Pria Yang Merenggut Kesucian Ku

Pria Yang Merenggut Kesucian Ku
Jangan pergi


__ADS_3

Dari kampung halaman, Haris langsung membawa Widuri bertolak ke salah satu pulau kecil di Indonesia. Mereka akan menghabiskan berbulan madu di sana sambil bekerja mengurus anak cabang perusahaan SCI Grup yang mengalami sedikit masalah.


Tiba di bandara, Haris langsung membawa Widuri ke salah satu rumah yang sengaja di sewa Kanzo untuk mereka selama di Pulau tersebut. Karena di pulau itu belum ada yang namanya apartement. Meski pun ada hotel, itu sangat jauh dari pusat industri.


"Di sini udaranya masih bersih, tidak banyak kenderaan. Alamnya juga masih asri" komentar Widuri memperhatikan jalan yang mereka lalui. Terdapat masih banyak pepohonan rimbun di sepanjang jalan.


"Pulau ini di konsep menjadi kota pariwisata. Kelestarian alamnya harus terjaga, supaya tetap terlihat asri dan alami, supaya bisa menarik minat wisatawan luar Negri untuk berkunjung ke sinis" jelas Haris yang sudah sering datang ke Pulau kecil itu.


"Pak Haris sering datang ke sini?" Widuri menoleh ke arah Haris yang menyetir di sampingnya.


"Sampai kapan kamu harus memanggilku pak Haris?." Bukannya menjawab, malah Haris memprotes panggilan Widuri kepadanya yang selalu memanggil, Pak Haris. Bahkan saat mereka bercinta sekali pun.


"Aku bingung harus memanggil apa." Widuri sudah terbiasa memanggil Haris dengan sebutan, Pak. Dan sepertinya sudah nyaman dengan panggilan itu.


Haris menghela napasnya. Widuri sudah dewasa dengan usia yang matang. Masa iya harus diajarin harus manggil apa sama suami?. Haris yang kesal, pun mengambangkan pipinya.


"Panggil sayang kek."


"Rasanya lidahku kelu untuk memanggil itu. Aku belum pernah memanggil sayang pada pria manapun sebelumnya" jujur Widuri. Dia adalah orang yang kaku, bermesraan aja masih sering malu malu.


"Aku gak suka dengan panggilanmu itu, kamu harus memanggilku sayang" telak Haris tak ingin di bantah.


"Baiklah, aku akan mencoba membiasakannya, sayang." Widuri tersenyum manis ke arah Haris. Membuat Haris tak tahan untuk tidak menarik tubuh wanita itu mendekat ke arahnya dan langsung mengecup bibirnya. Bahkan Haris sampai menepikan kendaraannya ke pinggir jalan untuk bisa menikmati bibir manis yang terus menggodanya itu.


Bukh!


"Awu! sayang" ringis Haris kaget dan langsung melepas pagutannya saat benda keras mendarat di dadanya. Widuri menumbuk dadanya, karena tangan jahilnya sudah merambat kemana mana.


"Kita lagi di pinggir jalan." Widuri memutar bola mata malas melihat tingkat kemesuman suaminya itu.


"Tidak akan ada yang melihat, jalan ini sangat jarang di lewati pengendara lain." Haris memang membawa mereka melewati jalan pintas supaya mereka lebih cepat sampai di rumah. Tapi tetap saja Haris tidak sabar untuk sampai di rumah supaya bisa bermesraan dengan Widuri.


"Tetap aja tidak sopan" ketus Widuri.


Haris bukannya tersinggung, malah tertawa kecil. Padahal istrinya itu menikmati ciumannya, tapi tetap saja wanita itu sok jual mahal.

__ADS_1


"Baiklah, sampai di rumah aku langsung menghabisi mu." Haris kembali melajukan kendaraannya dengan semangat. Wajar saja Haris menggebu gebu pada Widuri, semenjak menikah, Haris baru bisa menghabiskan waktu setiap hari bersama wanita yang dicintainya itu.


"Aku gak mau, aku capek" tolak Widuri. Bagaimana tubuhnya tidak capek, kalau Haris terus mengajaknya bercinta setiap ada kesempatan seperti orang tidak mengenal lelah.


"Kamu harus mau. Kamu harus membayar jatahku yang kamu tunda beberapa Bulan ini" telak Haris, akan tetap memaksa Widuri memberi haknya. Itu hukuman untuk Widuri yang menunda nunda jatahnya selama ini.


Widuri mendengus dan memalingkan wajahnya ke arah lain. Meski senang sering dimanjakan, tetap saja kalau sering sering Widuri merasa lelah, apa lagi dia sedang hamil besar sekarang.


"Papa nakal ya, Nak" Widuri mengadu pada bayi di dalam perutnya itu. Seketika senyum Widuri mengembang mengingat sebentar lagi ia akan punya anak.


Tangan Haris pun terulur untuk ikut mengelus elus perut Widuri yang sangat besar. Karna tidak lama lagi Widuri akan melahirkan, hanya menunggu dua Bulan lagi.


Sampai di rumah yang akan mereka tempati, baru Haris menghentikan kendaraannya. Haris dan Widuri langsung keluar dari dalam mobil, sama sama melangkah ke arah pintu masuk rumah itu dengan bergandengan tangan. Namun belum sempat Meraka masuk, tiba tiba Haris meringis kesakitan dan menghentikan langkahnya.


"Pak Haris, kenapa?" tanya Widuri mengerutkan keningnya, bingung. Wajah Haris nampak begitu kesakitan.


"Wid" lirih Haris menahan sakit. Namun rasa sakit di pinggangnya dari belakang, membuatnya tak mampu untuk menopang tubuhnya lagi, akhirnya Haris pun terjatuh ke lantai teras rumah itu.


"Pak Haris!" pekik Widuri langsung menurunkan tubuhnya untuk memeriksa tubuh Haris. Ternyata di pinggang belakang pria itu sudah tertancap sebuah pisau. Refleks Widuri langsung berteriak meminta tolong, tak berani menyentuh pisau itu.


Haris yang masih sadar mencoba mengangkat satu tangannya untuk menyentuh pipi Widuri yang sudah menangis ketakutan dan mengkhawatirkannya.


"Wid" hanya itu yang bisa Haris ucapkan, sangking sakitnya luka di pinggangnya.


Widuri semakin menangis dan mengambil tangan Haris dari pipinya lalu mengecup telapak tangan pria itu. Widuri tidak tau harus berbuat apa, dia tidak bisa membawa Haris ke rumah sakit, terlebih Widuri tidak tau dimana rumah sakit di daerah itu, dan Widuri juga tidak pandai menyetir.


Haris tersenyum miris dan ikut menangis, kasihan melihat Widuri sendirian tidak ada yang membantunya.


"Jangan pergi" Isak tangis Widuri. Takut Haris tidak mampu bertahan dengan rasa sakitnya. Widuri tidak bisa membayangkan itu, Widuri belum siap jika harus kehilangan Haris sekarang. Kasihan bayinya jika lahir tanpa Bapak.


Haris menganggukkan kepalanya sambil berusaha tersenyum, untuk menenangkan istrinya itu. Meski sebenarnya ia tidak begitu yakin akan mampu bertahan.


"Tolong!"


Widuri kembali berteriak.

__ADS_1


Di daerah itu jarak rumah yang satu ke yang satu berjauhan. Sehingga tidak mudah di dengar para tetangga terdekat mendengar teriakannya. Dan dimana pengawal mereka yang datang bersama meraka?. Kenapa juga belum sampai?.


"hubungi Kanzo, Wid" lirih Haris memejamkan matanya. Mungkin Kanzo bisa meminta tolong orang orang di perusahaan untuk membantu membawa mereka ke rumah sakit.


Widuri mengangguk dan segera mengeluarkan ponselnya dari dalam tas untuk menghubungi Kanzo atau Marya. Namun belum sempat yg telepon itu tersambung, ponsel itu tiba tiba terkapar dari tangannya. Seseorang merampas ponsel itu secara tiba tiba. Entah dari mana datangnya pria bertopeng itu?.


"Siapa, Anda?" tanya Widuri dengan suara bergetar ketakutan.


Pria itu tidak menjawab, malah langsung membekap Widuri dengan sapu tangan di tangannya. Membuat Widuri langsung pingsan tak sadarkan diri. Pria itu pun langsung membawa Widuri dari tempat itu.


"Wid!" Haris mencoba berteriak untuk memanggil Widuri. Tapi apalah daya, tubuh Haris semakin melemah membuatnya semakin tidak berdaya bahkan untuk mengeluarkan suara sekali pun. Haris hanya bisa bergumam lirih.


"Jangan bawa anak dan istriku."


**


Kanzo yang sibuk di meja kerjanya, langsung mengangkat panggilan telepon yang berdering berasal dari ponselnya, tanpa melihat nomor yang menghubunginya.


"Halo!" sapa Kanzo langsung dengan netra yang tetap fokus pada layar laptopnya.


"Menantu, kami diserang sekelompok orang." Pria paru baya itu terdengar meringis kesakitan dari dalam ponsel."Meraka sangat banyak, kami tidak sanggup melawannya."


"Bagaimana keadaan Haris dan Widuri?" cerca Kanzo langsung mengkhawatirkan sahabatnya dan sahabat istrinya itu.


"Ayah baru sampai di rumah yang akan mereka tempati. Kami menemukan Haris terluka di bagian pinggangnya. Dan Widuri menghilang, sepertinya ada orang yang menculiknya" lapor Pak Maiman.


Kanzo langsung membeku dan tubuhnya melemah seketika sangking khawatirnya kepada Haris dan Widuri.


"Cepat kalian bawa Haris ke rumah sakit" perintah Kanzo kepada Ayah mertuanya itu yang bekerja menjadi anak buahnya untuk mengawasi Widuri.


"Sudah menantu, kami semua baru sampai di rumah sakit. Kami semua terluka juga."


Kanzo menjadi pusing, masalah yang satu belum beres, malah datang masalah baru lagi. Siapa saja sih musuh musuh mereka?.


"Aku yakin ini pasti perbuatan Baim" geram Kanzo bergumam. Siapa lagi? Hanya Baim dan Bapaknya yang ingin menghancurkan mereka.

__ADS_1


*Bersambung


__ADS_2