Pria Yang Merenggut Kesucian Ku

Pria Yang Merenggut Kesucian Ku
Akan tetap bercerai


__ADS_3

Sepeninggal Haris, Widuri terdiam membeku di tempatnya berdiri. Haris sangat kecewa dan marah padanya. Bukan maksud Widuri untuk menolah Haris, tapi sungguh Widuri rasanya jijik jika mengingat seluruh tubuh Haris adalah bekas Cici. Widuri juga tidak tau kenapa ia bisa sejijik itu.


Perlahan, Widuri pun melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan itu


sambil menghapus air matanya yang sempat mengalir. Hubungan mereka baru membaik, tapi sekarang memburuk lagi.


'Apa semua ini pertanda kalau aku dan Pak Haris tidak jodoh?. Ada aja masalah yang selalu membuat hubungan kami tidak baik. Dari Ibu Ilona, Cici dan Soodam yang tidak menerimaku. Sekarang Pak Haris sudah berhasil ku genggam, tapi aku malah membuatnya tersinggung' batin Widuri saat berada di dalam lif untuk turun ke lantai bawah gedung itu. Sampai di lantai bawah, Keluar dari dalam lif Widuri langsung melangkahkan kakinya ke arah meja kerjanya.


**


Hari sudah sore dan sudah waktunya pulang kerja. Dari tadi Widuri terus menerus memandangi pintu lif di ruangan itu, menunggu Haris turun untuk mengantarnya pulang. Namun pria itu tidak juga kelihatan batang hidungnya. Hingga sampai matahari mulai tenggelam, Haris tidak juga turun dari lantai tertinggi perusahaan itu. Akhirnya Widuri pun memutuskan untuk pulang sendiri dengan taxi online yang di pesannya.


Sampai di apartement, Widuri langsung membersihkan diri ke kamar mandi. Setelah rapi dengan pakaian rumahan yang dikenakannya. Widuri keluar kamar melangkahkan kakinya ke arah ruang makan. Di meja makan sudah terhidang makan malam untuk Widuri seorang. Itu artinya, Haris sudah mengirim pesan pada Perawat yang bertugas menjaganya itu.


Saat mendudukkan tubuhnya, Widuri menghela napas. Berpikir kalau Haris benar benar kecewa dan marah padanya. Dan juga Haris tidak pulang ke apartement, karena memang malam ini adalah giliran Haris menghabiskan waktu bersama Cici.


'Dia baru saja menghadapi sedikit ujian sudah langsung menyerah. Bagiamana denganku, aku harus menghadapi semua keluarganya yang tidak menerimaku' batin Widuri saat mengunyah makanan di mulutnya.


Bukan hanya Ibu Ilona dan Soodam yang tidak menerimanya. Semua keluarga dekat Haris juga menolaknya, menilai Widuri tak pantas untuk Haris. Bahkan menganggapnya wanita murahan yang sengaja menjebak Haris di malam pertama Haris dan Cici. Tentu itu karena hasutan Ibu Ilona sebelum meninggal, dan juga Soodam.


Selesai makan, Widuri langsung kembali ke kamar untuk istirahat.


Sedangkan Haris yang belum pulang dari perusahaan. Terus memandangi Widuri dari rekaman cctv apartement yang tersambung langsung ke dalam laptopnya, memastikan kalau wanita itu baik baik saja.


"Haris, ayo pulang. Dari tadi aku menunggumu."


Sontak Haris menoleh ke arah Cici yang masuk ke ruangannya. Haris pun mematikan sambungan cctv di laptopnya tak ingin Cici mengetahui hal itu, kalau ia sedang memantau kegiatan Widuri.

__ADS_1


"Hm!" balas Haris, meski malas Haris harus tetap pulang ke rumah. Berpura pura baik pada Cici sampai Cici tidak di butuhkan lagi di perusahaan itu.


Cici pun mengulas senyumnya melihat Haris merapikan meja kerjanya. Cici langsung melingkarkan tangannya di lengan Haris saat pria itu berdiri dari kursinya.


"Kita cari makan di luar yuk!. Anak kita pengen makan sate kambing." Cici berbicara manja pada Haris.


Haris berusaha mengulas senyumnya lalu mengangguk. Tangan Cici pun berpindah memeluk tubuh Haris sambil berjalan, bersandar manja di dada bidang Haris.


'Aku pikir Haris sudah berubah, ternyata aku salah. Hm! malam ini aku akan membuat Haris tidak bisa menolak ku.'


Cici membatin sambil meremas sesuatu di genggamannya, Kemudian Cici memasukkan sesuatu di tangannya itu ke dalam blazer yang dikenakannya.


Tiga hari Haris tidak pulang ke apartement. selama tiga hari itu juga, Haris terlihat tidak peduli pada Widuri. Dan itu kesempatan Cici selalu menempeli Haris di setiap ada kesempatan. Haris berubah lebih tidak peduli dari sebelumnya.


'Sabar ya, Nak. Papa hanya lagi kesal aja sama Mama' batin Widuri melihat Haris dan Cici melintas di depan meja kerjanya dengan begitu mesra.


Hari hari pun terus berlalu, Haris hanya mengunjunginya tiga malam dalam seminggu. Itu pun Haris pulang ke apartement setelah jam menunjukkan setengah malam, setelah Haris menghabiskan waktu bercinta dengan Cici. Haris tidak menegurnya sama sekali, dan Haris juga selalu tidur di kamar kosong sebelahnya.


"Pak Haris" panggil Widuri saat melihat Haris keluar dari kamar sebelah kamar yang di tempati nya.


Haris menoleh dengan raut muka datarnya." Ada apa?."


"Kita akan tetap bercerai" ucap Widuri.


Haris terdiam sebentar dan menatap wajah Widuri dengan intens. Widuri sudah memikirkan keputusan itu hampir dua Minggu ini.


"Setelah bayi itu lahir" balas Haris.

__ADS_1


Percuma kan punya istri tapi tidak dapat di sentuh. Haris berpikir, Widuri tidak benar benar mencintainya. Widuri hanya ingin berhasil merebutnya dari Cici.


Haris melangkahkan kakinya mengabaikan air mata yang mengalir di pipi wanita itu. Setelah menghilang di balik pintu apartement itu, Haris pun menghapus air matanya yang sempat mengalir. Haris mencintai wanita itu, tapi wanita itu tidak bisa menerimanya. Menerima segala keburukannya dan kenyataan jika ia bekas wanita bernama Cici.


'Kenapa dia begitu sombong?' batin Haris.


Dimana letak dosanya? Dia dan Cici tidak melakukan dosa. Mereka suami istri, wajar saja melakukan hubungan badan. Dan seorang pria boleh memiliki istri lebih dari satu. Aturan hukum mana yang sudah dilanggarnya.


Haris akui, malam itu sudah melakukan kesalahan besar pada Widuri. Jika saja tidak dalam pengaruh alkohol, dan tidak dalam keadaan marah, kecewa dan terbawa nafsu. Haris tidak akan tega melakukan itu pada Widuri. Wanita yang lebih di cintainya dari pada Cici.


Meski Haris sudah bertanggung jawab, dan berusaha untuk adil. Tetap saja Widuri sepertinya masih sakit hati dan tidak terima kejadian malam itu. Sehingga Widuri suka marah marah, kasar dan arogan sampai mengakibatkan Ibunya sakit dan meninggal. Haris tetap memaafkan Widuri.


Tapi sepertinya, hukuman itu belum cukup bagi Widuri. Sehingga Widuri masih ingin terus menghukumnya.


"Seharusnya kamu tidak perlu peduli Cici mempermainkan ku, Wid. Kenapa kamu tidak membiarkan aku menjadi boneka mainannya saja?" gumam Haris, lalu melangkahkan kakinya meninggalkan pintu apartement itu.


Tak lama Haris pergi, Widuri pun keluar dari apartement untuk berangkat kerja. Sampai di basement, mobil Haris sudah tidak ada, Widuri menghela napasnya. Bahkan untuk mengajaknya berangkat bersama, Haris sudah tidak berniat sama sekali.


Sampai di perusahaan, tak lama Widuri mendudukkan tubuhnya, Haris masuk bersama seorang wanita yang bergelayut manja di lengannya. Wanita itu menenteng sebuah rantang berbahan plastik. Ternyata Haris menjemput Cici ke rumah besar keluarga Haris.


Sakit, hati Widuri sangat sakit tadi pagi, saat Haris setuju akan bercerai dengannya. Padahal Widuri sangat berharap Haris berjuang lebih keras untuk mendapatkan cintanya. Ternyata pria itu masih labil, tidak bisa menentukan pilihannya.


'Aku pikir aku akan seberuntung Marya.'


Widuri membatin sambil memperhatikan Haris dan Cici yang menghilang di balik pintu lif.


*Bersambung

__ADS_1


__ADS_2