
Kini Haris, Widuri beserta keluarga sudah tiba di Bandara. Saat keluar dari bandara sudah ada mobil yang menjemput mereka. Tentu Kanzo yang mengirim mobil jemputan itu untuk mereka.
Oek!
Tiba tiba Widuri merasakan perutnya mual dan ingin muntah.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Haris langsung melihat Widuri yang menutup mulut dan hidungnya dengan tangan,
"Gak tau, tiba tiba aja perutku mual mencium aroma minuman aroma durian milik orang itu" jawab Marya mengarahkan pandangannya ke arah pengunjung yang sedang meminum es campur yang baru melintas di depan mereka.
"Ayo cepat masuk ke dalam mobil, mungkin kamu kecapean, membuat magh kamu kambuh" ucap Haris. Wajar saja istrinya itu kecapean,mereka baru saja melalui perjalanan panjang.
Haris yang sedang menggendong Noah yang ketiduran, terpaksa membiarkan Widuri berjalan sendiri.
Setelah Meraka masuk ke dalam mobil. Widuri langsung mengusapkan minyak kayu putih ke perutnya. Dan Haris langsung memijat leher belakang dan bahunya.
"Mama sama Nala kemana?" tanya Widuri tidak melihat Nala dan Ibu Ratna bersama mereka.
"Sepertinya ke toilet" jawab Haris, tadi melihat Nala dan Ibu Ratna pergi ke arah toilet bandara.
"Oo" balas Widuri membulatkan bibirnya.
"Ayo baring saja, biar badannya enakan" ujar Haris, menarik tubuh Widuri supaya tidur di pangkuannya.
Meski pria itu sedang menggendong Noah yang ketiduran di pundaknya. Tapi pria itu masih bisa membiarkan Widuri tidur di pangkuannya. Meski sudah melahirkan, tubuh istrinya itu masih kurus, berat badannya hanya bertambah sedikit, sehingga Haris masih mampu menahan berat badan Noah dan Widuri.
"Kepalaku jadi pusing banget" keluh Widuri sembari memijat keningnya. Tadi Widuri baik baik saja, tapi setelah mencium aroma durian itu, tiba tiba kepalanya pusing, tubuhnya jadi terasa tidak enak.
"Pak supir, nanti kita ke Rumah Sakit dulu" perintah Haris pada supir yang siap melajukan kenderaan itu. Haris akan membawa Widuri berobat terlebih dahulu, baru mereka ke rumah Kanzo.
"Baik, Pak" patuh supir itu.
"Aku hanya sedikit pusing, kita gak perlu harus ke Dokter. Nanti setelah istirahat dan minum obat, aku sudah baikan." Ia hanya pusing, tapi Haris berlebihan ingin membawanya ke rumah sakit.
"Kalau begitu tidurlah, kamu gak boleh sakit. Nanti kamu gak bisa mengurusku dan Noah" ujar Haris, lalu memijat mijat kening istrinya itu.
"Haris, Widuri kenapa? Sakit?"tanya Ibu Ratna yang baru masuk ke dalam mobil bersama Nala.
"Katanya pusing, Ma" jawab Haris.
"Noah nya ke sini, biar Mama yang menggendongnya." Ibu Ratna yang duduk di kursi penumpang paling belakang, mengambil tubuh Noah dari gendongan Haris. Dan Haris pun memberikannya, supaya ia bisa lebih leluasa memijat kepala Widuri.
Melihat Ibu Ratna dan Nala sudah masuk ke dalam mobil, supir yang duduk di kursi kemudi pun langsung melajukan kenderaannya meninggalkan bandara. Pria itu akan mengantar keluarga itu ke rumah Kanzo.
__ADS_1
**
"Sayang, mereka sudah sampai bandara, mandilah, kamu itu terlihat jorok sekali. Kau suka sekali bermain main di dapur" suruh Kanzo yang baru membaca pesan dari Harus.
Marya yang sedang bermain main dengan Gavin, langsung menajamkan pandangannya ke arah pria yang tersenyum manis itu. Pria itu suka sekalia mengatainya jorok kalau belum mandi.
Pria itu pun melangkah mendekati Marya dan Gavin yang sedang bermain di lantai, menurunkan tubuhnya lalu memeluk Marya dari belakang.
"Awas!"
Gavin yang melihat Ibunya di peluk langsung menepis tangan pri itu dari tubuh Marya. Wanita itu hanya miliknya, tidak boleh ada pria lain yang memeluk Ibunya itu.
"Hei bocah, wanita ini istriku, kenapa kamu menguasainya sendiri?. Kamu pikir kalau aku gak memeluknya, kamu bisa lahir ke Dunia ini? Hm!." Kanzo pun mencubit gemas pipi Gavin. Bocah laki laki berusia dua Tahun itu.
"Awas awas awas." Bocah itu tidak peduli dengan ucapan Kanzo, ia terus menyingkirkan tangan kekar sang Ayah dari tubuh Marya.
"Gavin sayang, jangan seperti itu, Nak. Dia Papa kamu" ucap Marya memberitahu bocah yang kurang perhatian dari pria tampan nan perkasa di belakangnya itu.
"Gavin hanya cemburu sayang, bukan berarti dia gak tau kalau aku ini Papa nya. Kata Mama, dulu aku juga seperti Gavin, tidak membolehkan Papa memeluk Mama" ujar Kanzo, meski wajah Gavin kebanyakan mirip dengan Marya, tapi sifatnya banyak menurun darinya, kecuali satu, cengengnya seperti Marya.
"Awas!"
Melihat Gavin terus berusaha melepas tangannya dari tubuh Marya, Kanzo pun melepas pelukannya dari tubuh istrinya itu, kemudian meraih tubuh Gavin membawanya ke gendongannya. Sebentar lagi Haris dan keluarganya akan sampai, Marya harus sudah bersih dan rapi untuk menyambut tamu mereka.
Dan benar saja, bocah menggemaskan itu langsung memeluk leher Kanzo. Pria itu pun langsung mendaratkan satu kecupan di pipi cabi bocah itu lalu membawanya keluar kamar.
Sedangkan Marya, wanita itu langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Selesai mandi Marya langsung melilit tubuhnya pakai handuk, namun tiba tiba handuk di tubunya terjatuh ke lantai. Marya langsung memutar tubuhnya ke belakang untuk melihat si pelaku.
"Sa..."
Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, mulutnya langsung terbungkam oleh benda kenyal milik pria di depannya itu. Kanzo mendorong kembali tubuh Marya ke bawah Shawer, mengajak wanita itu untuk mandi kembali.
"Pak Kanzo, ah! kau itu genit sekali" Marya mendesah kesal. Benar benar suaminya itu memiliki libido yang tinggi, sering kali tidak bisa menahan diri untuk bercinta. Tapi untungnya, pria itu tidak suka bermain perempuan di luar sana,sehingga sering kali Marya yang menjadi korban penumpahan hasrat berlebihan pria itu.
"Kenapa kamu masih heran sayang, kita sudah bertahun tahun menikah. Aku seperti ini juga hanya sama kamu" ujar Kanzo tidak peduli Marya kesal padanya. Wanita itu selalu saja begitu, mengeluh tapi tetap juga suka menikmati.
"Haris dan Widuri sudah mau sampai Ah!."
"Biarkan saja." Kanzo tidak peduli itu, yang penting baginya tongkat sejengkalnya itu merasa damai.
Buar buar buar!
"Mama! Noah udah datang!."
__ADS_1
Kanzo langsung berdecak kesal mendengar suara Gavin dari luar kamar. Pantas aja Ayah dan anak itu saling cemburu, keduanya sering kali rebutan menguasai Marya.
"Pak Haris dan Widuri sudah datang, nanti malam aja kita lanjut."
"Gak bisa" tolak Kanzo cepat, kemudian membuat Marya berteriak teriak.
Di dalam kamar Gavin dan Noah sama sama berdiri di depan pintu kamar mandi dengan bergandengan tangan.
"Tante Marya, mandi?" tanya Noah.
Gavin tidak menjawab dan bocah itu memanggil Ibunya kembali dengan berseru.
"Mama! Noah udah datang!."
Mendengar suara Ibunya tidak terdengar dari dalam kamar mandi, akhirnya bocah itu pun menangis.
"Mama!" tangis Gavin.
"Anak itu, kenapa mudah sekali menangis?" ujar Kanzo mendengar Gavin menangis dari dalam kamar. Sedikit sedikit tidak melihat Marya, bocah itu selalu saja menangis.
"Dia itu tidak bisa jauh dariku" jawab Marya.
Selesai dengan kegiatan melelahkan mereka, pasangan suami istri itu pun membersihkan tubuh mereka dan segera keluar dari dalam kamar mandi dengan memakai jubah.
"Mama!" tangis Gavin lagi mengulurkan tangannya ke arah Marya yang keluar dari dalam kamar mandi.
Marya pun langsung meraih tubuh Gavin lalu mengusap air mata bayi cengeng itu dan mengecup pipinya.
"Kenapa menangis sayang? Hh" tanya Marya dengan suara lembutnya.
"Gavin nangis" ucap bocah satu lagi menunjuk Gavin di gedongan Marya namun matanya menoleh ke arah Kanzo, seperti orang yang lagi melapor.
"Iya, Gavin nangis, dia itu tukang nangis" balas Kanzo lalu meraih tubuh Noah dan langsung mengecup kedua pipi bocah menggemaskan itu.
Bayi prematur itu sekarang sudah sangat tampan dan menggemaskan dan juga pintar, tidak cengeng seperti Gavin.
"Anak Om sudah besar sekarang" ucap Kanzo. Semenjak Haris membawa bayi itu ke luar Negri, ini pertama kalinya Kanzo melihat anak dari sahabatnya itu.
"Noah" panggil Marya, lalu mengecup kedua pipi anak dari sahabatnya itu."Ya ampun sayang, ternyata kamu aslinya sangat ganteng" puji Marya, untuk pertama kalinya Marya melihat bayi itu secara langsung. Selama ini Marya hanya melihatnya lewat vidio call.
Di bilang ganteng, Noah jadi tersenyum senang. Sama seperti sang Papa yang selalu ingin di puji, ganteng dan tampan, sangat menggemaskan.
*Bersambung
__ADS_1