
"Nyanyi yuk!" ajak Marya.
Widuri menganggukkan kepalanya kemudian menarik tangan Marya turun dari atas pelaminan.
"Sayang pelan pelan aja jalannya" tegur Haris melihat istrinya itu berjalan cepat menuruni anak tangga pelaminan. Namun Widuri tak mendengarnya lagi karena kebisingan di tempat itu. Haris pun menghela napasnya.
"Selamat untuk yang kedua kalinya."
Haris langsung menoleh ke arah Kanzo yang baru naik ke atas pelaminan.
"Kau yang mengajariku untuk menikah dua kali" ketus Haris.
Kanzo mengulas senyum lantas memeluk sahabatnya itu lalu berbisik ke telinga Hsris." Kau juga menikmati peran mu memiliki dua istri."
Haris mendengus, selain di atas ranjang, tidak ada enaknya punya dua istri. Badan lelah, pikiran lelah karena harus berbagi. Belum juga uang habis untuk memenuhi kebutuhan dia wanita.
"Biarkan mereka menikmati acaranya. Ayo kita temui rekan bisnis kita" ajak Kanzo. Melangkahkan kakinya turun dari atas pelaminan dan langsung di ikuti Haris dari belakang. Lagian acara sudah hampir di penghujung acara, karena hari sudah mulai sore.
Jika Kanzo dan Haris sibuk mengobrol bersama teman teman mereka. Berbeda dengan Widuri dan Marya yang memilih untuk menyumbangkan suara merdu mereka untuk menghibur para tamu undangan. Kedua terlihat begitu menikmati pesta.
Sampai kerongkongan keduanya mulai terasa kering, baru kedua wanita itu turun dari atas pentas.
"Dimana mereka?" tanya Widuri tidak melihat Haris dan Kanzo di bawah tenda acara.
"Sepertinya itu" tunjuk Marya dengan dagunya, ke arah kumpulan para pria yang memakai jas.
Widuri dan Marya pun melangkahkan kaki mereka ke tempat dimana suami mereka berada.
"Kalian memang pria pria hebat. Apa lagi Haris, bisa menikahi dua wanita dalam waktu singkat" puji pria yang berdiri di depan mereka.
"Rezeky anak yang Soleh gak akan kemana" balas Haris seolah olah yang dikatakannya itu benar.
"Sepertinya kalian itu punya resep menaklukkan wanita. Bisa bisanya wanita wanita itu mau sama kalian. Apa lagi di jadikan istri kedua" sambung teman si pria itu.
"Kami gak punya resep. Kalau kami kalau suka mah. Main paksa aja, di elus elus dikit, luluh dah tuh cewek" ujar Kanzo tersenyum. Tanpa ia sadari Marya sudah berdiri di sampingnya.
__ADS_1
Ehem!
Sontak Kanzo menoleh ke arah Marya yang berdiri di sampingnya dengan wajah tersenyum manis.
"Pria memang begitu. Kalau sudah kaya banyak ulahnya. Berpikir kalau dia itu sudah jago menaklukkan hati perempuan. Tapi nyatanya tidak. Kebanyakan perempuan hanya tertarik pada uangnya. Apa lagi sama pria yang hoby bersedekah, hm! perempuan akan sangat menyukai itu. Bukan begitu, sayang?." Meski berbicara manis, tapi sebenarnya Marya itu mencibir Kanzo yang memaksanya menikah dulu, dengan begitu sombong membanggakan uangnya yang banyak.
Kanzo yang di cibir tertawa kecil tidak tersinggung sama sekali dengan cibiran Marya. Dan memang benar begitu kenyataannya.
"Tapi akhirnya kamu takluk dengan kemanisan ku" balas Kanzo mengecup kilas bibir Marya di depan para rekan bisnis nya itu.
"Kau memang penakluk wanita" puji salah satu dari sekumpulan pria pria itu.
"Tapi aku sempat kesulitan menaklukkan hati istri ku ini. Dulu dia tidak tergoda dengan uang dan ketampanan ku" balas Kanzo. Mengingat dulu Marya sangat jual jual mahal padanya. Tapi itu yang membuat Kanzo semakin tertarik dengan Marya.
"Tapi Haris lebih parah. Bagiamana bisa dia menikahi dua wanita dalam waktu singkat?. Pasti Haris lebih memiliki jurus yang jitu di banding Kanzo. Saya salut dengan kalian berdua."
Haris pun merangkul pinggang Widuri dari belakang dan mengecup kening wanita itu dari belakang.
"Kamu sama sama jatuh cinta karena sering bertemu. Tapi menikahi Cici adalah atas perjodohan orang tua" jawab Haris.
"Berarti istri pertama mu termasuk wanita yang tabah juga dong. Rela di madu padahal baru menikah" ujar pria itu.
Sedangkan Cici memutar bola mata malas mendengar apa yang baru dikatakan salah satu rekan bisnis suaminya itu. Mengatakan Cici istri yang tabah.Yang ada malah Cici yang harus tabah menghadapi Cici, Haris, Mertua dan Adik iparnya.
"Selamat sore! perhatian semua!."
Suara Nala dari atas pentas berhasil mengalihkan pandangan para seluruh tamu undangan yang hadir.
"Ehem! Di penghujung acara ini, bagiamana kalau kita meminta pengantin prianya untuk menyumbangkan lagu untuk kita?. Bagiamana para tamu undangan? Apa kalian setuju?."
"Setuju!" para tamu undangan pun serentak berseru.
"Untuk Kak Haris, di persilahkan dengan segala hormat" ucap Nala dengan tersenyum.
"Huh! aku sudah lama gak melakukannya." sedang Haris menghembuskan napasnya kasar. Waktu masih sekolah aja dia sering bernyanyi ketika menghabiskan waktu di sebuah cafe. Tapi semenjak masuk ke Dunia bisnis, Haris tidak pernah bernyanyi lagi.
__ADS_1
"Sana pergi, kamu pasti bisa" ujar Kanzo mendorong pelan tubuh Haris.
"Pak Haris, ayo!" Widuri yang penasaran Haris bernyanyi, pun menarik lengan pria itu membawanya ke atas pentas.
Sampai di atas pentas Haris langsung mengambil microphon dari tangan Nala. Nala pun langsung turun dari atas pentas, sedangkan Widuri menemani Haris bernyanyi di atas pentas.
Saat musik di mulai, Haris pun meraih pinggang Widuri dari belakang.
"Lagu ini saya persembahkan khusus untuk istri saya ini" ucap Haris melalui microphon di tangannya, dan mengecup kening Widuri dari samping saat akan memulai bernyanyi lagu cinta untuk Widuri. Lagu yang mewakili tentang perasaannya kepada Widuri.
Selama bernyanyi, sesekali Haris mengelus perut buncit Widuri dengan lembut. Dan sesekali mengecup kening Widuri dan terakhir Haris mengangkat satu tangan Widuri dan mengecupnya setelah mengakhiri lagunya. Menunjukkan betapa besar cintanya kepada Widuri. Meski Widuri adalah istri keduanya. Wanita yang terpaksa menikah dengannya.
Prok prok prok!
Gemuruh tepuk tangan dari penonton pun langsung bergemuruh menyaksikan pertunjukan pengantin baru itu. Haris begitu terlihat romantis kepada Widuri.
"Terimakasih" ucap Haris.
"Ehem! dan terima kasih juga kepada istri saya ini. Sudah menerima cinta saya dengan lapang dada. Mencintai saya dengan tulus meski itu tidak mudah" ucap Haris lagi, kini kepada Widuri yang masih setia mendampinginya di atas pentas."Dan saya ucapkan terima kasih juga kepada Ayah dan Mama mertua saya yang sudah memberi restu mereka pada kami. Ayah, Mama terimakasih sudah memberikan putri kalian untuk menjadi istriku" lanjut Haris setelah sempat menjeda kalimatnya.
"Mulai hari ini saya berjanji, akan melanjutkan perjuangan Ayah dan Mama untuk menjaga Widuri. Saya berjanji akan mencintainya, menyayanginya seumur hidup saya" lanjut Haris lagi. Sebelumnya belum pernah meminta restu kepada kedua mertuanya itu. Karena pernikahannya dan Widuri awalnya bertujuan hanya untuk bertanggung jawab atas kesalahan yang sudah ia lakukan.
"Ayah, Mama, di sini juga saya meminta maaf kepada Ayah dan Mama. Yang sudah pernah menyinggung perasaan kalian. Karena merampas Widuri dari tangan kalian tanpa memikirkan perasaan kalian. Sekali lagi saya minta maaf, Ma, Ayah."
Suasana yang tadinya meriah pun, berumah menjadi sedih dan haru saat Haris meminta restu kepada orang tua Widuri. Dan meminta maaf atas kesalahan yang telah di perbuat nya. Apa lagi Haris yang masih berdiri diatas panggung sampai meneteskan air matanya.
Melihat Haris menangis, Widuri pun menjadi ikut menangis, terharu mendengar kata kata pria di sampingnya itu.
"Ayah, Mama, di sini aku dan Widuri meminta doa dari Mama dan Ayah. Mendoakan rumah tangga kami supaya langgang sampai kamu tua seperti Ayah dan Mama. Kami juga sangat mengharapkan bimbingan dari kalian, mengajari kami bagaimana caranya menjalani rumah tangga yang harmonis, seperti Mama dan Ayah" lanjut Haris lagi.
"Itu saja yang ingi saya sampaikan. Trimakasih untuk semuanya." Setelah mengakhiri pidato singkatnya, Haris langsung membawa Widuri turu dari atas pentas.
Ibu Ratna dan Pak Hilman yang duduk di bawah pentas, langsung menyambut mereka. Pak Hilman memeluk Haris dan menepuk nepuk pelan punggung menantunya itu dari belakang. Sedangkan Ibu Ratna memeluk Widuri sambil menangis terisak. Menyesal karena sudah pernah mengusir putrinya itu dari rumah.
Setelah saling melepas pelukan, kini posisi Haris dan Widuri bertukar. Dan sekarang Haris berpelukan dengan Ibu Ratna. Dan Widuri dengan Pak Hilman.
__ADS_1
Meski awalnya Meraka marah. Tapi itulah orang tua, hatinya akan luluh di kalahkan kasih sayangnya kepada sang anak.
*Bersambung