
Bruk!
Sampai di meja mereka, Haris langsung menjatuhkan tubuhnya di sofa, bernapas lega setelah berhasil lepas dari wanita wanita kehausan belaian itu.
"Haris, apa yang terjadi? Kenapa wajahmu penuh dengan lipstik?" tanya Kanzo sembari mengulum senyum melihat wajah Haris penuh dengan warna lipstik berbentuk bibir.
Widuri yang melihatnya langsung berdiri dari tempat duduknya. Wanita itu menatap Haris nyalang seolah olah ingin menguliti pria itu sekarang juga. Apa yang dilakukan suaminya itu sampai wajahnya penuh ciuman?.
"Sekarang juga, kita cerai" Widuri berbicara gemas pada Haris. Terlihat sekali wanita itu saat ini sangat marah, sampai Widuri mengepalkan tangannya kuat.
Mendengar kata cerai dari mulut Widuri, Haris yang sibuk membersihkan wajahnya dengan tissu langsung mendekati Widuri, memeluk tubuh wanita itu dari belakang.
"Sayang, maafin aku. Aku mencarimu ke toilet wanita. Wanita wanita yang berada di sana langsung menyerbuku." Haris berusaha meredam amarah istrinya itu.
"Pantas aja kamu gak mau sama sekali membawaku ke sini. Biar kamu bebas bersenang senang dengan wanita wanita di sini, iya kan?."
Haris menarik napasnya dalam, lalu membalik tubuh Widuri ke arahnya, tanpa aba aba langsung menyerang bibir wanita itu dengan brutal, sampai membuat Widuri kewalahan menghadapinya. Padahal niat awalnya ingin membantu Kanzo menyelesaikan masalah sahabatnya itu, tapi malah sekarang dia yang terkena masalah. Widuri marah padanya.
"Apa kita harus berciuman juga seperti mereka?" tanya Kanzo kepada Marya yang duduk di sampingnya, tanpa melepas perhatiannya dari Haris dan Widuri yang sedang berciuman, atau lebih tepatnya Haris lah yang mencium Widuri.
"Kalian berdua sama aja. Satunya buaya, satunya lagi kadal" cibir Marya menatap malas pada suaminya itu.
"Ayolah, kita juga bersenang senang seperti anak muda lainnya" ajak Kanzo menarik rambut Marya dari belakang dengan sedikit kasar, membuat wajah Marya mendongak ke arahnya.
"Ayolah suamiku, di sini bukan tempat yang pas untuk kita menikmati gelora cinta" ujar Marya tersenyum. Sungguh, suaminya itu adalah pria yang romantis, Marya selalu menyukai cara pria itu memperlakukannya, sedikit agak kasar tapi itu membuatnya nikmat. Tapi tetap saja Marya tidak ingin melakukan adegan full gar di tempat keramaian.
"Hm! baiklah, kita cari tempat yang nyaman" Kanzo melepas cengkramannya dari rambut Marya. Setelah berdiri dari tempat duduknya, Kanzo mengangkat tubuh Marya ke gendongannya, membawa wanita itu keluar dari dalam club.
"Pak Haris!" Widuri berteriak setelah berhasil melepas ciuman Haris dari bibirnya. Keterlaluan sekali suaminya itu, hampir saja membuatnya pingsan karena kesulitan bernapas. Widuri menangis melihat betapa banyaknya bekas bibir di wajah suaminya."Tadi juga kamu memegang pantan Ibu Bela." Widuri menghapus air matanya yang seketika mengalir deras di pipinya.
__ADS_1
"Aku minta maaf, aku gak akan mengulanginya lagi." Haris kembali memeluk tubuh Widuri, namun tangannya langsung di tepis.
"Jangan jangan selama ini kamu suka main perempuan" tuduh Widuri. Kalau tidak, tidak mungkin suaminya itu mau meraba pantat wanita lain, atau di cium cium wanita lain.
"Gak sayang" ucap Haris dengan suara membujuk. Tangannya kembali meraih tubuh Widuri.
"Aku gak percaya." Kembali Widuri menepis tangan Haris yang ingin meraih tubuhnya.
Haris jadi bingung sendiri bagaimana cara membujuk istrinya itu supaya tidak marah dan menangis lagi.
"Aku minta maaf ya. Aku mengaku salah. Janji gak ngulanginya lagi. Jangan menangis lagi ya" bujuk Haris sekali lagi.
"Seharusnya Pak Haris gak nikahi aku." Widuri menekuk bibirnya ke bawah, bertambah sedih. Widuri sadar, dia bukanlah kriteria wanita idaman suaminya itu yang memiliki body montok atas bawah.
"Hei, kamu bicara apa?. Aku mencintai kamu. Menikahimu adalah keinginanku. Aku minta maaf soal yang tadi aku menyentuh pantat Bella. Serius sayang, aku gak menikmatinya. Jangan cemburu, aku hanya menyukai tubuhmu. Soal ciuman di wajahku, itu di luar rencanaku" Haris menjelaskan dengan suara lembutnya.
Tapi yang namanya istri lagi marah dan cemburu, tidak mudah meluluhkan hatinya. Tidak cukup hanya dengan menjelaskannya saja.
"Wid, nanti kamu jatuh sayang. Kamu lagi hamil" ucap Haris setelah mereka berada di luar club.
Widuri yang meronta langsung diam. Dia memang lupa kalau saat ini sedang hamil muda.
Sampai di parkiran mobilnya, baru Haris menurunkan Widuri dari gendongannya dengan perlahan.
"Begitu banyak rintangan yang kita hadapi selama ini. Setelah kita berhasil melewatinya, dan kita sampai di titik sekarang. Apa masih mungkin aku akan menghianati pernikahan kita, Wid?" tanya Haris menatap Widuri penuh cinta."Aku gak punya alasan yang tepat untuk selingkuh, Wid. Kamu sudah cukup bagiku" ucap Haris lagi.
Tadi Haris hanya khilaf, dan juga itu hanya siasatnya untuk mengelabui Bella, supaya Bella mau meminum banyak minuman sampai membuat wanita itu mabuk.
Tangan Haris pun terulur untuk menghapus air mata Widuri, lalu mengecup kening wanita itu dengan sayang. Meski tubuh istrinya itu tidak sebagus body Bella dan Cici, tapi bagi Haris tubuh istrinya itu sangat indah. Selain wajahnya cantik, kulitnya juga mulus.
__ADS_1
"Tapi aku gak suka kamu menyentuh wanita lain apa pun itu alasannya." Mendapat kecupan di keningnya, perlahan hati Widuri mulai luluh, kemarahan wanita itu mereda.
"Aku gak akan mengulanginya lagi sayang" balas Haris. Pria itu menarik tubuh Widuri, membawa wanita itu ke dalam pelukannya.
"Janji" Rajuk Widuri dari dalam pelukan Haris. Suara wanita itu terdengar begitu manja, membuat sesuatu di diri Haris ada yang terbangun.
Gak biasanya istrinya itu manja seperti itu. Biasanya istrinya itu galak dan tidak segan memukulinya kalau melakukan kesalahan. Haris berpikir kemanjaan istrinya itu bawaan hormon kehamilannya.
"Iya sayang, aku janji." Haris pun menurunkan satu tangannya untuk mengusap lembut perut Widuri, dimana anak kedua mereka sudah bersemayam di dalamnya.
"Kita pulang ya, sudah larut malam" ajak Haris. Untuk masalah Bella, biar Kanzo yang mengurusnya, pikir Haris. Tugasnya sudah selesai untuk memperangkap wanita itu.
"Gak mau, pengen nginap di hotel" manja Widuri lagi. Dia pengen menghabiskan waktu berdua dengan Haris tanpa gangguan Noah seperti selama ini.
"Noah nanti terbangun dan mencari kita." Untuk apa mereka menginap di hotel, pikir Haris. Bukankah kamar mereka sudah persis seperti hotel dengan fasilitas yang lengkap dan bagus di dalamnya?. Dan juga ada Noah akan mencari mereka setiap malam jika anak mereka itu terbangun dari tidurnya.
"Kan ada Mama dan Nala" ucap Widuri lagi. Tidak perlu khawatir jika harus meninggalkan Noah di rumah. Ada Mama Ratna dan Nala yang menjaganya.
"Ya udah." Dari pada istrinya itu merajuk lagi, lebih baik Haris menurutinya. Di ingat ingat, semenjak menikah mereka belum pernah yang namanya liburan berdua aja.
Haris pun membuka pintu di sampingnya, lalu menuntun Widuri masuk ke dalam mobil, duduk di kursi penumpang depan. Setelah menutup kembali pintunya, baru Haris menyusul masuk. Dan kenderaan itu langsung melaju ke arah sebuah hotel berbintang di kota itu.
Hanya butuh perjalanan lima belas menit, mereka sudah sampai di tempat tujuan. Haris pun membawa Widuri ke salah satu kamar hotel yang di pesannya. Tidak lupa, mereka membawa makanan dari luar, khawatir istrinya itu lapar setelah di buatnya kelelahan nanti.
"Ahh!"
Refleks Widuri mengeluarkan suara merdunya saat Haris memeluknya dari belakang dan me re mas dadanya dengan hikmat.
"Mari kita bercinta" bisik Haris tepat di telinga Widuri sembari tersenyum dan menggesek gesek hidungnya ke telinga wanita itu. Berhasil membuat wanita itu mulai terbuai.
__ADS_1
*Bersambung