
Puas mengelilingi komplek perumahan elit itu dengan mengendarai motor matic. Haris dan Kanzo pun memutus untuk kembali ke rumah bersama dua bocah di boncengan masing masing.
Sampai di rumah, mereka langsung menuju ruang makan mendengar suara brisik para wanita dari sana. Dan benar, para wanita di rumah itu sudah menikmati makan terlebih dahulu tanpa menunggu mereka.
"Kalian sudah makan duluan rupanya" ucap Kanzo mendudukkan tubuhnya di samping Marya yang sedang makan.
"Kami sudah lapar, kalian gak pulang pulang" balas Marya, lalu menyuapkan makanan di piringnya ke mulut Kanzo, dan pria itu langsung menerimanya.
"Mau" celetuk Noah yang berada di pangkuan Kanzo. Bibir basah bocah itu mengerucut terlihat imut menggemaskan.
"Mau ya? pedas loh" tanya Marya mengusap kepala bocah itu dengan tangan kirinya.
Noah mengangguk saja, dia tidak tau apa itu yang namanya pedas. Dengan jahilnya Marya pun mentuapkan nasi di piringnya yang bercampur sambal.
"Gimana? Enak?" Marya mengulas senyumnya melihat Noah mengunyah nasi di mulutnya dengan wajah memerah.
Noah malah menganggukkan, sepertinya suka dengan rasa pedas sambal. Marya menyuapinya lagi.
"Kalau anakku sampai sakit perut, ku bakar rumah kalian ini" cetus Haris melihat Marya menyuapkan nasi di piringnya lagi ke mulut Noah.
"Noah sendiri yang mau" ujar Kanzo tidak takut sama sekali dengan ancaman Haris. Lagian kalau makan sambal hanya sedikit saja, tidak akan membuat sakit perut.
"Sepertinya kalian harus bertukar anak. Lihatlah, baru pertama kalinya Gavin anteng bersama orang baru" komentar Ibu Liana melihat Gavin mau bersama Haris. Bahkan dengan Kanzo saja, Gavin sering tidak mau.
"Kanzo aja yang gak pintar ngambil hati anaknya" cibir Haris.
"Kamu baru punya anak satu, sudah sok pintar ngurus anak" Kanzo mendengus. Bukan Kanzo tidak pintar mengambil hati anaknya, tapi selama ini Kanzo terlalu sibuk sehingga jarang punya waktu untuk Gavin. Sehingga bocah laki laki itu tidak begitu dekat dengannya.
Sembari memakan hidangan di atas meja, obrolan ringan mereka pun terus berlanjut.
Malam hari Haris baru membawa keluarganya ke rumah mereka. Tepatnya rumah peninggalan orang tua Haris yang ada di kota itu. Meski sebenarnya Kanzo menawarkan mereka untuk menginap di rumah itu. Tapi Haris tetap ingin membawa keluarganya untuk istirahat ke rumahnya. Tidur di rumah sendiri lebih terasa nyaman.
__ADS_1
"Kalau begitu kami pergi dulu. Trimakasih jamuan makannya" pamit Widuri memeluk Marya dan melakukan cipika cipiki seperti awal mereka datang tadi.
"Sama sama" balas Marya.
"Besok cepatlah datang, kau yang harus memulai acara itu" ujar Kanzo pada Haris.
"Lihat besok aja" balas Haris. Mereka baru sampai dari perjalanan jauh, tubunya masih lelah. Tidaj di jamin besok mereka semua akan cepat bangun.
Setelah semua berpamitan, mereka pun segera keluar dari rumah Kanzo. Masuk ke dalam mobil yang akan mengantar mereka ke rumah Haris.
Sampai di kediaman keluarga Darmawan. Widuri langsung menghela napas kasar. Selebat ingatannya langsung berputar mengingat kenangan pahit di dalam rumah itu, dimana Widuri menjadi madu, tidak mendapat perlakuan baik dari Cici, Ibu mertua dan Adik iparnya. Kalau tidak ingin menjaga perasaan Haris atau menghormati suaminya itu, sebenarnya Widuri malas sekali untuk mengunjungi rumah itu, apa lagi untuk tinggal di sana.
Tapi Haris sangat menyayangi rumah peninggalan Ayahnya itu. Di rumah itu sangat banyak kenangan Harus bersama sang Ayah. Haris tidak akan menjual rumah itu sama sekali. Rumah itu akan menjadi tempat tinggal mereka jika sudah tua nanti.
"Ini rumah Papa, dia yang membangun rumah ini untuk ku" ujar Haris mengerti dengan ekspresi wajah Widuri yang seperti enggan masuk ke dalam rumah itu.
"Rumah ini sangat bagus dari luar, tapi di dalam rumah ini aku pernah terluka" balas Widuri.
Haris hanya bisa menghela napas, ternyata istrinya itu masih belum berdamai sepenuhnya dengan masa lalu.
"Sebenarnya aku tidak perlu memikirkan rumah ini. Hanya saja aku masih belum merasa menjadi menantu di rumah ini. Sampai sekarang, tidak ada yang menyambut kedatanganku dengan hangat di ambang pintu rumah ini."
"Itu tidak akan pernah terjadi sampai kiamat pun Dunia ini. Sekarang mari kita masuk. Jangan membuat drama dramastis lagi di rumah ini. Lagian kita hanya beberapa hari saja di sini. Tapi kamu ingin memutar memori yang terjadi dua Tahun silam." Haris jadi jengah sendiri. Pria itu pun mengangkat tubuh Widuri lalu yang berdiri di sampingnya, membawa wanita itu masuk ke dalam rumah.
Sampai di dalam kamar, Haris langsung meletakkan tubuh wanita itu dengan pelan di atas ranjang. Dan langsung membuka seluruh kain yang melekat di tubuh wanita itu dan melemparnya sembarang ke lantai.
Meski sudah melahirkan, tidak banyak yang berubah dari tubuh wanita itu, hanya benda di bagian dadanya saja yang barubah. Yang dulunya kencang kini agak kendor. Tapi tetap saja terlihat menarik di mata Haris.
"Aku gak mau, aku lagi capek" tolak Widuri menarik selimut menutup seluruh tubuhnya.
"Siapa juga yang ingin menyentuh mu. Aku hanya ingin mengganti pakaianmu biar tidurmu nyaman." Haris mengulum senyum.
__ADS_1
Widuri langsung saja memutar bola mata malas. Ia tau itu hanya alibi suaminya itu. Lihat saja sebentar lagi, pria itu pasti akan memakannya sampai habis.
Dan benar saja, setelah pria itu membuka pakaiannya, Widuri langsung saja berteriak teriak dengan perlakuan pria itu.
"Kau brisik sekali" ucap Haris terkekeh telah menjahili istinya itu dengan mencium milik wanita itu dengan dahsyat.
Widuri yang bernapas ngos-ngosan mendengus dan membuang wajahnya ke arah lain.
Haris pun bangkit dari kaki Widuri, mensejajarkan tubuhnya berbaring di samping wanita itu, lalu mengecup keningnya.
"Rumah ini milikmu, aku ingin menghapus kenangan pahit itu dari dalam hidupmu. Menggantinya dengan kenangan yang manis. Sehingga tidak ada luka di hatimu lagi setiap kita berada di rumah ini, Wid" ucap Haris lirih dan lembut.
"Aku mencintai kamu, Wid. Tapi rumah ini juga sangat berharga bagiku." wajah haris berubah serius dan terlihat sedikit sedih.
Widuri pun mendekatkan wajahnya ke wajah pria itu, sampai bibir mereka menempel sempurna.
"Mari kita ciptakan moment yang manis itu"bisik Widuri tersenyum tepat di bibir Haris. Wanita itu pun menyapu bibir pria itu dengan lembut, perlahan bergerak memindahkan tubuhnya ke atas tubuh Haris. Mengambil Kendari menjadikan pria itu kuda.
Di dalam hati Haris mendengus.' Katanya tadi gak mau, tapi lihat, dia begitu bersemangat menganiaya tongkat saktiku.'
**
Tap tap tap!
Derap langkah kaki yang mengenakan sepatu pantofel berwarna hitam mengkilat itu berhasil mengalihkan pandangan seorang pria di balik tirai besi berwarna hitam di depannya. Pria paru baya itu perlahan menajamkan penglihatannya ke arah polisi yang datang mendekatinya.
"Pak Hilman, ada orang yang mengunjungi Anda" ujar polisi itu sembari membuka pintu jeruji besi itu dengan kunci di tangannya.
Pak Hilman langsung mengerutkan keningnya. Berpikir siapa yang datang mengunjinginya?. Selama dua Tahun ini, tak satu pun orang datang mengunjunginya, baik istri keluarga dan kedua putrinya.
"Silahkan, Pak" ucap polisi itu, melihat Pak Hilman masih bongok di tempat duduknya.
__ADS_1
Karna penasaran siapa yang datang mengunjinginya, Pak Hilman pun memutuskan untuk menemui orang itu ke rungan yang tersedia. Sampai disana, langkah Pak Hilman langsung terhenti, melihat Widuri, Haris, Nala dan Ibu Ratna bersama bocah berusia dua Tahun.
*Bersambung