggal sendirian, Wid. Kalau kamu tinggal di rumah, aku bisa menjagamu siang dan malam" bujuk Haris.


"Aku gak mau, aku gak nyaman tinggal di rumah itu. Dan juga aku gak mau tinggal satu atap dengan Cici" tolak Widuri lagi.


Haris menghela napasnya kasar. Widuri memang sangat keras kepala dan pembangkang, sangat berbeda dengan Cici yang selalu menurut padanya.


"Pak Haris bisa menyewa seseorang untuk menjagaku dan membantuku di rumah" ujar Widuri lagi.


"Baiklah" pasrah Haris, mereka baru berbaikan, Harus tidak mau membuat Widuri kembali marah padanya lagi. Sangat sulit nantinya mendekati wanita itu kembali.


Sampai di rumah sakit, Haris pun membawa Widuri ke kamar rawat Ibu Ilona. Sampai di sana, Haris membuka pintu ruangan di depannya, kemudian menuntun Widuri untuk masuk.


"Ngapain kamu datang ke sini!."


Langkah Widuri langsung terhenti dan pandangannya langsung terarah ke wanita yang duduk di sofa ruangan itu.


"Lihat Mama aku" Soodam menunjuk Ibu Ilona yang terbaring lemah di atas brankar." Mama koma, itu gara gara kamu" geram Soodam memandang Widuri begitu marah.


"Soodam!" tegur Haris.


"Kenapa Kak Haris membawa pembunuh itu ke sini?."

__ADS_1


"Jaga bicaramu Soodam. Widuri bukan pembunuh. Tapi kamu dan Mama yang akan membunuh anakku" geram Haris.


Andaikan saja, Soodam bukan Adiknya, sudah pasti Harus akan menjebloskan wanita itu ke dalam penjara.


"Buktinya lihat Kak! Mama koma dan sempat Kritis gara gara wanita murahan itu" bantah Soodam.


"Diam mulut mu Soodam. Kalau kamu masih ingin bisa menghirup udara segar. Dan ingat, jangan berani lagi mengganggu istriku. Setelah Mama sembuh, kembalilah keluar Negri" ancam Haris. Berhasil membuat Soodam terdiam dan menatap dendam pada Widuri.


"Ayo sayang" Haris menuntun Widuri kembali berjalan mendekati Ibu Ilona.


Sampai di pinggir brankar, Widuri langsung meraih sebelah tangan Ibu Ilona dan mengecup punggung tangan wanita tua itu.


"Ma, aku minta maaf. Maafin aku Ma. Aku gak berniat sama sekali untuk membuat Mama celaka seperti ini. Ma, aku tau Mama orang yang baik. Jika tidak, tidak mungkin Mama memiliki anak sebaik Pak Haris. Ma, aku berharap Mama cepat sembuh. Kasihan Pak Haris Ma, jika Mama lama lama tidurnya. Kalau Mama sembuh, aku janji Ma, akan menjadi menantu yang baik untuk Mama. Janji akan menjadi menantu yang bisa membuat Mama bangga. Aku janji Ma, aku akan berusaha menjadi wanita yang sukses supaya Mama tidak malu memiliki menantu miskin dan kampungan sepertiku" ucap Widuri sambil menangis.


Rasanya sangat sakit, jika kehadiran kita di tolak karena tak punya harta dan tahta. Seolah olah kebaikan hati sudah tidak ada gunanya lagi.


"Aku janji Ma, aku akan berusaha menjadi wanita yang sukses dan membanggakan Mama" Isak tangis Widuri lagi.


"Sayang, Hei! kamu tidak perlu mengatakan seperti itu pada Mama. Tetaplah menjadi dirimu sendiri. Aku tidak membutuhkanmu sukses, untuk bisa kubanggakan. Cukup kamu menjadi istriku dan merawat anak anak kita dengan baik, itu sudah cukup membanggakan buatku." Haris menarik tubuh Widuri ke dalam pelukannya, lalu menghapus air mata wanita itu.


"Tidak ada yang menerimaku dan kehadiran anakku. Mamaku dan Mama Pak Haris menolak kami" tangis Widuri pecah memenuhi ruangan itu.


Sepertinya Widuri sudah tidak mampu menanggung beban di hatinya. Ibunya yang mengusirnya karena hamil di luar nikah. Mertuanya yang tak menerimanya karna miskin dan kampungan. Cici sebagai madunya, yang selalu berusaha menyingkirkannya. Belum lagi Widuri harus menghadapi para tetangganya yang sering berbisik bisik membicarakannya yang tidak baik. Dan Haris yang sering tidak berlaku adil padanya. Widuri merasa tidak ada yang mendukung kehamilannya kecuali Sahabatnya, Marya.


Bruk!


Tiba tiba tubuh Widuri tumbang di dalam pelukan Haris.


"Wid!" panggil Haris semakin mengeratkan pelukannya ke tubuh Widuri, supaya tidak sampai terjatuh ke lantai.


*Bersambung

__ADS_1


__ADS_2