
"Astaga, apa yang kalian lakukan?."
Sontak saja Haris menghentikan kegiatannya memompa milk instan itu, mendengar suara bariton Kanzo yang tiba tiba datang. Sedangkan Widuri langsung memperbaiki bajunya yang menampakkan permukaan dadanya.
"Istriku ada di sini, seharusnya kau mengetuk pintu sebelum masuk" cetus Haris.
"Mana ku tau, kau tidak mengatakannya. Aku pikir istrimu di ruang perawatan lain" balas Kanzo langsung keluar dari ruang perawatan itu.
Melihat kegiatan Haris tadi, Kanzo berpikir ia datang di waktu yang tidak pas. Haris lagi memompa ASI untuk bayi nya.
Setelah selesai, baru Haris menghubungi Kanzo, untuk menyuruh pria itu masuk kembali. Namun pria itu tidak langsung datang, karena Kanzo sudah terlanjur sampai di perusahaan.
"Dia sudah sampai di perusahaan" gumam Haris setelah mematikan sambungan telephonnya.
"Pak Kanzo pasti lelah, beri dia waktu untuk istirahat" komentar Widuri. Meski tidak tau pasti apa saja yang di lakukan pria itu. Tapi dari wajah kusut Kanzo tadi, Widuri bisa menilai kalau pria itu kecapean.
"Selama ini dia terus menyuruhku ke sana kemari. Bahkan sampai mengurus kedua istrinya" ujar Haris. Ada juga hikmah nya aku sakit, jadi aku bisa istirahat seperti ini, tidak perlu terlalu pusing memikirkan perusahaan."
"Aset dan saham Pak Haris kan banyak, kenapa gak pensiun muda aja?. Menikmati hidup dengan tenang."
Haris langsung mengulas senyumnya ke arah Widuri. Tangan pria itu juga terangkat untuk menyentuh lembut pipi wanitanya itu."Apa kamu ingin menghabiskan waktu lebih banyak bersama ku? Hm!."
"Kalau iya, aku akan melakukannya. Tapi kamu harus siap melayaniku setiap aku mau, biar aku gak bosan kalau di rumah aja." Haris mengedipkan mata genitnya ke arah Widuri.
Widuri memutar bola mata malas, melihat di pikiran prianya itu hanya masalah ranjang.
Cup!
Satu kecupan pun mendarat di kening Widuri." Kau sering kali menatapku malas. Padahal aku sangat senang melihat mu setiap hari."
"Di otak Pak Haris itu hanya ada masalah ranjang." Kalau tidak, tidak mungkin suami Widuri itu mau menyentuh Cici, meski berstatus istri.
Bukannya tersinggung, Haris malah terkekeh." Aku kan baru ngerasain yang enak, wajar dong kalau aku ketagihan, emang kamu gak ketagihan?."
"Gak tau" jawab Widuri singkat. Meski ketagihan kan gak harus sering sering, apa gak capek badannya jika sering menguras tenaga.
Haris pun memutar tubuh Widuri, membelakanginya, lalu memeluk wanita itu dari belakang dan menjatuhkan dagunya di bahu Widuri.
"Aku minta maaf ya, sudah merampas kesucian mu, dan sempat mengabaikan mu" ucap Haris terdengar tulus.
Widuri yang berada di dalam pelukannya pun terdiam. Meski mereka sudah berbaikan, tapi baru kali ini Haris meminta maaf dengan begitu tulus pada Widuri.
__ADS_1
"Setelah rencana pernikahan ku dengan Cici. Aku tidak tau bagaimana caranya supaya aku bisa mendapatka mu. Aku yakin, kamu tidak akan mau ku ajak menikah setelah aku menikahi Cici. Tapi aku gak mau kehilangan mu, Wid. Makanya malam itu aku harus tega menyakiti mu."
"Maksud Pak Haris apa?" sontak saja Widuri memutar tubuhnya kembali ke arah Haris, mendengar kalimat Haris yang terakhir.
"Tidak ada" jawab Haris takut melihat Widuri menatapnya berang. Sepertinya Haris sudah salah bicara, sehingga membuat singa di dalam diri istrinya itu terbangun.
"Jadi malam itu Pak Haris sengaja?. Pak Haris gak benaran mabuk?" cerca Widuri berbicara dengan merapatkan gigi giginya, gemas, sembari berkacak pinggang."Pantas Ayah tega menusuk ginjal mu."
Widuri jadi kesal dengan pria yang duduk di depannya itu. Ingin rasanya membenci pria itu, tapi Widuri tidak bisa. Apa lagi sekarang Haris tidak memiliki keluarga lagi sama sekali, Widuri menjadi kasihan melihatnya.
"Jangan marah seperti itu sayang, aku takut melihat tatapan mu itu." Haris kembali memeluk Widuri, namun Widuri langsung menepis tangannya. Widuri membaringkan tubuhnya di samping Haris dengan posisi membelakangi pria itu.
"Pak Haris benar benar keterlaluan" Akhirnya Widuri menangis. Begitu banyak kesakitan yang di alami Widuri setelah kejadian malam itu. Mulai dari di tuduh menjebak Haris, di usir dari rumah, tidak di terima jadi menantu, menghadapi tekanan dari Cici dan Ibu Ilona, menerima perlakuan tidak adil dari Haris, menjalani kehamilan sendirian dan masih banyak lagi.
Dengan segala maaf yang di berikan Widuri terhadap pria di belakangnya itu. Ternyata kejadian malam itu adalah faktor di sengaja. Selama ini Widuri pikir Haris tak sengaja sehingga Widuri memilih memaafkan.
"Aku minta maaf, jangan menangis lagi ya" bujuk Haris, membaringkan tubuhnya lalu memeluk Widuri dari belakang.
"Jangan menyentuhku" Widuri menghempaskan tangan Haris dari pinggangnya. Namun pria itu malah semakin erat memeluknya.
'Jujur salah' batin Haris menghela napasnya. Pantas saja orang yang berbuat salah tidak berani jujur, karena kalau jujur juga akan di anggap perbuatan yang salah, pikir Haris.
"Kalau menyentuh istri gak boleh, aku harus menyentuh siapa?. Wanita lain, bayar. kalau menyentuh istri orang, bahaya."
"Kita belum kasih nama loh anak kita." Dari pada meladeni kemarahan istrinya, Haris pikir lebih baik ia mengalihkan pembicaraan mereka. Mengingat bayi mereka yang baru lahir, belum di kasih nama.
"Aku udah menyiapkan namanya" cetus Widuri, tangisnya perlahan mereda mendengar kata anak.
Haris langsung tersenyum, gampang juga meredakan emosi istrinya itu, cukup membicarakan anak mereka.
"Siapa?" Haris penasaran. Selama ini mereka belum pernah membicarakan nama anak, meski sebenarnya Haris juga sudah menyiapkan nama untuk anak mereka.
"Rahasia."
"Masa nama anak kita si Rahasia sih, sayang." Sekarang istrinya itu sudah tak marah, tapi ngambek.
Haris pun mengecup leher istrinya itu dari belakang. Berhasil membuat Widuri kegelian.
"Untuk anak pertama kita, aku ijinkan kamu yang memberinya nama. Tapi untuk anak kedua, ke tiga dan ke empat kita, aku yang akan memberinya nama" ucap Haris.
"Siapa juga yang ingin hamil lagi" cetus Widuri. Dan sampai Haris menginginkan empat anak, itu kebanyakan, rasanya Widuri tidak sanggup jika sering hamil dan melahirkan.
__ADS_1
"Ya, kamu lah istriku. Siapa lagi?" gemas Haris, mengangkat kepalanya dari bantal, lalu mengecup telinga Widuri.
"Aku gak mau, anak kita cukup satu aja. Emang melahirkan itu gak sakit apa?." Belum sembuh luka robekan di tubuh Widuri, malah suaminya membahas tambah anak. Dasar laki laki gak punya rasa kasihan, maki Widuri dalam pikirannya.
"Iya satu." untuk kedamain hati istrinya yang baru berjuang keras melahirkan anak mereka, Haris pun memilih mengalah. Yang penting istrinya itu tidak galak lagi dan menatapnya berang.
**
Malam hari, Kanzo baru datang kembali ke rumah sakit untuk mengunjungi Haris. Ada yang perlu mereka bicarakan. Ah, sebagai pebisnis mereka memang selalu perlu berbicara setiap hari, bahasan mereka selalu tidak pernah habis.
Sampai di ruang perawatan Haris dan Widuri. Kanzo melihat Widuri sudah tertidur pulas. Wajar saja, waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam.
"Kita berangkat sekarang" ujar Kanzo yang baru masuk ke ruangan itu.
Haris menganggukkan kepalanya. Malam ini juga, mereka akan terbang dari pulau itu. Haris akan membawa Widuri jauh dari keluarganya.
"Aku yakin, Marya pasti marah karena tidak mempertemukan mereka terlebih dahulu" desah Kanzo.
Rencana Haris itu terlalu mendadak, dan tidak mau menunda waktu walau sehari saja, membari kesempatan Widuri dan Marya untuk saling melepas rindu.
"Kami disana hanya sementara. Aku hanya ingin memberi sedikit pelajaran pada mertuaku" ucap Haris.
"Terserah kau saja."
Malam itu, tanpa Widuri sadari. Haris membawanya yang dalam keadaan tidur terlelap pindah ke Negara lain.
**
Di tempat lain, tepatnya di kampung halaman Widuri. Kabar kematiannya pun sudah sampai ke telinga Ibu Ratna, Ibu Widuri sendiri. Wanita paru baya bertubuh gemuk itu, terus menangis pilu, begitu juga dengan Nala beserta keluarga besar mereka.
Dan yang paling membuat Ibu Ratna sedih. Haris sebagai suami putrinya, tidak mengijinkan mereka melihat Widuri untuk terakhir kalinya tanpa alasan yang jelas.
"Nala, bukankah Pak Kanzo dekat dengan Haris?. Kamu pasti bisa meminta tolong padanya supaya kita di ijinkan melihat Widuri" tangis Ibu Ratna.
Bukan kah ia sudah merestui menantu dan putrinya itu? Tapi kenapa menantunya itu sekarang menganggapnya musuh?.
"Aku sudah di pecat, Ma. Aku gak bisa menemui mereka" jawab Nala.
Semenjak dua Minggu yang lalu, Kanzo sudah memecatnya, demi kelancaran rencana Haris yang ingin menjauhkan Widuri dari keluarganya. Jahat memang, Haris melakukan itu untuk memberi hukuman Pak Hilman yang tega membuat putrinya sendiri dalam bahaya.
Ibu Ratna pun diam dan hanya bisa menangis.
__ADS_1
* Bersambung